“Dian itu anak temennya Papa. Pinter banget lho, dia. Dia juga yang ngasih pelajaran tambahan sama aku setahun ini. Kenapa? Tertarik, ya?”tanya Verena.
Zandy langsung salting sendiri. “Ya,
“Tapi kalau lo mau ama Dian, lo bener-bener harus bertanggung jawab. Apalagi Dian
“Kok lo ngomongnya gitu, sih? Jaid menurut lo gue nggak pantes buat cewek kayak, Dian?”
“Bukannya gitu, maksud gue! Tapi gue cuman mau ngasih tau aja, jangan pernah mainin Dian.”
Mobil berhenti tepat di depan rumah Zandy. Zandy pun langsung turun dengan kesal lantaran diremehkan seperti itu oleh Verena.
Verena membuka kaca jendela mobilnya. “Thanks ya, Ndy. Udah nolongin gue hari ini,”katanya sambil memberikan senyuman terbaiknya yang membuat Zandy panas dingin untuk sesaat.
“Thanks, Kal,”kata Verena pada Haikal sambil menerima sebotol air mineral dari tangan Haikal. Verena langsung meneguknya. “Kamu kemarin ke mana? Aku telepon HP kamu kok, nggak aktif?”tanya Verena.
Haikal bersender pada mobil Verena. “Oh, biasa. Lupa aku charge. Kemarin aku juga ada acara keluarga mendadak. Jadi langsung pulang. Kenapa?”
Verena urung menceritakan mengenai kejadian memalukan kemarin. Cukup Zandy aja yang tau, batinnya.
Verena menggeleng. “Nggak ada apa-apa, kok.”
“Oh, ya. Si Zandy di mana?”tanya Haikal. “Biasanya kamu langsung pulang sama dia.”
Aku menunjuk ke arah lapangan. “Dia mau main basket dulu.”
Haikal bingung melihat ceweknya, yang rela nungguin Zandy yang lagi senang-senang main basket sedangkan Verena hanya sekedar nonton. “Kok dia gitu? Kamu juga, kok mau aja disuruh nungguin dia? Udah bagus kamu mau nganter jemput dia setiap hari.”
“Udahlah, nggak pa-pa. Lagian dia seneng—“
Haikal nggak mau mengambil pusing kata-kata ceweknya itu. Dirangkulnya Verena dengan sebelah tangan. “Kalau gitu, biarin dia nungguin kita besok. Gimana?’
Verena awalnya ingin menolak. Entah kenap akhir-akhir ini dia sedang tidak ingin bersama Haikal. Tapi akhirnya dia mengiyakannya juga dan membuat Haikal jadi kegirangan seperti anak kecil.
Dari tengah lapangan, Zandy melihat sepasang kekasih itu, dengan iri.
Gue nggak pernah kayak gitu sebelumnya.
Sore ini Dian janji akan datang ke rumah Zandy dan mengambil buku-buku yang pernah diaktakan Zandy waktu pertemuan mereka di rumah Verena 2 hari yang lalu. Zandy tentu aja kegirangan. Dia bahkan udah cerita-cerita pada kakaknya, Ledya, soal Dian yang jadi sasaran berikutnya. Berbeda dengan Ghaniya yang cenderung cuek dengan masalah pribadi Zandy, Dya selalu ingin tau perkembangan masalah percintaan Zandy.
“Emang anaknya cantik?”tanya Dya.
Zandy mengangguk mantap. “Udah gitu, dewasa lagi. Kira-kira umurnya samalah kayak lo.”
Dya mengangkat sebelah alisnya. “Yakin lo? Waktu lo ama Fiona aja gagal total. Padahal lo sendiri yang bilang kalau body-nya si Fiona itu—“ Dya menggerak-gerakkan tangannya membentuk lekukan tubuh wanita.
“Sial! Tapi yang ini beda! Lo liat, deh nanti! Pilihan gue nggak bakalan salah kali ini!”
Dya bangkit berdiri. “Oke! Awas kalau sampe lo nggak kawin ama dia!”
Bel berbunyi, dengan bersemangat Zandy langsung membukakan pintu. Wajah yang pertama kalinya dilihatnya adalah Verena, yang membuat senyumannya hilang, tetapi begitu melihat seseorang di belakangnya, senyumannya langsung kembali mengembang.
“Hei, Ndy,”sapa Verena dan Dian bersamaan.
Sesaat Zandy jadi merasa dierebutin 2 cewek sekaligus, yang membuatnya mesem-mesem sendiri.
“Masuk, masuk,”kata Zandy mempersilahkan. “Mau liat buku-bukunya langsung, atau gimana?”
Dian melihat jam tangannya. “Langsung aja deh, kayaknya. Abis ini aku masih ada kuliah lagi.”
Sibuk banget rupanya nih, cewek, batinnya. Zandy sempat berpikir kalau sewaktu-waktu dirinya dan Dian pacaran, mereka akan jarang sekali ebrduaan. Mengingat jadwal Dian yang sepertinya selalu penuh. Tapi Zandy tetap pada pilihannya.
Zandy membawa Dian dan Verena ke perpustakaan Ayahnya. Perpustakaan itu lumayan besar. Diisi dengan rak-rak buku yang terbuat dari kayu jati dan menjulang hingga kelangit-langit. Semua rak-rak itu sudah penuh. Setiap bulannya akan diisi buku baru. Jika sudah ada buku yang tidak terpakai dipisahkan ke kotak kardus yang sudah menumpuk di sudut ruangan. Terkadang juga ditambahkan lagi rak-rak baru yang biasanya ditempatkan di ruang kerja Ayahnya.
Zandy menunjuk ke arah kotak-kota kardus tempat buku-buku yang sudah tidak terpakai lagi. “Itu semua buku yang udah nggak kepakai lagi sama Ayah.”
Dian mendekati kardus-kardus itu. Membuka salah satu kardusnya dan wajahnya langsung ceria. “Ini sih, banyak banget. Semuanya boleh aku ambil?”
Zandy mengangguk. “Daripada dibuang atau diloakin, mendingan disumbangin
Dian membuka kotak-kota kardus lainnya, sementara Zandy menurunkan satu bersatu tumpukan kardus itu dan menjajarinya. Verena melihat-lihat isi rak buku milik Oomnya itu, berdecak kagum ketik melihat buku yang bagus dan jarang ada yang punya.
“Kayaknya semuanya bisa aku bawa, deh. Beneran nih, nggak apa-apa?”tanya Dian sekali lagi.
“No problem. Malah gue makasih. Jadinya
“Bussiness.” Dian melanjutkan kalimat Zandy. “Bisa tolong bantuin masukin ke mobil aku?”
Dengan gesti Zandy mengangkat 2 kardus sekaligus, begitu seterusnya bolak balik dari mobil Dian ke perpustakaan sampai semua kardusnya terangkut. Zandy menutup pintu bagasi mobil Dian. Lumayan buat olahraga, batinnya.
“Thanks a lot ya, Ndy. Kamu bener-bener membantu. Maaf ya, aku harus langsung pergi. Time can’t wait.” Dian hendak membuka pintu mobilnya tapi Zandy menahannya.
“Temen aku ngadain acara semacam pameran buku gitu. Semua yang ada di
Dian tersenyum. “Wow. Keliatannya seru. Kebetulan aku nggak ada acara. Sabtu jam 3 aku udah standby di sini. Oke?” Dian membuka pintu mobilnya dan masuk. Melambai pada
Zandy membalas lambaian Dian. Tersenyum lebar. Menatap mobil Dian hingga hilang dari pandangannya. Hatinya terasa begitu bahagia. Apalagi melihat wajah Dian yang senang bukan main ketika melihat tumpukan buku. Tapi seketika senyum itu hilang, begitu tau Dian meninggalkan sesuatu.
“Lo nggak ikut pulang?”tanya Zandy pada Verena di sampingnya.
Verena memasang wajah memelas dengan sedikit senyum. Yang membuat Zandy terpesona sekaligus kesal. “Jangan bilang lo minta gue anterin pulang?”
“Enggak, kok! Tapi boleh juga, tuh! Ide bagus. Selama ini
“Kenapa nggak ikut Dian aja, sih sekalian?”
“Gue
“Kalau gitu kenapa lo ikut-ikutan ke sini Verena sa—.” Mendadak Zandy terdiam. Hampir saja kata itu terucap. Kenapa dia begitu mudah mengatakan kata ‘sayang’? Bahkan pada sepupunya sendiri.
Tapi Verena nggak ambil pusing dengan kata-kata Zandy yang belum selesai. “Kan Dian baru pertama kali ke rumah lo dan dia minta gue temenin.”
Zandy melirik jam tangannya. Jam 4. Pasti jalanan sudah mulai macet dan sebentar lagi Mama atau Ghaniya akan pulang, dan Zandy sedang tidak mood untuk diintrogasi hari ini yang jelas-jelas akan merusak momen bahagianya dengan Dian barusan.
“Fine! Gue anter lo pulang.”kata Zandy akhirnya. Yang membuat Verena tersenyum manis, dan Zandy kembali panas dingin dibuatnya.
Zandy tidak memperkirakan kalau dirinya bakalan bertemu dengan seseorang yang tidak pernah ingin dia temui. Danar Irfanto Kusuma, kakak Verena, sekaligus cucu kesayangan Nenek Runi. Walaupun Nenek Runi selama ini tidak pernah mengumumkan siapa-siapa saja cucu kesayangannya, tapi Zandy juga para Handoko yang lain bisa melihat betapa berbedanya perilaku Nenek Runi pada Danar. Danar adalah satu-satunya di antara para cucu Handoko yang bergabung dan berkonsentrasi penuh dalam Handoko Group. Ghaniya dan Dafintha juga sebenarnya terlibat dalam Handoko Group walaupun secara tidak langsung. Ghaniya lebih memfokuskan diri pada perusahaan milik keluarga Prasetyo. Sedangkan Dafintha terkesan main-main karena ia lebih tertarik dengan dunia musiknya.
Belum lagi embel-embel masalah nama tengah Danar yang mengikuti nama mendiang Kakek Irfanto. Tante Andyta, Mamanya Danar dan Verena, memang adalah anak yang paling dekat dengan Kakek Irfan, sampai-sampai anaknya sendiri diberi nama yang sama dengan ayahnya. Nenek Runi bahkan melihat Danar seperti melihat mendiang suaminya dan berharap banyak pada Danar.
Nenek Runi tidak pernah memaksakan cucu-cucunya untuk meneruskan Handoko Group. Termasuk Danar. Danar sebenarnya dapat dipastikan akan lebih sukses jika lebih fokus pada perusahaan milik keluarga Kusuma. Zandy selalu mengira Danar hanya cari muka di depan Nenek Runi dengan sok bekerja keras demi Handoko Group. Danar yang setau Zandy selalu pulang tengah malam itu, diluar perhitungan Zandy sudah berada di rumah pada jam 5 sore.
“Lho, Bang Danar? Kok tumben jam segini udah pulang?”tanya Verena ketika melihat Abangnya itu di ruang keluarga.
“Kebetulan kerjaan lagi nggak banyak. Kok kamu bisa sama Zandy?”tanya Danar.
“Oh, itu tadi aku nemenin Dian ke rumahnya Zandy buat ngambil buku. Karena Dian masih ada kuliah lagi, jadinya aku minta Zandy anterin pulang.”jawab Verena.
Zandy menyesal kenapa dia harus pake turun dari mobil segala tadi. Kalau dia langsung pulang
“Gue pulang dulu,”kata Zandy.
“Kenapa buru-buru? Kita bisa makan sama-sama dan ngobrol-ngobrol,”kata Danar.
Zandy mengumpat dalam hati. Dia benar-benar terperangkap dengan cucu kebanggan Nenek Runi ini.
Zandy berjanji pada dirinya sendiri kalau lain kali bakalan menelepon dulu ke rumah keluarga Kusuma sebelum datang, agar tidak bertemu Danar lagi. Sepanjang makan malan obrolan mereka hanya seputar Zandy. Aktifitasnya belakangan ini, mengenai hukuman nenek, sampai masa depan. Zandy merasa seperti berhadapan dengan Dian versi cowoknya yang membuat Zandy kesal setengah mati.
“I know my brother is some kind of bothersome. But he’s good in some way. I hope you understand.”kata Verena ketika mengantar kepulangan Zandy.
Zandy menatap Verena lama. Dia senang sekali melihat ekspresi Verena sekarang. Apalagi nada suaranya ketika mengatakan kalimat itu barusan.
“Gue kira lo harus pergi sekarang kalau nggak mau Bang Danar keburu keluar,”kata Verena yang membuat Zandy tersadar dari lamunannya dan jadi salting sendiri.
“Gimana kalau besok gue yang jemput lo?”tanya Zandy. “
Verena menjentikkan jarinya. “Good idea! Gitu, dong! Sekali-sekali lo yang melayani gue.”
“Gue pulang dulu, ya. Takut kakak lo muncul lagi entar. Bye, Verena sa—.” Zandy kembali mengunci mulutnya dan buru-buru menjalankan mobilnya. Verena melambai ke arah Zandy seperti anak kecil. Yang membuat Zandy rasanya ingin turun dari mobil dan memeluk Verena erat-erat.
Akhirnya hari Sabtu yang paling ditunggu-tunggu Zandy tiba juga. Zandy mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Sampai-sampai memoles mobilnya yang hitam kinclong jadi tambang cling.
Sesuai janjinya, Dian datang tepat pada jam 3. Zandy sampai geleng-geleng kepala. Karena cewek-cewek yang pernah berhubungan khusus dengannya tidak pernah se-on time Dian, dengan alasan macetlah, dandanlah, dan segala macamnya. Tapi hari ini Dian terlihat sangat canti bagi Zandy, walaupun Dian hanya memakai seulas make-up tipis, kaos dan jeans biasa.
“Mau langsung berangkat?”tanya Dian sambil menutup pintu mobilnya.
Zandy membukakan pintu mobilnya untuk Dian. “Langsung aja.Takutnya macet di jalan.”
Dian sedikit aneh melihat tingkah laku Zandy. Tapi dia memakluminya sebagai tingkah laku anak SMA biasa, dan masuk ke dalam mobil Zandy. Zandy terpaku di tempatnya sesaat, mencium aroma parfum Dian ketika cewek itu lewat sesaat di hadapannya.
“Hei, katanya takut macet?” Dian menyadarkan lamunan Zandy yang membuat cowok itu jadi mesem-mesem sendiri. Zandy berputar dan masuk ke dalam mobilnya. Karena terlalu grogi duduk di samping Dian, alhasil Zandy tancap gas sekencang-kencangnya dia bisa. Yang menuai protesan dari Dian. “Kok ngebut banget, sih? Bahaya, lho.”
Zandy memperlambat kecepatannya. Kenapa yang selama ini dilakukannya selalu salah di mata Dian? Yang seolah membuatnya tidak bisa apa-apa.
Pameran buku itu lumayan ramai. Dipenuhi oleh orang-orang sekelas dengan keluarga Handoko, karena mengingat harga buku-buku di
Zandy yang sama sekali tidak tertarik dengan buku hanya bisa mengikuti Dian ke
“Lho, Zandy?” Suara itu sangat familiar di telinga Zandy. Yeah. Siapa lagi kalau bukan, Fiona. Zandy berbalik dan melihat mantan pacarnya itu sudah berdiri di belakangnya. Dengan senyumannya yang manis, yang dulu sempat membuat Zandy tertarik padanya. Tapi tidak ketika Fiona berselingkuh dengan salah satu teman Zandy, bahkan tanpa perasaan bersalah sedikit pun.
Zandy menatap Dian di sebelahnya, yang masih sibuk melihat sebuah buku. Zandy berharap cewek itu nggak sadar dengan kehadiran Fiona. Zandy lalu kembali memandang Fiona. Zandy tau betul seperti apa watak Fiona, yang hampir sama dengan dirinya. Weekend nongkrong di Hullabaloo, nggak pernah mikirin masa depan, dan paling nggak bisa disuruh belajar. Fiona sangat benci dengan yang namanya buku. Buku apa pun itu kecuali mengenai kecantikan. Lebih benci daripada Zandy. Zandy terheran-heran sekarang Fiona berada di hadapannya, di sebuah pameran buku, dengan wajah sumringah, seolah senang berada di tempat itu. Apa Fiona sudah berubah? Pertanyaan itu sempat terlintas di kepala Zandy, tapi segera ditepisnya. Tidak mungkin seorang cewek macam Fiona dapat merubah 180˚ hanya dalam waktu beberapa bulan.
“Hei, kok kamu ada di sini?”tanya Fiona.
Tepat saat Zandy ingin menjawab, Dian sudah berbalik, menatap Fiona dan Zandy bergantian. “Kenalin ini Diandra…temen gue.”kata Zandy pada Fiona.
Fiona mengulurkan tangannya. “Fiona.”
Dian membalas uluran tangan Fiona. “Diandra, tapi panggil aja Dian.”
“So? Bagaimana bisa seorang Rezandy berada di sini?”tanya Fiona.
“Kebetulan Dian suka buku, jadi gue nemenin dia ke sini.”jawab Zandy.
Dian mengipas-ngipaskan tangannya tidak setuju. “Zandy yang minta ditemenin ke sini.”
Zandy hanya bisa tertunduk lemas. Bisa-bisa Fiona yang sama dengan dirinya, yang suka asal ceplas-ceplos itu mengetahui rencananya mendekati Dian dan mengatakannya langsung di depan wajah Dian sekarang.
Fiona terkikik geli. “Well done, Zandy. Aku harus pergi dulu, tunanganku sudah menunggu di depan. See you soon.” Setelah cipika-cipiki sok akrab dengan Dian, lalu dengan Zandy, Fiona melambai dan pergi.
Zandy terpaku pada tempatnya. Tunangan? Nggak salah tuh? Jadi Fiona udah tunangan?
“Hei, tadi itu siapa kamu sih?”tanya Dian pada Zandy.
“Mantan.”jawab Zandy.
Dian mengangguk-angguk. “Kenapa putus?”
Ini yang paling dibenci Zandy. Mengungkit-ungkit masa lalunya. Apalagi soal mantan-mantannya. “She played at my back. Dengan temanku pula.”
“Jeez. I’m sorry for.”
Zandy berusaha mengalihkan pembicaraan. “Jadi beli bukunya?”
Dian menggidikkan bahu. “Still looking around. Masih banyak yang belum aku liat. Kalau ada yang bener-bener aku pengen, mungkin aku beli.”
Zandy mengernyitkan dahi. Bener-bener aku pengen? Rasanya dari tadi Dian begitu exited melihat semua buku yang ada di sini, dan semuanya bener-bener dia pengen.
Mereka menuju rak-rak buku yang lain. Sampai akhirnya Zandy bertemu seseorang lagi. Bukan seseoran tepatnya, beberapa orang. Yaitu sepupu-sepupunya dari keluarga Handoko. Adyani, Davin, Dipta, tidak ketinggalan juga Verena dan Danar. Zandy sempat bingung dengan kehadiran Danar. Kalau Adyani yang pintar itu jelas maniak buku. Sedangkan Davin dan Dipta memang selalu ngekor. Kalau Verena? Ngapain dia ikut-ikut ke sini? Danar juga tidak biasanya mau memuang waktu untuk hal seperti ini. Palingan dia baca buku yang udah ada di rumahnya aja, nggak pernah milih buku-bukunya sendiri.
“Hei, Dian, Zandy,”sapa Verena dengan ekspresi childish-nya. “Kalian di sini juga?”
“Jangan pura-pura nggak tau deh, Ren,”bisik Zandy pada dirinya sendiri.
“Oh, jadi pameran buku yang lo maksud itu ini? Tau gitu Dian bisa berangkat bareng kita tadi. Kebetulan Dian juga habis dari rumah gue. Udah pada beli buku?”tanya Verena.
Dipta yang sejak tadi sibuk mentertawakan sebuah buku dengan Davin tiba-tiba menoleh. Ketika melihat teman sekomplotannya ada di situ juga mereka bertos ria. Zandy tidak terlalu menyesali keberadaan sepupu-sepupunya itu. Apalagi ada kedua temannya, Davin dan Dipta. Walaupun si dingin Danar itu ikut juga.
“Seorang Zandy ke pameran buku? Apa ada teori baru, tuh?”goda Adyani.
Dipta dan Davin cekikikan geli. “
Zandy memukul lengan Dipta. “Sial lu.” Ketika Zandy menoleh ingin melihat Dian, cewek itu sudah menghilang. Ketika menengok ke sebelah kirinya, ternyata Dian sedang mengobrol asyik dengan Danar. Seketika Zandy rasanya ingin menarik tangan cewek itu menjauh dari si manusia es. Tapi ketika melihat ekspresi Dian yang begitu senang berbicara dengan Danar, Zandy jadi ciut sendiri. Sepertinya Dian menyukai Danar, itu hal pertama yang terpikirkan oleh Zandy. Tapi lagi-lagi dia tidak memperpanjang urusan itu. Danar dan Dian
Dipta dan Davin berdiri mengamit kedua lengan Zandy. “Nggak seru di sini, nggak ada buku bokep. Gue kira bukunya bagus-bagus gambarnya, taunya. Buat spesies kayak Adyani doang.”bisik Davin. Lalu Dipta dan Davin pun membawa Zandy pergi dari gerombolan orang yang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing. Verena dengan Adyani. Danar dengan Dian. Dan yang paling miris adalah, Zandy dengan si sinting Dipta dan Davin.
Berantakan sudah rencana Zandy hari ini. Tadinya dia mau hanya berdua saja dengan Dian. Habis dari pameran ngajak Dian dinner. Semua itu hanya dilakukan berdua. Tanpa perkiraan Zandy ternyata ada beberapa gangguan. Sehabis dari pameran, Dian malah menyebut-nyebut acara makan malam yang ditawarkan Zandy. Alhasil jadinya semua orang jadi ikut-ikutan dan Zandy tidak ada kesempatan berdua saja dengan Dian. Itu semua karena Zandy tidak memperkirakan kalau undangan pameran buku itu tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga Handoko. Dan bodohnya Zandy nggak mempertanyakan hal itu pada temannya, Denise, yang mengadakan acara itu terlebih dahulu.
“Jadi gimana? Itu target lo selanjutnya?”bisik Davin pada Zandy sambil melirik Dian.
Zandy menatap sepupunya itu. “Tau dari mana lo?”
Dipta ikut-ikutan, “so simple, my friend. Lo yang nggak pernah suka buku tiba-tiba nongol di pameran buku. Walaupun gue tau sih, itu pameran yang ngadain Denise temen lo, tapi kayaknya nonsense deh. Karena kakaknya si Adly aja pernah ngadain acara yang sama tapi lo nggak dateng. Dan lo hari ini bawa cewek ke pameran buku. Yang jelas-jelas keliatannya tuh cewek lebih tua dari lo dan lebih pinter.”
Zandy agak terkejut ketika Dipta mengucapkan kata-kata ‘lebih pinter’. Seolah-olah dirinya jauh lebih bodoh daripada Dian.
“Jadi? Udah sejauh mana nih, ceritanya? Kok lo nggak ngomong-ngomong ama kita-kita, sih? Hati-hati lho, Ndy. Itu cewek kayaknya nggak bisa main-main. Lo
“Bener, tuh. Tapi sih, Dian cuantiiik banget, Ndy. Pinter lagi. Bisa-bisa dia yang kerja lo yang masak. Dia yang kasih duit lo yang belanja. Dia yang kasih makan elo yang hamil!” Kali ini Dipta dan Davin nggak bisa menahan tawanya. Tawa mereka meledak begitu saja. Dan pandangan semua orang berpindah pada ketiga cowok itu.
Zandy yang duduk di antara 2 setan penghasut jadi stress sendiri memikirkan akta-kata Dipta dan Davin. Gimana kalau suatu saat itu terjadi? Di mana Zandy nggak bisa mengimbangi kehidupan Dian?
Orang-orang kembali sibuk dengan pasangannya masing-masing. Statisfied malam itu sangat ramai, yang membuat suara ketiga cowok itu hampir tidak terdengar. Apalagi Dian duduk di paling pojok dan nampak serius berbicara dengan Danar.
Dipta menepuk bahu Zandy. “Tapi tenang, man. Dari yang gue liat sih, Dian bakalan suka juga ama lo. Siapa sih, yang nggak suka sama Rezandy Putra Prasetyo?” Dipta menaik turunkan alisnya, membuat Zandy meringis geli.
Sekarang giliran Davin yang menepuk bahu kiri Zandy. “Kejar terus sampai titik darah penghabisan! Lagian gue yakin kok, Ndy. Kalau lo bego di SMA pasti lo pinter di kuliah.”
“Tau dari mana lo?”tanya Dipta.
Davin nyengir. “Karena gue pinter di SMA dan bego di kuliah, jadi gue pikir—“
“Nggak menjamin, dodol! Pokoknya usaha terus aja, Ndy!” Dipta mengacungkan jempolnya memberi semangat.
Zandy menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat kedua sepupunya bergantian. Sejak kapan mereka peduli?
Zandy kepikiran ide baru malam itu. Kalau memang Dian memberikan pelajaran tambahan pada Verena, kenapa dirinya tidak? Bahkan Verena yang jauh lebih pintar darinya saja bisa, kenapa dirinya yang bodoh tidak bisa?
Tapi Dian mengatakan kalau dirinya tidak bisa. Apalagi jadwal kuliah yang semakin padat. Selain Verena ternyata masih ada 5 murid lainnya. Yang katanya akan dikurangi jadi 3 murid saja termasuk Verena. Zandy langsung lemas. Tapi begitu Dian memberitahukannya kalau dia bisa ikut belajar bersama di rumah Verena setiap hari senin, Zandy lumayan gembira. Walaupun ada si Verena, tapi setidaknya dia bisa lebih dekat dengan Dian. Jangan sampai hubungan mereka hanya sampai di sini saja.
“Thanks, ya Ndy. Kalau ada pameran buku lagi, dengan senang hati kalau bisa aku ikut.” Dian membuka kunci mobilnya.
Sebelum Dian sempat naik ke dalam mobilnya, Zandy sudah menahan tangan Dian. Cewek itu merasa risih diperlakukan seperti itu oleh Zandy, sehingga langsung menarik kembali tangannya.
“Bisa minta nomor HP kamu? Atau nomor apa aja yang bisa dihubungin?”tanya Zandy.
“Aku lebih suka lewat e-mail.” Zandy menatap aneh Dian. Dian lalu tersenyum kecil. “Jangan anggap aku nggak punya HP, ya. Tapi aku jarang pakai HP. Malahan kadang-kadang lupa bawa. Tapi kalau laptop aku selalu bawa, jadi aku lebih prefer ke e-mail. Tadi
Zandy masih terpaku pada tempatnya. Baru kali ini dia melihat seorang cewek yang lebih senang menggunakan e-mail daripada HP. Padahalkan jelas lebih praktis HP.
Hari Senin ini adalah hari pertama Zandy mendapatkan pelajaran tambahan dari Dian. Sesuai persetujuan, minggu ini di rumah Verena, dan minggu depan di rumahnya, dan begitu terus selanjutnya.
“Telat, ya?”tanya Zandy polos. Dilihatnya di depan Verena dan Dian sudah bertaburan buku-buku.
“Oh, enggak kok, Ndy. Baru aja setengah jam mulai.”jawab Verena dengan nada sinis sambil tetap menulis.
Zandy memandang ke sekeliling. Kenapa harus di kamarnya Verena, sih? Ini
Zandy membayangkan kalau kamar cewek lebih berantakan daripada kamar cowok. Zandy sendiri tidak suka sesuatu yang berantakan, kamarnya juga tertata rapih, walaupun dirinya pribadi yang membereskan. Tapi kamar Verena begitu rapih, semua tertata apik. Cat dindingnya berwarna hijau pastel, dengan karpet yang berwarna biru tua lembut. Semua perabotannya juga didominasi warna yang sama, ditambah warna kuning pastel dan pink pastel yang cewek banget. Belum lagi wangi kamar Verena yang sama dengan wangi parfumnya, yang akhir-akhir ini sering dicium Zandy. Wanginya Verena lebih enak daripda wanginya Dian.
Zandy mengambil tempat di samping Dian. Dian langsung menyodorkan beberapa materi. “Kita udah bahas ini selama setengah jam tadi. Kalau ada yang kamu nggak ngerti, langsung tanya aja.” Dian lalu kembali menyodorkan selembar kertas berisi soal. “Soal yang paling basic dari yang pernah ada.”
Zandy menerimanya dengan sedikit kesal, karena merasa diremehkan. Darimana Dian tau kemampuan otaknya? Apa dari Verena?
Pelajaran hari itu berlangsung sangat membosankan bagi Zandy dan sangat mengganggu bagi Verena. Biasanya Dian dan Verena belajar dengan tenang. Semua materi yang diberikan Dian pun mudah diserap oleh Verena. Tapi ketika belajar bersama Zandy, semua materi yang diberikan harus diulang beberapa kali, karena Zandy tidak juga mengerti. Verena yang sudah dipuncak desperate-nya, begitu saja tergeletak tidur di karpet.
“Aku yakin kamu bisa, Ndy. Cuman kurang konsentrasi aja,”kata Dian sambil membereskan kertas-kertasnya.
Kata-kata Dian itu membuat Zandy lebih bersemangat. Baru kali ini Dian mengatakan hal positif mengenai dirinya.
Dian bangkit berdiri dengan map di tangannya. “Tolong urusin Verena, ya. Aku harus buru-buru. Masih ada anak lain yang nunggu. Jangan lupa belajar, aku bakalan ngulang lagi yang tadi aku ajarin ke kamu minggu depan.”
Terkadang Zandy merasa kalau Dian itu menjadi gurunya, bukan lagi gebetannya. Terkadang juga dia merasa tidak pantas, karena Dian sudah terlihat begitu matang. Dian sudah memiliki pekerjaan, walaupun gajinya tidak seberapa. Sedangkan Zandy memikirkan kuliah aja belum, apalagi pekerjaan. Dian juga berasal dari keluarga yang terkenal dengan kerja kerasnya. Handoko sebenarnya juga begitu, tapi kata ‘kerja keras’ itu hampir tidak ada di dalam diri Zandy. Zandy hanya bisa menggunakan tanpa memberi lagi. Selama ini dia hanya bisa menggunakan uang orangtuanya, harta kekayaan Handoko dan Prasetyo, selama baginya itu semua masih cukup Zandy tidak berpikiran untuk mencari uangnya sendiri.
Tinggalah Zandy dan Verena yang sudah tertidur pulas di kamar yang cukup besar itu.
Zandy memandangi Verena. Memang, kalau cewek itu paling cantik kalau lagi tidur, batinnya. Zandy menggerakkan tangannya, ingin sekedar membelai Verena. Sebelum tangannya menyentuh Verena, Zandy tersadar akan kelakuan di bawah sadarnya itu.
Kenapa sih, gue? Sepupu sendiri masih mau diembat!
Zandy menggerakkan tangannya lagi, kali ini ingin membangunkan Verena. Tapi diurungkannya niat itu, melihat Verena yang tertidur pulas dengan wajah innocence nya.
Zandy mengangkat tubuh Verena dan membaringkannya di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya. Dipandanginya wajah Verena sekali lagi. Verena memang sedikit lebih dewasa darinya, walaupun tidak sampai sematang Dian. Zandy yakin, jika dirinya jadian dengan Dian, hubungan mereka pasti akan bertahan lama. Mengingat Dian berbeda daripada cewek-cewek sebelumnya. Tapi Verena juga berbeda. Dia dewasa, tapi juga kekanak-kanakan. Apalagi melihat sikapnya pada Haikal selama ini. Kadang-kadang Zandy ingin berada di posisi Haikal. Begitu diperhatikan, bukannya memperhatikan. Apa Dian nanti akan punya waktu untuk itu?
Sebuah foto di meja kecil di samping tempat tidur Verena menyita perhatiannya. Foto Haikal dan Verena. Di foto itu Haikal merangkul pinggang Verena mesra. Itu bukan pertama kalinya Zandy melihat Haikal sedekat itu dengan sepupunya. Tapi itu foto, tidak bergerak, lama akan terus di
Semua itu bercampur aduk di dalam pikiran Zandy. Belum lagi masalah Verena adala sepupunya. Sepupunya yang paling tidak dekat dengannya. Walaupun sebenarnya sikap mereka bertolak belakang, Zandy dan Verena tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama famous di sekolahnya, di lingkungan rumahnya. Padahal bisa dibilang Zandy dan Adyani yang lebih bertolak belakang lagi. Tapi Adyani pendiam. Sedangkan Verena cerewet. Yang membuat Zandy dan Verena jadi semakin merasa nggak cocok karena terlalu banyak bicara perbedaan masing-masing.
Zandy sekali lagi meyakinkan dirinya. Kalau dirinya tidak akan jadi player lagi. Dan Dian-lah yang terakhir. Save the best for the last, right?
Keesokan paginya Zandy terlambat datang menjemput Verena. Kali ini bukan macet alasannya, tapi karena Zandy benar-benar telat bangun.
“
Verena berdecak kesal. “Kagen kok ama bangun siang! Lagian kalau mau telat jangan ajak-ajak gue, dong!”
“Bilang
“Heh! Mr. Prasetyo! Nyadar dong! Masih bagus gue yang ditugasin buat nganter jemput lo! Daripada Nenek Runi sendiri! Bisa mampus lo, bangun subuh-subuh!”
“Berisik lo! Orang
Verena terdiam. Dia memandang keluar jendela. Mendadak pipinya blushing. “Thanks, semalem. Kalau enggak gue udah masuk angin gara-gara tidur di lantai.”
Zandy nyengir nakal. “See? Gue udah berkorban
Emosi Verena terpancing lagi. “Beratan mana sih, ama karung goni macam lo? Belum lagi dosa lo yang buanyaknya minta ampun itu ampe buat lo tambah berat!”
“Hei, nggak ada hubungannya apa dosa, dong.”
Sepanjang perjalanan mereka hanya balas membalas. Tidak ada yang mau mengalah, selalu begitu setiap paginya, tidak hanya pagi, tapi sepanjang hari.
Verena nggak percaya apa yang telah menimpanya. Dia telat masuk sekolah! Untuk pertama kali dalam hidupnya dan dia harap untuk terakhir kalinya. Verena menaruh dendam pada Zandy. Apalagi mengingat kepala sekolah mereka adalah teman Nenek Runi, yang dapat melaporkan apa saja dan kapan saja mengenai perkembangan kedua Handoko yang bersekolah di sekolahnya.
“Hei, kalau sampai hukuman lo diperpanjang, dan gue ikut-ikutan kena, awas aja, ya!”ancam Verena.
“Ih, galak amat.”ujar Zandy sambil celingak-celinguk ke dalam sekolah lewat jeruji pagar.
Verena menguap lebar. Entah kenapa dirinya ngantuk banget pagi ini. Verena kembali masuk ke mobil, melanjutkan tidurnya tadi malam.
Zandy yang melihatnya jadi kesal. Seenaknya aja tuh cewek. Gue nunggu di sini dia enak-enakkan tidur.
Zandy membuka pintu di samping Verena. Ingin teriak-teriak pada gadis itu biar bangun. Tapi lagi-lagi Zandy tidak tega.
Semua wajah keluarga Handoko memiliki keunikan masing-masing. Seperti 4 bersaudara, Dafintha, Seanna, Adyani dan Dipta. Merekalah yang memiliki wajah yang paling unik di antara cucu-cucu Handoko lainnya. Karena nenek mereka dari ibu mereka, Karenina Damian, adalah seorang Inggris asli. Maka dari itu cucu-cucunya terlihat sedikit indo, terutama Dafintha dan Adyani.
Kecantikan Verena beda lagi, yang membuat Zandy tertarik padanya. Mantan-mantan Zandy sebelumnya belum ada yang pernah secantik Verena. Tidak ada yang unik, tidak ada yang pas di hati Zandy.
Gue baru nyadar punya sepupu secantik lo, batinnya. Dibelainya Verena berlahan. Coba kalau lo bukan sepupu gue, udah gue cium lo!
“Mas!” Zandy melepaskan tangannya dan langsung berbalik. Di lihatnya Pak Jajang, sudah berdiri di depan pagar sekolah sambil melambai-lambaikan tangannya agar Zandy mendekat. “Disuruh masuk ama Pak Ferdi!”
Zandy masuk kembali ke mobilnya, dan memasukkan mobilnya ke dalam sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar