Jumat, 10 Juli 2009

No More part 6 (end)

Keesokan harinya pun keadaanku nggak juga membaik. Tentu aja Alvin udah nggak telpon aku lagi dan aku pun merasa nggak butuh buat telpon orang kayak dia. Ngapain? Aku tau ini salah aku, tapi dia juga nggak mau denger kan? Bahkan nggak ngasih kesempatan aku buat minta maaf. Itu udah cukup ngasih penjelasan buat aku kalau memang dia nggak menginginkan aku lagi. Enough! Aku nggak bakal ngemis-ngemis berlutut di depan orang kayak dia.

“Aduh, Sen. Udah, dong. Anggap aja semua ini pelajaran buat kamu.” Dafintha sejak kemarin malam masih setia menemaniku. Begitu kejadian kemarin malam, aku langsung ke backstage, menunggu Orpheus selesai manggung dan menyeret Dafintha pulang.

“Aku tau ini pelajaran, Tha. Tapi kok rasanya masih sakit banget, sih?”

Dafintha mengoper selembar tisu lagi padaku. “Itu karena kamu udah terlalu sayang sama Alvin, Sen.”

Aku menoleh pada Dafintha, nggak terima. “Apaan tuh? Kamu sama Sarah sama aja! Malah makin buat gue tambah pusing!”

“Loh? Emang bener kan? Ampe kamu kejar-kejar dia kemaren itu bukan karena kamu gengsi aja kan? Bukan hanya karena permainan kamusama Safira aja kan? Bukan demi belain reputasinya Rafel aja kan? Be yourself deh, Sen! Nggak usah muna. Semua orang juga tau kali kamu tergila-gila dengan Alvin!”

Aku mendengus. “Semua Alvin, Alvin, Alvin! Belain gue kenapa, sih?”

“Lo juga yang salah, Sen. Bukannya mutusin Rafel―bener-bener mutusin, maksud gue, bukannya pake acara 3 bulan 3 bulan segala. Lo kan tau Alvin serius ama lo, nggak main-main. Coba dong, kalau lo ada di posisi dia? Pake hati dong, Sen.”

Lama-lama aku panas juga kalau gini caranya. Kudorong Dafintha keluar dari kamarku. Pake hati katanya? Memangnya selama ini dia pikir aku pake apa???

Aku dibangunkan pagi ini. Kukira Dafintha pengen quality time berdua lagi atau Dipta yang masih sibuk dengan mobil-mobilnya itu. Tapi aku sangat terkejut begitu melihat sosok yang sudah sangat lama nggak membangunkanku lagi.

Adyani.

Whoa, she’s going more big and big! Kalau aku nggak salah bulan ini udah memasuki bulan ke-6. That’s mean, tinggal 3 bulan lagi maka aku akan menjadi seorang tante.

Tapi Adyani tidak membangunkanku dengan ekspresi marah-marah, kesal, atau bahkan iseng. Tapi dengan menangis.

“Adyani? What’s wrong?” Aku menggeser posisi tidurku untuk memberikan tempat bagi Adyani untuk duduk di sampingku.

“Aku mau cerai aja, Tha. Nggak sanggup.” Adyani terisak.

Oh, Man! This is so not a right time. Aku kan juga lagi ada masalah besar. Tapis ama siapa lagi Adyani bisa cerita selain sama aku? Dafintha so pasti sibuk, Dipta jangan ditanya (siapa juga yang mau curhat ke orang macam dia), sedangkan sepupu-sepupu kami yang bisa diajak curhat paling Verena, tapi Adyani selalu menghindari Verena lantaran suka keinget dengan sekolah. Jadi tinggalah aku di sini, yang harus siap nggak siap mendengarkan, walaupun aku juga lagi tertimpa masalah besar.

“Adyani! Kamu ngomong apa, sih? Kasian bayi kamu.”

Adyani semakin menjadi-jadi. “Tapi aku nggak kuat kalau sekelilingku aku nggak ada yang dukung! Bahkan suami aku sendiri sibuk.”

Aku memeluk Adyani berusaha menenangkannya. “Aduh, Yan. Kamu ini. Tristan kan lagi berjuang buat kamu dan calon anak kalian. Kamu harusnya bersyukur punya suami yang bertanggung jawab seperti dia. Di luar sana masih banyak suami yang nggak mau nafkahin istri dan anak-anak mereka atau hanya mengandalkan harta orangtua mereka.”

“Tapi dia seolah menjauh, Sen. Kayaknya dia udah bosen sama aku.”

“Kalau dia bosen, dia nggak bakalan sekolah tapi ugal-ugalan. See? Dia bertanggung jawab, Adyani.”

Udah 6 hari berlalu sejak kejadian di Hulabaloo itu. Tapi aku juga nggak kunjung membaik. Seolah ada bagian dari diriku yang hilang. Aku kangen sama Alvin. Spent night bareng dia di mobil. Main foto-foto. Bahkan di kampus aja dia udah nggak kayak kenal aku. Kalau kita papasan paling cuman buang muka. Safira masih cuap-cuap soal rencananya itu tapi aku udah nggak peduli lagi. Malahan sekarang temen-temennya Alvin yang jadi deket sama aku. Entah kenapa mereka nggak menjauh walaupun udah tau kenyataannya. Walaupun aku udah cerita panjang lebar selengkap-lengkapnya mulai dari awal sampe akhir. Bahkan mereka nggak nyalah-nyalahin aku!

Untuk ngalihin pikiranku dari Alvin, aku bekerja keras untuk kuliahku. Setiap hari kerjanya hanya ngurusin tugas kuliah sampai hampir nggak tidur. Tentu aja yang pertama kali protes adalah Dafintha. Berkali-kali dia bilang aku kayak orang gila tapi nggak aku peduliin.

Adyani udah balik lagi ke rumah keluarga Sastroyo, setelah Papi dan Mami bujuk. Papi dan Mami juga berbicara serius dengan keluarga Sastroyo mengenai menjaga kesehatan Adyani dan sebagainya. Bahkan Tristan langsung menjemput Adyani sendiri. Begitu aku melihat mereka berpelukan, aku yakin Tristan bisa menjaga adikku yang satu itu dengan baik.

Sekarang tinggalah aku di sini. Sendiri.

Sebenarnya Rafel masih sering telepon aku. Setidaknya menanyakan kabar aku. Dia juga nggak bahas soal kejadian di Hullabaloo itu (untungnya, karena kalau sampai dia bahas susah cari alasannya).

“Seanna!”

Aku tersentak dari lamunanku. Ku tatap Tiara yang duduk di hadapanku. “Kamu kenapa, sih?”

Aku kembali berkutat dengan tugas kuliaku, yang sebenarnya sudah selesai, tapi aku ngotot kalau ini belum sempurna. “Enggak. Lagi mikir ini aja.”

Tiara menghentikan tanganku yang sedang menulis. “Bukan lagi mikir, Sen. Kamu seperti mayat hidup.”

“Mayat hidup? Aku hanya ingin berusaha lebih keras dalam kuliahku, Tir.”

“Ini yang kamu bilang usaha? Bahkan saat kamu cerita dulu Nenek kamu maksa kamu biar lebih serius kuliah aja, kamu nggak seperti ini.”

Aku menghela napas. Itu kan karena Nenek yang nyuruh. Ini kan pelarian, beda dengan suruhan.

“Pasti karena Alvin kan?”

Please, jangan bawa-bawa dia.”

“Memang bener kan? Kamu nggak bisa kayak gini, Sen. Kamu harus coba keluar dari masalah kamu. Kamus seperti―kehilangan jiwa. Seperti robot.”

“Memangnya apa yang bisa aku lakuin? Belanja? Seneng-seneng?” Aku menutup buku di hadapanku dengan keras. “Lo nggak ngerti perasaan gue, Tir! Gue tau gue salah, tapi gue nggak bisa terima dengan keadaan yang sekarang ini! Gue nggak punya siapa-siapa, Tir!”

Tiara pindah duduk di sampingku dan mengusap-ngusap punggungku, berusaha untuk menenangkan. “Sabar, Sen. Lo pasti bisa ngelewatin ini semua. Lagian kan masih ada Rafel, cowok yang selama ini lo bela. Lo kan yakin dia one of a kind. Kenapa nggak coba aja memperbaiki hubungan kalian? Dan yang gue tangkep dari cerita lo, kayaknya dia juga nggak mempermasalahkan soal Alvin, tuh.”

Iya, ya. Aku masih punya Rafel. Rafel pasti mau menerimaku lagi. Ini semua kan terjadi karena aku membela dia juga. Masa udah susah-susah dibela aku tinggalin gitu aja?

Guess what? I think you’re rite.”

Aku segera meninggalkan kampus dan pergi ke Plaza Senayan, tempat nongkrong kesukaannya Rafel. Feelingku, dia ada di sana ngopi-ngopi bareng temen-temennya.

Aku jadi menginginkan kehidupan lamaku. Di mana kisahku dan Rafel seolah seperti fairy tale yang ‘Lived Happily Ever After’. Tapi benar juga kata Dafintha, kalau Happily Ever After itu nggak pernah ada di kehidupan nyata. Nggak ada yang namanya seorang Putri bertemu dengan Pangerannya, true love kiss, menikah dan hidup bahagia di istana.

Tapi kuharap belum terlambat untuk memperbaiki semuanya dengan Rafel. Mungkin memang tidak akan ada Happily Ever After, tapi setidaknya ada happily. Daripada aku hidup seperti ini terus. Sok bermuram durja dan merasa bersalah.

Begitu sampai di Plaza Senanyan, aku langsung menuju ke coffee shop. Aku melihat sosok Rafel duduk membelakangi arah datangnya aku. Ternyata benar dugaanku, dia pasti di sini.

Dengan bersemangat aku berjalan menghampirinya. Menghampiri hidupku yang sudah lama kutinggalkan. Seharusnya aku konsisten dalam pilihan hidupku, bukannya bimbang seperti ini. Tapi aku yakin Rafel masih akan mau menerimaku―

Langkahku terhenti ketika aku kurang yakin dengan sosok di hadapanku. Apa dia benar-benar Rafel? Rafel yang aku kenal? Tapi rupanya begitu mirip. Serupa. Tapi kenapa tingkah lakunya tidak?

Sosok Rafel di hadapanku, sedang merangkul mesra seorang cewek yang duduk bersandar di sebelahnya. Aku tidak bisa melihat wajah cewek itu. Mereka sama-sama tertawa dengan teman-teman Rafel yang lain.

Hanya sahabat, aku meyakinkan diriku. Sahabat. Sahabat.

Tapi kenyataan yang tiba-tiba saja terjadi di hadapanku menghapus semua pikiran itu.

Rafel mengecup bibir cewek itu, yang ketika sosok cewek itu mendongak untuk menempelkan bibirnya dengan bibir Rafel, aku bisa melihat jelas siapa dia. Seseorang yang aku kenal cukup baik. Safira.

Aku tidak lagi hanya merasa bersalah, tapi juga bodoh. Sangat bodoh. Bagaimana bisa aku memudahkan temanku sendiri bersama pacarku, main belakang seperti ini? Seharusnya sejak awal aku tau kalau Safira punya rencana tesendiri, dia sangat licik. Apalagi ketika dia ngotot kalau aku harus jadian sama Alvin dan mutusin Rafel. Ternyata biar dia bisa enak-enakan seperti ini.

Dan Rafel.

Aku mempercayainya, yakin kalau dia seorang Prince Charming yang baik hati, datang menjemputku dengan kudanya dan membawaku ke istananya. Tapi apa kenyataannya? Dia hanya menelantarkanku begitu saja, membuangku seolah aku ini sampah. Dan di mataku sekarang, mereka berdua lebih menjijikkan daripada sampah apa pun.

Dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuhku aku berjalan menghampiri mereka.

“Seanna?” Rafel cukup terkejut melihat kedatanganku. Tapi dia sama sekali tidak memindahkan tangannya yang merangkul mesra Safira. Safira juga tidak terlihat begitu terkejut, malah terkesan santai, seolah keduanya tidak punya salah. “Ngapain kam­― “

Belum sempat Rafel menyelesaikan kalimatnya, aku mengambil minuman di atas meja dan menyiramkannya ke wajah Rafel. Harusnya minuman itu bukan Ice coffee tapi hot coffee! Biar melepuh sekalian!

Minuman yang kusiram sukses membasahi wajah dan pakaian Rafel. Belum lagi Safira yang menyingkir cepat takut kecripatan juga. Dia langsung memeriksa pakaian dan tasnya, meneliti kalau-kalau ada noda.

Are you insane?”

Aku menampar pipi kiri Rafel, lebih keras, penuh emosi, daripada saat aku melakukannya pada Alvin. “Insane? What the hell are you thinking, sir?” Aku menunjuk Safira. “Make love with this bitch!”

Aku bisa mendengar desahan keterkejutan dari teman-teman Rafel.

Safira langsung nggak terima. “Hei, manusia bodoh! Sejak kapan lo berani sama gue?”

Aku menatap tajam Safira. “Lo kira selama ini gue takut? Gue sadar, Saf! Gue sadar kalau emang gue ini bodoh! Dibodoh-bodohin sama orang yang paling bodoh sedunia karena dengan bodohnya ngebodohin orang bodoh!”

Safira terdiam, berpikir mencerna perkataanku yang emang berbelit-belit.

See? Siapa yang sebenarnya bodoh, di sini?”

“Sen, gue tau lo merasa kecewa ama diri lo sendiri yang emang nggak bisa dapetin apa yang lo mau! Handoko ternyata udah terpuruk, ya? Saking desperatenya lo ampe marah gini. Kenapa? Nggak ada cowok lain yang mau ama lo?”

Aku merampas tas Safira dan melemparnya ke tengah jalan. Safira kaget bukan main melihat barangnya diperlakukan seperti itu. Tapi bodo amat.

As you know, Princess wannabe! Gue nggak seperti elo yang saking nggak lakunya harus ngembat cowok orang, ya! Harusnya lo ngaca! Yang nggak laku itu elo, bukan gue! Apalagi lo ngambil bekasan gue!” Aku menatap Rafel yang sejak tadi masih sibuk membersihkan wajah dan pakaiannya. “And for you jerk, Darling. Selamat, ya. Lo emang lebih cocok sama bitch ini daripada sama gue!” Aku kembali berpaling pada Safira. “Bye, Impostor!”

Aku berbalik, nggak memperdulikan Safira yang berteriak memaki-makiku. Kutendang tas Safira hingga terinjak-injak orang lain.

Liat aja nanti. Sampai aku ketemu Papi, aku bakalan suruh mutusin hubungan kerja dengan keluarga Teguh dan Setyandri.

Tentu aja keadaanku berkali-kali lipat lebih para daripada sebelumnya. Jadi aku memutuskan untuk ke Hullabaloo (sama dengan resepnya Zandy kalau lagi patah hati).

Baru aku meneguk satu gelas, Sarah muncul.

“Seanna? Ngapain di sini?”

Aku mengisi gelasku lagi. “Ancur semuanya, Sar! Alvin udah pergi dan sekarang taunya Rafel ada main sama Safira di belakang gue! What’s wrong with this world?”

Sarah mengambil gelas dari tanganku dan menjauhkan botol minumanku. “Sen, lo cuman lagi ada di bagian bawah roda aja.”

“Yeah. Roda terus berputar!”

“Untuk berputarnya, lo harus berusaha. Lo harus berusaha untuk manjat naik lagi.”

Aku menatap Sarah. “Maksud lo? Emang ada yang kesisa dalam hidup gue? Heh? Apalagi yang harus diperjuangkan, Sar? Can you see what I see? My life is suck!”

“Lo masi punya perasaan, Sen. Lo perjuangin itu karena itu satu-satunya yang lo punya?”

Sure, I have feeling! Perasaan sakit hati dan dendam!”

Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nope.” Di keluarkannya selembar kartu nama dari dalam tas kecilnya dan menyodorkannya padaku. “You can check it out.”

Aku membaca kartu nama itu. Alvin Wisnu Aditya Hakim. Studio Alvin. Selama ini aku bahkan nggak pernah tau di mana letak studio Alvin, atau lebih tepatnya nggak tertarik. Sedangkan Alvin selalu tertarik dengan segala sesuatunya tentang diriku.

Sarah tersenyum. “Banyak yang nggak lo ketahui tentang dia, Sen. Gue yakin lo punya perasaan yang sama kayak dia. Cuman butuh buka pikiran lo aja. Pikir dengan akal sehat. Jangan berdasarkan rasa kasihan atau dendam. Mungkin lo bisa menemukan sesuatu yang tersisa di sana. Walaupun kecil, tapi itu akan jadi sangat berharga dan lama-lama menjadi besar. Selama ini lo cuman membutakan diri lo sendiri. Tapi sebenernya gue yakin kok, elo itu nggak seburuk yang lo pikirkan.”

Sarah memberikan botol dan gelas minumanku pada bartender.

Aku mengangkat kartu nama itu dari meja dengan tangan bergetar. Apa kabar Alvin? Kenapa aku begitu merindukannya? Saat dia nggak pernah marah dengan segala kebiasaan burukku dan setiap kesalahanku. Aku yang nggak bisa menerima dia apa adanya. Hubungan ‘bohong-bohongan’ kita yang hanya berjalan 2 bulan. Betapa seriusnya dia selama ini. Kesalahan yang sudah keperbuat padanya.

Setidaknya aku meminta maaf. Ya. Setidaknya itu. Wajar kalau memang dia tidak memaafkanku. Tapi setidaknya aku meminta maaf secara langsung padanya. Setelah itu aku harus berjuang sendiri.

Thanks ya, Sar.I owe you.”

Sarah tersenyum. “That’s what friends are for. You can’t find it in fake friendship.”

Ya. Aku memang sudah termakan pertemanan palsu para socialite. Benar kata Alvin. Kami memang asshole.

Sarah turun dari kursinya dan berbalik meninggalkanku. Tapi lalu kembali berbalik lagi dan berkata, “oh, ya? Do you know what the meaning of Alvin name?”

Aku menggeleng.

“Sahabat segala bangsawan.”

Studio Alvin hanya sebuah studio kecil. Tentu aja malam-malam gini Alvin nggak ada di sana. Yang ada hanya seorang cowok, yang mengaku temannya Alvin sekaligus yang jaga studio, yang bernama Arman.

Saat pertama kali Arman melihatku, dia bisa langsung mengenaliku dan mempersilahkan aku masuk. Bahkan dengan senang hati dia akan menelepon Alvin dan mencari tau keberadaan cowok itu dan mengijinkan aku melihat-lihat hasil foto Alvin di ruangannya.

Sekarang aku tau kenapa Arman bisa langsung mengenaliku.

Banyak fotoku terpajang di ruangan Alvin. Di setiap foto yang ditempel di dinding, terdapat judulnya di bawah.

Aku melihat dari yang paling kiri. Fotoku di pernikahan Adyani. Aku sedang berbincang-bincang dengan seseorang saat itu (aku tidak ingat) dan sedang tertawa lepas. Kebaya merah yang kupakai dengan kain batik juga rambutku yang digulung ke atas. Kalau sekilas aku melihat sosok itu, aku tidak yakin kalau itu aku. Tertulis di bawahnya, “Ms. Seanna fort the first time.”

Foto di sebelahnya, saat aku sedang berjalan di koridor kampus. Aku ingat saat itu. Saat aku hampir terlambat (seperti biasanya). Tapi di foto itu seolah aku sedang berjalan di cat walk, di antara orang yang berlalu lalang, kamera hanya difokuskan pada sosokku sedangkan yang lain blur. Tertulis di bawahnya, “Something Wrong”. Awalnya aku sedikit bingung dengan kata-kata itu. Tapi begitu melihat wajahku di foto itu, aku tau alasannya. Wajahku tidak ceria seperti di foto sebelumnya.

Di sebelahnya lagi, siluet sosokku dari belakang yang melipat tanganku di dada sedang memandangi tumpukan sampah di hadapanku yang terdapat seorang bocah kecil di atasnya. Tertulis di bawahnya, “Rakyat Jelata”. Bagaimana bisa Alvin membuat tumpukan sampah dan sosokku (bahkan dari belakang) begitu terkesan mewah?

Foto selanjutnya adalah saat kami sedang di kota tua. Aku sedang membetulkan posisi topi Alvin yang dipinjamkannya padaku. Alvin mengambil foto itu dari samping kananku, dengan sinar matahari yang terik (bahkan dengan melihat foto ini saja sudah seperti bisa merasakan panasnya) dan dengan latar belakang bangunan tua. Tertulis di bawahnya, “Diamond Between The Old”. Mau nggak mau aku blushing juga.

Di sebelahnya lagi fotoku saat aku makan es krim. Alvin mengambil fotonya dari depan. Aku sedang memasukkan es itu ke dalam mulutku dengan latar belakang masih kota tua. Tertulis di bawah foto itu, “Strawberry Girl”.

Selanjutnya adalah foto saat kami ada di Bandung. Aku berdiri di apit oleh Oom Suryo dan Tante Gianti. Tertulis di bawahnya, “People That I Love The Most”. The most? Aku kembali dilanda rasa bersalah.

Foto terakhir, adalah yang paling besar di antara yang lain. Saat aku berada di padang. Dengan summer dressku yang berpola floral, rambutku yang dikuncir kuda, tawaku, setiap jari tanganku yang menyapu alang-alang tinggi di sekelilingku. Semua itu seolah disajikan dalam setiap detailnya. Di bawahnya tertulis, hanya dua kata, tapi sanggup membuat suaranya terngiang kembali di telingaku, “Princess Seanna”.

Saat air mataku menitik, Arman masuk, dan aku segera menghapus air mata itu.

“Katanya Alvin lagi di Shade Café. I don’t know if you―”

“Gue tau, kok. Thanks, ya.”

Café yang sama saat kami makan malam sehabis foto-foto di kota tua.

Aku memandang foto itu sekali lagi, sebelum berbalik dan pergi dari sana.

Hari ini sudah cukup banyak yang mengejutkanku. Mulai dari Rafel dan Safira, studio Alvin, aku tidak mau lagi ada kejutan lainnya. Apa aku sudah siap jika melihat Alvin bersama wanita lain di sana, sama seperti Rafel? Setiap orang yang aku kira baik ternyata tidak sebaik yang aku kira. Kebalikannya, orang yang aku kira tidak baik ternyata baik dan bersedia menemaniku di saat aku susah, seperti Tiara, Nadia dan Siska contohnya.

Tapi aku harus meminta maaf pada Alvin. Bagaimanapun juga ini kesalahanku. Alvin tidak salah. Dia bahkan memberikan lebih padaku. Lebih dari pada yang seharusnya seorang penipu sepertiku terima.

Aku memarkir mobil di depan Shade, dan dengan ragu turun.

Aku berpikir sekali lagi. Apa ini waktu yang tepat? Memangnya kapan waktu yang tepat itu?

Aku membuka pintu café dan langsung disambut oleh petikan gitar. Awalnya aku kira Bobby yang sedang tampil, tapi begitu aku mendengar suaranya, aku terpaku. Alvin sedang berada di atas panggung, dengan gitar di pangkuannya dan microphone di hadapannya. Menyanyikan sebuah lagu yang seolah disengaja ditujukan untukku.

Kalau saja bukan karena Dafintha, mungkin aku sudah tidak tau lagu ini sekarang. Loveable dari Abdul & The Coffee Theory.

Meski ku sering mengeluh tentang semua tingkah lakumu

Maunya selalu mengatur aku

Tapi kau sangat perhatian apa pun yang aku lakukan

Kau ingatkanku jangan lupa makan

Aku hanya bisa diam di tempatku. Tidak memperdulikan pelayan yang sudah mempersilahkanku untuk duduk. Alvin juga melihatku sekilas. Tapi dari ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan seperti malam itu. Hanya biasa saja. Bahkan cendrung tersenyum. Bobby benar, suara Alvin nggak ada apa-apanya dengan suaranya.

Karna kamu so loveable buat aku

Karna kamu so loveable buat aku

Karna kamu so loveable buat aku

Karna kamu so loveable buat aku

Walaupun kamu sangat bawel komentarin ku ini itu

Dan ku tak tau apa maumu

Kadang bajuku kurang rapih

Kadang sepatuku kurang matching

Atau rambutku yang berantakan

Aku memperhatikan setiap baitnya. TIdak ingin ketinggalan satu kata pun. Bagiku semua itu adalah yang ingin Alvin sampaikan untukku.

Tak pernah ku merasa bosan dengan kamu

Jangan engkau lupa

Apa pun tentang kamu

Mau nggak mau aku nangis juga. Pelayan yang sejak tadi memaksa jadi mundur berlahan dan melanjutkan melakukan tugasnya. Alvin yang melihatku menitikkan air mata, ekspresinya sedikit berubah.

Apa yang aku lakukan disini? Menjilat ludahku sendiri?

Aku segera berbalik dan keluar dari Shade.

Handoko Building kalau dilihat sekilas memang kelihatannya penuh sekali dengan kesibukan. Tapi siapa sangka di atapnya sangat damai. Angin bertiup kencang di sini, lampu-lampu kendaraan dan gedung-gedung terhampar di depanku.

Suatu saat aku akan bekerja di gedung ini. Menghabiskan banyak waktu dari hidupku di sini, mau atau tidak mau.

Lagipula hidupku sudah terlanjur hancur. Tidak peduli apa pekerjaanku nantinya.

Rafel sudah memiliki kehidupan sendiri, sedangkan aku nggak mau lagi mengganggu Alvin yang jelas bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku.

Happy birthday to you, happy birthday to you…”

Aku berbalik dan mendapati Alvin di sana, dengan cupcake kecil di tangannya. Sebelah tangannya lagi melindungi lilin agar tidak padam.

Happy birthday dear Darling…happy birthday to you…” Alvin mengangkat cupcake itu ke hadapanku. “Make a wish princess.”

Apalagi yang harus aku minta? Rasanya semuayang aku inginkan sudah terpenuhi. Orang yang aku cintai sudah ada di hadapan mataku lagi sekarang! Bahkan ingat hari ulang tahunku yang aku sendiri nyaris lupa!

Kupandangi cupcake kecil di hadapanku. Memang bukan kue besar seperti yang selalu diberikan keluarga atau teman-temanku di hari ulang tahunku. Hanya cupcake kecil yang dihiasi gambar mahkota di atasnya dan sebatang lilin biru kecil. Tapi sosok yang memegang cupcake itu, lebih dari apa pun yang kuharapkan pada hari ulang tahunku.

Aku memejamkan mata, mengucapkan mermohonanku. Hanya dua kata saja, “No More”. Aku membuka mataku lagi dan meniup lilin di hadapanku hingga padam.

Alvin memberikan kecupan lembut di bibirku. Penuh dengar kerinduan dan sudah cukup menjadi penjelasan bagiku. Dibelainya lembut pipiku. “Happy birthday, Princess.” Alvin melihat jam tangannya. “Tepat jam 12 malam.”

Aku memeluk Alvin, erat sekali, sampai aku sendiri kehabisan tenaga dan tidak bisa bernapas. “I realy am sorry, Vin. Aku tau aku salah. Please, maafin aku.”

Alvin menepuk-nepuk lembuat punggungku. “That’s okay, Honey. Aku udah denger semua ceritanya dari Tiara. Termasuk soal Rafel dari Sarah.”

Entah aku harus berterima kasih pada dua orang itu atau tidak.

Please, Vin. Don’t leave me.”

“Kamu pikir aku akan ninggalin kamu begitu aja, Seanna? Tentu aja nggak. Aku akan selalu di sini. Always.”

Aku melonggarkan pelukanku untuk mendongak melihat ekspresi Alvin. Dia tersenyum. “Memangnya kamu nggak marah denganku? Atas apa yang selama ini aku lakukan? Selama ini aku udah bohongin kamu!”

Alvin menggeleng. Dibelainya lagi wajahku dengan lembut. “Waktu kejadian malam itu, jujur aku syok Seanna. Aku pikir kamu memang lebih memilih cowok itu dibandingkan aku. Apalagi saat aku tau ada hal besar yang selama ini kamu nggak kasih tau ke aku. Tapi setelah itu, aku sadar. Bukan lagi I love you because I need you. Tapi I need you because I love you.”

Kembali Alvin menciumku.

“Do you want your present or not?”

Aku menatap Alvin bingung. “Present? Kamu punya kado apa emangnya? Kamu ada di sini aja udah cukup, kok, Vin.”

Yes or not?”

Aku memutar bola mataku. “Ya, ya, ya.”

Alvin mengangkat tangannya yang terdapat sebuah kalung membelit di sana. Kalung berbandul mahkota, bertaburkan berlian, di tengah mahkota itu tertulis huruf S.

“Wow, Vin! Ini bagus banget.”

Alvin memakaikannya di leherku. “Ini melambangkan kalau kamu memang Tuan Putri. Tadinya aku mau kasih kamu mahkota, tapi agak konyol, ya?”

Aku menyentuh kalung yang sudah terpasang di leherku sekarang. Kalung dari Rafel nanti aku buang saja. Ngapain nyimpen kalung dari dia? Bisa-bisa karatan leherku!

“Ini rancangan Denise. Aku minta honorku di bayar pakai ini aja.”

Aku menatap Alvin nggak percaya. “Vin, bukannya kamu mau nabung buat usaha kamu, ya?”

Alvin menyelipkan sejumput rambutku ke balik telinga. “Tapi ini kan buat kamu. Tabungan atau honor berapun nggak ada harganya di bandingin kamu.”

Aku mencibir. “Hu, gombal!”

I think it’s time to eat the cake.”

“Hey, kamu ngalihin pembicaraan, ya. Takut kalah debat sama aku?”

“Eh, siapa bilang. Apa tadi kamu bilang? Aku gombal? Tapi kamu suka, kan?”

“Ew. Menjijikkan, Vin. Gombal kamu itu terlalu over dosis, enek tau!”

Whoa, becareful with your mouth, Princess.”

So do you, Prince!”

Kami terus berdebat sambil memakan cupcake berdua, di pinggir atap gedung Handoko Building sambil melihat keramaian lampu Jakarta.

Me, the brand new Seanna.

Tadinya Papi dan Mami menawarkan pesta ulang tahun meriah di Hullabaloo tapi aku menolak. Aku lebih memilih pesta di antara keluarga besarku saja. Sekaligus aku punya rencana untuk mengenalkan Alvin. Tapi untuk menghindari hal-hal yang kurang berkenan, aku membicarakan ini pada Papi dulu.

“Pi, soal Rafel,”aku memulai.

Papi melirikku dari balik kacamatanya. “Kenapa dia? Mau kamu undang juga? Boleh aja.”

“Duuuh, Piiii…dengerin dulu dong, Seanna selesai bicara.” Aku menarik napas. “Aku udah nggak sama Rafel lagi, Pi.”

“Apa? Jadi kalian putus, begitu? Ada masalah apa memangnya? Apa tidak bisa dibicarakan lagi?”

“Dia selingkuh, Pi. Apalagi yang perlu dibicarakan?”

“Tapi kalian putus baik-baik kan?”

Aku teringat kejadian di Plaza Senayan saat aku memergoki Safira dan Rafel bermesraan. Part mananya yang baik-baik? “Pi, namanya juga selingkuh, putusnya masa baik-baik? Papi sendiri yang ngajarin Seanna untuk nggak jadi orang yang selalu pasrah menerima. Ya, kemarin itu Seanna bela diri Seanna, dong.”

“Terus?”

“Terus, nanti Seanna mau ngenalin seseorang yang spesial buat Seanna. Itu pun kalau Papi bolehin.”

“Dari perusahaan mana?”

Aduh. Papi ini. Perusahaan pula! Bisniiiiiis mulu. “Bukan dari perusahaan mana-mana.”

Papi memandangku dengan tatapan bingung. “Bukan dari perusahaan mana-mana?”

Aku mengangguk. “Please, Papi jangan main tolak atau mandang sebelah mata dulu. Papi tolong kasih kesempatan buat Seanna ngenalin dia ke Papi. Dia orang yang baik, Pi, bukan seperti Rafel.”

“Baiklah. Kamu bisa bawa dia nanti ke hadapan keluarga besar kita.”

“Pokoknya kamu tenang aja, Vin. Be yourself! Jangan over acting. Kasual aja. Nenek Runi itu orangnya gampang baca bahasa tubuh, gerakan mata, dan nada bicara. Yang sopan, okay? Jangan lupa senyum. Kalau di tanya soal keluarga, kamu jawab yang jujur. Nenek Runi paling nggak bisa kalau dibohongin. Jangan melebih-lebihkan apa pun ya, Vin. Nenek Runi juga nggak suka sesuatu yang berlebihan apalagi dilebih-lebihkan dan kamu nggak bisa buktiin itu semua.”

Alvin mengecup bibirku untuk mendiamkanku. “Tenang aja, Seanna. Apa kamu nggak percaya sama aku?”

Aku tersenyum. “Tentu aja aku percaya.”

Aku membawa Alvin masuk ke dalam rumah Nenek Runi. Aku langsung di sambut keluar besar yang mengucapkan selamat ulang tahun secara bergantian. Kulihat Verena dan Zandy udah mesra lagi. Bagus deh, berarti adviceku berguna untuk mereka.

“Nek, saya mau mengenalkan Alvin Wisnu Aditya Hakim.” Kesannya aku seperti baru mau meluncurkan produk baru, ya?

Alvin mencium tangan Nenek Runi dengan sopan.

Kami berbincang-bincang di meja makan sambil menyantap makan malam. Alvin dan aku duduk di dekat Nenek Runi supaya lebih mudah ngobrolnya. Nenek Runi bertanya macam-macam. Mulai dari keluarga, kuliah, sampai cita-cita. Nenek Runi nggak pernah melakukan hal seperti ini pada Bagas sebelumnya. Itu karena Bagas udah bawa kabur Dya duluan bukannya memperkanalkannya dulu di hadapan Nenek Runi. Tapi aku mengerti, karena saat itu hubungannya dengan Dya memang sangat ditentang. Nggak ada lagi waktu untuk perkenalan dan sebagainya. Langsung aja kabur begitu aja. Semoga aja Nenek Runi dan keluarga lainnya nggak memandang Alvin sebelah mata seperti mereka memandang Bagas.

Papi juga keliatan suka dengan Alvin. Bahkan Alvin merespon dengan baik cerita papi soal bisnisnya.

“Seanna dan Alvin bisa ikut saya sebentar?” Nenek Runi menahan kami yang baru saja ingin pulang. Aku yakin ke mana arah pembicaraan ini, tentu aja tentang Alvin.

Aku mengikuti Nenek Runi ke ruang kerjanya. Wow, baru pertama kali aku masuk ke sini. Dari ada para sepupuku yang pernah masuk ke sini cuman Zandy dan Verena, itu pun karena mereka disidang.

Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Zandy dan Verena, walaupun dalam hal ini aku dan Alvin jelas bukan sepupu sedarah. Tapi masalahnya di sini adalah, Alvin bukan socialite, dan aku ragu apa keputusan Nenek Runi.

“Jadi kamu ingin sekali membuka gallery, begitu?”tanya Nenek Runi.

“Betul, Nek. Saya ingin sekali memiliki usaha sendiri,”jawab Alvin. Nada suaranya aneh, belum pernah aku mendengar nada seperti itu keluar dari mulut Alvin. Seolah penuh wibawa. Sama seperti ayahnya, Oom Suryo.

“Saya lihat, kamu memang punya potensi. Tapi bukan berarti kamu menolak segala bantuan, kan?” Nenek Runi memberikan selembar kertas pada Alvin yang kulihat sebagai cek. “Saya mau, cucu saya, Seanna, bersanding dengan orang yang pantas.”

What? Apa-apaan ini? Kenapa Nenek Runi jadi begitu kejam? Apa dia pikir Alvin adalah tipe orang yang bisa disogok dengan uang?

Aku menatap Alvin, dia sama sekali tidak terlihat marah.

“Nek, tapi ini keterlaluan. Alvin tidak bisa disogok dengan uang seperti ini. Kami berdua tulus menjalani ini semua, Nek. Berapa pun jumlah uang ini, tidak berpengaruh.” Aku mendorong lagi cek itu ke hadapan Nenek Runi.

“Seanna Nadya, sejak kapan kamu suka menyimpulkan sendiri begitu sebelum saya selesai berbicara?”

Aku terdiam.

“Saya berikan cek ini, sebagai pembayaran awal. Saya akan mempekerjakan kamu di Handoko Group.”

“Tapi, Nek. Tadi Alvin sudah bilang kalau dia ingin membuka gallery.”

Nenek Runi menatapku tajam. “Demi Tuhan, Seanna. Saya belum selesai bicara. Kamu lihat laki-laki di samping kamu? Bahkan dia memberikan contoh yang baik padamu, untuk mendengarkan orangtua sampai selesai berbicara. Cukup diam sampai saya selesai dan waktunya kamu berbicara. Apa saya harus mengajarkan dari awal lagi bagaimana tata caranya?”

Aku terdiam dan merosot di kursiku. Sebenarnya Nenek Runi ini membela Alvin, ingin nyogok, atau ingin maksa Alvin masuk Handoko Group, sih?

Nenek Runi kembali pada Alvin. “Saya tahu, kamu pasti tidak tertarik dengan Handoko Group. Tapi untuk bisa mencapai cita-citamu itu, saya yakin kamu butuh pengalaman dan modal. Kamu pasti tidak akan mau menerima jika saya berikan modal percuma. Jadi saya akan mempekerjakan kamu. Kamu harus memasok setiap bulannya, foto untuk dipajang di Handoko Group building. Saya mau, minggu depan, semua karya terbaikmu sudah terpasang di sana. Bagaimana?”

Betapa baiknya kau Nenek Runi! Ya, ampun! Aku nggak pernah membayangkan kalau akan begini sikap Nenek Runi pada Alvin. Kupikir Nenek akan mulai marah-marah, nggak setuju dengan hubungan nggak ‘sederajat’ ini.

“Terima kasih, Nek. Saya terima pekerjaannya. Tapi sepertinya cek ini belum perlu. Saya ingin Nenek melihat hasil kerja saya dulu, baru menilai seberapa bayaran yang pantas untuk saya. Kalau begini, sama saja dengan memberikan saya bantuan yang percuma atau tidak sebanding dengan hasil kerja saya.”

Nenek Runi tersenyum dan menarik ceknya kembali. “Baiklah. Saya setuju. Ingat ya, minggu depan saya akan mengecek hasil pekerjaan kamu. Kalian boleh pulang.”

Hanya begini saja, nih?

“Oh, ya, Seanna.”

Aku yang baru saja mau melangkah keluar berbalik lagi. Alvin menungguku tidak jauh dari ruang kerja Nenek Runi, melihat-lihat lukisan di koridor.

“Saya suka dengan dia. Tidak dilebih-lebihkan, atau berusaha mengambil hati saya. Seseorang yang pantas untukmu, Seanna.”

“Terima kasih, Nenek.”

Bukannya langsung pulang, aku dan Alvin malah mampir ke padang dan berniat spent night bersama lagi. Papi dan Mami langsung cabut ke Aussie. Mereka tidak lagi terlalu memusingkan soal hubunganku dengan Alvin. Bahkan mereka jadi mendukung sejak mendengar alasan Nenek Runi menerima Alvin. Wow!

Dya juga ngucapin selamat padaku. Dan bilang kalau dia nyesel nggak konsultasi ke aku dulu sebelum kabur dengan Bagas dulu. Mungkin kalau pakai cara yang sama denganku, Bagas bisa diterima dengan mudah juga.

“Aku tidak udah deg-degan banget, Vin.” Tanganku memain-mainkan kalung pemberian Alvin yang selalu aku pakai ke mana-mana. Aku menunduk menatap mahkota bertaburkan berlian yang melingkar di leherku itu. Terkejut melihat huruf A yang terdapat di balik huruf S. aku baru menyadarinya sekarang. “Vin? Ini ada huruf A, nya, ya? Kalau gitu aku pakenya ke balik, dong.”

Alvin mencegah tanganku yang hendak melepas kalung itu. “Enggak, kok. Kamu mau tau, kenapa huruf A nya ada di belakang?’

Aku mengangguk.

“A itu dari namaku, Alvin. Aku nggak mau hubungan kita terlihat begitu terekspos atau begitu main-main di hadapan orang. Biarin aja semua orang menganggap kamu hanya suka sama aku. Tapi jika orang lain mengintip ke balik hati kamu, mereka akan tau kalau kamu milikku. Sama seperti kalung ini. Harus di balik dulu baru tau.”

“Aduh, Vin. Kamu berpikirnya jauh juga, ya? Tapi thanks, itu bagus banget.”

“Ngomong-ngomong soal Nenek kamu, Sen. Beliau itu orangnya mau cepet aja, ya? Dalam waktu seminggu aku harus udah bisa majang hasil karyaku di Handoko Building, coba?”

Aku tertawa. “Masih mending seminggu! Daripada sehari? Lagian kamu kan punya banyak stok. Dan sepunya baguuuus banget. Aku udah liat.”

“Oh, ya? Mmm…let me see… oh ya, kamu ke studio aku, kan? Jangan GR ya, ngeliat foto-foto itu.”

“Nggak juga, ah. Foto-foto itu bagus, kok.”

Alvin memainkan jari-jariku dalam genggamannya.

“Vin, ngomong-ngomong soal nama. Aku suka arti nama kamu. Sahabat segala bangsawan. Kamu sahabatnya para socialite, Vin!”

Sure. Kecuali socialite yang satu ini.” Alvin mencubit pipiku. “Aku bukan sahabat kamu, kan?”

“Nggak tau juga, sih. Soalnya kayaknya udah ada yang pernah mutusin, deh.” Aku melirik ke arah Alvin sedikit.

“Masa perlu pake tembak-tembakan lagi?”

Seminggu kemudian, Handoko Building udah jadi kayak kantor majalah! Foto-fotoku menghiasi dinding di sana sini di setiap lantai. Nggak semuanya fotoku sih, hanya kebanyakan. Ada beberapa di antaranya karya Alvin sebelum denganku. Bahkan foto anak-anak satu sekolah yang waktu itu kita datengin juga ada.

“Wah, mendadak jadi model, nih,” ejek Dya sambil menatap fotoku yang berjudul “Princess Seanna”. “Kok bisa ya, si Alvin buat kamu jadi cantik begini kalau di foto?”

“Ih! Aku nggak diapa-apain, kok.” Aku mengibaskan rambutku ke belakang. “Emang dari dasarnya udah cantik!”

Dya geleng-geleng kepala. “Makin hari makin menjadi-jadi aja kamu ini.” Dya melirik ke arah Alvin yang sedang sibuk berbincang dengan Danar. Jarang-jarang Danar dapat teman, apalagi karena sifatnya yang dingin dan ngomongnya ngirit itu. “Tapi menurutku, Alvin itu cocok sekali buat kamu, Sen. Ganteng lagi. Kamu sangat beruntung hubungan kalian direstui Nenek Runi.”

Aku tersenyum kecil. “Kamu tenang aja, Ya. Hubungan kamu ama Bagas kan bukan hanya di tangan Nenek Runi, tapi di tangan kalian. Kalaupun kalian harus kawin lari, aku bersedia kok jadi perancang busananya dan Alvin yang mengabadikan momen indah kalian itu. Gratis nggak bayar.”

Dya mencibir. “Jadi lo doain, gitu?”

Aku nyengir. “Bukannya gitu juga, sih. Tapi Bagas kan tipe yang nggak jauh beda dari Alvin, cuman lebih bersemangat aja. Jadi gue yakin bentar lagi pasti kendala kalian itu akan selesai.”

I hope so.”

“An,” Alvin menyapaku. “Urusanku di sini udah selesai. Kamu mau ke mana lagi? Mau kuantar pulang? Atau kamu masih mau di sini?”

Aku melirik pada Dya, dan Dya langsung mengerti lalu menyingkir dari kami, mengobrol dengan Danar.

Aku berjinjit untuk bisa berbisik di telinga Alvin. “Gimana kalau di atap?”

Alvin tertawa. “Okay.”

Kami naik lift sampai lantai teratas, yaitu lantai tempat ruangan para keluarga Handoko. Lalu kami segera naik ke atap melalui tangga.

Awalnya aku bercanda untuk meminta Alvin menggendongku sampai ke atas. Tapi taunya dia malah menganggap serius dan gendong aku di punggungnya.

“Kamu berat juga ya, An.”

Aku mencubit perut Alvin dan Alvin meringis kesakitan.

“Apa tadi kamu bilang? Coba bilang lagi? Cuman kamu yang bilang aku berat!”

“Itu kan karena cuman aku yang pernah gendong kamu kayak gini, Sayang.”

Mau nggak mau aku mengakui soal itu juga. Memangnya siapa yang pernah gendong aku seperti ini? Paling Papi, itu pun waktu kecil dulu. Kalau Rafel? Ya ampun, mana mau dia.

Kami sampai di atas atap. Sekarang baru jam 5 lewat. Lampu-lampu belum dinyalakan. Tapi ada pemandangan lain sebagai gantinya. Yaitu sunset. Memang nggak sebagus kalau di pantai, sih. Tapi cukup bagus lah, dengan dihiasi gedung-gedung dan tiupan angin sepoi-sepoi.

Aku dan Alvin berdiri di pinggir. Alvin merangkulku erat dan aku ikut melingkarkan sebelah tanganku di tubuhnya dan menyenderkan kepalaku di lengannya (berhubung aku nggak sampai untuk menyandarkannya di bahu Alvin, karena aku pakai flat hari ini).

“Aku seneng kamu bisa berbaur dengan Handoko, Vin,”kataku.

Alvin mencium puncak kepalaku. “Ternyata ini nggak sesusah yang aku pikirin, An. Ternyata keluarga kamu nggak sekeras kelihatannya. Mudah juga udah dimasuki.”

Aku mendongak dan mencolek pipi Alvin. “Jangan asal ngomong kamu. Kamu beruntung, ya, nggak senasib sama Bagas yang sampai sekarang belum diterima sepenuhnya.”

Alvin membusungkan dada. “Itu kan karena aku emang masuk kategorinya.”

Aku mencibir. “Ya, ya, ya. Kamu hebat.”

“Terus, rencana kita selanjutnya?” Alvin memutar tubuhku menghadapnya, melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.

“Kita jalanin aja semua ini. Kamu tetap kuliah, tetap kerjasama dengan Handoko Group. Aku tetap akan kuliah dan yang jelas…tetap shopping.”

“Aku mau berjanji sama kamu, Seanna.”

Aku memiringkan kepalaku. Nggak biasanya ada janji-janji kayak gini. “Janji apa? Kamu nggak perlu janji-janji kok, Vin. Aku percaya apa pun yang akan kamu omongin.”

“Aku berjanji,” Alvin membelai wajahku, “setelah kamu dan aku selesai kuliah nanti, setelah aku sukses dan semua cita-citaku tercapai, aku ingin menikah dengan Seanna Nadya Handoko.”

Aku terpukau. Barusan aku di lamar? Well, di lamar untuk beberapa tahun ke depan, sih. Tapi ini artinya aku udah dapet steady boyfriend. Di saat-saat teman-temanku masih sibuk cari calon, sekarang aku sudah dapat yang benar-benar perfect!

“Kalau yang itu, kamu benar-benar nggak perlu janji.” Aku tersenyum. “Aku percaya, kok.”

“Tapi kamu harus janji. Kalau emang kamu nggak suka kerja di Handoko Group, jangan kamu lakuin. Kalau kamu mau jadi ibu rumah tangga, itu bahkan lebih bagus.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku akan tetap bekerja di Handoko Group. Tapi nanti aku akan bangun butik sama-sama Denise. Kalau soal yang terakhir itu nggak bisa diganggu gugat lagi. Dafintha aja bisa, kenapa aku nggak? Kalau soal ibu rumah tangga, kayaknya nggak bisa deh, Vin. Aku bukan tipe yang bisa diam aja di rumah. Apalagi aku suka shopping, masa kerjanya ngabisin uang suami terus?”

Alvin terkekeh. “Okay. Apa pun yang kamu mau, aku yakin itu yang terbaik buat kamu. Selama kamu masih bahagia, aku pasti akan dukung kamu 100%.”

Kami lalu making out, sementara matahari semakin lama semakin tenggelam.

4 komentar:

  1. love the story! keren bgt ki, ceritanya!

    BalasHapus
  2. aduh jadi malu. tapi gue nggak pernah puas sih. menurut gue pasti ada aja yang kurang. gue lagi buat project baru (baru terus yang jadi cuman dikit :p) judulnya Protector, tentang manusia setengah robot gitu tapi tetep aja Romance (gue nggak bisa nyiptain genre lain -__-) tapi kayaknya masih lama banget. atau mau gue post in cerita yang kayak gini lagi? masih tentang seputar keluarga Handoko

    BalasHapus
  3. boleeeeeeeh, gila gw suka banget ama gaya bahasanya, plus alurnya ngalir teruss, by the way gw udah beli titanium and reading it :)

    BalasHapus
  4. titanium is the best Ni. lo baca ampe abis dan bakalan tergila gila dengan yang namanya Oz (kalau gue ya)

    BalasHapus