Verena mencari Zandy ke
Keisha menatap sahabatnya iba. Dipegangnya pundak Verena. “Sabar, ya. Pasti ketemu.” Keisha memberikan senyuman dukungan.
Verena mengeluarkan iPod-nya dari dalam saku baju seragamnya, dan menyalakannya. Di saat-saat seperti ini, Verena paling senang kalau dengerin lagu.
“Nggak tau diri. Buat orang susah aja.”gerutu Verena sambil mengotak-atik iPod-nya.
Keisha memandangi jam tangannya. “Gue harus pulang nih, Ren. Biasalah nyokap, cerewetnya minta ampun kalau gue pulang telat dikit aja. Minggu ini gue udah pake alasan Fisika, Biologi, Matematika, ama Bahasa Inggris. Takutnya nyokap gue curiga.”
“Nggak pa-pa, kok. Nanti juga tuh anak muncul sendiri.”jawab Verena.
Keisha memberikan tatapan iba sekali lagi lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Verena yang masih kesal.
Udah buat gue dateng telat hari ini, pulang telat pula, batin Verena. Kenapa nggak gue coba cari di kantin? Siapa tau dia malah enak-enakkan makan di
Verena bangkit berdiri, mengantongi iPodnya yang masih menyala sambil bersandung menuju ke kantin. Ketika sampai di kantin langkahnya terhenti, serasa nafasnya juga ikut-ikutan terhenti.
Verena nggak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Apalagi lagu yang diputar iPod-nya sekarang benar-benar pas dengan keadaannya. No More dari Soulvibe.
“I just want you to know that I’m not loving you, anymore…”
Verena menutup mulut dengan tangannya agar tidak berteriak. Dirinya benar-benar nggak menyangka akan dalam posisi seperti sekarang ini. Di hadapannya, seorang cowok yang sangat ama dipercayainya, yang benar-benar sangat disayanginya, Haikal. Yang sudah hampir 2 tahun bersamanya, yang begitu baik di matanya. Begitu mudah menghancurkan semua yang telat diberikan Verena selama ini.
Haikal berpelukan mesra dengan seorang cewek yang dikenal Verena sebagai Intan. Tidak hanya itu, bahkan Haikal mengecup mesra pipi kanan Intan, yang membuat Verena tidak kuat lagi menahan air matanya. Haikal dan Intan duduk membelakangi Verena, Haikal merangkul Intan, seperti yang sering dilakukannya pada Verena.
Verena mundur berlahan, air matanya terus mengalir. Verena berhenti ketika tubuhnya menabrak sesuatu. Ketika Verena berbalik, ternyata dirinya menabrak tubuh Zandy.
Tanpa berkata apa-apa, karena Zandy sudah mengerti situasi yang sedang dihadapi Verena sekarang, Zandy mengandeng tangan Verena membawa cewek itu ke tempat parkiran yang sudah sepi.
“Baru pertama kali ngeliat kayak gitu?”tanya Zandy sambil tetap menggandeng tangan Verena.
“Haikal itu pacar pertama gue,”jawab Verena disela-sela isak tangisnya.
“Pantesan aja. Ngapain orang kayak gitu ditangisin? Jelas-jelas dia udah selingkuh, ‘
Verena melepaskan tangannya dari tangan Zandy. “Gampang banget lo ngomong? Dasar player!”
“Lho? Abisnya selain diputusin lo mau ngapain dia lagi? Nampar? Nonjok? Atau justru lo masih mau pacaran ama cowok yang jelas-jelas udah nipu lo? Gue yakin lo nggak sebego cowok lo yang selingkuh di sekolah!.”
Kedua tangan Verena terkepal di sisi tubuhnya. Amarahnya bercampur aduk. Antara Haikal dan Zandy.
Zandy membuka kunci mobilnya. “Jangan nangis lagi. Gue nggak mau lo sampe rumah dengan mata sembab. Bisa-bisa gue abis ama kakak lo.”
Tangan Zandy masih di atas keyboard. Rencananya dia ingin mengajak Dian jalan. Tapi berhubung cewek itu lebih suka berhubungan dengan via e-mail, Zandy jadi kaku sendiri. Zandy sebenarnya bukan cowok yang gaptek, malahan high-tech. Tapi dia bingung jika harus PDKT lewat e-mail, atau surat-suratan. Dia lebih suka langsung ngomong.
Hei, apa kabar?
Zandy menghapus semua yang sudah ditulisnya. Kok pake gue elo, sih?
Apa kabar Dian?
Zandy mondar-mandir di kamarnya nggak karuan, menunggu balasan dari Dian. Apa cewek itu lagi nggak buka e-mail? Gimana kalau bukanya baru hari Sabtu? Gimana kalau dia nggak bisa?
Laptop Zandy berbunyi. Kontan Zandy langsung menuju laptopnya. Balasan dari Dian sudah masuk ke inbox-nya.
Sabtu, ya? Kayaknya nggak ada. Oke. Aku bisa nemenin kamu.
Zandy melompat-lompat kegirangan. Tujuan utamanya sih, bukan buat cari buku. Tapi buat ngajak Dian ketemuan. Zandy nggak rela kalau hanya bisa bertemu di hari Senin, saat dia dapat pelajaran tambahan dari Dian.
“Wah, kencan rupanya.” Zandy langsung menutup laptopnya, dan mendapati kakaknya, Dya, sudah berada di belakangnya. “Kencan kok ngakunya nyari buku.”
“Ini namanya taktik, tau!”balas Zandy.
“Oh, ya? Atau apa tuh katanya si Dipta? Teori akal bulus ke VI?”
Zandy berdecak. “Itu sih ada-adanya si Dipta aja. Lagian lo kayak nggak pernah liat cowok ngedeketin cewek aja!”
Ledya menunjukkan sebuah foto yang sejak tadi sudah dipegangnya. Di foto itu adalah Zandy saat dia SMP. Ledya iseng-iseng membuka pintu kamar Zandy dan memotretnya. Tepat saat Zandy baru saja memakai boxernya. Zandy langsung blushing melihatnya. Kakaknya yang pendiam itu memang diam-diam juga jahil. Tapi dia nggak menyangka Ledya masih menyimpan foto itu bahkan menyetaknya.
Zandy berusaha merebut foto itu dari tangan Dya. “Eh, eh. Mau lo apain? Aib gue tuh!”
Ledya terus menghindar. “Yang berhak jadi calon istri lo, adalah orang yang masih menerima lo apa adanya setelah ngeliat foto ini.”
Zandy meringis. Jadinya Ledya mau ngadain syalembara, nih?
“Kalau Dian tau gimana, ya? Lari terbirit-birit kah dia? Sakit hati? Ketawa?”
Zandy baru mau ingin melempar kakaknya itu dengan bantal, tapi Dya sudah keburu menghilang dari balik pintu kamarnya.
Verena termenung di atas tempat tidurnya. Memandangi semua barang-barang yang memenuhi tempat tidur di sekelilingnya.Semua barang yang mengingatkannya dengan Haikal.
Verena mengambil sebuah Teddy Bear kecil di sampingnya. Kado pertama dari Haikal, saat mereka anniversary satu bulanan. Yang juga sudah hampir 2 tahun menemaninya tidur. Verena melirik foto nya dan Haikal yang sudah dikeluarkan dari framenya dan di tumpuk dengan rapih.
Banyak juga ya, foto gue sama tuh cowok.
Verena kembali teringat kejadian di kantin tadi. Verena benar-benar nggak menyangka kalau hubungannya bakalan berakhir dengan cara seperti ini. Sekaligus tidak percaya juga, Haikal, seorang cowok yang sangat ia kagumi dan percayai, bermesraan dengan cewek lain di hadapannya. Apa Haikal selama ini tidak bahagia dengan dirinya? Sudah berapa lama ia dengan Intan? Kenapa dia bohong? Kalau mau putus
Zandy jadi kebingungan sendiri. Sepupu di sampingnya ini hanya diam seperti mayat sejak ia masuk ke mobilnya pagi ini. Wajahnya pucat, matanya bengkak, walaupun tetap saja kecantikannya menutupi semua itu.
“Lo kenapa? Sakit?”tanya Zandy.
Verena menggeleng.
Zandy langsung teringat kejadian kemarin. Di lingkungan pergaulannya, hal seperti itu sudah biasa. Walaupun dirinya sendiri tidak pernah menerima kalau ceweknya bermesaraan dengan cowok lain. Apalagi dalam kasus Fiona, yang sudah benar-benar keterlaluan.
“Haikal bukan satu-satunya cowok di dunia ini yang mau sama lo. Lo nangisin dia, dia malah seneng. Air mata lo tuh terlalu berhagara, Ren. Lo tuh cantik, pinter, baik. Banyaklah cowok yang mau sama—“ Mulut Zandy terkunci. Zandy langsung salting sendiri karena semua yang ada dipikirannya keluar begitu saja tanpa terbendung.
Verena menatap Zandy heran. Sejak kapan cowok itu jadi pinter ngerayu?
“Mmmm…,”gumam Zandy mencairkan suasana, “hari Sabtu gue udah janjian ama Dian. Rencananya gue mau langsung nembak. Gimana menurut lo?”
Verena lumayan kaget mendengar ucapan Zandy. Baru saja dia terbuai, tiba-tiba semua itu berganti dengan kekhawatiran. “Sa-Sabtu besok?”
Zandy mengangguk mantap. “Gue udah bener-bener yakin. Dia yang terbaik buat gue! Nggak ada yang lain!”
Verena semakin kacau lagi mendengar Zandy yang sudah benar-benar mantap dengan Dian. Entah kenapa dirinya jadi sedih. Masih ada satu minggu lagi dirinya akan bersama Zandy setiap pagi sampai pulang sekolah. Hanya 1 minggu lagi. Apa nenek Runi bisa memperpanjang hukuman ini? Verena jadi bingung sendiri, kenapa dirinya jadi berharap hukuman Zandy diperpanjang, padahal selama ini dia merasa risih dengan kehadiran Zandy setiap paginya.
“Menurut lo gimana? Lo
Verena berusaha berpikiran positif. Bukan untuk dirinya tapi untuk Zandy. “Tuh, elo udah bilang sendiri. Kalau lo aja nggak lebih tau Dian daripada gue, gue rasa lo belum siap. Dan inget ya, Dian itu cewek dewasa. Dia nggak bakalan nerima lo doang hanya karena embel-embel nama Handoko atau karena fisik lo aja. Apalagi lo udah terlanjur kena cap playboy.”
“Jadi lo nggak dukung gue, nih?”
Verena terdiam sebentar. Mendukung Zandy? Apa selama ini dirinya mendukung Zandy? Kenapa mendukung cowok ini rasanya susah sekali? “Ya, terserah lo juga. Tapi jangan kecewa kalau nanti Dian nolak lo dan bisa-bisa hubungan kalian malah menjauh.”
“Itu dia yang gue pikirin! Tapi apa sih, yang ditakutin sama seorang Rezandy? Nembak cewek sih, udah biasa. Yang nolak gue juga banyak, yang nerima apalagi. Tapi life goes on. Masih banyak cewek lain.”
Verena mencibir. “Playboy kelas hiu! Awas ya, nanti kalau ditolak beneran jangan nangis.”
“Boys don’t cry, you know?”
Verena tersenyum sinis. “Hari sabtu lo bakalan ganti kata-kata itu. “Boys don’t lie.”
Lagi-lagi Zandy menghilang. Verena nggak lagi mencari Zandy keliling sekolah. Dia lebih memilih menunggu di dekat mobil di parkiran. Verena nggak mau lagi melihat kejadian yang sama seperti kemarin. Baginya yang kemarin itu sudah lebih dari cukup.
Hari ini dia benar-benar menghindar dari Haikal. Haikal sempat menyapanya saat istirahat pertama dan kedua tadi. Tapi Verena langsung menghindar dan masuk ke toilet wanita, biar Haikal nggak ngejar-ngejar lagi. Alhasil Verena nggak makan apa-apa di sekolah hari ini. Perutnya sudah keroncongan, menjerit minta makanan. Belum lagi Zandy yang nggak datang-datang, dan cuaca hari ini yang panas.
Verena baru akan mau meninggalkan tempatnya, sebelum dia mengurungkan kembali niatnya. Dia takut bertemu dengan Haikal. Verena tau betul bagaimana kebiasaan Haikal setiap harinya. Jam segini Haikal pasti belum pulang. Cowok itu pasti nongkrong bersama teman-temannya di kantin. Atau bahkan mungkin bersama Intan.
Verena berusaha menghubungi Zandy berkali-kali. Tapi sama sekali nggak diangkat.
Seseorang menepuk bahu Verena. Verena langsung berbalik dan siap memaki-maki orang yang dipikirnya Zandy itu. Ternyata itu Keisha.
“Belum pulang, Ren?”tanya Keisha.
Verena menggeleng lemah. “Zandy nggak muncul-muncul. Lo liat dia nggak?”
“Nggak, tuh. Gue abis rapat OSIS, sih. Nggak mungkin
“Hukuman Zandy
“Lo tunggu di dalem aja, kali. Biar dia yang nyariin lo nanti. Panas, panas gini nanti pingsan, lho.”
Verena kembali menggeleng.
Keisha langsung sadar apa alasan Verena nggak mau menunggu di dalam sekolah. “Soal Haikal, ya? Lo belum ngomong putus ama dia?” Verena menggeleng. “Gimana dia mau berhenti ngejar lo? Kalau gue jadi dia, cewek gue ngehindarin gue, gue bakalan terus kejar. Kecuali lo udah mutusin dia dan ngasih alasannya.”
Verena nggak sanggup berbicara dengan Haikal. Melihat wajah cowok itu saja dia sudah lari terbirit-birit. Jangankan kata putus, sekedar say hi aja Verena nggak berani. Haikal berubah menjadi seorang cowok yang menakutkan di mata Verena. Bukan lagi cowok pujaannya dulu.
“Gue tau, Sha. Tapi seenggaknya nggak hari ini. Mungkin besok, mungkin lusa. Yang pasti gue bakalan bilang. Gimana pun juga, gue dan dia
Keisha mengangguk mengerti. “Semua keputusan ada di tangan lo. Gue cuman mau bilang kalau gue masih mau dengerin curhatan lo. Anytime. Lo lebih penting kok, daripada OSIS.”
Verena tersenyum tulus. Nggak menyangka sahabatnya, Keisha, yang begitu membanggakan Zandy, yang biasanya selalu bercanda, sekarang bisa puitis. “Thanks ya, Sha. You’re the best.”
Keisha melambai dan meninggalkan Verena seorang diri di tempat parkir.
Seseorang kembali menepuk bahu Verena. Verena mengira kalau Keisha balik lagi. Tapi senyumnya langsung hilang begitu tau siapa yang datang. Bukan Zandy. Tapi orang yang paling tidak ingin ditemuinya. Yang paling dihindarinya hari ini. Haikal.
Haikal tersenyum pada Verena. “Hei. Ngapain kamu di sini? Panas panas gini nanti gosong, lho,”katanya berniat bercanda. Tapi itu sama sekali tidak lucu di telinga Verena. Senyuman Haikal yang dulu baginya adalah hal yang paling dinanti-nantikan, sekejap sekarang berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Dirinya tidak lagi nyaman berada di sisi Haikal. Melainkan jadi takut, khawatir.
“Kamu kenapa sih, hari ini? Dari tadi aku kejar-kejar kamu, lho. Aku tungguin di depan toilet tapi nggak keluar-keluar juga. Masuk angin, ya? Kurang enak badan?”lanjut Haikal.
Verena mundur beberapa langkah. Berusaha menjaga jarak dari Haikal yang sudah ingin menggapainya dengan sebelah tangan.
“Aku ada salah? Kok kamu gitu?”tanya Haikal. Verena masih tidak menjawab. Haikal mulai emosi. Verena tidak pernah marah seperti ini padanya. “Kalau memang ada yang kamu nggak suka, kamu
Verena menitikkan air mata. “Iya!
“Maksud kamu?”
“Don’t be such a selfish deh, Kal! Kita putus!”
Haikal sudah kehabisan kesabaran. Ditariknya tangan Verena kasar. “Gue tau lo putri Kusuma dan Handoko. Tapi jangan lo pikir karena itu gue jadi segan ama lo. Gue bosen selama sama lo! Jadi wajar dong, kalau gue mencari sedikit kesenangan lain yang nggak bisa lo berikan ke gue?”
Satu tamparan telak di pipi kanan Haikal dari Verena. “Kurang ajar lo! Lo pikir gue cewek apaan?”
Haikal meringis sambil menyentuh pipi kanannya. “Lo pikir gue terima lo putusin gitu aja?”
“Dan lo pikir gue terima di selingkuhin gitu aja?”
Haikal tersenyum sinis. “Ini yang gue suka dari seorang Verena Kusuma.” Haikal menarik tangan Verena agar ikut dengannya. Tapi Verena terus memberontak.
“Lepasin gue!”
Haikal terus memaksa Verena. Menariknya dengan kasar. Verena pun juga terus memberontak sekuat tenaga. Tapi bagaimanapun tenaga Haikal jauh lebih kuat darinya.
Sampai pada akhirnya sebuah tonjokan telak mendarat di pipi kiri Haikal dan membuatnya terhuyung ke belakang dan melepaskan cengkramannya dari Verena.
Verena menoleh dan mendapati Zandy sudah berada di sebelahnya. Rasanya Verena ingin sekali memaki-maki Zandy karena sudah membuatnya lama menunggu, sampai-sampai Haikal datang.
“Hei, lo nggak usah ikut campur ya,”kata Haikal sinis.
“Gue nggak mau main kekerasan lagi di sini. Gue tau pasti lo tau siapa Verena dan siapa gue. Handoko nggak bakalan tinggal diam kalau sampai salah satu dari mereka disentuh ama cowok brengsek kayak lo! Gue jamin lo nggak bakal bisa kabur!”kata Zandy.
Haikal menatapku dan Zandy bergantian dengan tatapan penuh benci sebelum akhirnya pergi meninggalkan Zandy dan Verena.
Verena berdiri diam mematung. Tubuhnya gemetaran. Kepalanya pusing. Antara belum makan, panasnya terik matahari, juga kejadian yang menimpanya tadi. Dia tidak pernah melihat Haikal sekesar itu sebelumnya. Begitu juga pada Zandy. Walaupun Zandy terkenal anak nakal, tapi Verena belum pernah melihat Zandy menghajar orang satu pun.
Zandy mendekati Verena. Menangkup wajah Verena dengan kedua tangannya dan menghadapkannya ke wajahnya. “Lo nggak pa-pa?” Verena menggeleng walaupun tubuhnya masih gemetar. Zandy menarik Verena ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan gadis itu.
Verena membalas pelukan Zandy. Yang baginya pelukan terhangat yang pernah dia terima. Bahkan pelukan Haikal selama ini pun tidak sebaik pelukan Zandy. Verena menyenderkan kepalanya di bahu Zandy dan melanjutkan acara tangisnya.
Zandy mempererat pelukannya, berusaha menenangkan Verena yang masih gemetaran. Zandy membenamkan wajahnya di antara rambut Verena, yang wanginya seperti strawberry. Lalu berjanji dalam hatinya sendiri, kalau mulai saat itu, dia akan menjaga Verena
“Lo ke mana aja, sih?”tanya Verena pada Zandy saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Sorry, sorry, deh. Gue keterusan ngobrol. Lagian lo bukannya nyari gue aja.” Verena terdiam. “Oh, takut ketemu Haikal, ya? Akhirnya ketemu juga
“Mana gue tau, bakalan ketemu dia. Tau gitu gue pulang bareng Keisha, deh!”
“Eh, kita
Verena menatap Zandy dan mengernyitkan dahi. “Kita? Bukannya elo doang, ya?”
Zandy nyengir. “Tapi
“Sometimes. Tapi gue seneng juga kok. Setidaknya dengan adanya hukuman ini, setiap pagi gue ada temen ngobrol di jalan.”
Zandy menaikkan sebelah alisnya. “Just that?”
Mobil Zandy berhenti tepat di depan rumah Verena. “And I also know more about my bad cousin.”
Zandy tersenyum tulus, yang membuat Verena jadi panas dingin. Verena hendak membuka pintu mobil Zandy, sebelum Zandy menahan tangan cewek itu dan menarik bagian belakang lehernya agar mendekat padanya. Diciumnya pipi kanan Verena lama dan dalam, sambil menghirup aroma strawberry khas Verena. Verena hana bisa blushing diperlakukan seperti oleh Zandy.
“Take care, ya.”kata Zandy setelah melepaskan diri dari Verena.
Verena nggak bisa berkata-kata lagi. Secepat mungkin dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Zandy memperhatikan sosok Verena yang hilang masuk ke dalam rumah cewek itu. Dan dirinya tersadar, kalau tadi ia sudah lepas kontrol. Seharusnya dirinya tidak melakukan hal seperti tadi. Bisa-bisa Verena salah tangkap, atau memang dirinya sendiri yang selama ini salah tangkap.
Dian. Pokoknya itu target gue sekarang. Gue nggak mau jadi player lagi. it’s enough for me. Lagian itu
Verena sedikit kaget mendapati kakaknya, Danar, berada di ruang keluarga begitu dirinya masuk ke dalam rumah. Nggak biasanya sang kakak berada di rumah. Apalagi akhir-akhir ini sepertinya Danar sedikit mengurangi jadwal kerjanya.
“Jam segini baru pulang?”tanya Danar.
Verena bingung mau menjawab apa. Kalau dia menjawab jujur, pasti Zandy yang kena. Tapi jika tidak? Selama ini hanya pada kakaknyalah dia bercerita segala macam. Termasuk soal Haikal. Walaupun Danar kini belum tau kalau Haikal bukan pacarnya lagi.
Reflek Verena menyentuh sekilas pipi kanannya, yang baginya masih terasa ciuman hangat Zandy. “Tadi ada urusan sebentar sama Keisha. Tapi Keisha ada rapat OSIS dulu, jadi harus nunggu dia.” Verena duduk di samping Danar. Belum pernah dia dan kakaknya sekaku ini. Walaupun Danar memang terkenal dengan julukan ‘ice man’ nya. Yang selalu mengutamakan pekerjaannya, tidak peduli pada diri sendiri, dan cenderung lebih mengurusi orang lain.
“Zandy rela nunggu?”tanya Danar.
Of course not, batin Verena. Mana mungkin Zandy yang nggak sabaran, pemarah, nyolot, kaak gitu mau nungguin gue? Adanya ke balik kali. “Iya. Dia ngejalanin hukumannya dengan baik.”
“Like I told you before, Rena. Kalau memang kehadiran Zandy selama sebulan ini mengganggu kamu, apalagi soal sekolah kamu, aku bisa bilang ke Nenek Runi biar Dipta atau Davin aja yang ngurusin Zandy.”
“I’m okay. Zandy berprilaku baik kok, selama ini. Dan aku juga nggak merasa terganggu. Everythings are fine. Just relax, okay? Tumben udah pulang kerja.”
“I just spent a little time for my self.”
“Tuh,
“I gonna tell you something.”
Verena mencondongkan tubuhnya ke arah Danar, ingin tau. “Apa? Pasti married, ya?”
“Kurang tepat. I had fiancĂ©e.”
Verena tertawa senang. “Congrats, ya. Siapa orangnya?”
“Sunday. Aku bakalan bawa dia ke sini. Aku yakin kamu pasti suka.”
“Sounds I great. I bet she has beautiful eyes like your type.”
“Ouch, sist.”
Zandy masih terbayang semua kejadian dirinya dan Verena pada hari ini. Mulai dari dia reflek memeluk gadis itu, sampai menciumnya. Zandy masuk ke dalam rumahnya dengan senyum-senyum sendiri. Yang membuat Dya, mengira kalau adiknya itu sudah jadian lagi.
“Cewek mana lagi, Ndy? Yang dulu di kemanain, tuh?”goda Dya.
“Shut up! Sok tau sih, lo!”balas Zandy.
“Sooooo? Who’s the girl? Sampe bisa buat adek gue, senyam-senyum ngga jelas gini.”
“Jangan mulai deh, Ya.”
Dya mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. I give up.”
Zandy kembali senyam-senyum mengingat kejadian hari ini.
“I just want to remind you. Jumat depan Ayah ulang tahun. Lo pasti nggak mau ngecewain beliau kayak tahun lalu lagi
Saat ulangtahun ayahnya tahun lalu, Zandy benar-benar lupa. Dia sama sekali tidak ingat kalau ayahnya ulangtahun. Bukan kado yang ia berikan, melainkan mabuk. Dia pulang dengan keadaan mabuk berat, dan tepat saat ayahnya sedang memotong kue ulangtahun. Tentu saja ayah dan ibunya marah besar.
“Yeah. I’ll remember.”
“Kalau lo kasih kado, itu lebih bagus lagi.”
“What present? A pink ribbon?”
Ledya tertawa kecil. “Nakal lo.”
Akhirnya hari Sabtu yang ditunggu-tunggu Zandy datang juga. Zandy sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Semua kata-kata yang akan diucapkannya pada Dian sudah dia hafal luar kepala. Dia juga sudah memastikan Dian jadi datang hari ini. Tadinya dia berniat ke rumah Dian, karena nggak enak kalau cewek yang nyamperin. Tapi Dian menolaknya dengan halus, dengan alasan dia langsung dari kampus.
Zandy nggak mempersiapkan apa-apa, kecuali kata-kata, penampilan, dan mobilnya. Dia tidak bawa bunga, kado, atau apa pun. Baginya cewek dewasa seperti Dian nggak akan mempan pakai yang begituan.
“Hei,”sapa Dian ketika baru turun dari taksinya.
Zandy mendadak jadi speechless. Tidak bertemu Dian selama beberapa hari ini ternyata tidak banyak mengubah perasaannya. Bahkan Zandy merasa biasa saja. Tidak ada lagi kekagumannya pada Dian seperti dulu. Di mana di mata Zandy, Dian adalah seorang cewek yang sempurna. Hanya sekitar 2 minggu pertemuan mereka, yang membuat Zandy jadi ragu. Apalagi setelah perkataan Verena beberapa hari yang lalu. Tetapi Zandy kembali berusaha meyakinkan dirinya, kalau dirinya sudah mantap, dan Dian lah yang terbaik.
Zandy langsung berangkat bersama Dian. Mereka tidak jauh-jauh hunting buku. Menurut Dian, toko buku mana pun bagus. Dan kali ini Zandy sendiri yang memilih tempatnya. Yaitu tempat tongkrongan anak SMA kebanyakan, mall. Dian sempat tertawa ketika tau tempat tujuan Zandy, dan mengatakan kalau dia sudah bisa menebak ke mana Zandy akan membawanya. Zandy jadi merasa menjadi anak kecil di mata Dian.
“Kamu
Zandy kurang memperhatikan apa yang dibicarakan Dian. Kata-kata yang sejak dulu ingin diucapkan Zandy sudha tidak tahan ingin keluar.
“Mmm…Dian,”panggil Zandy. Dian mengalihkan padangannya dari buku-buku dan menatap Zandy. Zandy kembali tidak yakin. Bagaimana dirinya kalau ditolak? “Do you want to be mine?”tanya Zandy lirih. Tapi cukup untuk Dian bisa mendengarnya.
Dian tersenyum kecil, tapi tulus. “I know you are that type of boy, Zandy. But sorry, I can’t.”
Dian seketika sudah membuat Zandy tersentak. “Kenapa? Apa kamu malu pacaran sama anak SMA?”
Dian tertawa kecil. “Age doesn’t matter for me.”
“Atau mungkin aku terlalu kekanak-kanakan? Aku janji akan berubah buat kamu.”
Dian menggeleng. “I already had fiancĂ©,”jawabnya sambil menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Seolah ingin memperlihatkan sebuah cincin yang tersemat di jari manisnya.
Damn! Kenapa gue nggak pernah perhatiin tuh cincin, sih?
Zandy tersenyum, walaupun agak terpaksa. “Oke. Aku akan menerimanya. Boleh tau siapa orangnya?”
“Kamu kenal baik kok. Danar Kusuma. Kakaknya Verena.”
Zandy kembali memaki dirinya sendiri. Dirinya kalah melawan Danar? Danar yang bahkan Zandy berani taruhan belum pernah pacaran. Danar yang begitu dingin? Menang melawan Zandy yang jauh lebih berpengalaman? Dan kenapa Verena nggak memberi tahunya?
Seolah bisa membaca pikiran Zandy, Dian berkata, “hubungan aku dan Danar memang belum ada yang tau. Danar berencana buat ngasih tau keluarga kalian hari Minggu besok.”
Entah kenapa Zandy merasa sedikit lega, karena memang Verena tidak mengetahui hal ini, bukannya dia berbohong pada dirinya.
“I know he’ll being a good man for you,”kata Zandy.
“And I know, she’ll being a good girl for you.”balas Dian.
Zandy menaikkan kedua alisnya. “Who?”
Dian tersenyum. “Nggak usah pura-pura. Menurutku, kamu nggak salah. Dan dia juga nggak salah. Kalau memang saling sayang satu sama lain, status nggak masalah
“Excuse me?”
“Open your eyes, Zandy. Aku tau kamu sebenarnya sagat menyayangi Verena. Kelihatan dari matamu. Walaupun aku ini nggak berpengalaman soal cinta, tapi aku sudah cukup banyak pengalaman untuk tau soal bahasa mata.”
Zandy lebih kaget lagi mendengar kata-kata Dian. Apakah seperti itu bahasa tubuh Zandy pada Verena selama ini? Bahkan Dian yang baru mengenalnya pun, bisa tau soal itu?
Zandy tersenyum pada dirinya sendiri. Dia sudah jatuh cinta pada sepupunya sendiri. Seharusnya dia menghindari hal ini agar tidak terjadi.
Handphone Zandy berbunyi, yang membuyarkan lamunannya. Di lihatnya layar HP-nya. Dari Adly. Nggak biasanya dia nelpon jam segini.
“Halo?”jawab Zandy.
“Lo cepet ke Hullabaloo sekarang!”kata Adly di tengah-tengah bisingnya suara.
“Hei, lo mau menggoyahkan iman gue, ya? Bisa diapain gue, kalau gue ke
“It’s not about you! It’s about your cousin! Verena ada di sini.”
“Ngapain dia di situ?” Zandy berpikir, nggak mungkin kan setiap minggu ada pesta ulangtahun temennya Verena di Hullabaloo secara rutin?
“Bukan di sini lagi! Udah fly dia! Dari tadi manggil-manggil nama lo. Gue nggak tau, nih harus ngapain. Masa iya, gue tinggal?”
“Eh, eh jangan. Tunggu di
“Verena? Mabuk? Nggak salah?”tanya Dian nggak percaya.
“Aku anter kamu ke rumahku sekarang, ya? Atau mau ikut ke Hullabaloo juga?”
Dian menggeleng. “Aku di sini aja. Nanti biar aku minta Danar jemput.”
Entah kenapa Zandy tidak cemburu mendengarnya. Tidak lagi. apalagi setelah kata-kata Dian mengenai Verena tadi. Sekarang dirinya dipenuhi dengan Verena. Dia yakin kalau gadis itu tidak pernah mabuk sebelumnya.
Zandy langsung berlari ke tempat parkir. Menancap gas secepat mungkin ke Hullabaloo. Sesampainya di
“Akhirnya dateng juga.”kata Adly lega.
Zandy melihat Verena ingin menggapai botol Tequila di hadapannya. Dengan cepat Zandy menyingkirkan jauh-jauh botol itu. “Bukannya lo larang minum, sih!”omel Zandy pada Adly.
“Siapa yang nggak ngelarang? Dari tadi udah gue pecahin 3 botol! Tapi tetep aja, terus mesen yang baru! Udah, ah. Gue mau balik,”kata Adly sambil menepuk bahu Zandy.
“Eh, eh, tunggu.” Zandy membuka tas Verena dan mencari kunci mobil gadis itu lalu memberikannya pada Adly.
“Tau aja lo gue nggak bawa mobil,”kata Adly.
“Besok pagi udah harus ada di rumah gue.”
Adly mengacungkan jempol lalu pergi.
Zandy menatap Verena yang menelungkupkan wajahnya di meja sambil bergumam tidak jelas.
“Ngapain sih, lo sok-sok mabok segala? Emang lo kuat apa?”gumam Zandy pada Verena.
Zandy memaikan tas Verena ke tangan gadis itu. Melingkarkan tangannya ke pinggang Verena dan membantunya untuk berdiri.
“Lepasin! Gue bisa sendiri! Pergi
“Elo tuh, mabok, Ren.”
“Gue nggak mabok! Minggir lo! Lepasin gue!”
Dengan cepat Zandy mencium Verena. Tepat di bibir cewek itu. Dalam dan lama. Yang membuat Verena terdiam. Zandy dapat melihat wajah cewek itu merona kemerahan. Setelah itu Verena hanya bisa diam. Menurut tuntunan tangan Zandy.
Zandy membopong Verena masuk ke mobilnya dan memakaikan sabuk pengamannya. Lalu berputar masuk ke bangku kemudi. Dipandanginya Verena yang setengah tertidur dan bergumam tidak jelas.
“Ngapain, sih lo sok-sok minum segala?”ujarnya.
Verena membalasnya dengan gumaman tidak jelas. Zandy terdiam sebentar. Bingung. Kemana dia akan membawa Verena.
“Gue nggak bisa bawa lo pulang kerumah, Ren. Bisa-bisa gue kena omel sama Danar,”kata Zandy pada Verena. “Ke rumah gue aja, ya? Papa sama Mama lagi ke
Semua berjalan sangat cepat baginya hari ini. Ditolak Dian. Ia padahal sudah begitu yakin kalau Dian merasakan hal yang sama seperti dirinya. Zandy pun tidak memikirkan persoalan Dian lagi, apalagi setelah melihat wajah Verena dan menemukan cewek itu di Hullabaloo dalam keadaan kacau. Zandy terus menyesal dalam hatinya. Padahal dirinya sudah berjanji agar menjaga Verena.
Zandy kembali teringat kata-kata Dian. Dan banyak pertanyaan muncul benak Zandy. Apa benar dia mencintai Verena? Apa itu nggak pa-pa? Apa kata keluarga yang lain? Apa Verena juga merasakan hal yang sama? Apa Verena marah?
Zandy sampai di depan rumahnya. Turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar rumahnya sendiri. Zandy tidak membunyikan klakson mobilnya, takut membangunkan orang rumah dan nggak tau harus menjelaskan apa soal Verena.
Di luar dugaan Zandy, ternyata tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah, sampai dirinya menutup pagar dan membopong Verena masuk ke dalam rumah.
Zandy langusng membawa Verena masuk ke kamarnya di lantai 2. Membaringkan Verena di tempat tidurnya dan menyelimutinya. Lalu Zandy mengambil telepon wireless di samping tempat tidurnya dan menelepon rumah Verena. Berharap yang mengangkat bukan Danar. Dan harapannya terkabulkan, Tante Andyta yang mengangkat telepon.
“Maaf tante, ganggu malem-malem. Hari ini Verena boleh
“Oh, jadi Verena ada di rumah kamu.”jawab Tante Andyta.
“Maaf ya, tante. Mungkin Verena lupa ngabarin tante. Kita lagi sama-sama belajar, tapi taunya Verena udah ketiduran.”
“Ya, nggak apa-apa Zandy.
“Oh, iya tante. Pasti,”jawab Zandy mantap lalu menutup telepon.
Zandy meletakkan telepon wireless-nya kembali di tempatnya. Lalu duduk di lantai di samping tempat tidur. Dipandanginya Verena lama. Pertanyaan-pertanyaan kembali terlintas. Dan Zandy telah memutuskan. Kalau mulai saat itu, dia tidak akan membohongi dirinya sendiri lagi.
Verena membuka matanya berlahan. Rasa sakit di kepalanya masih terasa. Walaupun tidak sesakit semalam. Verena mengerjap-ngerjapkan mata. Tersadar kalau dirinya bukan berada di kamarnya. Verena berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Dan ia ingat, kalau ia menjerumuskan dirinya sendiri ke Hullabaloo dan dengan kalap meneguk minuman yang baginya sangat tidak enak.
Verena memandang ke sekelilingnya. Ia mengenali ini sebagai kamar Zandy. Flashback kejadian kemarin terulang lagi. Terakhir yang dirinya ingat adalah wajah cemas Zandy.
Verena lebih kaget lagi mendapati Zandy tertidur di sampingnya. Kepalanya terbaring di sisi tubuh Verena. Verena meringis kesakitan sendiri melihat posisi tidur Zandy.
Jadi dia duduk di situ dari semalem? Dan tidur pula.
Verena tersenyum sendiri.
“Gimana rasanya? Hangover?”tanya Zandy sambil memain-mainkan jari-jari Verena digenggamannya.
Verena kembali teringat akan sakit kepalanya. “Sakit,”jawabanya. Dengan sedikit meringis.
“Lo ngapain sih, kayak semalem gitu? Untungnya ada Adly. Kalau nggak lo bisa di situ semaleman nggak ada yang bawa pulang.”
Verena terdiam. Dirinya juga tidak tau apa yang mendorongnya untuk minum semalam.
Melihat Verena tidak menjawab, Zandy tidak mempermasalahkannya lagi. “Gue yakin, pasti itu pertama kalinya lo minum.”
Verena menjulurkan lidahnya sekilas, sambil berekspresi jijik. “Huek. Nggak enak banget sih, tuh minuman. Heran, kenapa orang-orang bisa habis berbotol-botol.”
Zandy tertawa kecil. “Kalau emang nggak enak, ngapain lo minum?” Zandy kembali mengunci mulutnya. Sadar kalau dirinya menanyakan hal yang sama seperti tadi.
“Maaf udah ngerepotin lo semalem.”kata Verena lirih.
Zandy tersenyum. “Anggap aja sebagai pengganti, waktu itu lo udah ngelakuin hal yang sama ke gue.” Zandy menatap Verena dalam. Verena jadi salting sendiri, sampai nggak bisa mengalihkan pandangannya dari Zandy. “Sorry about the kissed last night,”kata Zandy.
Verena kembali teringat. Kejadian memalukan sekaligus paling indah di hidupnya kemarin malam, yang membuatnya langsung blushing lagi. “It’s okay.”
Zandy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Beneran?”
Verena mengangguk.
“But I’m your cousin.”
Verena tersadar. Dia sudah terlalu jauh bersama Zandy. Sampai-sampai dirinya menganggap Zandy bukan lagi sebagai sepupu atau pun keluarganya. Dan dia pun menyimpulkan, kalau kejadian yang menimpa dirinya semalam, itu karena Zandy. Karena Zandy dengan Dian. Karena kecemburuan Verena. Karena dirinya yang tiba-tiba saja dihianati Haikal dan Zandy yang tiba-tiba saja ingin memantapkan diri dengan Dian. Verena mengakuinya, kalau Dian lebih dari dirinya. Bahwa Dian yang selama ini yang dicari-cari Zandy. Dan dirinya tidak memiliki siapa-siapa.
Verena memalingkan wajah dan menahan air matanya agar tidak menetes. Ia yakin dalam hati, kalau Zandy sudah dimiliki orang lain.
Zandy mengulurkan tangannya, menyentuh pipi kiri Verena dan menghadapkan wajah cewek itu padanya. “Lo nggak mau tau, apa yang Dian bilang ke gue?” Zandy menatap dalam-dalam mata Verena. Verena tidak bisa menjawab, dan berharap tidak juga mendengar perkataan Zandy. Dirasakannya tangan Verena menegang di genggamannya. Zandy tidak menunggu jawaban Verena, “she said no.”
Verena mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya.
“Say something. This have to be good news for us.”kata Zandy.
Verena merasa ada yang janggal dari kata-kata terakhir Zandy itu. Dan pagi ini, Verena juga menemukan sesuatu yang berbeda dari Zandy. Zandy terlihat lebih santai, sering tersenyum, padahal dirinya ditolak oleh Dian.
“Sorry?”
“Um…I got to tell you that…” Zandy terdiam sebentar. Berusaha mencari kata yang cocok. “Gue sadar, gue nggak bisa ngebohongin diri gue sendiri. Dan gue harap, dengan gue ngasih tau lo hal ini, lo —maksud gue kita — bisa cari jalan keluar yang terbaik.”
Verena mengernyitkan dahi memandang Zandy bingung. “Just say it.”
“I think…”kata Zandy ragu-ragu. Dirinya menarik nafas dalam-dalam. Baru kemarin ia ditolak Dian, ia sama sekali nggak membayangkan kalau hari ini ditolak Verena. “I’m falling for you.”
Sudah lama Verena tidak merasakan persaan ini. Sudah sejak 2 tahun yang lalu. Saat Haikal menyatakan persaannya padanya. Tapi kali ini, semua itu lebih dari pada 2 tahun yang lalu.
Mereka terdiam cukup lama. Zandy terus menanti jawaban Verena. Dirinya benar-benar berharap Verena dapat merespon nya dengan baik.
“I don’t know, Ndy. I think, all that happened to us, this month, it’s like crazy. Kita nggak boleh kayak gini.”
“So? Do you mean?”tanya Zandy.
Verena berusaha mengalihkan tatapannya dari Zandy. Mencari-cari objek lain yang bisa mengalihkan perhatiannya. “Gue nggak bermaksud nyakitin perasaan lo dan diri gue sendiri. Tapi, kita ini keluarga, kita sepupuan. Sedarah. Ibu kita kakak dan adik—“
Zandy memotong kata-kata Verena, “gue pikir kita bisa jalanin ini, Ren. Sama-sama. Kita nggak bisa mikirin orang-orang di sekeliling kita terus-terusan. Kita juga harus mikirin diri kita. Gue yakin pasti ada jalan keluarnya. Kalau aja kita mau coba.”
Verena menggigit bibirnya. Bingung. Jauh dalam hatinya, ia sangat ingin bersama Zandy. Tidak hanya setiap pagi, tidak hanya di sekolah. Tidak hanya sebatas hubungan antar sepupu. Tapi lebih dari itu. Ia ingin dapat menunjukkan perasaannya pada Zandy. Ingin Zandy menggantikan posisi Haikal di hatinya.
“Lo serius?”tanya Verena.
Zandy mengangguk sambil mempererat genggamannya pada tangan Verena.
Verena akhirnya tersenyum. “Oke. Gue akan coba.”
Zandy serasa ingin melompat-lompat, memeluk Verena erat-erat, dan menicum cewek itu. Tapi Zandy menahan diri. Dia sudah bertekad agar berubah. Bukan lagi playboy dan anak nakal. Verena harus mendapatkan yang terbaik dari dirinya.
Verena menarik tangannya dari genggaman Zandy dan menggeser tubuhnya ke samping. Di tepuk-tepuknya bagian tempat tidur yang kosong di sampingnya. “Pasti sakit tidur di bawah semaleman.”
Zandy tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Dia pikir Verena akan marah atas perkataannya tadi. Bahkan sekarang pun tidak seperti yang dipikirkan Zandy. Dirinya dan Verena tidak sekakaku yang dipikirkannya.
Zandy berdiri, punggungnya benar-benar pegal. Ia tidak bisa tidur di kamar tamu atau pun sofa. Apalagi Verena tidak berhenti-hentinya memanggil namanya semalam.
Zandy berbaring di samping Verena. Dirinya dan Verena saling berhadap-hadapan. Zandy mengulurkan tangannya. Menyelipkan rambut Verena kebalik telinga. “This is the beginning of us, princess,”ucapnya lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar