Sabtu, 11 Juli 2009

Never Give Up In Love part 4

Malam ini seperti biasa, keluarga Handoko berkumpul di rumah Nenek Runi. Zandy idak lagi terpikirkan soal Danar yang bakalan membawa Dian malam ini. Tidak juga soal hukumannya. Bahkan dia berharpa hukumannya terus diperpanjang, agar dirinya bisa menjemput Verena setiap pagi tnapa menimbulkan kecurigaan.

Zandy melirik ke arah Verena yang duduk di sofa di seberangnya, yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Senyuman Verena sekarang benar-benar terasa sangat amat berharga bagi Zandy.

Tapi Zandy harus membuang muka. Apa kata yang lain kalau dirinya didapati memandangi Verena sepanjang malam? Bahkan sampai senyam-senyuman segala?

Seluruh keluarga Handoko sudah berkumpul. Kecuali kedua orangtua Zandy, juga Danar dan Dian. Seperti biasa acara keluarga mereka, selalu formal. Kebanyakan dari mereka hanya diam. Menikmati teh masing-masing. Berbicara dengan suara pelan, dan tidak ada satu pun yang tertawa. Kalau orang lain melihat keluarga Handoko, pastinya mereka akan mengira keluarga itu tidak bahagia. Tapi Zandy dan Verena sudah terbiasa dengan suasana itu. Walaupun bagi mereka yang anak SMA, itu sangat membosankan. Mereka ingin bisa bersantai bersama keluarga, tanpa keformalan apa pun. Bukannya mengganggap keluarga sebagai rekan bisnis.

Zandy bangkit berdiri dan memberikan tanda pada Verena agar mengikutinya.

Verena mengikuti Zandy. Hanya dirinya dan Zandy yang tidak mengobrol denga siapa pun. Nenek Runi asik berbincang dengan anak-anak dan menantu-menantunya. Apalagi kalau bukan soal bisnis? Davin dan Dipta juga sudah ngeloyor pergi entah ke mana di bagian rumah Nenek Runi yang super besar itu.

Setelah keluar dari ruang tamu, Zandy dan Verena langsung menghela nafas lega. Mereka tidak lagi bersikap formal, melainkan menjadi sepasang kekasih remaja pada umumnya.

Zandy membawa Verena ke taman belakang. Tempat yang paling disukainya di rumah Nenek Runi ini. Tidak ada lagi tempat yang senyaman di taman itu di rumah ini.

Zandy dan Verena duduk di salah satu kursi di taman yang luas itu. Terdiam sebentar. Berusaha meyakinkan diri masing-masing kalau mereka bukan lagi sekedar saudara sepupu.

“Terkadang gue ngerasa aneh dengan keluarga gue sendiri,”kata Zandy memecah kesunyian.

Verena menatap Zandy, mendapati cowok itu hanya menatap ke langit dengan wajah sedikit sedih. “Bukannya memang dari kita lahir, keluarga kita begini?”

Zandy tersenyum sinis. “Mana ada sih, yang tahan hidup di keluarga Handoko, atau pun Prasetyo? Bahkan Prasetyo pun, lebih buruk daripada ini. Nggak ada yang namanya kumpul-kumpul keluarga setiap bulan. Gue sih, agak bersyukur dengan adanya acara kayak gini setiap bulannya. Walaupun gue yakin, tujuannya cuman buat kelangsungan bisnis aja.”

“Gimana ya, kalau Nenek Runi tau persoalan kita?”tanya Verena tiba-tiba.

Zandy menatap Verena bingung. Ternyata Verena masih mempermasalahkan soal itu juga. “Cepat atau lambat pasti, Nenek Runi tau.” Zandy menggenggam tangan Verena. “Dan apa itu jadi masalah buat kamu?”

Verena agak kaget mendengar Zandy mengatakan kata ‘kamu’ padanya. Rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi. Membayangkan Nenek Runi dan keluarga Handoko lainnya tau apa yang terjadi di antara Zandy dan dirinya. Diusirkah mereka? Dicoret dari surat wasiat keluarga Handoko? Atau yang lebih buruk lagi, dipisahkan secara paksa?

“Kita nggak usah nutup-nutupin persoalan ini ke Nenek Runi atau siapa pun,”kata Zandy. “Tapi kita juga nggak usah bilang ke mereka tentang hubungan kita.”

“Mereka pasti marah.”

“Mereka nggak berhak marah. Mereka cuman berhak kaget. Aku pikir kita nggak melakukan suatu kesalahan, sampai harus buat mereka marah.” Zandy menatap Verena lebih dalam lagi. “Apa kamu kira, keadaan kita sekarang ini adalah suatu kesalahan?”

Verena semakin gelisah. Dirinya sudah melangkah semakin jauh dengan Zandy. Bahkan dirinya juga tidka bisa menyalahkan Zandy, atau siapa pun atas apa yang terjadi pada mereka saat ini. Verena juga tidak merasa, kalau hubungan mereka adalah suatu kesalahan. Verena bahagia saat bersama Zandy. Tidak ada rasa bahwa itu suatu kesalahan.

Zandy dan Verena kembali ke ruang tamu. Danar dan Dian sudah ada di sana. Nenek Runi kelihatan antusias mengintrogasi Dian. Tapi Dian dengan enteng dan mudah menjawab semua pertanyaan Nenek Runi. Nenek Runi terlihat bahagia. Apalagi Danar, cucu kesayangannya, mendapatkan seorang calon istri yang sempurna di matanya.

Zandy dan Verena langsung tidak enak hati melihatnya. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya. Ketika Zandy memperkenalkan Verena sebagai calon istrinya. Apakah Nenek Runi masih akan terlihat sesenang itu? Atau sebaliknya?

Verena dan Zandy mengambil tempat di sofa di sudut ruangan. Menjauh dari orang-orang yang bahagia itu.

Dipta dan Davin yang tidak tau apa-apa bingung melihat gebetan sepupunya, adalah tunangan Danar. Mereka menatap Zandy, yang santai-santai saja. Sama sekali tidak terlihat cemburu atau pun marah. Bahkan duduk berdekatan dengan Verena, membuat privacy untuk mereka sendiri di sudut ruangan, tanpa memperdulikan cewek yang disukainya sedang diperkanalkan sebagai calon istri laki-laki lain.

Davin menepuk bahu Dipta sambil berbisik, “liat, tuh! Kelakuan playboy! Tobat lo! Sebelum jadi gila kayak dia!”

Dipta meringis mendengar kata-kata Davin, sambil membayangkan, kalau cewek yang disukainya, ternyata tunangan Danar.

Zandy bangun lebih pagi hari ini. Dia berniat menjemput Verena. Walaupun semalam Nenek Runi sudah menyatakan kalau, kepercayaannya pada Zandy meningkat satu tingkat, dan terbebas dari antar jemput Verena.

Zandy menunggu di depan rumah Verena. Tanpa keluar dari mobilnya. Sampai akhirnya Verena keluar dengan wajah riang. Wajah ceria Verena yang sudah lama sekali tidak dilihat Zandy.

Good morning, Princess,”sapa Zandy begitu Verena masuk ke mobilnya.

“Pagi banget, datengnya.”kata Verena sambil mengenakan sabuk pengamannya.

“Oh, keberatan? Besok aku bisa kok, dateng sesiang mungkin.”

Just kidding. Nanti kita telat, dapet hukuman lagi dari Nenek Runi.”

Sounds good. Malah bagus kan?”

Verena memutar matanya. Satu hal yang dia sadari dari diri Zandy sekarang ini: cowok itu benar-benar gombal.

Zandy melaju kencang mobilnya sambil bersiul riang. Verena meringis melihatnya. Bisa-bisanya cowok itu ngebut dengan tampang meremehkan begitu.

“Pelan, pelan.”ujar Verena, yang lebih terdengar ditujukan pada dirinya sendiri.

Scared, huh?”tanya Zandy.

No.”

Zandy menambah kecepatan mobilnya. Verena semakin merosot di kursinya. Dirinya memang sering ngebut, dan dia suka itu. Tapi tidak segila Zandy. Dia tidakmenyangka nyawanya bakalan tergantung sama cowok di sampingnya, yang berwajah tidak meyakinkan itu.

“Oke! Find! I’m scared. Pelanin,”aku Verena.

Zandy terkekeh geli mendengar pengakuan Verena. Berlahan Zandy mengurangi kecepatan. “Susah banget sih, buat ngomong jujur.”

Verena mencibir.

Mobil Zandy memasuki kawasan sekolah. Diparkirnya mobil di bawah pohon yang teduh. Jarang-jarang dia mendapat posisi parkir mobil sebagus ini, karena selalu datang terlambat.

Zandy hendak turun dari mobil, tapi Verena menahannya.

“Kenapa?”tanya Zandy.

“Kita harus gimana kalau di sekolah?”tanya Verena.

“Lakuin aja apa yang pengen lo lakuin,”jawab Zandy.

“Kalau orang lain tau gimana?”

Zandy menggidikkan bahu. “Who cares?”

Verena nggak menyangka Zandy bakalan nggak sepeduli itu. Di sekolah ini banyak murid yang merupakan anak-anak relasi bisnis Handoko Group. Verena benar-benar bertambah khawatir. Kembali terbayang di pikirannya untuk tidak bersama Zandy di sekolah. Tapi sepertinya cowok itu keberatan.

Verena berjalan di samping Zandy, agak ke belakang sedikit, berusaha menjaga jarak. Tapi Zandy menarik tangan Verena. Menggandeng tangan cewek itu dan mengantarnya sampai ke depan kelas. Tidak jarang juga banyak orang berbisik-bisik, menatap bingung, ketika mereka lewat. Semua tau, kalau Verena dan Zandy, berasal dari keluarga yang sama.

Zandy memegang wajah Verena dengan kedua tangannya. “Nggak ada yang perlu ditakutin, oke?” Ditepuk-tepuknya pelan kepala Verena, tersenyum, lalu berbalik meninggalkan cewek itu.

Verena memasuki kelas, dengan menerima pandangan dari teman-teman sekelasnya. Termasuk Keisha. Yang masih syok melihat kejadian di depan pintu kelasnya tadi.

“Gi-gimana bisa?”kata Keisha tergagap-gagap sambil menunjuk Verena.

Verena menghela nafas. “Lo udah liat sendiri kan? Jadi gue nggak usah ngejelasin.”

“Justru itu! Gue mau lo ngejelasin! Kenapa lo bisa sama Zandy?!”

“Bisa pelan dikit nggak sih, ngomongnya?”

Keisha memelankan suaranya. “Hukuman lo ama dia udah berakhir kan?”

Verena mengangguk.

“Kenapa lo masih sama dia?”

“Maksud lo?”

Keisha memutar matanya. “Please, Ren. Semua orang juga liat kali tadi. Mesra, BANGET,”kata Keisha sambil menekankan kata ‘banget’.

Verena menganggap Keisha terlalu berlebihan. Zandy hanya menyentuhnya saja tadi, tidak lebih. Tidak ada pelukan, ciuman, atau apa pun. Yang bagi dirinya masih bisa dikatakan sebagai hubungan saudara sepupu biasa.

“Itu biasa kali, Sha.”kata Verena.

What? Biasa gimana? Lo nggak pernah selama ini gitu sama Zandy. Bahkan selama lo dihukum sama dia, dia nggak pernah nganter lo ke kelas, apalagi pegang-pegang lo sampe segitunya.”

Verena kurang setuju dengan kata-kata Keisha, yang menyebutnya sebagai hukuman untuk dirinya. Tapi dia tidak memusingkan soal itu lagi.

“Kalau emang dia nganterin gue ke kelas emangnya kenapa? Gue juga bisa kok ngelakuin hal yang sama.”

“Tapi ini beda, Ren. Senyumnya…matanya… Beda!”

Verena bergumam sendiri dalam hati, tau apa dia soal Zandy?

So? Penjelasan yang lo pengen denger itu kayak gimana? Lo kan udah liat sendiri.”

Keisha memandang ke sekeliling. Memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Lalu mencondongkan tubuhnya ke Verena dan berbisik, “lo jadian ama dia?”

“Kan gue udah bilang. Lo udah liat sendiri, kan?”

Keisha menutup mulutnya sendiri kaget. “Gila lo, ya? Sepupu lo sendiri,”katanya masih sambil berbisik.

“Gue tau.”

“Lo dalam masalah besar, Verena.”

“Udahlah, Sha. Gue nggak mau mikirin itu sekarang. Gue dan Zandy, bener-bener serius. Nggak main-main. Terserah apa kata orang. I-don’t-care.”

Tidak lama kemudian Keisha tertawa. “Padahal dulu lo benci banget ama dia. Bahkan lo ngeledekin gue gara-gara gue muji-muji dia. Sekarang terbukti kan?”

“Oke, oke. Gue akuin.”

Keisha menyikut lenganku. “Boleh dong, nanti gue nontonin kalian?”katanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.

Aku mengernyit menahan geli melihat tingkahnya.

Keisha berkali-kali mengoceh, bilang kalau tidak sabar ingin menonton kisah romantis Verena dan Zandy. Telinga Verena sampai panas mendengarnya. Tapi di sisi lain dirinya bersyukur juga. Karena setidaknya Keisha tidak marah, karena dirinya merebut gebetannya.

Sepanjang istirahat pertama dan kedua, Verena sebisa mungkin menghindar dari Zandy. Zandy hanya bersikap biasa saja. Berkumpul dengan teman-temannya. Hanya Adly saja yang memberikan pandangan pada Verena, sedangkan teman-temannya yang lain tidak memperdulikanya. Mungkin Zandy sudah menceritakan semuanya pada Adly.

“Ke mana rencana lo hari ini?”tanya Keisha sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Verena menggidikkan bahu. “Nggak ada tuh.” Lalu dengan cueknya, dia menyandang tas dan keluar dari kelas. Tidak memperdulikan suara Keisha di belakangnya, yang minta untuk ditunggui.

Ketika Verena melangkahkan kaki keluar dari kelas, Zandy ternyata sudah menunggu di balik pintu. Zandy menarik Verena, cukup keras hingga menabrak badannya sendiri.

“Hei,”sapa Zandy sambil tersenyum.

Lutut Verena langsung lemas. Entah kenapa setiap kali disentuh, berbicara, melihat Zandy rasanya dirinya tidak berdaya. Padahal dulu dia begitu benci, begitu tidak suka terhadap cowok playboy itu. Tapi sekarang dirinya begitu ingin.

“Hai,”sapa Verena seadanya.

Keisha yang baru keluar dari kelas, menahan untuk berteriak ketika melihat Verena dan Zandy yang bermesaraan di depan pintu. Semangatnya untuk menonton, lenyap sudah. Keisha jadi merasa nggak enak hati begitu melihat Verena dan Zandy. Langsung saja dia pergi jauh-jauh, tanpa berkata apa pun.

“Mau ke mana hari ini?”tanya Zandy.

“Les, sama Dian. Kamu masih ikut les kan?”tanya Verena.

Zandy berpikir sejenak. “Ya, mungkin. Aku bakalan nyimak pelajarannya, tapi sebagian besar cuman buat nemenin kamu.”

Verena memutar bola matanya. “Mentang-mentang udah ditolak!”

Zandy terkekeh geli. “Aku nggak nyesel soal itu.”

Dian sama sekali tidak berubah. Tidak seperti yang dipikirkan Verena, terutama Zandy. Zandy pikir setelah Dian tau perasaannya yang sesungguhnya, akan membuatnya menjauh. Tapi tidak. Dian sama sekali tidak mempermasalahkan soal kejadian hari Sabtu lalu. Dia kembali mengajar Verena dan Zandy seperti biasanya. Bahkan mereka jadi semakin akrab. Apalagi ketika Verena tau kalau ternyata Dian-lah yang dimaksud Danar. Awalnya Verena sempat berpikir. Calon kakak iparnya pastilah orang yang serius. Tipe Danar. Pekerja keras, dingin, dan formal. Tapi hatinya begitu lega ketika tau orang itu adalah Dian. Yang benar-benar jauh dari bayangannya selama ini. Dan ternyata kakaknya menyimpan perasaan khusus pada Dian.

Zandy kurang menyimak apa saja yang dijelaskan Dian. Ia lebih sering menatap Verena. Zandy tidak berani bersentuhan dengan cewek itu saat Dian sedang menjelaskan. Apalagi melihat wajah Verena yang begitu serius menyimak segala sesuatu yang dikatakan Dian. Zandy berani taruhan, Verena yang gampang blushing, pasti langsung tidak fokus lagi begitu Zandy menyentuhnya, di depan Dian.

Dian masih belum tau, apa yang sebenarnya terjadi di antara Zandy dan Verena. Verena semakin bertambah khawatir. Dia tau betul bagaimana sifat Dian. Pasti kalau Dian tau, Danar juga akan tau. Kalau Danar tau, pasti seluruh keluarga akan tau. Verena sudah malas sendiri membayangkannya. Baginya orang-orang yang lebih dewasa dari dirinya selalu begitu. Menganggap dengan menceritakan masalah pada orang yang seharusnya mengetahui masalah tersebut, membicarakannya, maka semuanya akan selesai. Tanpa memikirkan, perasaan si masalah itu.

“Kamu hampir nggak bisa jawab semua soal, Ndy,”kata Dian sambil memperbaiki latihan Zandy. Tangannya sangat cekatan mencoret banyak nomer yang salah dan memberikan jawaban yang benar.

Zandy memutar matanya. Tentu saja, batinnya. Yang ia tau hanya Dian sedang membahas mengenai Fisika. Itu saja. Mengerjakan soal-soal yang diberikan Dian, ia pun hanya membacanya sekilas, menjawab apa adanya, tanpa dipikir panjang. Berbeda dengan dulu. Saat dia ingin menunjukan yang terbaik pada Dian. Bahwa dirinya pandai, pantas bersanding dengan Dian. Tapi sekarang Zandy merasa itu semua benar-benar tidak perlu. Yang ada di dalam kepalanya hanya Verena, Verena, dan Verena.

Dian meletakkan buku Zandy yang sudah penuh coretan di hadapan Zandy. Verena langsung melihatnya sebelum Zandy kembali mengambilnya. Verena geleng-geleng kepala melihatnya. “Ya, ampun. Kamu gimana, sih? Ini kan tinggal dibagi, terus dikaliin. Masa 23 kali 4 aja masih salah?”

Zandy kembali merebut bukunya dari tangan Verena. “Aku lagi nggak konsen.”

Verena memasang wajah nakal. “Wah, kayaknya aku nggak seneng tuh. Sama cowok tolol, yang ngakunya nggak konsen.”

Zandy merasa terpojok. Dirinya lupa kalau masih ada satu cewek lagi yang harus dia tarik perhatiannya. Bukan Dian lagi, melainkan Verena. Siapa sih, yang tahan dengan cowok tolol yang kerjanya cuman minum-minum, pesta pora, dan mainin cewek, macam dirinya ini?

Zandy sekilas melirik ke arah buku latihan Verena. Angka 100 besar. Dengan berat, Zandy menghela nafas. Dirinya jelas-jelas kalah dengan Verena.

Dian menatap Verena dan Zandy begrantian. Bertanya-tanya sejak kapan mereka bebricara menggunakan ‘aku-kamu’. Setau Dian, Verena dan Zandy selalu menggunakan kata ‘elo-gue’. Tapi Dian nggak mengambil pusing. Walaupun sempat terlintas di kepalanya, kalau Zandy dan Verena sudah menyadari perasaan mereka.

“Hari ini sampai di sini aja, ya. Aku masih harus nemuin Danar di kantor.”kata Dian sambil membereskan buku-bukunya.

Verena memutar mata. “Yeah. Pasti dinner. Emangnya apalagi yang bisa dilakuin kakak gue satu itu?”

Dian tidak tersinggung, hanya membalasnya dengan seulas senyum. “Tapi itu sudah lebih dari cukup buatku. Dia rela mengurangi waktu kerjanya, demi untuk memberikanku perhatian lebih.”

Zandy dan Verena mengantar Dian ke mobilnya.

“Aku juga pulang dulu ya, Ren,”kata Zandy sambil mengeluarkan kunci mobilnya. Dikecupnya pipi kiri Verena, sebentar, tapi dalam.

Dian yang melihat kejadian itu syok. Firasatnya benar. Zandy dan Verena sudah berhubungan sekarang. Dian tersenyum di dalam mobilnya. Menyaksikan pemandangan di depan matanya. Dibukanya kaca jendela mobilnya. “Tenang aja. Danar nggak akan tau. Dan siapa pun nggak akan tau. Aku yakin kalian bisa menyelesaikan semuanya sendiri.”

Zandy kaget. Ia baru ingat kalau Dian masih ada di sana. Dian hanya tesenyum lalu memundurkan mobilnya berlahan keluar dari rumah Verena.

“Tenang aja. Aku yakin, omongan Dian pasti bisa dipercaya. Like you said, she’s different,”kata Verena.

But not more than you,”balas Zandy.

Makan malam di rumah Zandy terasa kaku. Ayah dan Ibunya memang jarang berada di rumah. Sekalinya mereka pulang, pasti tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Rasanya seperti ada anggota baru lagi di keluarga mereka.

Hampir 18 tahun sudah Zandy merasakan hal itu. Tapi dia sudah kebal, sudah biasa. Kedua kakak-kakaknya selalu menemaninya, suka ataupun tidak suka. Walaupun Ghaniya, selalu over protective padanya maupun Dya, dan Dya yang jahil dan gothic tapi bisa diandalkan. Serta keluarga Prasetyo yang sepertinya sudah lupa mereka memiliki keluarga. Semua tertutup dengan perusahaan, embel-embel bisnis, kekayaan, keformalan, dan segala macamnya.

Zandy bukan yang tertua di antara para Handoko atau pun Prasetyo. Bukan juga yang termuda. Bukan yang paling di sayang, tapi yang paling dibuang. Bukan juga yang paling pintar, tapi yang paling tidak pintar.

Terkadang Zandy iri melihat teman-temannya. Banyak di antara teman-temannya yang merupakan anak tunggal. Kata orang-orang, anak tunggal berlimpah kasih sayang, dan anak yang manja. Tapi tidak begitu di mata Zandy. Anak tunggal memang selalu disayang, diperhatikan, tapi tidak selamanya jadi manja dan cengeng. Justru merasa bebas. Tidak juga kesepian, karena lebih memiliki waktu bergaul dengan banyak orang di luar sana daripada kakak atau adik mereka. Seperti Davin contohnya. Tante Manda, tidak bisa memiliki keturunan lagi setelah melahirkan Davin. Tidak banyak cucu laki-laki keluarga Handoko. Hanya Davin dan Dipta, yang mewarisi sebagian besar harta keluarga Handoko. Di mana Nenek Runi menaruh harapan besar.

Tapi tidak begitu pada Davin dan Dipta. Mereka sama sekali tidak menginginkan jabatan apa pun di Handoko Group. Bahkan mereka berusaha sejauh mungkin dari yang namanya bisnis. Mereka menikmati kehidupan mereka sendiri. Kebebasan mereka masing-masing. Terlepas dari keluarga yang menyesakkan.

“Ayah dengar,”kata Ayah Zandy memecah kesunyian di antara mereka. “Kamu sedang dekat dengan Verena, ya?”

Mendengar nama Verena disebut, Zandy langsung tegang. Langsung terpikirkan olehnya, kalau ayahnya tau keadaannya dan Verena. “Oh, y-ya, Ayah tau kan, soal hukuman Nenek Runi.”

“Bukannya itu sudah bulan lalu?”kali ini Ibu yang angkat bicara.

Well, ya. Tapi apa ada masalah? Lagipula Verena banyak membantuku dalam pelajaran sekolah.”

“Itu bagus. Asalkan kamu tidak kembali ke kebiasaanmu yang dulu.”kata ayah.

“Jumat ini ayah ulang tahun,”kata Ghaniya mengalihkan pembicaraan, “ada perayaan?”

“Tidak. Hanya kita saja. Di rumah. Tidak akan ada perayaan.”jawab ayah cepat.

Zandy langsung tahu penyebabnya. Pasti ayahnya tidak ingin perayaan ulang tahun mengganggu aktifitas kerjanya.

Tapi tiba-tiba Zandy kepikiran. Dirinya belum menyiapkan hadiah apa pun untuk ayahnya. Tahun lalu ia pulang dengan keadaan mabuk saat hari ulangtahun ayahnya. 2 tahun lalu ia nggak memberikan hadiah apa-apa. Sedangkan kedua kakak-kakaknya selalu memberikan hadiah di setiap ulangtahun kedua orangtua mereka.

Mungkin bisa tanya Verena, batin Zandy.

Keesokan paginya Zandy datang menjemput Verena. Gadis itu sudah terlihat jauh lebih ceria sekarang. Bahkan lebih ceria daripada hari-harinya bersama Haikal dulu.

Morning, Princess,”sapa Zandy begitu Verena memasuki mobilnya.

“Hei, Prince! Jangan ngebut ya, Pak.”jawab Verena sambil nyengir.

Zandy menggeleng-geleng tidak setuju. “Tadi Prince, sekarang Pak. Yang konsisten, dong. Lagian kamu pasti mengakui kalau ngebut itu enak.”

“Baiklah Prince Rezandy yang terhormat. Terserah anda. Pokoknya kalau sampe nyawaku melayang duluan....”

“Wew. I’m scared,”kata Zandy sambil menahan tawa dan melajukan mobilnya. “Ayah mau ulangtahun Jumat nanti,”kata Zandy. Verena menatap Zandy, menunggu kelanjutan kalimat cowok itu, “yaaaa….aku nggak tau…harus ngasih apa…”

“Hei, relax, boy. Kenapa tegang gitu, sih? Itu kan ayah kamu sendiri. Kamu bisa kasih apa pun yang dia suka kan?”

That’s the point, girl! Aku bingung, yang dia suka itu apa.”

Verena memutar bola matanya. “He’s your own father! Masa kamu nggak tau apa yang dia suka?”

“Tau sih…tapi kan dalam cangkupan yang banyak.”

“Nggak juga. Asal kamu memikirkan sesuatu yang spesial aja buat dia.”

Zandy berpikir sebentar. “Minyak wangi? Jam tangan?”

Verena mencibir. “Payah. Aku nggak kebayang gimana hadiah ulangtahunku nanti kalau kamu mikirin kado buat ayahmu sendiri aja sampai segitunya.”

“Memangnya salah ya, ngasih minyak wangi ama jam tangan?”

Verena menggeleng. “Kecuali kalau kamu sendiri yang buat minyak wangi dan jam tangan itu.”

“Oh…right, self-made.”

“Udah ngerti, kan?”

“Aku kan nggak bisa buat apa-apa. Palingan buat diri sendiri mabok aja.”

“Hei, jangan sebut kata itu. You’re not that bad, boy.”

“Oke, oke. Jadi apaan nih, kadonya?”

Verena berpikir sebentar. “Gimana kalau masakan aja?”

What!? Kamu nyindir aku ya? Aku disuruh masak?”

“Tentu aja nanti aku yang bantuin. Kamu tinggal bilang, Papa kamu suka masakan apa?”

Italian, maybe.”

“Oke. Nanti hari Jumat aku dateng buat ngebantuin kamu masak.”

Verena duduk di bangku di bawah pohon, tidak jauh dari tempat mobil Zandy diparkir. Dari sana ia juga bsia melihat jelas mobil Zandy, jadi bisa langsung tahu begitu cowok itu datang.

Zandy sedang rapat dengan tim basketnya dan Verena diminta untuk menunggu sebentar. Kalau bukan status Zandy yang udah jadi cowoknya itu, Verena nggak bakalan rela nunggu panas-panas di siang bolong.

Seseorang merangkul Verena dari belakang. “Lho, Ndy, kok rapatnya cepet banget?” Verena menoleh dan langsung bangkit ketika mendapati bukan Zandy yang ada di belakangnya, melainkan Haikal.

Haikal tersenyum sinis. “Apa kabar, Ren? Jadi kabar kalau lo dan sepupu lo pacaran, itu bener?”

Verena berusaha agar badannya tidak bergetar. Dia masih merasa bahwa Haikal yang ada di hadapannya ini benar-benar Haikal yang berbeda dengan Haikal yang pernah bersamanya. Menyeramkan. Terlihat sangat berbahaya.

Verena mengeraskan wajahnya. “Urusan lo apa?”

Haikal tertawa. Verena langsung meringis. Padahal setiap kali mendengar suara tawa Haikal dulu, hatinya sangat senang. Tapi tidak sekarang. Mendengar suara tawa Haikal, terasa sangat kejam di telinga Verena.

“Heh, elo dan pacar lo itu sama-sama Handoko. Udah, deh, jangan naïf. Gue yakin keluarga lo pasti nggak tau kan soal ini?” Haikal maju mendekati Verena. Disentuhnya wajah Verena pelan, yang langsung di tepis kasar oleh Verena. “Hei, sejak kapan lo jadi pemberontak gini? Sejak main sama si tukang minum itu, gue perhatiin lo jadi semakin liar.”

Verena menampar pipi kiri Haikal, sekuat tenaga, sampai cowok itu meringis. “Ngaca lo! Lo pikir lo siapa? Orang suci? Cih!”

Haikal mencengkram kedua lengan Verena kuat-kuat sampai Verena meringis. “Dia nggak pantes buat lo! Dan gue bersumpah, lo bakalan bayar kata-kata lo tadi!”

Verena berusaha melepaskan kedua tangan Haikal dari dirinya. “Lepasin!”

Satu tonjokan keras mendarat di wajah Haikal, yang membuat cowok itu terhuyung ke belakang dan kontan melepaskan kedua tangannya dari tubuh Verena.

Verena menoleh dan mendapati Zandy sudah berdiri di sebelahnya. Wajahnya penuh emosi. Belum pernah Verena melihat Zandy semarah ini.

“Lo berurusan dengan Handoko, Haikal yang terhormat!”teriak Zandy.

Haikal menegakkan kembali posisi tubuhnya sambil meringis sakit dan meraba bagian wajahnya yang terkena tonjokan dari Zandy. “Gue pengen tau, reaksi keluarga lo begitu tau, lo dan Verena ternyata ada affair!”

“Lo pikir gue takut?”tantang Zandy.

“Handoko bakalan ancur! Dan lo berdua,”Haikal menunjuk Verena dan Zandy bergantian, “masih berurusan dengan gue.” Lalu Haikal pergi meninggalkan Zandy dan Verena di lapangan parkir.

Tubuh Verena bergetar hebat. Haikal berubah drastis di penghilatannya sekarang. Tidak seperti dulu lagi. Jauh, jauh, jauh berubah.

Zandy menarik Verena ke dalam pelukannya. “Sorry,”katanya lirih di telinga Verena.

Verena membenamkan kepalanya di dada Zandy dan menangis. “It’s not your fault.”

“Gue tau harusnya gue nggak ninggalin lo sendirian di sini.”

Verena melepaskan pelukan Zandy dan menghapus air matanya. “Udahlah. Ayo pulang, panas nih.”

Mau nggak mau Zandy tersenyum juga melihat ceweknya yang lebih memilih memikirkan panasnya terik matahari dibandingkan panasnya emosi Haikal tadi.

“Nanti malem lo mau ikut nggak?”tanya Zandy ketika di perjalanan pulang.

Verena mendekatkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke AC mobil Zandy. “Ke mana?”

“Hullabaloo.”

Verena menatap Zandy. “Kok gitu, sih! Lo kan tau kejadian terakhir waktu gue ke sana!”

“Eh jangan negative thinking dulu, dong. Emangnya temen lo doang yang ngadain acara ulang tahun di Hullabaloo?”

Verena menyenderkan punggungnya di kursi mobil. “Oh, jadi acara ulang tahun?”

“Iya. Salah satu pemain timku. Nggak enak kalau nggak dateng. Tapi kalau emang kamunya nggak mau juga nggak pa-pa.”

“Aku sih, mau-mau aja. Tapi perginya bareng kan?”

“Iyalah. Mulai hari ini aku nggak bakalan biarin kamu pergi sendiri lagi. Gue nggak mau ya, hal-hal yang kayak tadi kejadian lagi. Sayang tangan gue cuman buat nonjok mukanya si tengil satu itu.”

“Eh ngomong-ngomong, kita ngomongnya yang konsisten dong. Masa kadang aku kadang gue, kadang kamu kadang lo?”

Zandy mengerem mobilnya karena lampu merah. “Ya, bilang aku kamu kan biar mesra.” Zandy menaik turunkan kedua alisnya. “Tapi kebiasaan lo gue. Gimana dong?”

Verena melihat cowoknya dengan pandangan sedikit jijik. “Lebih prefer GUE ELO!”

“Oke! Itu sebenernya yang gue mau!” Zandy menggeleng-geleng kecil lalu bergumam sendiri pada dirinya, “gila baru kali ini gue pacaran pake gue elo”.

Hullabaloo selalu ramai pada hari Sabtu dan Minggu, sedangkan di hari biasa tidak begitu ramai kecuali jika ada event-event tertentu.

Tadinya Zandy sudah malas untuk datang ke pesta ulang tahun Fiona hari ini. Tapi Fiona memaksa dan memintanya untuk membawa sang kekasih. Ternyata Fiona mengira kalau Zandy berhubungan dengan Dian sejak pertemuan mereka di pameran buku tempo hari.

Sebenarnya Zandy juga belum siap-siap amat buat mengekspos hubungannya dengan sang sepupu, Verena. Tapi Zandy pikir, pada akhirnya semuanya juga bakalan tahu tentang dirinya dan Verena.

“Rame banget, Ndy,”gumam Verena sambil melepas sabuk pengamannya. Diperhatikannya Hullabaloo yang sekarang jadi lebih gemerlapan dari biasanya. Parkiran juga hamper penuh. Kalau Zandy tidak menunjukkan KTP-nya (dengan arti membawa-bawa nama keluarga Prasetyo), mereka nggak bakalan dapat parker di dekat pintu masuk yang khusus tamu-tamu VVIP ini. “Temen kamu yang ulang tahun ini siapa, sih?”

Zandy memutar bola matanya. Tadi siang baru bilang mau ngomong ‘elo’ ‘gue’, eh sekarang ‘aku’ ‘kamu’ lagi. “Nanti kamu juga tau.”

Mereka berdua turun dari mobil. Zandy menggandeng tangan Verena. Langkah Verena tiba-tiba terhenti begitu mereka berada di depan pintu masuk.

“Lho? Kenapa?”Tanya Zandy.

“Kayaknya temen kamu yang ulang tahun ini, lumayan eksis, ya? Tamunya banyak.” Verena melongok ke dalam melalui pintu yang terbuka. Suara-suara gaduh dari dalam saja bisa didengarnya. “Bener, nih nggak pa-pa kalau aku ikutan?” Verena memandang pakaian yang dipakainya malam ini. Gaun hitam polos yang panjangnya sedikit di atas lutut, sepatu dan juga tas hitam. Dia lebih suka pakaian simple, daripada pakaian yang penuh dengan renda-renda apalagi manik-manik.

“Nggak pa-pa. Kan kamu sama aku.” Zandy setengah menarik tangan Verena untuk masuk.

Sebenarnya Verena sendiri ragu mau ikut atau tidak ke sini. Apalagi setelah kejadian terakhir yang menimpanya di Hullabaloo tempo hari. Dia bahkan nggak mau lagi liat yang namanya minuman keras dan sebangsanya.

Beberapa orang tamu langsung memperhatikan Verena dan Zandy yang baru saja datang. Beberapa orang yang mengenal cukup baik keluarga, Prasetyo, Kusuma, maupun Handoko, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kedua cucu Handoko yang tadinya nyaris tidak akrab tapi sekarang malah datang bergandengan tangan. Beberapa orang yang tidak tahu hubungan mereka menganggap kalau mereka adalah pasangan yang serasi.

Verena mulai terganggung. Musik di Hullabaloo tidak pernah sekencang ini sebelumnya. Lampunya juga tidak pernah seheboh ini. Orang-orangnya begitu padat. Verena langsung berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan meyeret pulang Zandy tidak lebih dari satu jam lagi.

Zandy mencari-cari Fiona. Melihat Verena yang terlihat tidak nyaman dia juga bertekad untuk tidak lama-lama di sini. Memberi salam pada Fiona, basa basi bentar, lalu pulang.

Mata Zandy menangkap sosok wanita bergaun merah terang menyala di dekat meja bar yang membelakanginya. Sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Wanita itu adalah Fiona. Zandy tidak bisa membohongin dirinya sendiri kalau Fiona memang merupakan sosok yang menarik. Setidaknya begitulah yang dia anggap sewaktu pertama kali melihat Fiona dulu. Semua orang memberinya selamat karena berhasil mendapatkan si primadona Fiona. Tapi begitu tahu sifat Fiona yang sebenarnya, bayangan tentang sang primadona hilang sudah.

“Fiona!” Zandy berteriak, sekeras yang ia bisa untuk mengalahkan suara musik yang begitu keras, sambil melambaikan tangan.

Salah seorang teman Fiona yang melihat kehadiran Zandy, memberi isyarat kedatangan Zandy pada Fiona. Fiona berbalik dan wajahnya berseri-seri melihat sang mantan datang. “Hei, Ndy!”

“Itu temen kamu yang ulang tahun?”Tanya Verena.

Zandy mengangguk. “Fiona. Aku rasa kamu kenal. Kita kasih selamat dulu, ya.” Zandy kembali menarik tangan Viena dan menghampiri Fiona. Fiona langsung menyambut kedatangan Zandy dengan cipika-cipikinya. “Happy birthday, ya.”

“Thanks, elo udah mau dateng. Gue pikir lo udah nggak tertarik lagi dengan acara-acara kayak gini.” Fiona melirik ke arah Verena. “Verena, right? One of the Kusuma’s.”

Verena tersenyum sambil mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Happy birthday, ya.” Di luar dugaan Verena, Fiona menarik tangannya dan bercipika-cipiki juga dengan Verena.

“Senang bisa berkenalan dengan salah satu Kusuma. Zandy nggak pernah ngenalin gue sama sepupu-sepupunya. Palingan gue cuman kenal, Davin, Dipta, dan Seanna. Itu pun gue kenal sendiri.” Fiona berbalik ke Zandy. “So? Where’s the lucky girl, Ndy?”

Verena menatap Zandy. Bertanya-tanya apa kira-kira yang akan Zandy katakana. Verena merasa belum siap kalau orang-orang tahu hubungan mereka..

“Actually infront of you.” Zandy menjawabnya dengan mantap.

Fiona terlihat bingung. “Sorry?”

Zandy merangkul Verena intens. “The precious one, Verena Maulidhya Kusuma.”

Fiona tertawa kecil. “Is this a joke or something?”

“Sorry, but no.”

Fiona melipat tangannya di depan dada. “Are you serious about this one? Did you mind what you just say? Kalian kan sama-sama Handoko.”

Zandy mempererat rangkulannya di tubuh Verena. “So? What’s the problem? Memangnya kenapa kalau kita sama-sama Handoko?”

“Zandy, Zandy.’ Fiona geleng-geleng kepala. “Lo emang nggak pernah berubah. Sepupu lo sendiri! Sepupu lo sendiri sekarang lo jadiin korban juga! Apalagi lo seorang Prasetyo dan Handoko!”

“Stop talking about my family. Dan ini bukan urusan lo! Jadi gue harap lo jaga omongan lo.” Zandy mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya. “Ini hadiah buat lo. Di design khusus.”

Fiona menerimanya dengan girang. “Wow. Lo tau aja gue suka apa. I believe your taste, Ndy.”

“Itu bukan dari gue aja. Dari keluarga besar Handoko. Yang design itu Seanna. Nanti juga Seanna yang bakalan nganter ke rumah lo.”

“Okay…but—“

“Kayaknya gue harus pulang sekarang, Fi.”

“Ndy—“

Zandy menarik tangan Verena keluar dari Hullabaloo. Dia tidak lagi memperdulikan Fiona yang meneriaki namanya. Ternyata dia emang nggak pernah berubah, batin Zandy. Masih tetap munafik dan nggak tau diri. Zandy bersyukur keputusannya memutuskan Fiona tidak salah.

Diperjalanan pulang Zandy dan Verena hanya terdiam. Verena tidak bisa menyalahkan Zandy atas kejadian tadi. Dia mengerti kalau Zandy nggak mau menutup-nutupi hubungan mereka. Sedangkan Zandy merasa nggak enak hati karena sikap Fiona pada Verena tadi.

“Maaf ya, tadi. She always like that.” Zandy tetap menatap lurus ke depan. Dia tidak sanggup melihat wajah Verena.

“It’s okay. Dia emang bener kali, Ndy. Setiap orang yang tau hubungan kita pasti bakalan bilang hal yang sama.”

Kali ini Zandy melirik Verena sebentar. Sedikit terganggu dengan kata-kata Verena barusan. “Jadi kamu keberatan? Kamu nggak suka?”

“Bukan, bukan gitu.” Verena merasa kalau Zandy salah tangkap dengan omongannya. “Itu kan wajar, Ndy. Ini konsekuensi yang harus kita terima. Kita kan udah mutusin mau coba ini semua, dan nggak seharusnya juga kamu nyalahin Fiona.”

Zandy menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang sepi. Memukul stir mobilnya keras. Dia heran pada Verena. Jelas-jelas yang salah itu Fiona yang kalau ngomong tajamnya melebihi pisau dapur dan nggak pakai dipikir dulu. Dan sekarang Verena malah bilang kalau Fiona nggak salah?

Hell! Baik amat si cewek gue! “Kamu masih bilang dia nggak salah? Terus kamu mau nyalahin siapa? Kita?”

Verena menunduk. “Aku nggak tau.”

“Ren, look at me, please.” Zandy menangkup dahu Verena dengan sebelah tangannya dan menaikkan wajah Verena ke hadapannya. “Sebenernya aku nggak mau bawa kamu ke dalam kehidupanku. Temen-temen aku. Karena aku tau bakalan gini jadinya. Tapi aku nggak mungkin ngehindarin semua itu. Kamu udah jadi bagian aku, dan kamu juga bakalan masuk ke kehidupan aku, begitu juga sebaliknya.” Zandy menatap Verena. Tepat di mata gadis itu. Verena tidak bisa berkutik karena ditatap Zandy seperti itu. Dari tadi dia sudah menahan tangis. “Dan bukan kita yang salah. Tapi aku.”

“Kamu nggak salah. Nggak ada kamu dan aku. Tapi kita. Ini semua udah salah dari awal, Ndy. You know that.”

Zandy membuang muka. “Shit! Please, jangan salahin hubungan kita, Ren. These are all my fault.”

Air mata Verena mengalir.

Zandy menyeka air ata Verena, lembut dengan ujung jarinya. “Ssst… Just stop talking about this, okay?”

Verena menggangguk lemah.

Zandy kembali menjalankan mobilnya. Dia tahu nantinya pasti akan jauh lebih sulit lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar