Aku membuka pintu masuk Leisure, dan langsung menyapu pandanganku ke sekeliling. Aku menemukannya duduk di tengah ruangan, melambai padaku ketika melihat kedatanganku. Seharusnya dia tahu, aku kurang suka duduk di tengah. Aku lebih suka duduk di sudut yang sepi. Lebih privacy.
“Hei,”sapa Rafel sambil mengecup sekilas pipiku.
Aku duduk di hadapannya. “Sorry, ya, agak telat.” Aku memutar bola mataku. “Nenek Runi masih aware.”
Nenek Runi memang selalu lebih berhati-hati dan tegas pada cucu-cucunya sejak kejadian yang menimpa Adyani. Kami para cucu Handoko jadi stuck berada di ruang tamu Nenek Runi sambil mendengarkan nasehatnya.
Rafel meletakkan tangannya di atas punggung tanganku. “No problem, Hon. Santai aja.”
Aku memijit-mijit pelipisku. “Santai gimana? She told me that I have to concentrate to my life! Tapi dia nahan aku di sana berjam-jam. What a waste! Padahal dengan waktu segitu aku bisa ngejar banyak tugas kuliah.”
Rafel tertawa kecil. “Don’t be such that serious. Kuliah nggak usah terlalu dipikirin.”
Akhir-akhir ini aku hampir nggak punya waktu untuk bersenang-senang. Credit cardku masih setengah limit! Itu bukan suatu hal yang bisa terjadi. Biasanya di tanggal-tanggal kayak gini, semua credit card udah over limit dan aku harus begging ke Papi dan Mami buat nambahin limitnya lagi. Dan nanti Papi mulai bilang, “jumlah tagihan credit card kamu, bisa buat ngebiayain setengah dari sebuah proyek Handoko Group, Seanna!” Tapi tetap aja aku nggak kapok-kapok.
Tapi sekarang nggak ada lagi waktu buat shopping dan seneng-seneng. Nenek Runi semakin menekankan pada cucu-cucunya untuk mengejar pendidikan dan pekerjaan. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa Adyani terulang lagi. Apalagi padaku, Dafintha, dan Dipta.
Selama ini aku memang selalu menjalani kuliahku dengan santai. Toh, akhirnya nanti aku lulus juga. Tapi sekarang aku berada di bawah pengawasan Nenek Runi. Sama aja kayak dipenjara.
Sedangkan Rafel sendiri sudah lulus kuliah. Yang aku tahu, selama dia kuliah, dia juga sama santainya seperti aku. Pada akhirnya pun kami juga akan masuk ke perusahaan keluarga masing-masing, dapat pekerjaan, masa depan sudah terjamin.
Dony datang dan menanyakan pesanan kami. Aku memesan Hot Coffee. Sebenarnya aku nggak punya waktu untuk bertemu Rafel malam ini. Tapi Rafel mendesak aku dan aku pikir-pikir, udah lama juga aku nggak ketemu dia. Jadi aku butuh kopi biar bisa stay all night di depan komputer malam ini.
“Gimana kemarin pernikahan Adyani? Lancar?”tanya Rafel.
Aku mengangguk. “Denise banyak bantuin aku dalam hal ini. Thanks to her!” Denise memang temanku sejak dulu. Bukan hanya aku tapi juga sepupu-sepupuku yang lain. Dia mudah bergaul dengan siapa saja, makanya dia punya relasi banyak, jadi nggak susah buat minta tolong. Dia juga punya beberapa usaha sendiri, yang salah satunya adalah butik. Dari butiknya aku memasan kebaya pengantin Adyani. Dan dengan senang hati Denise juga bersedia menjadi Wedding Organizer dari pernikahan Adyani.
“I know she’s good at it. Dia pasti seneng kamu kasih job.”
“Totally. Padahal bayaran yang aku kasih kan nggak banyak.” Mengingat bagaimana tamu yang datang sangat terbatas. Mami dan Papi nggak mau mengundang banyak orang. Bagi mereka semua, pernikahan Adyani adalah aib bagi keluarga.
Dony datang membawa pesanan kami. “Eh, Sen. Gimana kabarnya Adyani?”
Aku tau kalau Dony diam-diam suka sama Adyani. Pertama kali aku bawa Adyani ke sini sekitar setahun yang lalu, dia banyak tanya soal Adyani. Tapi sejak skandal yang dibuat Adyani menyebar, sepertinya Dony mulai mundur berlahan. Dia hanya bertanya sesekali tentang perkembangan Adyani.
Aku juga nggak tau kenapa rasanya keluarga Handoko kok, nggak sepi-sepinya dari gossip. Pertama Dafintha yang ngotot jadi musisi. Kedua Verena dan Zandy yang tiba-tiba aja jadi soulmate. Ketiga hubungan Dya dan Bagas yang udah jelas-jelas ditentang. Sekarang yang terakhir Adyani yang tiba-tiba aja hamil di luar nikah.
Tidak ada yang menyangka kalau seorang Adyani bisa sampai jatuh ke hal seperti ini. Aku sendiri sebagai Kakaknya nggak pernah berpikir dia akan dapet masalah kayak gini. Aku akuin, pergaulanku memang bebas, nyaris nggak terkendali, tapi nggak pernah sekalipun aku mempertaruhkan keperawananku. Untuk urusan yang satu ini, aku benar-benar hati-hati. Sedangkan Adyani bukan tipe yang suka bergaul bebas.
“Baik,”jawabku.
“Kandungannya? Sekarang udah memasuki berapa bulan?”
“Mau 4 bulan.”
Dony mengangguk-angguk lalu pergi.
“Aku masih nggak nyangka soal Adyani,”kata Rafel. “Everybody knows, she’s not that kind of girl. Tiba-tiba aja dia masuk ke dunia gemerlapan, dan bum! Jadi gitu aja.”
“Hei, jangan gitu juga kamu. Dia itu masih adek aku.”
“Oke, oke. Kamu kan sekarang jadi calon Tante.” Rafel berdeham lalu menirukan suara anak-anak, “Tante Seanna, aku mau es krim, dong. Yang lasa stlobely ya!”
Aku tertawa. “No way!”
Sebenarnya aku masih mau bersantai lebih lama dengan Rafel lagi. Tapi tugas kuliah yang menumpuk sudah menungguku. Aku meminta maaf pada Rafel karena nggak bisa lama-lama dan segera pulang ke rumah.
Saat aku baru saja mau menaiki tangga, Mami memanggilku, “Na, baru pulang?”
“Iya, Mam. Abis ketemu Rafel bentar dulu tadi.”jawabku.
Mami terlihat lelah. Tidak biasanya beliau terlihat seperti itu. Walaupun beliau sibuk, membantu Papi yang pergi ke sana ke mari, tapi beliau selalu menjaga kesehatannya. Sejak insiden Adyani, Mami jadi kelihatan banyak pikiran dan kelelahan.
“Besok Mami sama Papi mau berangkat ke Singapore buat beberapa hari. Kamu kontrol adik-adik kamu, ya. Dafintha bakalan sibuk di kantor.”
Aku mengangguk. Kontrol? Adyani udah punya suami dan udah nggak tinggal di sini lagi. Sedangkan Dipta? Jangan ditanya, siapa yang bisa ngontrol orang kayak dia?
“Kamu kunjungin Adyani, ya. Mami agak khawatir sama dia. Kamu kan tahu gimana adikmu itu. Selalu sungkan kalau minta bantuan dan cerita-cerita.”
“Iya, Mam. Nanti aku sempetin.”
Aku bergegas ke kamarku. Sedikit bersih-bersih dan mengganti pakaianku dengan pakaian tidur lalu bekutat dengan tugasku.
Sekarang sudah pukul 10 malam. Hari ini seperti hari-hari biasanya, melelahkan.
Saat aku baru membaca satu kalimat dalam tugas kuliahku, aku sudah frustasi duluan. “Where’s spa when I need one? Ugh!”
Aku berjalan cepat menuju kelas pertamaku pagi ini. Seperti biasanya aku nyaris terlambat. Semalaman aku bergadang menyelesaikan tugas kuliahku dan alhasil jadi bangun kesiangan. Tentu aja si geblek Dipta nggak bakalan ikhlas atau pun mau ngebangunin kakaknya yang satu ini.
“Seanna, Darling!” Suara nyaring itu nyaris saja membuatku menjatuhkan kertas-kertas di tanganku.
Aku berhenti sesaat dan menoleh, mendapati Safira dengan wajah centilnya. “Fir, sekali lagi lo lakuin hal kayak tadi —“
Safira meletakkan tangannya di depan mulutnya yang ternganga. “Oh, Gosh! Seanna lo kenapa?” Safira menunjuk ke bagian bawah mataku. “It’s kinda spooky!”
Sebenarnya nggak sampai se-spooky apa yang Safira kira. Tapi cukup spooky untuk ukuran cewek yang memperhatikan penampilannya seperti aku dan Safira. Lingkaran hitam? No way! Big no no.
Aku mengacuhkan Safira dan kembali melangkah. Safira masih ngotot dan mengikutiku. Suara high heels kami seolah saling bersautan di lorong yang lumayan sepi ini. Bedanya hanya suara high heels yang terdengar dariku, sedangkan Safira? Suara gelang, tas, dan aksesoris lainnya yang berada di tubuh cewek itu gemerincing, membuat kepalaku semakin pusing.
“Apa yang lo lakuin sih, Sen?”
Aku tetap mengacuhkannya. 5 menit lagi maka aku terlambat.
Safira menarik lenganku. “Look at you! Lo ngehancurin diri lo sendiri!”
“Please, Fir. Jangan sekarang, okay? Lain kali aja kita ngomonginnya. And this is my life! I know what I do!”
Safira melepaskan tangannya dari lenganku dan mengangkat keduanya ke udara. “Okay, fine.” Lalu dia pergi meninggalkanku.
Safira memang cewek manja, yang selalu menghandalkan keluarganya. Dia juga bersikap masa bodoh dengan yang namanya kuliah. Aku juga seperti itu dulu. Hanya saja karena Adyani. Adyani, Adyani, dan Adyani. Sejak dulu dia yang disebut-sebut. Dia cucu Nenek Runi yang paling pintar, berbakat, perfect! Nenek Runi selalu menasehati kami para cucu Handoko agar mengikuti jejak Adyani. Sekarang waktu dia hamil di luar nikah, apa yang bisa dikatakan para pemuja Adyani? Mereka malah minta sebaliknya. Agar kita tidak mengikuti jejak Adyani.
Nobody’s perfect, included me.
Ketika aku tiba di depan pintu ruang kelasku, aku sudah bisa mendengar kuliah Pak Rahman sudah dimulai. Bad things always happened. Aku mengetuk pintu dan membukanya berlahan. Pak Rahman berhenti berbicara dan semua mata tertuju padaku.
“Seanna Nadya Handoko. Kamu boleh keluar.” Hanya itu yang dikatakan Pak Rahman.
Shoot!
Aku kembali penutup pintu dengan agak keras, lalu melihat jam tanganku. Okay! Aku hanya telat 5 menit. 5 menit dan semuanya sia-sia! Tugas yang aku buat semaleman sampai aku kesiangan hari ini. Sekarang?
Aku berbalik dengan kesal, dan menabrak sesuatu hingga aku terjatuh. Setumpuk kertas yang kupegang jatuh berhamburan di lantai.
“Crap! Tell me I’m in hell!”
Aku mendongak dan menatap orang yang menabrakku. Aku kenal orang itu. Alvin Wisnu Aditya Hakim. Yang tidak lain tidak bukan adalah seorang photographer. Aku meng-hire dia untuk pernikahan Adyani sebulan yang lalu.
Alvin mengulurkan tangannya di hadapanku.
Aku memungut kertas-kertas di sekelilingku. “Bilang maaf juga udah cukup, nggak usah dibantuin.” Setelah semua kertas terkumpul aku bangkit berdiri. “Makasih udah ditabrak dan makin ngancurin hari gue.”
“Sisa foto-foto weddingnya Adyani udah jadi. Jadi kapan bisa gue ―”
“Besok aja, deh. Gue lagi nggak mood ngurusinnya.” Aku berbalik tapi lalu berbalik lagi. “Thanks sebelumnya.”
Alvin membungkuk. “You’re welcome, Princess.”
Aku memutar bola mataku melihatnya dan segera pergi. Sambil berjalan aku menambahkan catatan di HPku mengenai foto-foto itu.
Alvin memang cowok yang unik. Dia nggak pernah marah walaupun aku merendahkan dia. Secara physically dia charming. Bahkan menurutku lebih charming daripada Rafel. Hasil potetrannya juga bagus-bagus. Hanya saja dia tidak berasal dari kalangan socialite. Selama ini aku tidak mau bergaul dengan kalangan bawah. Mereka hanya mau memanfaatkan uang kami. Lebih baik berteman dengan orang yang sejajar. Di mana mereka sudah punya segalanya dan tidak akan meminta. Lagipula aku tidak mau menambah masalah di keluarga Handoko lagi. Aku sudah tahu pasti apa jawaban Nenek Runi tentang menikahi atau berhubungan terlalu jauh dengan seseorang yang bukan socialite.
Aku pergi menuju kantin kampus dan mendapati Safira dan Riana sedang mengobrol dengan seru.
“Hey, guys,”kataku sambil duduk di samping Riana.
“Oh!” Riana terkejut melihatku. “I can’t believe it, Safira was right! Lo kenapa?”
“Stop looking at me like that!”
Riana mengalihkan pandangannya dariku. “Okay. Sorry.”
“Dan jangan ngomong gitu terus ke gue. Gue udah cukup frustasi.”
“Lo pasti abis ditendang dari kelasnya Pak Rahman lagi, ya?”tanya Safira.
“Ini gara-gara lo juga tau, Fir. Kalau lo nggak pake nyamperin gue dulu pasti gue bisa ngejar yang 5 menit itu! Sekarang gue kehilangan satu pertemuan! Gue —“
“Stop it!” Safira berteriak. “Lo udah berubah, Sen. Sekarang gue nggak mau tau, lo harus ikut gue.” Safira berdiri sambil menarik tanganku.
“Ke mana?”
“Seneng-seneng.”
Akhirnya limit credit cardku habis sudah. Aku kembali mendapatkan kesenangan yang sudah lama kutinggalkan. Safira, Riana, dan aku. Berjalan bersama dengan menenteng banyak kantong belanjaan. Rasanya semua beban sudah hilang setelah spa dan salon.
“Wow! I’m back to heaven!” Aku tertawa senang.
Riana berhenti di depan sebuah toko. “Wow! Liat, deh, kalungnya. Bagus banget.”
Safira ikut-ikutan melihat ke etalase toko itu dan memandang kalung berlian yang dimaksud Riana dengan takjub. “Iya, Ri. Bagus.”
Aku yang penasaran ikut-ikutan melihat. Memang bagus, sih. Tapi credit cardku udah over limit. Kenapa barang bagus selalu datang belakangan?
Untungnya Safira dan Riana tidak berniat untuk membeli kalung itu sekarang. Mungkin aku bisa beli kalung itu bulan depan.
Tapi…rasanya kok…
“Eh, kalau kalian nggak mau, gue aja yang beli, ya.”kataku.
Safira dan Riana saling berpandangan lalu mengangkat bahu. “Sure. No problem.”
Aku masuk ke dalam toko itu dan langsung membeli kalung yang aku mau. Tentu saja harganya “wow”. Aku harus siap menerima omelan dari Papi dan Mami sepulangnya mereka dari Singapore.
“Gimana kabarnya Rafel, Sen?”tanya Safira begitu kami keluar dari toko. “Kayaknya makin hari dia jadi makin jarang kelihatan.”
Rafel memang nggak bekerja. Keluarganya memiliki sebuah perusahaan yang cukup besar, dan pernah beberapa kali bekerja sama dengan Handoko Group. Rafel tapi belum tertarik dengan dunia bisnis, dia masih lebih senang untuk bergaul dengan teman-temannya. Tapi kapan pun dia bisa menempati posisinya.
“Gue udah jarang contact-contactan ama dia.”jawabku. Tiba-tiba saja aku jadi kangen dengan masa-masa di mana aku dan Rafel lagi deket-deketnya. Kita bisa ngabisin waktu seharian walaupun cuman sekedar nongkrongi di cafĂ©. Dia juga dengan setianya nemenin aku shopping sana sini dan bantuin milih barang. Selama ini pun dia nggak pernah ngeluh soal itu semua.
“Kan bukannya cowok biasanya kayak gitu ya, Sen? Lama-lama bosen,”Riana tiba-tiba nyelutuk.
Aku memandangnya tajam. “Maksud lo apa bilang gitu?”
Riana menggigit bibir bawahnya panik. “Sorry, Sen. Gue nggak maksud. Tapi emang gitu kan kenyataannya? Apalagi cowok tipe Rafel.”
“Shut your mouth!”
Aku mengeluarkan HP-ku dan menelepon Rafel. Aku memintanya untuk menjemputku segera. Biar aku buktiin ke Riana kalau Rafel masih setia sama aku. Sementara menunggu, kami ngopi-ngopi di Starbucks.
Sedangkan Riana masih tidak henti-hentinya meminta maaf. “Sen, I really am sorry. Gue bener-bener nggak ada maksud buat —“
“Enough, Ri! Lo kan tau kalau gue bukan tipe cewek yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Dan emangnya lo pikir, gue adalah cewek yang dengan gampangnya ditipu ama cowok lain? Kalau ngomong dipikir-pikir dulu dong, Ri.”
Safira yang sejak tadi diam menonton pertengkaran kami akhirnya angkat bicara, “hey, you guys. Jangan berantem di public gini dong. Your reputation, remember?”
Aku menghela napas dan menyenderkan punggungku di kursi.
Aku memang paling nggak bisa kalau disinggung. Entah maksud mereka bercanda atau apa, aku nggak peduli. Apalagi kalau menyangkut love life. Bagiku semua ada batasnya. Mau mereka socialite, sederajat, berasal dari keluar mana pun, tetap nggak ada yang berhak buat mengatur sesuatu yang privacy dalam hidupku.
Seseorang merangkulku dari belakang dan aku tahu siapa itu. Tentu saja Rafel. Harum parfumnya benar-benar aku kenal karena aku yang memilihkan untuknya.
“Hey, Babe. Sorry nunggu lama.” Rafel mengecup pipiku sekilas. Lalu dia tersenyum pada Safira dan Riana, “hey, girls. Lama nggak ketemu.”
Safira membalas senyuman Rafel dengan tulus sedangkan Riana membalasnya dengan setengah hati.
“No problem.” Aku memandang Riana yang pura-pura sibuk dengan lattè nya. Aku mendengus. Sebaiknya aku menjauh dulu dari Riana, kalau nggak mau terjadi apa-apa. “Anter aku ke kampus dulu, ya. Ngambil mobil.”
Rafel memberi pandangan pada Safira seolah bertanya, ‘ada masalah apalagi, nih?’ Safira hanya mengangkat bahu. “Okaaay… Tapi keberatan nggak kalau nemenin aku nyari sesuatu untuk Fahrani?” Fahrani adalah kakak dari Rafel. Sama seperti Rafel, Fahrani lebih memilih untuk tidak bekerja. Tapi kehidupan Fahrani jauh lebih liar daripada Rafel.
“Oh, ya udah. Nggak papa. Lagian aku juga belum mau pulang.” Aku melirik Riana dari sudut mataku. “Cuman mau pergi dari sini aja.”
Rafel sepertinya menangkap sikap dinginku pada Riana.
“Gue duluan ya, Saf. Besok kita harus shopping lagi.”
Safira mengacungkan jempolnya.
Aku memberi satu pandangan maut pada Riana sebelum pergi.
“Dalam rangka apa? Kok tumben mau ngasih Fahrani?”tanyaku ketika kami sedang berjalan menuju ke sebuah butik.
Rafel merangkulku. “Nggak dalam rangka apa-apa. Emangnya nggak boleh ya, kalau nggak ada rangkanya?”
“Ya, nggak gitu juga, sih. Nggak biasanya kamu mau beli sesuatu buat dia.”
Sesampainya di butik itu, Rafel memintaku untuk memilihkan sebuah dress untuk Fahrani. Ukuran tubuhku dan Fahrani memang sama. Setiap kali Rafel ngasih aku baju, pasti Fahrani yang jadi patokan ngepasnya.
Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah dress berwarna ungu gelap. “Ini bagus, Fel. Model baru lagi.”
Rafel berdiri di sampingku dan memandang dress yang aku angkat. “Boleh. Ukurannya pas?”
Aku mengangguk. “Di aku sih, pas. Tapi untuk Fahrani aku nggak tau juga, ya. Tubuh orang kan berubah, Fel.”
Rafel mengambil dress itu dari tanganku dan langsung membayarnya di kasir tanpa mempertimbangkan perkataanku. Lalu diberikannya kantongan berisi dress itu padaku. “Nih, buat kamu.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Wow, Fel. Kamu emang paling bisa.” Aku memeluknya. “Thanks, ya.” Aku memang kurang yakin kalau Rafel sampai segitu pedulinya sama Fahrani. Selama ini dia nggak pernah kasih hadiah buat Fahrani di luar dari hari ulang tahun.
Dan ini sudah cukup membuktikan untukku, kalau Rafel bukanlah cowok seperti yang Riana katakan.
Aku nggak langsung pulang ke rumah. Tapi mengunjungi Adyani di rumah Tristan, karena kepikiran kata-kata Mami. Adikku yang satu itu memang sudah menikah, tapi bukan berarti kami keluarganya lepas tangan begitu saja.
“Eh,” Adyani terkejut ketika melihatku. Dia turun dari tangga berlahan dan duduk di hadapanku. Perutnya sudah semakin besar. Bayi yang ia tidak mau gugurkan. Yang membuat aib di keluarga Handoko. Yang membuatku bekerja keras untuk kuliahku sekarang ini. “Tumben. Kenapa, Sen?”
“Nggak ada apa-apa. Mami cuman suruh aku ngecek keadaan kamu aja. Gimana? Semua sehat kan?”tanyaku.
Adyani mengangguk sambil mengusap perutnya.
“Tristan mana?”tanyaku.
“Ada kerja kelompok dari sekolah.”
What? Kerja kelompok? Sedangkan sang istri di rumah lagi hamil?
Adyani memang sudah berhenti bersekolah sejak kehamilannya diketahui orang banyak. Sedangkan Tristan masih bertahan di sekolah lamanya. Tadinya dia sudah hampir di D.O. tapi tentu saja berkat nama keluarga yang disandangnya, dan dengan uang, dia bisa bertahan di sana. Bagi Tristan kepala keluarga harus sanggup membiayai keluarganya nanti. Well, that last part, boleh juga untuk ukuran cowok. Tapi kalau diinget kesalahan dia…
“Kamu sendirian di rumah, Yan?”tanyaku. Aku teringat akan orangtua Tristan yang sama sibuknya seperti Papi dan Mami.
“Ada Bi Imah ama Pak Didi, kok.”
Pembantu sama supir? Kenapa keluarga Sastroyo begitu meremehkan keselamatan Adyani? Apa mereka menganggap rendah keluarga Handoko?
“Aku harus buru-buru, Yan. Sorry, nggak bisa lama. Biasa tugas kuliahku —“ Aku langsung menutup mulut. Aku tahu soal kuliah dan sekolah pasti akan menyinggung Adyani. Adyani yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, lulus SMA dengan nilai terbaik dan kuliah di luar negri. Tiba-tiba saja dia mendadak harus jadi ibu rumah tangga dan merelakan semua itu pergi. Aku berdiri dan memeluk Adyani sekilas. “Take care ya, Yan. Jangan lupa check up.”
Adyani mengangguk sambil tersenyum tipis.
Kenapa nggak ada yang beres dengan keluargaku? Dafintha yang ngotot jadi musisi, Adyani yang hamil di luar nikah, Dipta yang sulit diatur, berikutnya aku?
Hari ini aku tidak ada kuliah pagi. Jadi dengan santainya aku bisa berangkat ke kampus tanpa buru-buru karena takut terlambat. Safira menyapaku seperti biasanya tapi Riana nggak kelihatan batang hidungnya.
“Ke mana tuh, anak? Takut ama gue?”tanyaku pada Safira di kantin kampus.
Safira mengangkat bahu. “Nggak tau, tuh. Dari tadi nggak keliatan. Kayaknya nggak masuk, deh.”
“Dasar. Udah nantangin, kabur lagi.”
“Udahlah, Sen. Biarin aja. Palingan nanti dia dateng sendiri, minta maaf.”
Minta maaf? Memangnya semudah itu minta maaf pada seorang Seanna Handoko?
“Gue kesel, Saf! Seenaknya dia ngeremehin Rafel. Mentang-mentang Rafel bukan cowok yang tipe kantoran kayak idaman dia, dan dia malah bilang tentang Rafel yang enggak-enggak.” Aku menyipitkan mataku memperhatikan Safira. “Jangan bilang lo mau ikut-ikutan juga?”
Safira langsung berubah panik dan melambai-lambaikan kedua tangannya. “Enggak, enggak. Elo, nih, nuduh aja.”
“Kirain.”
“Eh, Sen. Gue punya ide bagus.”
Aku membuka tugas-tugas kuliahku. Untuk mengecek kalau semuanya sudah lengkap dan sudah sesuai urutan. “Mmm? Tentang apa dan apa?”
“Buat nunjukin ke Riana kalau Rafel tuh, bukan yang kayak dia bilang.”
Aku mulai tertarik dan mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas di hadapanku, menatap Safira. “Caranya?”
Safira memang selalu punya ide brilian. Itu salah satu sebabnya dia masih bisa survive di kampus walaupun dengan nilai yang pas-pasan.
Safira melihat ke sekeliling, memastikan kalau tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kami dan mencondongkan tubuhnya ke arahku lalu berbisik, “elo jadian sama cowok lain.”
“What?” Aku nyaris berteriak. Gimana bisa? “Lo mau ikut-ikutan jadi kayak Riana, ya?”
Safira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, “sssst! Jangan sampai ada yang denger. Ini rahasia kita berdua aja.”
“Saf, lo pikir gue cewek apaan?” Aku mengecilkan volume suaraku. “Kalau gue jadian ama cowok lain, Rafel mau dikemanain?”
“Break. Lo bisa break dulu ‘kan sama dia?”
Break? “You know already, Saf. Gue nggak suka sesuatu yang gantung. Putus, ya putus. Nggak ada break.”
“Jadi lo mau putus beneran dari Rafel? Kalau mau sih, ya lebih bagus.”
Aku menganga kaget. “Ya, enggaklah, Saf. Lo gila, ya? Gue ama Rafel udah hampir setaun sama-sama. Ini jarang-jarangnya terjadi dalam love life gue! Dan dengan gampangnya lo bilang gue mau putus ama dia?”
“Calm down. Biarin gue jelasin dulu dong.”
“Okay! What?” Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
“Lo minta break —atau putus ama Rafel.” Aku melotot mendengar kata-kata pertamanya. “Okay, sepertinya lebih baik break. Lo coba jadian sama cowok lain. Dengan begitu Riana bakalan liat, apa si Rafel masih tetep setia nungguin lo atau enggak. Lo bisa bicarain soal ini ke Rafel. Kasih tau aja rencana kita. Kecuali bagian yang lo jadian lagi.”
“Kayaknya bagian yang jadian emang nggak usah, deh.”
“Kalau lo nggak jadian lagi, Riana bakal liatnya biasa aja. Coba kalau lo jadian lagi dan Rafel masih setia nungguin lo.”
Aku berpikir. Iya juga, sih. Riana harus tau gimana setianya Rafel.
“Berapa lama rencana ini?”tanyaku.
“Mmm…around 6 months I think.”
“What?” Kali ini aku benar-benar berteriak. Beberapa mata tertuju pada kami. “Are you kidding? Is this some kind of joke? Gila lo, ya? Bisa stress gue!”
“Okay, okay. 3 months.”
“No way! 1 month.”
“No. 3 months, final. Kalau terlalu bentar, susah buat Riana percaya.”
3 months without Rafel. Bagus banget. Dan aku harus jadian sama cowok lain? Tapi nggak papa. Ini demi Rafel! Demi imej Rafel di depan temen-temenku. Dia bukan seperti cowok kebanyakan.
“Tapi gue mau jadian sama siapa, Saf?”
Safira terlihat berpikir keras. “Itu dia, Sen. Gue nggak pikirin. Mungkin ada cowok yang lo taksir selain Rafel?”
Aku melotot.
“Okay, okay. I know. Lo setia.” Safira mendengus. “Gini aja, deh. Kita tunggu di sini. Cowok pertama yang nyapa lo, berarti dia yang jadi cowok lo.”
“Okay! Deal! Siapa takut?”
Kami menunggu dan menunggu. Beberapa anak yang bukan socialite, yang masuk kampus ini karena beasiswa, ingin duduk semeja dengan kami karena meja yang lain penuh. Tapi kami menolaknya (tentu saja). Ujung-ujungnya pasti mereka minta yang macem-macem.
“Kalian tuh seenaknya, ya. Nggak tau kita lagi ngobrol?”bentakku.
Mereka hanya menatap kami dengan kesal dan segera beranjak pergi.
“Kapan sih, mereka bisa sadar?” Safira geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. “Mereka semua tuh…ew…gross!”
Aku tertawa. Tapi tawaku berhenti begitu seseorang menepuk bahuku. Kalau cewek sih, nggak papa. Tapi gimana kalau cowok? Jadi itu pacar gue selanjutnya?
Jangan sampe si Didin. Dia sih termasuk socialite, tapi tetep aja! Gayanya culun minta ampun kayak gitu. Atau jangan-jangan yang keren? Palingan si Jordan. Dia emang sering nyapa aku, tapi dia kan player!
Aku melihat ekspresi Safira yang kaget. Okay. Itu udah cukup. Berarti cowok di belakangku ini Didin.
Aku menengok dan mendapati Alvin dengan kameranya yang tergantung di leher. Aku menganga. What? Alvin?
“Hey, Seanna. Ini foto-foto yang gue janjiin kemaren.” Dia menyodorkanku amplop cokelat yang berukuran cukup besar.
Aku menerimanya dengan canggung. “Eh, iya, thanks.” Aku menatap Safira. Aku menggerakkan mulutku mengucapkan kata, “him?”
Safira memberi pandangan padaku. “Well, gue pergi dulu, ya. Masih ada urusan. Bye, Seanna Darling.” Lalu tanpa suara dan hanya dengan gerakan mulut aku menangkap ia berkata, “nikmatin.” Safira bangkit berdiri dan pergi.
Aku melotot sekilas ke arahnya lalu kembali tersenyum manis pada Alvin. God! Gila! Gimana bisa, nih? Alvin! Caranya?
“Eh, mau duduk dulu, Vin?”
“Sure.”
Alvin duduk di hadapanku, di tempat Safira tadi duduk. Beberapa orang yang kami usir tadi menatap benci ke arahku. Seolah berkata, ‘tadi kita nggak boleh duduk di sana, kok Alvin boleh?’
“Gimana kerjaan, Vin? Lancar?”tanyaku.
Alvin terlihat seidkit surprise dengan pertanyaanku. “Lancar.”
Aku teringat akan amplop cokelat yang bertuliskan ‘Adyani’s Wedding’ di tanganku. “Eh, ini fotonya, ya? Boleh gue liat kan?”
“Tentu aja.”
Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
“Sorry ya, baru jadi sekarang. Akhir-akhir ini gue bener-bener sibuk.”
Aku menatapnya sekilas. “Oh, it’s okay. Kalau foto yang besarnya udah jadi?”
Alvin mengangguk. “Tinggal di frame. Nanti secepatnya bakalan gue kirim ke rumah lo.”
Aku kembali memasukkan foto-foto itu ke dalam amplopnya. “Kerja lo bagus banget, Vin.” Yang ini aku tidak berbohong, emang betul kok hasilnya bagus-bagus.
“Thanks. Gue seneng customer gue puas dengan hasil kerja gue.” Alvin nyengir. Cengiran yang selama ini tidak pernah aku liat dari Rafel.
Aduh, mikir apa sih, aku ini? Belum juga putus dari Rafel, break aja belum! Jangan mikir yang macem-macem, Seanna!
“Sekarang lagi sibuk apa, Vin?”tanyaku. God! Kenapa harus aku sih, yang flirting. Seumur-umur belum pernah aku ngejar cowok mana pun. Kenapa yang dateng harus cowok tipe Alvin? Yang bukan tipe gampang tertarik dengan cewek apalagi bisa flirting!
“Rencananya sih, pengen buat pameran. Tapi belum kesampean. Belum dapet masterpiece.”
Aku memiringkan kepalaku dan tersenyum manis memperhatikan Alvin. “Oh, ya? Karya-karya lo selama ini bagus, kok.”
Alvin menggidikkan bahu. “Cuman belum puas aja.”
Aku menunduk dan memain-mainkan ujung amplop tempat foto-foto wedding Adyani. “Gue boleh minta sesuatu? Itu pun kalau lo nggak keberatan.”
“With pleasure, your highness.”
“Well…um…kalau boleh, boleh nggak gue minta ajarin photography?” Aku rasa itu satu-satunya cara. Berbaur dengan kehidupannya. Kalau cuman ngobrol-ngobrol kayak gini aja sih, orang kayak Alvin mana bisa ngena! Adanya tunggu ampe berabad-abad baru dia nembak. Apalagi kalau berita putusnya aku dan Rafel belum menyebar. Aku yakin Alvin bukan tipe cowok yang bisa macarin cewek orang.
Karena Alvin tidak menjawab aku mendongak dan mendapati cowok itu menatapku heran. “What?”
Alvin tersenyum. “Serius lo mau gue ajarin lo photography?”
Aku mengangguk. “Emangnya kenapa? Ada yang salah dengan itu?”
Kali ini Alvin tertawa sumbang. “Elo itu kan Handoko. Nggak salah minta ngajarin photography sama orang kayak gue?”
Shoot! Bisa juga ngomong kejam nih, anak. Tapi yang dia omongin itu bener. Aku bisa aja nyari guru yang jauh lebih berbakat daripada Alvin. Andai aja dia tau niat gue sebenernya bukan photography-nya, tapi dia!
“Yaaa…gimana, ya?” Siapa sih, sebenernya Alvin ini? Bisa-bisanya dia buat seorang Seanna Handoko speechless! “Lebih enak aja kalau sama temen. Ngatur waktunya gampang, komunikasinya gampang. Lagian lo kan tau, kalau sekarang keluarga gue lagi dalam masa-masa tegang. Kalau gue minta les photography, adanya gue diceramahin. Suruh belajar yang bener dululah, itulah. Blabla.”
“Emangnya lo tertarik sama photography?”
Aku mengangguk. “Setelah liat hasil kerja lo, gue jadi pengen nyoba.”
Alvin menaikkan sebelah alisnya, yang membuatku terpesona padanya. Seanna, stop it! “Beneran? Yakin?”
Safira sialan! Kalau aja dia nggak nantangin aku, aku nggak bakalan pernah mau ngelepasin Rafel dan jadian sama Alvin. Kalau aja gengsiku nggak sebesar ini. Kalau aja si Riana mulutnya bisa dijaga dikiiit aja. Kalau aja Adyani nggak hamil dan Nenek Runi nggak neken kuliahku, yang ngebuat aku dan Rafel jadi jarang kelihatan bersama.
Aku mengangguk sambil memberikan seulas senyum yang dipaksakan.
“Okay, then! Nanti buat permulaan lo bisa pinjem camera gue. Lo tinggal atur waktunya, sesuain ama jadwal gue.”
“Eh, nggak usah, sih. Gue bisa kok beli kamera sendiri ―” Aduh, salah ngomong. Pokoknya aku nggak boleh ninggi-ninggiin soal kekayaan dan segala macamnya di depan Alvin. Adanya nanti dia malah lari! Inget Seanna, dia nggak semampu kamu! “Eh, dipinjemin aja, deh.” Lagian credit cardku udah over limit! Daripada maksa beli camera mending buat shopping yang lain! “Gue kan baru mau nyoba.”
Alvin terlihat tidak terganggu dengan kata-kataku. “Jadi kapan lo mau mulai?”
“Secepatnya.”
“Gue kosong setiap hari Jumat sampai Minggu. Gimana?”
“Jumat gue ada kuliah siang. Jadi kira-kira bisa sore. Kalau Sabtu dan Minggu, no problem.” Aku emang sengaja kosongin Sabtu dan Minggu. Gimana enggak? Shopping day!
Alvin bangkit berdiri. “Kalau gitu, gue tunggu besok sore di depan kampus.” Alvin membungkuk, “see you, Princess.” Dia tersenyum lalu pergi.
Aku langsung menghela napas dan meletakkan kepalaku lemas ke atas meja. “Somebody! I need spa!”
“Gimana, Sen?” Safira langsung bertanya padaku ketika aku baru saja selesai dengan kelas terakhirku hari ini. “Lo udah jadian kan?”
Aku melotot ke arahnya. “Safira! Lo gila, ya? Orang yang lo minta buat jadian ama gue itu ―” Aku mengecilkan volume suaraku, aku benar-benar nggak ingin ada seorang pun yang tau soal ini. “Alvin. Lo tau kan dia orangnya kayak gimana? Freak. Nggak jelas. Dan yang terpenting nggak gampang buat didapetin.” Aku suka yang terakhir itu. Aku suka tantangan.
“Lo harus gerak cepet, Sen! Dan inget, sebelum itu lo harus bilang break dulu ke Rafel. Percuma lo jadian ama cowok lain tapi masih tetep sama Rafel.”
Aku berjalan melalui Safira. Kepalaku serasa mau pecah! “Aduh, Saf. Kalau yang itu entar dulu, deh. Satu-satu.” Aku membuka kunci mobilku, tapi Safira menahan lenganku.
“Lo harus mutusin, Sen.”
“Besok, Saf.”
“Ini menyangkut harga diri lo. Walaupun Riana itu temen kita, kalau gue jadi lo, gue juga nggak terima cowok gue digituin.”
“Besok, Saf! Okay? Just ― just give me a time!”
Safira melepaskan tangannya dari lengaku. “Sorry.”
Aku langsung masuk ke dalam mobilku dan pergi.
Aku memikirkan masalah ini semalaman. Mengenai Rafel, Riana, dan Alvin. Tentu aja aku nggak bakalan mundur! Bukan Seanna namanya kalau gini aja nyerah! Lagian Rafel bukan kayak yang Riana bilang! Nggak mungkin Rafel nggak mau berkorban buat aku.
Tapi…gimana kalau misalnya Rafel keberatan dengan semua ini? Aku harus ngomong apa sama Safira? Sama Alvin? Padahal tadi aku jelas-jelas udah flirting ama dia.
Aku menatap nama Rafel di layer HPku. Sambil menghela napas, aku meneleponnya.
“Hey, Honey! What’s up?”
Mungkin ini bukan saat yang tepat. Karena Rafel jelas-jelas lagi nggak berada di rumahnya. Suara tawa terdengar jelas. Sangat berisik. Pasti dia lagi pesta bersama teman-temannya.
“Fel, ada yang mau aku bicarain.”
“Hah? Apa? Nggak denger, Say.”
Aku mengeraskan suaraku, “ada sesuatu yang penting, aku pengen bicarain sama kamu.”
“Aduh, nggak denger, Babe. Bentar-bentar, ya.” Lama-lama suara berisik itu hilang, sampai suara Rafel terdengar jelas. “Nah, ada apa?”
“Aku pengen ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”
“Oh, ya udah, Hon. Apaan?”
“Kamu mau kan, ngelakuin apa aja buat aku?”
“Iyalah. Kok tiba-tiba kamu ngomong gitu?”
Aku menatap dress ungu tua yang tergantung di depan lemari pakaianku. Aku menghela napas. “Kamu pasti tau kalau aku dan Riana berantem. Kamu tau kenapa?”
“Nope.”
“Karena dia, ngelecehin kamu, di depan aku. Dia bilang kamu kayak cowok kebanyakan yang gampang bosen sama cewek, dan blablabla. Dia nggak kenal kamu! Dan aku nggak terima dia ngomong gitu!”
“Ya, ampun, Sen. Udahlah, omongan orang ayak Riana kok didengerin!”
“Kamu kan tau, kalau aku paling nggak bisa digituin!”
“Sekarang maunya kamu gimana?”
“Aku minta putus.”
“What?”
“Aku mohon, kamu bantuin aku, Fel. Ini untuk sementara aja. Tiga bulaaaaaaaaaaan ajaaaa…. Please? For me? Kamu mau kan nungguin aku? Biar kita bisa buktiin ke Riana kalau kamu bukan yang kayak dia kira. Kamus setia. Kamu beda dari cowok yang lain.”
Rafel masih tetap terdiam.
“Fel? Do this for me, ya?”
“Okay. Fine. 3 months. Inget ya, aku lakuin ini buat kamu.”
Aku menghela napas lega. “Thanks banget, Fel. You’re the best. Love you!”
“Love you too, Babe. Sorry ya, aku harus balik ke temen-temenku dulu.”
“Okay. Bye.”
“Bye, Honey.”
Aku menutup telepon dan air mata mulai membasahi pipiku. This is for you, not for me.
“Hei,”sapa Rafel sambil mengecup sekilas pipiku.
Aku duduk di hadapannya. “Sorry, ya, agak telat.” Aku memutar bola mataku. “Nenek Runi masih aware.”
Nenek Runi memang selalu lebih berhati-hati dan tegas pada cucu-cucunya sejak kejadian yang menimpa Adyani. Kami para cucu Handoko jadi stuck berada di ruang tamu Nenek Runi sambil mendengarkan nasehatnya.
Rafel meletakkan tangannya di atas punggung tanganku. “No problem, Hon. Santai aja.”
Aku memijit-mijit pelipisku. “Santai gimana? She told me that I have to concentrate to my life! Tapi dia nahan aku di sana berjam-jam. What a waste! Padahal dengan waktu segitu aku bisa ngejar banyak tugas kuliah.”
Rafel tertawa kecil. “Don’t be such that serious. Kuliah nggak usah terlalu dipikirin.”
Akhir-akhir ini aku hampir nggak punya waktu untuk bersenang-senang. Credit cardku masih setengah limit! Itu bukan suatu hal yang bisa terjadi. Biasanya di tanggal-tanggal kayak gini, semua credit card udah over limit dan aku harus begging ke Papi dan Mami buat nambahin limitnya lagi. Dan nanti Papi mulai bilang, “jumlah tagihan credit card kamu, bisa buat ngebiayain setengah dari sebuah proyek Handoko Group, Seanna!” Tapi tetap aja aku nggak kapok-kapok.
Tapi sekarang nggak ada lagi waktu buat shopping dan seneng-seneng. Nenek Runi semakin menekankan pada cucu-cucunya untuk mengejar pendidikan dan pekerjaan. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa Adyani terulang lagi. Apalagi padaku, Dafintha, dan Dipta.
Selama ini aku memang selalu menjalani kuliahku dengan santai. Toh, akhirnya nanti aku lulus juga. Tapi sekarang aku berada di bawah pengawasan Nenek Runi. Sama aja kayak dipenjara.
Sedangkan Rafel sendiri sudah lulus kuliah. Yang aku tahu, selama dia kuliah, dia juga sama santainya seperti aku. Pada akhirnya pun kami juga akan masuk ke perusahaan keluarga masing-masing, dapat pekerjaan, masa depan sudah terjamin.
Dony datang dan menanyakan pesanan kami. Aku memesan Hot Coffee. Sebenarnya aku nggak punya waktu untuk bertemu Rafel malam ini. Tapi Rafel mendesak aku dan aku pikir-pikir, udah lama juga aku nggak ketemu dia. Jadi aku butuh kopi biar bisa stay all night di depan komputer malam ini.
“Gimana kemarin pernikahan Adyani? Lancar?”tanya Rafel.
Aku mengangguk. “Denise banyak bantuin aku dalam hal ini. Thanks to her!” Denise memang temanku sejak dulu. Bukan hanya aku tapi juga sepupu-sepupuku yang lain. Dia mudah bergaul dengan siapa saja, makanya dia punya relasi banyak, jadi nggak susah buat minta tolong. Dia juga punya beberapa usaha sendiri, yang salah satunya adalah butik. Dari butiknya aku memasan kebaya pengantin Adyani. Dan dengan senang hati Denise juga bersedia menjadi Wedding Organizer dari pernikahan Adyani.
“I know she’s good at it. Dia pasti seneng kamu kasih job.”
“Totally. Padahal bayaran yang aku kasih kan nggak banyak.” Mengingat bagaimana tamu yang datang sangat terbatas. Mami dan Papi nggak mau mengundang banyak orang. Bagi mereka semua, pernikahan Adyani adalah aib bagi keluarga.
Dony datang membawa pesanan kami. “Eh, Sen. Gimana kabarnya Adyani?”
Aku tau kalau Dony diam-diam suka sama Adyani. Pertama kali aku bawa Adyani ke sini sekitar setahun yang lalu, dia banyak tanya soal Adyani. Tapi sejak skandal yang dibuat Adyani menyebar, sepertinya Dony mulai mundur berlahan. Dia hanya bertanya sesekali tentang perkembangan Adyani.
Aku juga nggak tau kenapa rasanya keluarga Handoko kok, nggak sepi-sepinya dari gossip. Pertama Dafintha yang ngotot jadi musisi. Kedua Verena dan Zandy yang tiba-tiba aja jadi soulmate. Ketiga hubungan Dya dan Bagas yang udah jelas-jelas ditentang. Sekarang yang terakhir Adyani yang tiba-tiba aja hamil di luar nikah.
Tidak ada yang menyangka kalau seorang Adyani bisa sampai jatuh ke hal seperti ini. Aku sendiri sebagai Kakaknya nggak pernah berpikir dia akan dapet masalah kayak gini. Aku akuin, pergaulanku memang bebas, nyaris nggak terkendali, tapi nggak pernah sekalipun aku mempertaruhkan keperawananku. Untuk urusan yang satu ini, aku benar-benar hati-hati. Sedangkan Adyani bukan tipe yang suka bergaul bebas.
“Baik,”jawabku.
“Kandungannya? Sekarang udah memasuki berapa bulan?”
“Mau 4 bulan.”
Dony mengangguk-angguk lalu pergi.
“Aku masih nggak nyangka soal Adyani,”kata Rafel. “Everybody knows, she’s not that kind of girl. Tiba-tiba aja dia masuk ke dunia gemerlapan, dan bum! Jadi gitu aja.”
“Hei, jangan gitu juga kamu. Dia itu masih adek aku.”
“Oke, oke. Kamu kan sekarang jadi calon Tante.” Rafel berdeham lalu menirukan suara anak-anak, “Tante Seanna, aku mau es krim, dong. Yang lasa stlobely ya!”
Aku tertawa. “No way!”
Sebenarnya aku masih mau bersantai lebih lama dengan Rafel lagi. Tapi tugas kuliah yang menumpuk sudah menungguku. Aku meminta maaf pada Rafel karena nggak bisa lama-lama dan segera pulang ke rumah.
Saat aku baru saja mau menaiki tangga, Mami memanggilku, “Na, baru pulang?”
“Iya, Mam. Abis ketemu Rafel bentar dulu tadi.”jawabku.
Mami terlihat lelah. Tidak biasanya beliau terlihat seperti itu. Walaupun beliau sibuk, membantu Papi yang pergi ke sana ke mari, tapi beliau selalu menjaga kesehatannya. Sejak insiden Adyani, Mami jadi kelihatan banyak pikiran dan kelelahan.
“Besok Mami sama Papi mau berangkat ke Singapore buat beberapa hari. Kamu kontrol adik-adik kamu, ya. Dafintha bakalan sibuk di kantor.”
Aku mengangguk. Kontrol? Adyani udah punya suami dan udah nggak tinggal di sini lagi. Sedangkan Dipta? Jangan ditanya, siapa yang bisa ngontrol orang kayak dia?
“Kamu kunjungin Adyani, ya. Mami agak khawatir sama dia. Kamu kan tahu gimana adikmu itu. Selalu sungkan kalau minta bantuan dan cerita-cerita.”
“Iya, Mam. Nanti aku sempetin.”
Aku bergegas ke kamarku. Sedikit bersih-bersih dan mengganti pakaianku dengan pakaian tidur lalu bekutat dengan tugasku.
Sekarang sudah pukul 10 malam. Hari ini seperti hari-hari biasanya, melelahkan.
Saat aku baru membaca satu kalimat dalam tugas kuliahku, aku sudah frustasi duluan. “Where’s spa when I need one? Ugh!”
Aku berjalan cepat menuju kelas pertamaku pagi ini. Seperti biasanya aku nyaris terlambat. Semalaman aku bergadang menyelesaikan tugas kuliahku dan alhasil jadi bangun kesiangan. Tentu aja si geblek Dipta nggak bakalan ikhlas atau pun mau ngebangunin kakaknya yang satu ini.
“Seanna, Darling!” Suara nyaring itu nyaris saja membuatku menjatuhkan kertas-kertas di tanganku.
Aku berhenti sesaat dan menoleh, mendapati Safira dengan wajah centilnya. “Fir, sekali lagi lo lakuin hal kayak tadi —“
Safira meletakkan tangannya di depan mulutnya yang ternganga. “Oh, Gosh! Seanna lo kenapa?” Safira menunjuk ke bagian bawah mataku. “It’s kinda spooky!”
Sebenarnya nggak sampai se-spooky apa yang Safira kira. Tapi cukup spooky untuk ukuran cewek yang memperhatikan penampilannya seperti aku dan Safira. Lingkaran hitam? No way! Big no no.
Aku mengacuhkan Safira dan kembali melangkah. Safira masih ngotot dan mengikutiku. Suara high heels kami seolah saling bersautan di lorong yang lumayan sepi ini. Bedanya hanya suara high heels yang terdengar dariku, sedangkan Safira? Suara gelang, tas, dan aksesoris lainnya yang berada di tubuh cewek itu gemerincing, membuat kepalaku semakin pusing.
“Apa yang lo lakuin sih, Sen?”
Aku tetap mengacuhkannya. 5 menit lagi maka aku terlambat.
Safira menarik lenganku. “Look at you! Lo ngehancurin diri lo sendiri!”
“Please, Fir. Jangan sekarang, okay? Lain kali aja kita ngomonginnya. And this is my life! I know what I do!”
Safira melepaskan tangannya dari lenganku dan mengangkat keduanya ke udara. “Okay, fine.” Lalu dia pergi meninggalkanku.
Safira memang cewek manja, yang selalu menghandalkan keluarganya. Dia juga bersikap masa bodoh dengan yang namanya kuliah. Aku juga seperti itu dulu. Hanya saja karena Adyani. Adyani, Adyani, dan Adyani. Sejak dulu dia yang disebut-sebut. Dia cucu Nenek Runi yang paling pintar, berbakat, perfect! Nenek Runi selalu menasehati kami para cucu Handoko agar mengikuti jejak Adyani. Sekarang waktu dia hamil di luar nikah, apa yang bisa dikatakan para pemuja Adyani? Mereka malah minta sebaliknya. Agar kita tidak mengikuti jejak Adyani.
Nobody’s perfect, included me.
Ketika aku tiba di depan pintu ruang kelasku, aku sudah bisa mendengar kuliah Pak Rahman sudah dimulai. Bad things always happened. Aku mengetuk pintu dan membukanya berlahan. Pak Rahman berhenti berbicara dan semua mata tertuju padaku.
“Seanna Nadya Handoko. Kamu boleh keluar.” Hanya itu yang dikatakan Pak Rahman.
Shoot!
Aku kembali penutup pintu dengan agak keras, lalu melihat jam tanganku. Okay! Aku hanya telat 5 menit. 5 menit dan semuanya sia-sia! Tugas yang aku buat semaleman sampai aku kesiangan hari ini. Sekarang?
Aku berbalik dengan kesal, dan menabrak sesuatu hingga aku terjatuh. Setumpuk kertas yang kupegang jatuh berhamburan di lantai.
“Crap! Tell me I’m in hell!”
Aku mendongak dan menatap orang yang menabrakku. Aku kenal orang itu. Alvin Wisnu Aditya Hakim. Yang tidak lain tidak bukan adalah seorang photographer. Aku meng-hire dia untuk pernikahan Adyani sebulan yang lalu.
Alvin mengulurkan tangannya di hadapanku.
Aku memungut kertas-kertas di sekelilingku. “Bilang maaf juga udah cukup, nggak usah dibantuin.” Setelah semua kertas terkumpul aku bangkit berdiri. “Makasih udah ditabrak dan makin ngancurin hari gue.”
“Sisa foto-foto weddingnya Adyani udah jadi. Jadi kapan bisa gue ―”
“Besok aja, deh. Gue lagi nggak mood ngurusinnya.” Aku berbalik tapi lalu berbalik lagi. “Thanks sebelumnya.”
Alvin membungkuk. “You’re welcome, Princess.”
Aku memutar bola mataku melihatnya dan segera pergi. Sambil berjalan aku menambahkan catatan di HPku mengenai foto-foto itu.
Alvin memang cowok yang unik. Dia nggak pernah marah walaupun aku merendahkan dia. Secara physically dia charming. Bahkan menurutku lebih charming daripada Rafel. Hasil potetrannya juga bagus-bagus. Hanya saja dia tidak berasal dari kalangan socialite. Selama ini aku tidak mau bergaul dengan kalangan bawah. Mereka hanya mau memanfaatkan uang kami. Lebih baik berteman dengan orang yang sejajar. Di mana mereka sudah punya segalanya dan tidak akan meminta. Lagipula aku tidak mau menambah masalah di keluarga Handoko lagi. Aku sudah tahu pasti apa jawaban Nenek Runi tentang menikahi atau berhubungan terlalu jauh dengan seseorang yang bukan socialite.
Aku pergi menuju kantin kampus dan mendapati Safira dan Riana sedang mengobrol dengan seru.
“Hey, guys,”kataku sambil duduk di samping Riana.
“Oh!” Riana terkejut melihatku. “I can’t believe it, Safira was right! Lo kenapa?”
“Stop looking at me like that!”
Riana mengalihkan pandangannya dariku. “Okay. Sorry.”
“Dan jangan ngomong gitu terus ke gue. Gue udah cukup frustasi.”
“Lo pasti abis ditendang dari kelasnya Pak Rahman lagi, ya?”tanya Safira.
“Ini gara-gara lo juga tau, Fir. Kalau lo nggak pake nyamperin gue dulu pasti gue bisa ngejar yang 5 menit itu! Sekarang gue kehilangan satu pertemuan! Gue —“
“Stop it!” Safira berteriak. “Lo udah berubah, Sen. Sekarang gue nggak mau tau, lo harus ikut gue.” Safira berdiri sambil menarik tanganku.
“Ke mana?”
“Seneng-seneng.”
Akhirnya limit credit cardku habis sudah. Aku kembali mendapatkan kesenangan yang sudah lama kutinggalkan. Safira, Riana, dan aku. Berjalan bersama dengan menenteng banyak kantong belanjaan. Rasanya semua beban sudah hilang setelah spa dan salon.
“Wow! I’m back to heaven!” Aku tertawa senang.
Riana berhenti di depan sebuah toko. “Wow! Liat, deh, kalungnya. Bagus banget.”
Safira ikut-ikutan melihat ke etalase toko itu dan memandang kalung berlian yang dimaksud Riana dengan takjub. “Iya, Ri. Bagus.”
Aku yang penasaran ikut-ikutan melihat. Memang bagus, sih. Tapi credit cardku udah over limit. Kenapa barang bagus selalu datang belakangan?
Untungnya Safira dan Riana tidak berniat untuk membeli kalung itu sekarang. Mungkin aku bisa beli kalung itu bulan depan.
Tapi…rasanya kok…
“Eh, kalau kalian nggak mau, gue aja yang beli, ya.”kataku.
Safira dan Riana saling berpandangan lalu mengangkat bahu. “Sure. No problem.”
Aku masuk ke dalam toko itu dan langsung membeli kalung yang aku mau. Tentu saja harganya “wow”. Aku harus siap menerima omelan dari Papi dan Mami sepulangnya mereka dari Singapore.
“Gimana kabarnya Rafel, Sen?”tanya Safira begitu kami keluar dari toko. “Kayaknya makin hari dia jadi makin jarang kelihatan.”
Rafel memang nggak bekerja. Keluarganya memiliki sebuah perusahaan yang cukup besar, dan pernah beberapa kali bekerja sama dengan Handoko Group. Rafel tapi belum tertarik dengan dunia bisnis, dia masih lebih senang untuk bergaul dengan teman-temannya. Tapi kapan pun dia bisa menempati posisinya.
“Gue udah jarang contact-contactan ama dia.”jawabku. Tiba-tiba saja aku jadi kangen dengan masa-masa di mana aku dan Rafel lagi deket-deketnya. Kita bisa ngabisin waktu seharian walaupun cuman sekedar nongkrongi di cafĂ©. Dia juga dengan setianya nemenin aku shopping sana sini dan bantuin milih barang. Selama ini pun dia nggak pernah ngeluh soal itu semua.
“Kan bukannya cowok biasanya kayak gitu ya, Sen? Lama-lama bosen,”Riana tiba-tiba nyelutuk.
Aku memandangnya tajam. “Maksud lo apa bilang gitu?”
Riana menggigit bibir bawahnya panik. “Sorry, Sen. Gue nggak maksud. Tapi emang gitu kan kenyataannya? Apalagi cowok tipe Rafel.”
“Shut your mouth!”
Aku mengeluarkan HP-ku dan menelepon Rafel. Aku memintanya untuk menjemputku segera. Biar aku buktiin ke Riana kalau Rafel masih setia sama aku. Sementara menunggu, kami ngopi-ngopi di Starbucks.
Sedangkan Riana masih tidak henti-hentinya meminta maaf. “Sen, I really am sorry. Gue bener-bener nggak ada maksud buat —“
“Enough, Ri! Lo kan tau kalau gue bukan tipe cewek yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Dan emangnya lo pikir, gue adalah cewek yang dengan gampangnya ditipu ama cowok lain? Kalau ngomong dipikir-pikir dulu dong, Ri.”
Safira yang sejak tadi diam menonton pertengkaran kami akhirnya angkat bicara, “hey, you guys. Jangan berantem di public gini dong. Your reputation, remember?”
Aku menghela napas dan menyenderkan punggungku di kursi.
Aku memang paling nggak bisa kalau disinggung. Entah maksud mereka bercanda atau apa, aku nggak peduli. Apalagi kalau menyangkut love life. Bagiku semua ada batasnya. Mau mereka socialite, sederajat, berasal dari keluar mana pun, tetap nggak ada yang berhak buat mengatur sesuatu yang privacy dalam hidupku.
Seseorang merangkulku dari belakang dan aku tahu siapa itu. Tentu saja Rafel. Harum parfumnya benar-benar aku kenal karena aku yang memilihkan untuknya.
“Hey, Babe. Sorry nunggu lama.” Rafel mengecup pipiku sekilas. Lalu dia tersenyum pada Safira dan Riana, “hey, girls. Lama nggak ketemu.”
Safira membalas senyuman Rafel dengan tulus sedangkan Riana membalasnya dengan setengah hati.
“No problem.” Aku memandang Riana yang pura-pura sibuk dengan lattè nya. Aku mendengus. Sebaiknya aku menjauh dulu dari Riana, kalau nggak mau terjadi apa-apa. “Anter aku ke kampus dulu, ya. Ngambil mobil.”
Rafel memberi pandangan pada Safira seolah bertanya, ‘ada masalah apalagi, nih?’ Safira hanya mengangkat bahu. “Okaaay… Tapi keberatan nggak kalau nemenin aku nyari sesuatu untuk Fahrani?” Fahrani adalah kakak dari Rafel. Sama seperti Rafel, Fahrani lebih memilih untuk tidak bekerja. Tapi kehidupan Fahrani jauh lebih liar daripada Rafel.
“Oh, ya udah. Nggak papa. Lagian aku juga belum mau pulang.” Aku melirik Riana dari sudut mataku. “Cuman mau pergi dari sini aja.”
Rafel sepertinya menangkap sikap dinginku pada Riana.
“Gue duluan ya, Saf. Besok kita harus shopping lagi.”
Safira mengacungkan jempolnya.
Aku memberi satu pandangan maut pada Riana sebelum pergi.
“Dalam rangka apa? Kok tumben mau ngasih Fahrani?”tanyaku ketika kami sedang berjalan menuju ke sebuah butik.
Rafel merangkulku. “Nggak dalam rangka apa-apa. Emangnya nggak boleh ya, kalau nggak ada rangkanya?”
“Ya, nggak gitu juga, sih. Nggak biasanya kamu mau beli sesuatu buat dia.”
Sesampainya di butik itu, Rafel memintaku untuk memilihkan sebuah dress untuk Fahrani. Ukuran tubuhku dan Fahrani memang sama. Setiap kali Rafel ngasih aku baju, pasti Fahrani yang jadi patokan ngepasnya.
Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah dress berwarna ungu gelap. “Ini bagus, Fel. Model baru lagi.”
Rafel berdiri di sampingku dan memandang dress yang aku angkat. “Boleh. Ukurannya pas?”
Aku mengangguk. “Di aku sih, pas. Tapi untuk Fahrani aku nggak tau juga, ya. Tubuh orang kan berubah, Fel.”
Rafel mengambil dress itu dari tanganku dan langsung membayarnya di kasir tanpa mempertimbangkan perkataanku. Lalu diberikannya kantongan berisi dress itu padaku. “Nih, buat kamu.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Wow, Fel. Kamu emang paling bisa.” Aku memeluknya. “Thanks, ya.” Aku memang kurang yakin kalau Rafel sampai segitu pedulinya sama Fahrani. Selama ini dia nggak pernah kasih hadiah buat Fahrani di luar dari hari ulang tahun.
Dan ini sudah cukup membuktikan untukku, kalau Rafel bukanlah cowok seperti yang Riana katakan.
Aku nggak langsung pulang ke rumah. Tapi mengunjungi Adyani di rumah Tristan, karena kepikiran kata-kata Mami. Adikku yang satu itu memang sudah menikah, tapi bukan berarti kami keluarganya lepas tangan begitu saja.
“Eh,” Adyani terkejut ketika melihatku. Dia turun dari tangga berlahan dan duduk di hadapanku. Perutnya sudah semakin besar. Bayi yang ia tidak mau gugurkan. Yang membuat aib di keluarga Handoko. Yang membuatku bekerja keras untuk kuliahku sekarang ini. “Tumben. Kenapa, Sen?”
“Nggak ada apa-apa. Mami cuman suruh aku ngecek keadaan kamu aja. Gimana? Semua sehat kan?”tanyaku.
Adyani mengangguk sambil mengusap perutnya.
“Tristan mana?”tanyaku.
“Ada kerja kelompok dari sekolah.”
What? Kerja kelompok? Sedangkan sang istri di rumah lagi hamil?
Adyani memang sudah berhenti bersekolah sejak kehamilannya diketahui orang banyak. Sedangkan Tristan masih bertahan di sekolah lamanya. Tadinya dia sudah hampir di D.O. tapi tentu saja berkat nama keluarga yang disandangnya, dan dengan uang, dia bisa bertahan di sana. Bagi Tristan kepala keluarga harus sanggup membiayai keluarganya nanti. Well, that last part, boleh juga untuk ukuran cowok. Tapi kalau diinget kesalahan dia…
“Kamu sendirian di rumah, Yan?”tanyaku. Aku teringat akan orangtua Tristan yang sama sibuknya seperti Papi dan Mami.
“Ada Bi Imah ama Pak Didi, kok.”
Pembantu sama supir? Kenapa keluarga Sastroyo begitu meremehkan keselamatan Adyani? Apa mereka menganggap rendah keluarga Handoko?
“Aku harus buru-buru, Yan. Sorry, nggak bisa lama. Biasa tugas kuliahku —“ Aku langsung menutup mulut. Aku tahu soal kuliah dan sekolah pasti akan menyinggung Adyani. Adyani yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, lulus SMA dengan nilai terbaik dan kuliah di luar negri. Tiba-tiba saja dia mendadak harus jadi ibu rumah tangga dan merelakan semua itu pergi. Aku berdiri dan memeluk Adyani sekilas. “Take care ya, Yan. Jangan lupa check up.”
Adyani mengangguk sambil tersenyum tipis.
Kenapa nggak ada yang beres dengan keluargaku? Dafintha yang ngotot jadi musisi, Adyani yang hamil di luar nikah, Dipta yang sulit diatur, berikutnya aku?
Hari ini aku tidak ada kuliah pagi. Jadi dengan santainya aku bisa berangkat ke kampus tanpa buru-buru karena takut terlambat. Safira menyapaku seperti biasanya tapi Riana nggak kelihatan batang hidungnya.
“Ke mana tuh, anak? Takut ama gue?”tanyaku pada Safira di kantin kampus.
Safira mengangkat bahu. “Nggak tau, tuh. Dari tadi nggak keliatan. Kayaknya nggak masuk, deh.”
“Dasar. Udah nantangin, kabur lagi.”
“Udahlah, Sen. Biarin aja. Palingan nanti dia dateng sendiri, minta maaf.”
Minta maaf? Memangnya semudah itu minta maaf pada seorang Seanna Handoko?
“Gue kesel, Saf! Seenaknya dia ngeremehin Rafel. Mentang-mentang Rafel bukan cowok yang tipe kantoran kayak idaman dia, dan dia malah bilang tentang Rafel yang enggak-enggak.” Aku menyipitkan mataku memperhatikan Safira. “Jangan bilang lo mau ikut-ikutan juga?”
Safira langsung berubah panik dan melambai-lambaikan kedua tangannya. “Enggak, enggak. Elo, nih, nuduh aja.”
“Kirain.”
“Eh, Sen. Gue punya ide bagus.”
Aku membuka tugas-tugas kuliahku. Untuk mengecek kalau semuanya sudah lengkap dan sudah sesuai urutan. “Mmm? Tentang apa dan apa?”
“Buat nunjukin ke Riana kalau Rafel tuh, bukan yang kayak dia bilang.”
Aku mulai tertarik dan mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas di hadapanku, menatap Safira. “Caranya?”
Safira memang selalu punya ide brilian. Itu salah satu sebabnya dia masih bisa survive di kampus walaupun dengan nilai yang pas-pasan.
Safira melihat ke sekeliling, memastikan kalau tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kami dan mencondongkan tubuhnya ke arahku lalu berbisik, “elo jadian sama cowok lain.”
“What?” Aku nyaris berteriak. Gimana bisa? “Lo mau ikut-ikutan jadi kayak Riana, ya?”
Safira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, “sssst! Jangan sampai ada yang denger. Ini rahasia kita berdua aja.”
“Saf, lo pikir gue cewek apaan?” Aku mengecilkan volume suaraku. “Kalau gue jadian ama cowok lain, Rafel mau dikemanain?”
“Break. Lo bisa break dulu ‘kan sama dia?”
Break? “You know already, Saf. Gue nggak suka sesuatu yang gantung. Putus, ya putus. Nggak ada break.”
“Jadi lo mau putus beneran dari Rafel? Kalau mau sih, ya lebih bagus.”
Aku menganga kaget. “Ya, enggaklah, Saf. Lo gila, ya? Gue ama Rafel udah hampir setaun sama-sama. Ini jarang-jarangnya terjadi dalam love life gue! Dan dengan gampangnya lo bilang gue mau putus ama dia?”
“Calm down. Biarin gue jelasin dulu dong.”
“Okay! What?” Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
“Lo minta break —atau putus ama Rafel.” Aku melotot mendengar kata-kata pertamanya. “Okay, sepertinya lebih baik break. Lo coba jadian sama cowok lain. Dengan begitu Riana bakalan liat, apa si Rafel masih tetep setia nungguin lo atau enggak. Lo bisa bicarain soal ini ke Rafel. Kasih tau aja rencana kita. Kecuali bagian yang lo jadian lagi.”
“Kayaknya bagian yang jadian emang nggak usah, deh.”
“Kalau lo nggak jadian lagi, Riana bakal liatnya biasa aja. Coba kalau lo jadian lagi dan Rafel masih setia nungguin lo.”
Aku berpikir. Iya juga, sih. Riana harus tau gimana setianya Rafel.
“Berapa lama rencana ini?”tanyaku.
“Mmm…around 6 months I think.”
“What?” Kali ini aku benar-benar berteriak. Beberapa mata tertuju pada kami. “Are you kidding? Is this some kind of joke? Gila lo, ya? Bisa stress gue!”
“Okay, okay. 3 months.”
“No way! 1 month.”
“No. 3 months, final. Kalau terlalu bentar, susah buat Riana percaya.”
3 months without Rafel. Bagus banget. Dan aku harus jadian sama cowok lain? Tapi nggak papa. Ini demi Rafel! Demi imej Rafel di depan temen-temenku. Dia bukan seperti cowok kebanyakan.
“Tapi gue mau jadian sama siapa, Saf?”
Safira terlihat berpikir keras. “Itu dia, Sen. Gue nggak pikirin. Mungkin ada cowok yang lo taksir selain Rafel?”
Aku melotot.
“Okay, okay. I know. Lo setia.” Safira mendengus. “Gini aja, deh. Kita tunggu di sini. Cowok pertama yang nyapa lo, berarti dia yang jadi cowok lo.”
“Okay! Deal! Siapa takut?”
Kami menunggu dan menunggu. Beberapa anak yang bukan socialite, yang masuk kampus ini karena beasiswa, ingin duduk semeja dengan kami karena meja yang lain penuh. Tapi kami menolaknya (tentu saja). Ujung-ujungnya pasti mereka minta yang macem-macem.
“Kalian tuh seenaknya, ya. Nggak tau kita lagi ngobrol?”bentakku.
Mereka hanya menatap kami dengan kesal dan segera beranjak pergi.
“Kapan sih, mereka bisa sadar?” Safira geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. “Mereka semua tuh…ew…gross!”
Aku tertawa. Tapi tawaku berhenti begitu seseorang menepuk bahuku. Kalau cewek sih, nggak papa. Tapi gimana kalau cowok? Jadi itu pacar gue selanjutnya?
Jangan sampe si Didin. Dia sih termasuk socialite, tapi tetep aja! Gayanya culun minta ampun kayak gitu. Atau jangan-jangan yang keren? Palingan si Jordan. Dia emang sering nyapa aku, tapi dia kan player!
Aku melihat ekspresi Safira yang kaget. Okay. Itu udah cukup. Berarti cowok di belakangku ini Didin.
Aku menengok dan mendapati Alvin dengan kameranya yang tergantung di leher. Aku menganga. What? Alvin?
“Hey, Seanna. Ini foto-foto yang gue janjiin kemaren.” Dia menyodorkanku amplop cokelat yang berukuran cukup besar.
Aku menerimanya dengan canggung. “Eh, iya, thanks.” Aku menatap Safira. Aku menggerakkan mulutku mengucapkan kata, “him?”
Safira memberi pandangan padaku. “Well, gue pergi dulu, ya. Masih ada urusan. Bye, Seanna Darling.” Lalu tanpa suara dan hanya dengan gerakan mulut aku menangkap ia berkata, “nikmatin.” Safira bangkit berdiri dan pergi.
Aku melotot sekilas ke arahnya lalu kembali tersenyum manis pada Alvin. God! Gila! Gimana bisa, nih? Alvin! Caranya?
“Eh, mau duduk dulu, Vin?”
“Sure.”
Alvin duduk di hadapanku, di tempat Safira tadi duduk. Beberapa orang yang kami usir tadi menatap benci ke arahku. Seolah berkata, ‘tadi kita nggak boleh duduk di sana, kok Alvin boleh?’
“Gimana kerjaan, Vin? Lancar?”tanyaku.
Alvin terlihat seidkit surprise dengan pertanyaanku. “Lancar.”
Aku teringat akan amplop cokelat yang bertuliskan ‘Adyani’s Wedding’ di tanganku. “Eh, ini fotonya, ya? Boleh gue liat kan?”
“Tentu aja.”
Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
“Sorry ya, baru jadi sekarang. Akhir-akhir ini gue bener-bener sibuk.”
Aku menatapnya sekilas. “Oh, it’s okay. Kalau foto yang besarnya udah jadi?”
Alvin mengangguk. “Tinggal di frame. Nanti secepatnya bakalan gue kirim ke rumah lo.”
Aku kembali memasukkan foto-foto itu ke dalam amplopnya. “Kerja lo bagus banget, Vin.” Yang ini aku tidak berbohong, emang betul kok hasilnya bagus-bagus.
“Thanks. Gue seneng customer gue puas dengan hasil kerja gue.” Alvin nyengir. Cengiran yang selama ini tidak pernah aku liat dari Rafel.
Aduh, mikir apa sih, aku ini? Belum juga putus dari Rafel, break aja belum! Jangan mikir yang macem-macem, Seanna!
“Sekarang lagi sibuk apa, Vin?”tanyaku. God! Kenapa harus aku sih, yang flirting. Seumur-umur belum pernah aku ngejar cowok mana pun. Kenapa yang dateng harus cowok tipe Alvin? Yang bukan tipe gampang tertarik dengan cewek apalagi bisa flirting!
“Rencananya sih, pengen buat pameran. Tapi belum kesampean. Belum dapet masterpiece.”
Aku memiringkan kepalaku dan tersenyum manis memperhatikan Alvin. “Oh, ya? Karya-karya lo selama ini bagus, kok.”
Alvin menggidikkan bahu. “Cuman belum puas aja.”
Aku menunduk dan memain-mainkan ujung amplop tempat foto-foto wedding Adyani. “Gue boleh minta sesuatu? Itu pun kalau lo nggak keberatan.”
“With pleasure, your highness.”
“Well…um…kalau boleh, boleh nggak gue minta ajarin photography?” Aku rasa itu satu-satunya cara. Berbaur dengan kehidupannya. Kalau cuman ngobrol-ngobrol kayak gini aja sih, orang kayak Alvin mana bisa ngena! Adanya tunggu ampe berabad-abad baru dia nembak. Apalagi kalau berita putusnya aku dan Rafel belum menyebar. Aku yakin Alvin bukan tipe cowok yang bisa macarin cewek orang.
Karena Alvin tidak menjawab aku mendongak dan mendapati cowok itu menatapku heran. “What?”
Alvin tersenyum. “Serius lo mau gue ajarin lo photography?”
Aku mengangguk. “Emangnya kenapa? Ada yang salah dengan itu?”
Kali ini Alvin tertawa sumbang. “Elo itu kan Handoko. Nggak salah minta ngajarin photography sama orang kayak gue?”
Shoot! Bisa juga ngomong kejam nih, anak. Tapi yang dia omongin itu bener. Aku bisa aja nyari guru yang jauh lebih berbakat daripada Alvin. Andai aja dia tau niat gue sebenernya bukan photography-nya, tapi dia!
“Yaaa…gimana, ya?” Siapa sih, sebenernya Alvin ini? Bisa-bisanya dia buat seorang Seanna Handoko speechless! “Lebih enak aja kalau sama temen. Ngatur waktunya gampang, komunikasinya gampang. Lagian lo kan tau, kalau sekarang keluarga gue lagi dalam masa-masa tegang. Kalau gue minta les photography, adanya gue diceramahin. Suruh belajar yang bener dululah, itulah. Blabla.”
“Emangnya lo tertarik sama photography?”
Aku mengangguk. “Setelah liat hasil kerja lo, gue jadi pengen nyoba.”
Alvin menaikkan sebelah alisnya, yang membuatku terpesona padanya. Seanna, stop it! “Beneran? Yakin?”
Safira sialan! Kalau aja dia nggak nantangin aku, aku nggak bakalan pernah mau ngelepasin Rafel dan jadian sama Alvin. Kalau aja gengsiku nggak sebesar ini. Kalau aja si Riana mulutnya bisa dijaga dikiiit aja. Kalau aja Adyani nggak hamil dan Nenek Runi nggak neken kuliahku, yang ngebuat aku dan Rafel jadi jarang kelihatan bersama.
Aku mengangguk sambil memberikan seulas senyum yang dipaksakan.
“Okay, then! Nanti buat permulaan lo bisa pinjem camera gue. Lo tinggal atur waktunya, sesuain ama jadwal gue.”
“Eh, nggak usah, sih. Gue bisa kok beli kamera sendiri ―” Aduh, salah ngomong. Pokoknya aku nggak boleh ninggi-ninggiin soal kekayaan dan segala macamnya di depan Alvin. Adanya nanti dia malah lari! Inget Seanna, dia nggak semampu kamu! “Eh, dipinjemin aja, deh.” Lagian credit cardku udah over limit! Daripada maksa beli camera mending buat shopping yang lain! “Gue kan baru mau nyoba.”
Alvin terlihat tidak terganggu dengan kata-kataku. “Jadi kapan lo mau mulai?”
“Secepatnya.”
“Gue kosong setiap hari Jumat sampai Minggu. Gimana?”
“Jumat gue ada kuliah siang. Jadi kira-kira bisa sore. Kalau Sabtu dan Minggu, no problem.” Aku emang sengaja kosongin Sabtu dan Minggu. Gimana enggak? Shopping day!
Alvin bangkit berdiri. “Kalau gitu, gue tunggu besok sore di depan kampus.” Alvin membungkuk, “see you, Princess.” Dia tersenyum lalu pergi.
Aku langsung menghela napas dan meletakkan kepalaku lemas ke atas meja. “Somebody! I need spa!”
“Gimana, Sen?” Safira langsung bertanya padaku ketika aku baru saja selesai dengan kelas terakhirku hari ini. “Lo udah jadian kan?”
Aku melotot ke arahnya. “Safira! Lo gila, ya? Orang yang lo minta buat jadian ama gue itu ―” Aku mengecilkan volume suaraku, aku benar-benar nggak ingin ada seorang pun yang tau soal ini. “Alvin. Lo tau kan dia orangnya kayak gimana? Freak. Nggak jelas. Dan yang terpenting nggak gampang buat didapetin.” Aku suka yang terakhir itu. Aku suka tantangan.
“Lo harus gerak cepet, Sen! Dan inget, sebelum itu lo harus bilang break dulu ke Rafel. Percuma lo jadian ama cowok lain tapi masih tetep sama Rafel.”
Aku berjalan melalui Safira. Kepalaku serasa mau pecah! “Aduh, Saf. Kalau yang itu entar dulu, deh. Satu-satu.” Aku membuka kunci mobilku, tapi Safira menahan lenganku.
“Lo harus mutusin, Sen.”
“Besok, Saf.”
“Ini menyangkut harga diri lo. Walaupun Riana itu temen kita, kalau gue jadi lo, gue juga nggak terima cowok gue digituin.”
“Besok, Saf! Okay? Just ― just give me a time!”
Safira melepaskan tangannya dari lengaku. “Sorry.”
Aku langsung masuk ke dalam mobilku dan pergi.
Aku memikirkan masalah ini semalaman. Mengenai Rafel, Riana, dan Alvin. Tentu aja aku nggak bakalan mundur! Bukan Seanna namanya kalau gini aja nyerah! Lagian Rafel bukan kayak yang Riana bilang! Nggak mungkin Rafel nggak mau berkorban buat aku.
Tapi…gimana kalau misalnya Rafel keberatan dengan semua ini? Aku harus ngomong apa sama Safira? Sama Alvin? Padahal tadi aku jelas-jelas udah flirting ama dia.
Aku menatap nama Rafel di layer HPku. Sambil menghela napas, aku meneleponnya.
“Hey, Honey! What’s up?”
Mungkin ini bukan saat yang tepat. Karena Rafel jelas-jelas lagi nggak berada di rumahnya. Suara tawa terdengar jelas. Sangat berisik. Pasti dia lagi pesta bersama teman-temannya.
“Fel, ada yang mau aku bicarain.”
“Hah? Apa? Nggak denger, Say.”
Aku mengeraskan suaraku, “ada sesuatu yang penting, aku pengen bicarain sama kamu.”
“Aduh, nggak denger, Babe. Bentar-bentar, ya.” Lama-lama suara berisik itu hilang, sampai suara Rafel terdengar jelas. “Nah, ada apa?”
“Aku pengen ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”
“Oh, ya udah, Hon. Apaan?”
“Kamu mau kan, ngelakuin apa aja buat aku?”
“Iyalah. Kok tiba-tiba kamu ngomong gitu?”
Aku menatap dress ungu tua yang tergantung di depan lemari pakaianku. Aku menghela napas. “Kamu pasti tau kalau aku dan Riana berantem. Kamu tau kenapa?”
“Nope.”
“Karena dia, ngelecehin kamu, di depan aku. Dia bilang kamu kayak cowok kebanyakan yang gampang bosen sama cewek, dan blablabla. Dia nggak kenal kamu! Dan aku nggak terima dia ngomong gitu!”
“Ya, ampun, Sen. Udahlah, omongan orang ayak Riana kok didengerin!”
“Kamu kan tau, kalau aku paling nggak bisa digituin!”
“Sekarang maunya kamu gimana?”
“Aku minta putus.”
“What?”
“Aku mohon, kamu bantuin aku, Fel. Ini untuk sementara aja. Tiga bulaaaaaaaaaaan ajaaaa…. Please? For me? Kamu mau kan nungguin aku? Biar kita bisa buktiin ke Riana kalau kamu bukan yang kayak dia kira. Kamus setia. Kamu beda dari cowok yang lain.”
Rafel masih tetap terdiam.
“Fel? Do this for me, ya?”
“Okay. Fine. 3 months. Inget ya, aku lakuin ini buat kamu.”
Aku menghela napas lega. “Thanks banget, Fel. You’re the best. Love you!”
“Love you too, Babe. Sorry ya, aku harus balik ke temen-temenku dulu.”
“Okay. Bye.”
“Bye, Honey.”
Aku menutup telepon dan air mata mulai membasahi pipiku. This is for you, not for me.
ini ceritanya berseri tentang keluarga Handoko gitu. Bahasa Inggrisnya masih agak berantakan karena gue buatnya spontan dan belom di otak atik lagi
BalasHapuswew ini dibuat spontan? keren bgt kei ceritanya, paling cuman beberapa typo error aja
BalasHapushaha gue kan emang eror -__- spelling dan grammar itu loh benci gue ama tuh dua. kadang gue nggak tau ya spontan aja gue tulis. kan lo yang kasih saran waktu itu, apa yang ada di kepala tulis aja
BalasHapuslanjutkan terus ceritnya ya...
BalasHapus