Jumat, 10 Juli 2009

No More part 5

2 bulan sudah berlaru sejak aku jadian dengan Alvin. Semuanya masih berjalan lancar sampai sekarang. Rafel nggak pernah tau kalau selama ini aku dengan Alvin, dan Alvin nggak pernah tau soal permainan aku dan Safira ini.

Riana nggak pernah ngomong lagi sama aku sejak kejadian itu. Dia bahkan jarang kelihatan lagi. Safira sendiri mengaku udah jarang contact-contactan dengannya. Jadi gitu toh, sifatnya: lari dari masalah.

Semakin hari aku semakin akrab dengan teman-teman Alvin. Nggak ada lagi image mereka yang suka ngambilin harta para socialite di mataku. Menurutku tidak semua dari mereka begitu. Tidak pada teman-teman Alvin. Siska dan Nadira yang tadinya menatapku dingin, sekarang sudah bersikap hangat.

Satu yang kutemukan dari mereka: persahabatan mereka itu nggak fake. Tidak seperti para socialite. Di antara kami jarang yang memiliki sahabatan. Kebanyakan di antara kami hanya berteman, berkenalan, dan semuanya mengalir begitu saja. Tidak peduli orang itu sedang butuh pertolongan, atau orang itu tertinggal jauh di belakang, atau tidak pernah bertemu lagi. Tapi dengan teman-teman Alvin, aku tidak menemukan semua itu. Mereka tidak lagi membahas soal statusku. Mereka tidak pernah menggunakan uangku sepeser pun. Dan saat aku bercerita tentang pengalamanku, tidak ada satu pun dari mereka yang meremehkan. Jika aku menceritakan pengalamanku pada teman-teman socialiteku, dapat di jamin mereka tidak tertarik. Bagi mereka topic di dunia ini hanya ada tiga: fashion, gossip, dan uang. Mereka tidak pernah menanyakan masalah apa yang sedang melanda teman mereka misalnya.

Dalam 2 bulan ini pun aku jadi semakin jarang shopping. Kadang-kadang Alvin yang minta nganter aku belanja. Sampai saat ini pun dia belum menunjukkan kebosanan yang berarti. Dia setia menemaniku mondar-mandir keluar masuk toko.

Sedangkan Adyani sudah bekerja di toko bukunya Denise. Denise selalu memberi laporan padaku setiap kali dia memantau kegiatan Adyani. Bahkan menurutnya omset toko bukunya meningkat sejak kedatangan Adyani. Dan hari ini rencananya aku ada janji dengan Denise di toko bukunya, sekalian nengokkin Adyani.

“Hey, Sen!” Sapa Denise (seperti biasanya) dengan ceria begitu melihat kedatanganku dan Alvin. Ini dia yang nggak bisa aku hilangkan, Alvin selalu stick sama aku ke mana aja. Beda dengan Rafel yang lebih banyak acara sendiri. Apalagi Alvin satu kampus denganku.

Kulihat Adyani di sedang berbicara dengan salah satu karyawannya. Aku berbisik pada Denise. “Is everything alright?”

Denise mengangguk. “Adik lo itu rajin. Gue seneng dengan cara kerja dia.”

Adyani memberhentikan pembicaraannya begitu melihatku dan kami menghampirinya.

“Lho, Seanna? Kok?” Adyani bingung melihatku.

“Kebetulan Alvin lagi mau cari buku. Iya kan, Vin?” Aku memberi isyarat pada Alvin untuk berbohong.

“Eh, iya, iya,”jawab Alvin tergagap-gagap.

“Mau cari buku apa? Mungkin bisa aku bantu.”

Aku dan Alvin sama-sama terpaku dan memutar otak. Buku apa, ya?

Tepat saat puncak kepanikan kami, aku melihat dua sosok yang sangat familiar baru saja masuk. Yang tidak lain tidak bukan adalah dua sepupuku, Zandy dan Davin.

Adyani juga surprise melihat kedatangan mereka. Apalagi Adyani udah jarang bertemu dengan keluarga kami sejak kejadian yang menimpanya.

Aku berjinjit untuk berbisik di telinga Alvin. Pada saat aku menggunakan high heelsku, jadi ngerepotin. Giliran pake flat, ngerepotin juga. Salah aku yang lebih pendek atau Alvin yang ketinggian. I think 163 cm normal enough. “Vin, do you mind kalau ngobrol dengan Denise, Davin, dan Zandy dulu? I need to talk with my sis.”

Alvin mencium pipiku sekilas sebagai jawabannya. Lalu dengan mudahnya dia bergabung dengan Davin dan Zandy.

Aku menarik lengan Adyani dan berkata, “Yan, aku butuh buku-buku fotografi, nih. Kamu bisa tunjukin kan, mana aja yang bagus.” Sorry, Yan, aku nggak maksud buat motong waktu kebersamaan kamu dengan sepupu kita.

Tapi Adyani tidak terlihat keberatan. Dia mengajakku ke sebuah rak dan menunjukkan beberapa buku yang menurutnya lengkap dan mudah untuk dimengerti.

“Masih sering check-up kan, Yan?”tanyaku sambil pura-pura membaca salah satu resensi buku.

“Yeah. Dokter bilang semuanya baik-baik aja.”

Aku mengembalikan salah satu buku yang ‘ceritanya’ sudah aku baca resensinya. “So? Baby girl or boy?”

Adyani tersenyum malu. “Girl.”

“Wow! Do you mind, if I’ll make her my Barbie?”

“Itu tergantung, kemauan dia nantinya. Kalau emang dia mau mengikuti jejak tantenya jadi Barbie, aku sih, oke aja. Tapi kalau mau mengikuti jejak ibunya―” Adyani tidak melanjutkan kata-katanya.

Sebagai gantinya aku melanjutkan. “Yang pinter banget, it’s okay, juga kan?”

Adyani tersenyum kecil.

“Tristan apa kabar, Yan?”tanyaku.

“Baik. Lo udah tau, kalau dia dapet first ranking di kelasnya?”

Aku pura-pura ikutan antusias. Aku sudah yakin kalau Tristan pasti bakalan jadi pinter mendadak. “Wow. It’s great.”

“Gimana kabarnya Papi sama Mami, Dipta, Dafintha?”

“Baik. Sekarang mereka lagi bolak-balik Aussie. Dipta jangan ditanya lagi. Karena kamu nggak ada, sekarang aku yang sering dimintain tolong ngerjain PR dia. Kadang-kadang masih suka aku kerjain. Aku gambar aja baju-baju cewek, bahkan kadang-kadang underwear! Kalau Dafintha sama kehilangannya kayak Dipta. Dia pulang malem terus setiap hari. Kamu kan tahu, kalau Danar ama Ghaniya nggak sebaik kamu yang mau ngajarin dia terus-terusan.”

Adyani tersenyum.

Aku merangkulnya. “Itu artinya masih banyak orang yang ngebutuhin kamu. Liat aja sekarang. Tristan berusaha buat kamu. Dafintha dan Dipta mulai jadi usaha sendiri. Walaupun dari mereka masing-masing pasti masih butuh kamu. It’s not the end of the world, remember?”

Aku bisa melihat kepercayaan yang timbul kembali dari Adyani. Sekarang hanya itu yang dia butuhkan. Semangat. Dia pasti bisa bangkit lagi, tidak peduli apa yang sudah melandanya.

Setelah menjatuhkan pilihanku pada sebuah buku fotografi yang menurutku covernya paling keren (aku melupakan quotes: don’t judge a book by it’s cover) aku segera membayarnya dan bergabung dengan Alvin dan yang lain di cafĂ© yang merupakan bagian dari toko buku ini.

“Kok tumben kalian ke sini?”tanyaku pada Davin dan Zandy. Aku tahu betul apa tipe sepupu-sepupuku. Yang suka buku paling hanya Adyani. Sedangkan Ghaniya dan Danar lebih sering beli buku bisnis (aku yang liat covernya aja udah males!). Verena lebih suka beli novel dan majalah sama denganku. Sedangkan sisanya jangan ditanya. Apalagi Davin dan Zandy. Davin memang nggak sampai senakal Zandy tapi kalau soal akademi mereka sama malasnya.

“Ini si Zandy,”Davin menyikut Zandy yang duduk di sebelahnya.

“Si Verena, Sen!” Zandy berkata dengan berapi-api. “Dia ngambek! Gara-gara gue nggak sengaja numpahin orange juice ke novel yang baru dia beli!”

Aku bengong menatapnya. Zandy dan Verena memang terkesan kekanak-kanakkan. Walaupun usia mereka sebenarnya setahun lebih tua daripada Dipta. Tapi aku yakin hubungan mereka lebih serius daripada kelihatannya. Apalagi aku tahu dari Davin dan Dipta yang menguping saat Zandy dan Verena berbicara enam mata secara official bersama Nenek Runi. I know, someday, Rezandy will be a very very good husband for Rena.

Aku duduk di bangku di samping kanan Alvin yang kosong sedangkan Adyani duduk di samping kananku, kami berdua sama-sama cekikikan.

“Kan tinggal lo beli buku baru lagi, Ndy,”aku menyarankan.

“Itu dia! Gue udah bilang ya, jelas-jelas kedia. Gue bakalan ganti, sama yang sama persis kayak gitu! Dia malah bilang, “ Zandy berdeham lalu mencoba menirukan suara Verena, “’aduh, Ndy! Kamu pikir dengan ganti buku aku gitu aja urusannya selesai! Kalau tinggal gitu aja sih, kamu juga bisa numpahin orange juice ke semua bukuku dan tinggal kamu ganti!’” Kedengarannya tidak seperti suara Verena, tapi jadi seperti tingkah banci yang menjijikkan. Lalu suaranya kembali normal lagi, “abis itu gue diusir deh, dari rumahnya!”

“Dan kabur ke rumah gue, minta diteminin ke toko buku,”tambah Davin.

Aku menyeruput lattè milik Alvin. “Nanti juga balik sendiri kok, Ndy,”kataku. Aku yakin benar bagaimana watak Verena. Verena yang baik hati dan lembut itu nggak tahan marah lama-lama.

Zandy menggaruk-garuk kepalanya frustasi. “Gue tau, sih. Tapi tetep aja nggak enak diem-dieman kayak gini.”

Semua orang memandangku kecuali Alvin. Aku tahu apa arti pandangan mereka.

Just ask her out. Ke tempat favorit kalian. Pasti dia nggak bakalan nolak.” Para sepupu-sepupuku, juga Denise, menyebutku sebagai Love Doctor. Entah sindirian untukku karena mantanku yang banyak, atau karena memang benar-benar ahli dalam hal seperti ini. Yang paling sering curhat siapa lagi kalau bukan Zandy (si player). Setiap kali dia mutusin ceweknya (aku masih heran, dia yang mutusin kok, dia yang repot?) daripada dia mabok di Hullabaloo mending aku buka praktek (walaupun nggak diragukan lagi aku juga suka tepar di sana kalau habis diputusin).

Zandy langsung mencoba tipsku. Dia menelepon Verena dan untungnya diangkat. Setelah dia selesai berbicara, ditatapnya aku dengan tajam. Apa aku salah? Apa gara-gara aku hubungan mereka jadi malah tambah kacau?

Thank you so much Seannaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Zandy berteriak keras. “Gila! Cara lo 100% berhasil! I owe you!”

Zandy langsung minta tolong pada Adyani untuk mencarikan bukunya Verena yang dihancurkannya dan abis itu langsung menyeret Davin pulang.

“Oh, iya, Sen.” Denise memberikanku dan Adyani masing-masing sebuah undangan. “Tadi Davin ke sini buat ngasih itu juga. Nggak ada dari antara sepupu lo yang bisa dateng, jadi diharapkan lo dateng mewakili Handoko.”

Aku membaca undangan yang didominasi warna emas dan perak itu. Sarah Febrilia’s 21st Birthday Party 6th November. Sarah Febrilia, aku kenal dia. Kita memang cukup sering bertemu, apalagi di acara-acara socilalite. Dia juga berbeda dari socialite yang lain, sama seperti Denise. Bedanya dia tidak terlalu tertarik dengan bisnis. Dia lebih sering muncul di kegiatan sosial.

“Seminggu lagi, ya?” Aku berusaha mengingat-ingat apa aku ada janji atau tidak. Tapi berhubung akhir-akhir ini aku lebih sering bersama Alvin dibandingkan teman-teman socialiteku, alhasil acaraku berkurang. “Okay! No problemo. Lo dateng kan, Nis?”

“Pasti dong. Sarah is one of a kind. Pasti bakalan seru.” Aku bisa melihat ketertarikan dari wajah Denise.

Aku memberikan undangan itu ke Alvin. “Dateng sama aku, ya?” Awalnya aku sempat ragu apa orang seperti Alvin akan mau ke acara seperti ini?

Tapi teryata Alvin juga kelihatan tertarik. “Okay.”

Aku berpaling pada Adyani yang masih memandangi undangan di tangannya. “Gimana, Yan? Lo mau dateng?”

“Kayaknya enggak deh, Sen,”jawab Adyani.

Mungkin ada benarnya juga untuk sementara dia nggak dateng ke party seperti ini. Kalau terjadi sesuatu sama kandungannya gimana?

Malam ini aku menghabiskannya bersama Alvin lagi. Ini adalah hal yang sering kami lakukan akhir-akhir ini. Di dalam mobilnya yang terpakir di dekat padang seperti biasanya.

Malam ini kami tidak main ular tangga seperti biasanya (karena ternyata Dipta ngumpetin ular tangganya entah di mana), jadinya kami main ayam-ayaman (praktis nggak pakai alat tinggal modal jari jempol).

So? Who is this Sarah Febrilia, exacty?”tanya Alvin.

“Dia itu bandar narkoba.”

Jari jempol Alvin berhenti bergerak dan menatapku dengan syok. Aku memanfaatkan momen itu untuk menekan jempolnya.

“Yeah! Menang!” Aku tertawa.

Alvin kelihatan nggak terima dan tidak melepaskan tanganku.

Just kidding, Vin. Sarah orangnya baik, kok. Bukan macam Safira. Bahkan menurutku kamu bakalan cocok sama dia.” Entah kenapa ketika mengucapkan kalimat terakhirku, aku kembali dilanda rasa cemburu yang sama ketika Alvin pertama mengobrol dengan Denise.

Alvin menarikku mendekat padanya. Menaikkan selimut menutupi tubuh kami berdua. Dijentikkannya jarinya di ujung hidungku. “Kamu nggak bisa menilai seenaknya seperti itu, Seanna.”

“Memangnya kenapa? Itu kan dari yang aku liat.”

Alvin mencium puncak kepalaku. “Tapi cara kamu mengucapkannya, Seanna. It sounds like Adyani.”

“Adyani? Memangnya suaraku mirip sama Adyani, ya?”

Nope. Bukan itu maksudku. Kamu mengatakannya, dengan nada yang sama seperti Adyani selama ini berbicara setelah kejadian itu. Like…like…what can I say? Like desperate. Like you don’t have yourself with you. Kayak kamu nggak percaya diri.”

Semudah itu kah aku terbaca?

Well, mungkin yang kamu bilang itu bener.” Aku mendongak untuk melihat wajahnya. “Just tell me one thing.” Aku menelan ludah tidak yakin apa aku akan mengucapkannya. “Do you love me?”

Alvin memberikanku senyuman terbaiknya itu. “Of chorus I love you, Princess.”

“Bener-bener sayang?”

Alvin mengangguk.

“Nggak mau lepasin?”

Alvin menatapku bingung. “Tentu aja. Kamu kenapa?”

Apakah baik seperti ini? Membiarkan persaan kami berkembang? Apa Alvin adalah orang yang tepat? Bagaimana dengan Rafel? Rafel yang selama 2 bulan ini sudah aku jauhkan dari kehidupanku. Tapi seharusnya sejak awal aku tahu, aku tidak akan pernah bisa bersama Alvin. Alvin dan aku, adalah dua orang yang sangat amat berbeda. Yang sejak awal dipaksakan untuk bersama. Sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan baik.

Tapi apakah semua ini sejak awal memang dipaksakan? Atau memang keadaanku sekarang, bersama Alvin, adalah yang terbaik? Bagaimana bisa jadi yang terbaik kalau Rafel harus dikorbankan?

“Vin? Apa yang kamu suka dari aku? You know, aku kan seperti cewek socialite kebanyakan.”

“Kamu selalu aja begitu, Seanna. Mengambil keputusan sendiri dan ngotot kalau itu benar.” Alvin mencium puncak kepalaku lagi. “Tapi kalau kamu tanya, apa yang aku suka dari kamu, jawabannya, semuanya. Nggak ada sedikit pun bagian dari diri kamu yang aku nggak suka.”

“Kamu suka bagian shoppingnya? Suka bagian ngototnya? Manjanya?”

Nobody’s perfect, remember? Memangnya cuman kamu aja yang punya kelemahan? Aku juga.”

Gosh, your almost perfect, Vin! Kamu baik banget. Nggak pernah ngeluh tentang apa pun yang aku lakuin. Sampai kadang-kadang aku pengen kamu sedikit keras sama aku. Kalau gini terus caranya, mana tega aku mutusin kamu. Kalau kayak gini terus, bisa-bisa aku beneran jatuh cinta sama kamu, Vin.

“Kalau alasan kenapa kamu sayang aku?”

“Seanna, kalau yang satu itu aku rasa nggak perlu alasan. Itu datang sendiri begitu aku melihat dan mengenal kamu. Nggak perlu pakai fisik, sifat, atau apa pun. Yang penting ‘kamu’.”

Aku belum pernah menanyakan hal semacam ini pada Rafel. Abisnya kalau sama-sama Rafel nggak pernah kepikiran. Adanya aku kabawa ngobrol ama temen-temennya. Atau nggak Rafel selalu bahas soal keluargaku.

Aku berbaring di pangkuan Alvin, memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur. Tangan Alvin membelai rambutku, wajahku, dengan lembut. Tidakkah dia tahu kalau itu semua membuatku jadi panas dingin dan nggak bisa tidur?

Go to sleep, Baby. Sweet dream.”

Satu kecupan di keningku dan aku tertidur.



Saat aku bangun keesokan paginya, seperti biasanya Alvin memberikanku ciuman selamat pagi. Tapi ciuman itu pagi ini tidak memperbaiki kondisi hatiku.

“Vin, keberatan nggak kalau kamu biarin aku sendiri dulu hari ini?”tanyaku begitu Alvin berhenti di depan rumahku.

Alvin menatapku ragu. “Are you sure, you alright?”

Aku mengangguk.

Alvin mencium pipiku lama dan dalam. “Okay. Hari ini aku nggak akan ganggu kamu. Aku ngerti. Besok aku jemput kamu. Aku pengen kenalin kamu ke Tante Ratih. Do you mind?”

Aduh, kenalan lagi, kenalan lagi. Alvin beneran serius, ya?

No. I will ready at 10 o’clock tomorrow.” Aku mengecup pipinya sekilas dan turun dari mobil.

Aku bahkan tidak tahu, apa aku bisa menepati janji itu besok atau tidak.


Ketika baru saja aku ingin mengasingkan diri di kamar, BlackBerry-ku berbunyi. Ada e-mail dari Zandy. Mau apalagi nih, anak? Begitu aku membuka e-mailnya, ternyata dia mengirim file. Segera aku download file itu yang ternyata isinya adalah lagunya Dewi Dewi yang judulnya Dokter Cinta. Kenapa nggak bisa to the point aja, sih? I need help, that’s it. Gampang kan?

Aku menelepon Zandy dan cowok itu langsung mengangkatnya.

“Seanna, Seanna! Lo harus denger!”

Man! Toa banget, sih! “Santai dong, Ndy. Iya gue tau. Kenapa lagi Verena? Bukunya lo rusak lagi? Atau kali ini rumahnya lo bakar sekalian? Terus lo janjiin mau beliin rumah baru, tapi taunya bokap nyokap lo nggak ngasih? Terus dia ngambek?”

“Aduh, Sen! Lo kok bercanda, sih? Nih, ya, baru aja kemaren gue baikan, eh taunya sekarang dia udah ngambek lagi! Gara-garanya gue ketauan ke Hullabaloo dan minum. Tapi sumpah Sen, nggak sampe mabok.”

Aku berdeham.

“Ya, ya, ya. Gue mabok. Tapi cuman dikiiiiiiiit. Gue masih sadar, kok. Bener, deh. Lo pasti tau lah, perasaan gue, Sen. Lo kan juga minum.”

But I’m not addicted!”

“Udah deh, pokoknya gue mau minta tolong! Gue udah minta maaf 34 kali tapi dia nggak maaf-maafin gue. Emang sebesar itu ya, kesalahan gue?”

“Zandy, lo itu udah janji nggak mau minum lagi! Jangankan Verena, kalau nyokap bokap lo, dan Nenek Runi tau, pasti mereka juga bakalan marah. Lo jadi anak baik sekali-sekali bisa nggak, sih? Ini buat hubungan lo ama Verena juga.”

“Terus sekarang lo harus gimana?”

“Aduh. Lo janji aja deh, ama dia, nggak bakalan lakuin itu lagi. Terus lo kasih dia apa kek, gitu. Buku baru, kek. Tanya Adyani aja buku apa yang baru. Jemput dia kek, pagi-pagi ke sekolah. Kasih nilai bagus. Rajin belajar. Udah, deh. Dijamin dia stick di elo!”

“Waduh. Perlu waktu lama, ya? Gue coba yang buku aja, deh. Thanks ya, Sen. Gue doain langgeng ama Alvin.”

Belum sempat aku protes, Zandy sudah menutup telepon.

Doa seorang Rezandy manjur nggak, sih?



Sekarang aku sedang berada di Listen To Me. Toko musik langgannannya Dafintha yang nggak lama kemudian jadi langganan para cucu Handoko. Abisnya Listen To Me menjual CD-CD lengkap, apalagi dari luar negri. Yang menurut Dafintha, lagu-lagu di sini, ‘dia banget’.

“Lho, Seanna, kan?”

Aku yang sedang mencari rak CD lagu Indonesia, menoleh dan mendapati Ricky, sang manager toko, yang sekaligus teman yang cukup dekat denghan Dafintha, sedang menatapku seolah aku ini nyasar.

“Hei, Rick. How are you? Udah lama, ya.”

“Iya. Lo nggak pernah lagi sih, main ke sini.”

Aku terkekeh. “Wah, ternyata kedatangan gue diharapkan, ya?”

Ricky menuliskan sesuatu di atas kertas yang dialasi papan yang sejak tadi dia bawa. Sepertinya sedang mengecek stok barang. “Well, tentu aja. Siapa sih, yang nggak mengharapkan kedatangan Princess Seanna?” Entah kenapa, cara Ricky memanggilku ‘Princess’ tidak seindah dulu. Bagiku hanya Alvin yang bisa memanggilku dengan sebutan ‘Princess’ seperti aku benar-benar Princess.

Ricky berhenti menulis, memasukkan pulpennya ke dalam saku kemejanya dan menatapku. “Mau cari apa nih, ke sini? Mau cari CD buat lo, atau buat Dafintha? Sampai segitu nggak punya waktunya kah dia sampai mengutus adiknya yang cantik ini untuk datang ke sini?”

Mau nggak mau aku tersipu juga. Ricky memang jago buat wanita kayak aku jadi blushing. Awalnya aku sempat tertarik dengannya. Physically, lumayan charming. Hanya saja dia bukan socialite. Dia hanya berasal dari kaum menengah biasa. Tapi aku suka, dia tipe pekerja keras yang kelihatan bakal sukses nantinya.

Nope. Gue cari CD buat gue sendiri.”

“Whoa, okay. Nyari CD apa? Jazz? Mmm…I think not, it’s Dafintha’s. Classic? Nope it’s me. Lo selalu sulit ditebak Seanna. Bahkan gue nggak bisa menebak secara spesifik apa jenis musik lo.”

Aku tersenyum. “Gue nggak tau secara spesifik genre-nya. Tapi ada albumnya Abdul & The Cofee Theory, nggak?”

Ricky terlihat terkejut. “Wah, ternyata seorang Seanna suka juga, ya? Tentu aja ada, apa sih yang nggak ada di sini?” Ricky berbalik badan, menggerak-gerakkan jarinya di depan rak CD di hadapannya dan mengeluarkan sebuah CD dan memberikannya padaku. “This is it! Abdul!”

Sebenarnya udah lama aku cari CD ini, tapi baru sempat dan kepikiran lagi sekarang. Sepertinya Alvin sangat suka, dan dengan aku tahu setiap lagunya, siapa tahu bisa mewakili perasaan Alvin juga. Mengingat cowok itu susah mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata.

Thanks a lot ya, Rick.”

Your welcome. Tapi boleh minta bantuannya, Sen?”

Aku membaca track lagu di CD yang berada di tanganku. “Apa?”

Actually, I know you have many relation.”

Aku mendongak. “Lo mau pindah kerja, ya? Mau coba bisnis? Tapi Rick, kayaknya lo lebih cocok di sini.”

Ricky mengibaskan tangannya. “Bukan. Gue mau minta bantuan lo, buat cari Wedding Organizer yang bagus.”

Aku mengernyitkan dahi. “Buat?”

For me. For my wedding.”

Aku melotot. “You’re going to married?”

Ricky mengangguk. “Yup.”

To Who?”

“Meidera Wicaksono.”

Aku nggak nyangka seorang Ricky ternyata udah mau nikah! “Whoa, congrats ya, Rick! Kalau soal WO sih, aku ada kenalan. Namanya Denise. Dia sebenarnya bukan WO beneran, sih. Tapi dia suka sekali kalau dikasih tugas kayak gitu. Kemarin aja, yang ngurusin pernikahannya Adyani dia. Dia punya toko buku, juga butik. Anaknya pekerja keras, dan bertanggung jawab kok. Kalau memang lo mau, gue bisa kenalin lo sama dia, biar nanti lo aja yang bicarain sendiri sama dia.”

“Wow. Gue percaya sama rekomendasi seorang Handoko. Apalagi yang satu ini udah diuji coba dengan Adyani, ya? Okay. Suruh dia dateng ke sini aja ya, Sen. Gue sibuk nih, akhir-akhir ini. Kejar setoran buat biaya nikah.” Ricky nyengir.


“Seanna Nadya!”

Aku mulai terasa tidurku terusik. Padahal semalaman aku berpikir keras. Pertama untuk tugas kuliah dan kedua untuk masalah Rafel dan Alvin. Abis nangis nggak karuan semaleman sekarang udah dibangunin gini.

“Seanna!”

Dan takjubnya kali ini yang terdengar suara merdu Dafintha bukannya suara bass Dipta. Memangnya kakakku itu nggak kerja apa? Nggak nge-band?

“Aduh, Vin. Maaf ya, adek gue emang―”

Begitu mendengar kata ‘Vin’ aku langsung terlonjak banget. “Vin, sorry aku kesiangan!” Tapi aku tidak mendapati siapa-siapa di sana kecuali Dafintha yang nyengir padaku.

“Tha, lo bakal dapet hukuman karena udah bangunin gue―” Aku melirik jam di samping tempat tidurku. 8 o’clock? Aku janjian ama Alvin aja jam 10! Kenapa Dafintha bangunin gue pagi-pagi gini?

“Sen, jangan gitu, dong. Aku ke sini kan cuman mau have quality time with you. Udah lama banget kan kita nggak ngobrol.”

Aku memutar bola mataku. “By the way kamu nggak kantor? Nge-band atau apa kek gitu?”

Dafintha menggeleng. “Ini kan hari Minggu. Biasanya sih, aku emang nyempetin ke kantor bentar. Tapi gue lagi pengen istirahat aja. Kalau nge-band, ternyata Kai, Intan, dan Esther punya rasa yang sama dengan gue. Mereka juga lagi pengen punya waktu istirahat.”

“What ever lah. Sekarang kamu maunya ngapain? Main ular tangga? Bilangin dulu tuh si Dipta, dia ngumpetin ular tangganya. Kalau main monopoli uangnya udah abis ama Dipta. Otello? Sama aja, ilang semua ama Dipta. Scrable? Ada noh, di lemariku tinggal papannya doang, ilang semua dipinjem Dipta.” Si Dipta itu emang trouble maker. Semua barang yang aku pinjemin ke dia nggak ada yang dikembalikan dengan utuh. Emang tuh, anak. Maunya seenaknya.

“Ya enggak kayak gitu juga, Sen. Aku cuman mau ngobrol-ngobrol aja. Lanjutin yang waktu berapa bulan lalu di meja makan.”

Mungkin ada baiknya kalau cerita full versionnya ama Dafintha. Siapa tau dia bisa bantu. Kan kalau minta saran dari roang yang nggak membela kedua kubu lebih manjur.

Aku menceritakan semuanya panjang lebar. Mulai dari omongan Riana, rencana Safira. Aku juga ngaku kalau ini semua cuman egoku aja untuk sok-sokan nggak mau direndahin di mata orang lain (like always). Terus aku juga bilang soal sekarang, aku menganggap diriku nggak jauh beda ama Zandy (player) bahkan lebih parah.

“Ya ampun, Sen. Kok bisa segitunya, sih?”

“Aku juga bingung! Dari awal aku nggak ada niat ama Alvin! As I know, dia itu bukan tipeku. Seorang aneh yang tau-taunya baik hati. Sekarang aku jadi nggak enak buat mutusin dia. Belum lagi Rafel. Masa udah seenaknya aku nyuruh dia nungguin 3 bulan gue tinggalin gitu aja? Apa kata orang?”

Ekpresi Dafintha berubah menjadi ekpresi seorang kakak. Selama ini aku hanya beberapa kali melihat ekspresinya seperti itu, sisanya dia menunjukkan ekspresi seorang pemusik (katanya sih gitu). Salah satunya waktu kejadian Adyani. Adyani pertama kali cerita padaku dan Dafintha (tentu aja karena dia nggak berani bilang ke Papi dan Mami), dan Dafintha berubah menjadi sosok kakak yang pengertian. Juga waktu Dipta kena masalah di sekolah, aku dan Dafintha terpaksa dateng ngegantiin Papi dan Mami. Waktu itu dia ngomong sama kepala sekolahnya seolah dia itu Papi atau Maminya Dipta beneran.

“Dek,” apalagi kalau dia udah manggil aku dengan panggilan ‘adek’, “pertama yang kamu harus tau, dalam suatu masalah nggak bakalan cuman satu orang aja yang salah pasti kedua belah pihak salah.”

Aku ingat, Alvin pernah mengatakan itu sebelumnya.

“Dan kamu bukan player. Kamu cuman lagi tersesat dalam permainan yang kamu buat sendiri. Kalau soal gengsi kamu yang gede itu, aku udah tau. Aku kan kakakmu. Aku kenal kamu luar dalem. Aku tau kamu orangnya nggak mau kalah. Tapi terkadang kamu harus buka mata kamu juga, Dek. Kamu nggak mungkin jadi orang benar selamanya. Ada saatnya kamu salah dan walaupun kamu buktiin sekeras apa pun, kalau emang kamu salah, kamu tetap akan salah. Dalam hal ini kamu yakin kalau Rafel nggak yang kayak orang lain bilang. Menurut aku, sah-sah aja kamu itu ke orang-orang, karena emang lo yakin. Tapi cara kamu salah. Atau lebih tepatnya cara Safira. Tapi kamu mau aja nurutin cara Safira. Itu aja udah cukup membuktikan kalau dalam satu masalah nggak hanya 1 orang yang salah.”

“Aku harus gimana, dong? Ini semua udah terlanjur! Mau gue pilih salah satu di antara mereka, pasti ada yang sakit nantinya. Nggak pilih dua-duanya, mereka sakit dan gue sakit.”

Dafintha memegang kedua bahuku dan menatap lurus ke mataku. “Ikutin apa kata hati kamu, Dek. Antara Rafel ama Alvin, nggak mungkin posisi mereka di hati kamu sama. Pasti ada salah satu dari mereka yang lebih tinggi posisinya. Tapi mungkin dalam hati kamu posisi mereka cuman beda tipiiiiis banget. Makanya kamu harus ngerasainnya pelan-pelan, dan aku yakin pasti lo tau jawabannya―hanya kamu yang tau jawabannya.”

Aku memeluk Dafintha. “Thanks ya, Sis. Makasih udah bangunin aku jam segini.”

“Sama-sama. Aku kangen sama curhatan lo, Sen. Ternyata bener, kamu lagi ada masalah.”

“Dan kamu sendiri? Udah dapet yang cocok?”

Dafintha menggeleng.

“Masih kepikiran ama ****, ya?”

Tidak perlu Dafintha jawab, jawaban itu sudah ada di matanya.

****, pujaannya Dafintha. Sebenarnya **** juga socialite, sama seperti kami. Bedanya keluarganya setuju-setuju aja dengan karirnya di bidang musik (yang sempat buat Dafintha iri setengah mati). **** sama-sama anak band, dia guitarist. Mereka bertemu kembalidi suatu acara ketika dua-duanya mau manggung setelah sekian tahun nggak ketemu. Aku sih, belum ngeliat **** secara langsung, tapi di lihat dari foto-foto di kamar Dafintha, jelas dia orang yang charming. Tapi nasib ternyata nggak berpihak pada kakakku ini. Dafintha tadinya udah mau ikut beasiswa untuk ke Austria, bareng temennya, Nanda, tapi tau-taunya Papi dan Mami ngelarang dia. Sedangkan **** sendiri udah berangkat ke Aussie sama bandnya untuk memajukan band mereka ke dunia internasional. Alhasil sampai sekarang Dafintha belum ketemu lagi sama pangerannya itu.

“Kamu juga, Tha. Gue yakin, kalau penantian kamu sampai segininya, dia pasti balik, and then lived happily ever after!” Aku tahu betul Dafintha paling anti sama yang ada kata-kata “happily ever after”nya. Tapi sejak kejadian dengan karir musiknya juga ****, sepertinya kata-kata itu sudah tidak begitu berpengaruh.

Dafintha tersenyum kecil. “I hope so.”



Tante Ratih tidak jauh berbeda dengan Oom Suryo. Hanya saja Tante Ratih versi lemah lembutnya. Masakannya sama enaknya dengan masakan Tante Gianti. Hanya saja raut wajahnya menunjukkan kesendiriannya selama ini. Kata Alvin, suaminya Tante Ratih, sudah meninggal dunia 30 tahun lalu. Saat itu, usia pernikahan mereka baru saja menginjak 1 tahun. Oom Wisnu (mendiang suami Tante Ratih) meninggal karena kecelakaan pesawat yang dibawanya sendiri (Oom Wisnu seorang pilot). Alvin juga menceritakan soal asal usul nama ‘Wisnu’ dalam namanya, yang ternyata memang pemberian Tante Ratih yang diambil dari nama Oom Wisnu. Tapi sejak suaminya meninggal, Tante Ratih nggak pernah menikah lagi atau pun punya anak. Bahkan beliau tinggal seorang diri sampai akhirnya Alvin datang menemaninya.

Kalau aku jadi Tante Ratih, aku nggak bakalan kuat. Ditinggal suami saat mereka baru saja mencapai kebahagiaan. Tiba-tiba saja orang yang sangat amat kita sayangi pergi begitu saja.

Tapi Tante Ratih seperti tidak lagi mempermasalahkan kejadian yang menimpa dirinya 30 tahun lalu, walaupun seolah bekasnya tidak akan hilang dari hatinya. Aku tahu itu. Apalagi ketika aku tidak sengaja melihatnya sedang memandangi foto suaminya di atas meja di samping meja makan, yang dengan setelan seragam pilotnya, dengan tatapan sedih dan rindu.

“Kabar orangtua kamu bagaimana, Seanna?”tanya Tante Ratih, ketika kami bertiga sedang ngobrol-ngobrol seusai makan di ruang depan, sambil minum teh.

“Baik, Tante.”

“Sekarang mereka sedang sibuk apa? Pasti punya perusahaan besar seperti Handoko Group sibuk sekali, ya.”

“Wah, saya sendiri kurang mengikuti perusahaan keluarga saya sendiri, Tante.” Aku tersenyum malu-malu. “Tapi yang satu tahu, Papi dan Mami sedang ada proyek besar di Aussie, jadi mereka lagi sibuk mondar-mandir Jakarta-Aussie.”

“Wah. Pasti orangtuamu adalah orang yang hebat, ya.”

Ini baru pertama kalinya, ada yang mengatakan kalau orangtuaku hebat. Biasanya mereka hanya akan bilang, “wah pendapatannya pasti banyak, ya” atau “wah pasti Handoko Group makin sukses aja, ya”. Nggak pernah ada yang bilang kalau orangtuaku hebat. Bahkan aku sendiri mau nggak mau mengakuinya.

Papi jelas udah jadi pekerja keras sejak beliau muda. Sedangkan Mami baru bekerja sejak menikah dengan Papi. Awalnya Mami nggak tertarik, tapi akhirnya ketularan juga. Pasalnya Kakekku, Robert Damian, selama masa hidupnya bekerja di Negara asalnya, Inggris, sedangkan Mami dan Nenekku, Sandra Wicaksono, menetap di Jakarta. Jadi Mami nggak pernah bergabung dengan perusahaan milik Kakek dan baru pertama kali coba bisnis sejak bergabung dengan Handoko Group.

Aku sendiri kurang yakin untuk bergabung bersama Handoko Group. Ghaniya dan Danar memang paling semangat untuk melanjutkan perjuangan Kakek Irfan dengan Handoko Group. Tapi itu kan keputusan mereka, disuruh atau pun tidak disuruh. Sedangkan kalau aku, hanya akan masuk Handoko Group kalau memang sudah disuruh. Kalau tidak disuruh dan diperbolehkan memilih, sih, aku lebih memilih untuk jadi Designer.

Saat pamitan dengan Tante Ratih, tidak kuduga kalau Tante Ratih akan menitikkan air mata. “Seanna, Tante bangga Alvin bisa sama kamu.”

Damn! Apa lagi, nih? Kok rasanya makin hari makin susah aja, ya? Kalau udah kayak gini ceritanya gimana cara mutusin Alvin? Tapi gimana juga cara mutusin Rafel? Apa kalau mutusin Rafel akan sangat berpengaruh pada bisnis keluarga Handoko dengan keluarga Widyatama. Kalau sampai mengganggu, bisa-bisa aku kena sama Papi. Tapi gimana juga kalau mutusin Alvin? Keluarganya aja udah baik gini sama aku. Udah berharap banyak. Pakai berlinang air mata pula!

Aku hanya membalas kata-kata Tante Ratih dengan senyum seadanya. Lagian si tante ngapain pake bilang gitu segala, sih? Bikin aku jadi makin nggak enak hati aja!



Hulabaloo cukup ramai. Mengingat Sarah setipe dengan Denise yang lebih suka nyari temen daripada nyari harta.

Aku membetulkan kemeja Alvin. “Yang rapih dong, Vin.”

“Iya, iya, sori. Emangnya harus rapih banget ya, An?”

“Iya, dong. Ini kan party. James Bond aja, sebelum sama sesudah berantem masih tetep rapih kan? Masa Alvin sebelum dan sesudah party nggak rapih.”

Tanganku terangkat dan merapihkan rambut Alvin. Tapi aku cukup salut dengan penampilannya malam ini. Apalagi kemarin Alvin sempat nanya, harus pakai apa ke sebuah party kayak gini. Awalnya aku kira dia akan pakai kaos dan celana jeans seperti biasanya. Tapi ternyata enggak. Dia terlihat super ganteng dengan kemeja putih dan jeans hitamnya.

Ketika kami masuk, aku langsung menemukan Sarah di antara para tamu yang lain. Sedang tertawa bersama teman-temannya. Dia tampak cantik dengan gaun dark gray yang membalut tubuhnya dengan pas. Begitu melihat kedatangannya, dia melambai padaku dan menghampiri.

“Happy birthday ya, Sar,”kataku sambil kiss cheek to cheek dengan Sarah.

“Aduh thanks ya, Sen, udah mau dateng.”

“Tentu aja, dong.”

Sarah memberi pandangan pada Alvin.

“Oh, iya. Kenalin, ini Alvin.”

Alvin dan Sarah berjabat tangan.

“Happy birthday ya,”kata Alvin.

“Thanks.”

Aku mengeluarkan sebuah tanda terima, hadiahku untuknya. Tidak lain tidak bukan adalah sebuah bracelet yang aku pesan khusus di Diamond And Me yang tokonya berada di sebelah butiknya Denise. “Ini kado dari gue, dan Alvin. Siap langsung diambil lusa. Sori ya, nggak bisa langsung ngasih barangnya.”

“Whoa, thanks, ya.” Sarah melambai ke belakangku. “Gue tinggal dulu ya, Sen. Enjoy the party.” Lalu dia ngeluyur lagi entah ke mana.

“Vin, kalau kamu udah mulai merasa nggak nyaman―”

Alvin meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku. “No problem, Baby. Kamu enjoy aja malam ini. Terserah kamu mau pulang jam berapa aja, aku tunggu, okay?”

Aku yakin Alvin nggak bakal betah lama di sini. Apalagi kalau harus dia cuekin. Aku ragu ada cowok di sini yang langsung cocok dengan Alvin. Cowok yang kerjanya nggak ngomongin bisnis, mobil-mobil terbaru dan sebangsanya. Tentu aja sangat jarang di pesta seperti ini. “Tapi nanti kamu―”

“Nggak ada alasan lagi. This is your night. Just enjoy it.”

Aku menyerah. Percuma aja ngotot sama Alvin. Dia selalu ngalah.

Aku berbalik menuju ke arah gerombolan temanku, setelah meninggalkan kecupan di pipi Alvin.

“Seanna!” Seperti yang kuduga, teman-temanku heboh begitu aku datang menghampiri mereka. Pertanyaan juga langsung menghujaniku. “Lo ke mana aja?” “Sibuk kuliah, ya?” “Aduh, Sen, udah liat gaunnya Stella McCartney yang terbaru?” “Adyani gimana kabarnya, Sen?” “Eh, Zandy masih sama Verena?”

Aku melirik sedikit ke arah Alvin yang sedang bersender di meja bar dengan segelas minuman di tangannya, tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumannya. Kalau gini terus, aku nggak bisa enjoy! Gimana bisa santai kalau ada yang nungguin kayak gitu? Kalau sama Rafel kan aku bisa santai.

Sarah yang baru aja selesai menyapa para tamunya yang baru pada datang duduk di sebelahku.

“Aduh, ke mana aja nih, Princess kita selama ini? Jarang nongol lagi di party-party. Sibuk, ya?”

Aku tersenyum. “Nope. Cuman susah aja ngatur waktu. Nggak sampai sesibuk yang lo kira juga.”

Sarah melirik ke arah Alvin yang berada di seberang kami. “New boyfriend, huh?”

Aku tersenyum malu. Memangnya begitu kelihatan ya, hubunganku dengan Alvin? Bagaimana kalau orang-orang di sini tau? Bisa-bisa berita ini sampai di Rafel, bisa kacau semuanya.

Sarah bersiul kagum. “More charming than Rafel. Good choice. And I guess he isn’t form one of us.”

“Exactly. Tapi bisa tolong rahasiain ini?”

Sarah terlihat mengerti dengan maksudku, walaupun aku yakin nggak 100%. Paling baginya aku sedang main belakang. “Tentu aja. Tapi itu pun kalau lo percaya sama gue.”

Tentu aja aku percaya! You’re different! Kayaknya nggak mungkin orang kayak Sarah bisa membocorkan rahasia. Ngegossip aja enggak kali.

“So? Apa yang membuat lo bisa berpaling dari Rafel ke seorang―siapa tadi namanya? Alvin?”

“Yeah, Alvin.”

“Gue tau betul lo bukan tipe cewek kayak gitu. Bahkan tadinya gue sempet ragu lo mau dateng ke sini hari ini.”

Aku tersenyum kecil. Segitu buruknya kah imejku di depan orang-orang ini? Orang-orang yang tidak peduli dengan kehidupan socialite ini? Yang seolah menyia-nyiakan ketenaran mereka? Yang selalu dicerca oleh kami karena dianggap tidak bisa menikmati hidup? Tapi sejak ada kehadiran Alvin, rasanya pandanganku berubah. Tidak semuanya dari yang baik itu jahat. Dan tidak selamanya juga semua dari yang jahat itu menikmati hidup.

Aku memandang Alvin yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan bartender.

“I don’t know. Gue juga bingung kenapa gue bisa tahan sama dia. Seperti yang lo bilang tadi, I’m not that kind a girl.”

Sarah tertawa.

“Something funny?”

“Seanna, I think you totally falling in love. Berpaling dari Rafel yang ‘elo banget’ sampai ke Alvin ‘yang enggak lo banget’. Lo sadar nggak, sih?”

Whoa. No, no. Itu sih, namanya udah memasukkan diriku sendiri ke jalan yang salah. Imposible. Seleraku nggak nurun sedrastis itu dalam 2 bulan aja kan?

“So? Dia bisa apa? Tertarik dengan bisnis?” Sarah memain-mainkan kalung berbandul bola bertaburkan berlian di lehernya. “Siapa tau dia jadi pelanjut Handoko Group seperti yang Nenek Runi harapkan.”

Yang Nenek Runi harapkan? Aku ingin tertawa. Memangnya seperti apa yang Nenek Runi harapkan itu? Seperti Adyani yang dulu dipuja-pujanya? Seperti Dafintha yang dipaksa?

“Dia photographer. Sangat jauh dari menantu impian Nenek Runi.” Tapi aku mengatakannya dengan bangga. Entah kenapa. Padahal seharusnya itu adalah sebuah kenyataan yang membuatku menertawakan diriku sendiri. Diri Seanna yang dulu, mungkin.

Lagi-lagi Sarah bersiul kagum. “Wow. He’s great! Lo beruntung dapetin dia, Sen. 2 bulan lagi ada weddingnya sepupuku. Kalau lo nggak keberatan, boleh gue hire dia?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tapi lo belum lihat hasil karya dia. Siapa tau nggak cocok sama selera lo atau sepupu lo itu.”

“Gue percaya sama dia. Gue bisa liat kalau dia professional.” Sarah menatapku. “Do you mind if I talk to him just a sec, right now? Jealous or something?”

Aku tertawa. “Of chorus no!”

Sarah bangkit berdiri dan menghampiri Alvin. Alvin sempat kikuk tiba-tiba dihampiri oleh orang yang baru dikenalnya begitu. Langsung ditawarin kerjaan pula!

“Ini memang bukan lagu terbaru kita.” Aku menengok begitu mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Dafintha sudah berdiri di atas panggung, dengan bandnya, Orpheus. Dia berdiri di paling depan, dengan microphone di hadapannya. Aku baru tau kalau Orpheus ikut manggung juga. Harusnya aku sudah memperkirakannya, mengingat Sarah punya banyak relasi dan Dafintha memang suka mainnya sama Sarah. “Tapi composer kita yang canggih ini, Khalishah Isyana, udah ngubah lagu perdana kita ini jadi lebih jazzy. Hope you all enjoy it.”

Lucu juga mendengar jenis musik seperti Orpheus ini melantun di Hulaballoo yang biasanya dihiasi oleh musik-musik para DJ. Sarah memang udah berhasil buat suasana yang berbeda.

Suara Dafintha masih sebagus seperti yang terakhir kali aku dengar. Orpheus juga masih sama kompaknya. Bedanya nggak ada Nanda yang memang lagi menjalani kuliahnya di Austria karena dapat beasiswa. Dafintha yang tadinya pengen ngikut tentu aja ditahan sama Papi dan Mami.

“Hey, Seanna.” Aku kembali kaget mendengar suara familiar lagi. Kenapa hari ini serba familiar sih? Ketika aku berbalik, Rafel sudah berdiri di belakangku, tersenyum. Senyuman yang dulu membuatku ingin loncat-loncat saking senengnya. Tapi sekarang? Nggak ada effectnya tuh.

“Hey, Fel. Nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini.”

Rafel mengecup pipiku. “Me too, Darling. Sarah memang nggak bisa ditebak kalau ngundang orang. Semua diundang.” Rafel tertawa kecil. “So? Tumben band kakakmu itu manggung lagi.”

“Enggak juga, kok. Mereka selama ini juga masih aktif. Tapi jarang aja di acara-acara kayak gini.”

Entah kenapa kehadiran Rafel benar-benar nggak aku harapkan. Atau setidaknya dia datang dengan wanita lain, mungkin aku tidak akan terkejut seperti sekarang ini. Mendapati dia masih setia menungguku. Sedangkan aku? Shoot! What kind of a girl I am?

Rafel duduk di sebelahku dan merangkul pinggangku. Terlalu intim untuk hubungan ‘ex’. “I miss you so much, girl! Hei, ulang tahun kamu minggu depan, kan? What do you want for you birthday?”

“Mmm…apa, ya? Apa aja deh, Fel. Nggak juga nggak pa-pa, kok.”

Rafel menjentikkan jarinya di ujung hidungku. “Hey, sejak kapan aku nggak ngasih kamu kado, huh? Kok tiba-tiba kamu jadi malu-malu gini, sih?” Rafel menarik wajahku mendekat padanya dan tiba-tiba saja aku tersadar dan menjauh.

Satu nama dalam benakku. Alvin.

Aku menengok ke arah meja bar di seberang tempatku duduk. Alvin meletakkan gelasnya, melewati Sarah yang kelihatannya belum selesai berbicara, keluar dari Hulabaloo.

Aku langsung mengejarnya, tapi karena high heelsku (yang kembali aku kutuki) langkahku jadi semakin lambat dan membuat kakiku sakit, tapi aku tidak peduli. Kutahan air mataku agar tidak tumpah dan mulutku agar tidak menjerit. Akhirnya aku berhasil mencegatnya saat di parkiran.

“Vin, dengerin aku dulu.” Kata-kata pertama yang pastinya terlontar saat kita udah kepergok selingkuh. “Please, Vin.”

Alvin melepaskan lengannya dengan kasar dari genggamanku. Holly God! Aku nggak pernah lihat dia semarah ini sebelumnya. Bahkan aku nggak pernah liat dia marah! Apalagi sampai menatapku dengan sinis seperti saat ini. Sinis tapi seolah tidak berdaya. Seolah dia menyerah. Tapi tetap dengan kelembutan.

“Ada apa, Seanna Handoko? Sudah bosan dengan saya? Bukankah kita memang udah nggak ada apa-apa lagi sekarang?”

Rasanya aku seperti ditusuk-tusuk, menancap dan sakit. Air mataku yang sejak tadi aku tahan menitik. “Vin, kenapa kamu bisa ngomong gitu?”

“Ngomong gitu? Kamu bilang apa? Ngomong gitu? Seanna, kenapa kamu lakuin itu? Harusnya kamu yang tanya ke diri kamu sendiri! Look at yourself? Isn’t it more better than me? Socialite asshole?”

Satu tamparan telak di pipi kiri Alvin. “Kamu keterlaluan, Vin! Aku udah berusaha minta maaf dan mau jelasin semua tapi kamu nggak mau denger! Emang kalian rakyat jelata nggak tau malu, jerk! Aku pikir kamu beda! Tapi ternyata sama aja!”

Aku berbalik sambil menghapus air mataku. Lebih baik aku nebeng Dafintha aja malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar