Jumat, 10 Juli 2009

No More part 3

Keesokan harinya, aku berhasil bangun tepat waktu untuk ikut bersama Alvin. Katanya dia ada panggilan untuk pembuatan buku tahunan di sebuah SD. Tadinya aku ragu untuk ikut, tapi berhubung nggak ada kerjaan di rumah, dan Alvin udah jadi cowokku sekarang, aku memutuskan untuk ikut.

Kali ini kami tidak naik kendaraan umum lagi, karena Alvin bawa mobil (fiuh).

“Kamu ngelakuin pekerjaan kali ini sendirian aja?”tanyaku dalam perjalanan kami. Gila aja Alvin. Masa iya dia foto satu bersatu semua anak SD itu sendirian?

“Aku kerja sama, sama dua temenku yang lain.”

Kami sampai di depan sebuah sekolah. Walau hari libur, sekolah jadi ramai. Beberapa orangtua yang mengantar, merapihkan penampilan anak-anak mereka. Para guru sibuk menangani anak-anak berseragam putih merah yang berlarian ke sana ke mari.

Sekolah ini tidak bagus. Hanya seperti SD Negri kebanyakan. Bangunan satu tingkat yang memanjang. Lapangan yang seadanya.

Seorang guru menghampiri kami begitu melihat kedatangan Alvin.

Guru itu menjabat tangan Alvin, “Saya Pak Suhardi. Kepala sekolah SDN 01 ini.”

“Saya Alvin, Pak. Saya yang akan foto anak-anak nanti. Dan ini rekan saya, Seanna.”

Rekan? Rekan apanya? Adanya aku jadi trouble maker di sini.

Aku membalas uluran tangan Pak Suhardi sambil tersenyum.

“Itu dua rekan anda yang lain sudah menunggu.” Pak Suhardi menunjuk ke arah dua orang cowok yang sedang membersiapkan background dan lighting di sebuah ruang kelas yang terbuka pintunya. Pak Suhardi mohon diri untuk mempersiapkan anak-anak dan kami menghampiri dua cowok itu.

“Gara-gara aku, kamu jadi kesiangan, ya?”bisikku.

Alvin tersenyum. “Enggak, kok. Janjinya emang jam 10. Sekarang aja baru jam 10 kurang.”

Saat dua orang cowok itu melihat kedatangan kami, mereka langsung bersalaman ala cowok dengan Alvin.

“An, kenalin ini Niko.” Alvin menunjuk ke arah satu di antara mereka yang tubuhnya terlihat gempal.

Aku membalas uluran tangan Niko. “Seanna.”

“Kalau yang ini, Rayhan.” Alvin menunjuk cowok jangkung di sebelah Niko.

Aku membalas uluran tangan Rayhan. “Seanna.”

“Mereka ini temen-temenku. Kalau ada kerjaan kayak gini, kita selalu kerja sama.”

“Tapi kita belum sampe semaster, Alvin,”kata Rayhan.

“Gue kaget juga, Alvin bisa dapetin cewek cantik kayak lo,”kata Niko sambil menaik turunkan alisnya.

“Ayo anak-anak, kita berbaris!” Aku melihat dari ambang pintu, Pak Suhardi yang menepuk-nepuk tangannya meminta agar anak-anak berbaris di hadapannya.

Beberapa orang guru lainnya menggiring anak-anak didik mereka ke hadapan Pak Suhardi untuk berbaris. Setelah semuanya rapih, Pak Suhardi memberikan penjelasan.

“Nanti difotonya bergilir, ya. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Pertama-tama foto bersama, lalu foto individu. Lalu terakhir foto bersama dari kelas 1 sampai 6. Mengerti?”

“Mengerti, Paaaaak.”jawab anak-anak itu serempak.

Aku jadi kangen masa SDku. Di mana belum terpengaruh dengan yang namanya socialite atau bukan. Semua berbaur jadi satu, melakukan kenakalan dengan kompak. Apalagi masa SD adalah masa terlama dalam bersekolah. 6 tahun bersama tentu nggak mudah dilupakan begitu saja.

Aku menatap ruang kelas. Papan tulisnya masih menggunakan kapur, di mana mayoritas sekarang sudah menggunakan white board dan spidol. Meja dan kursi yang sengaja dipinggirkan ke tembok juga sudah terlihat rapuh. Tapi bangunan ini masih terlihat kokoh, setidaknya. Tidak ada atap yang bolong, dan temboknya juga terbuat dari bata. Mungkin hanya butuh pertambahan fasilitas saja.

Tentu saja SD ini sangat berbeda dengan SDku dulu. Dulu aku bersekolah di SD swasta. Papi dan Mami nggak pernah mau aku bersekolah di SD Negri.

Anak kelas 1 mulai memasuki ruang kelas. Wali kelas mereka membimbing mereka agar berbaris dengan rapih di depan sebuah background hitam yang sudah disediakan. Sedangkan para orangtua mereka menonton penasaran lewat kaca jendela. Beberapa di antara mereka berteriak-teriak meminta anaknya untuk diam, tapi tentu saja tidak berhasil. Pak Suhardi kewalahan meminta para orangtua untuk tenang, dan akhirnya berhasil menggiring mereka semua menjauh dari ruang kelas.

Alvin menghampiriku. “Keberatan kalau aku minta tolong?”

“Tentu aja enggak.” Justru itu yang aku tunggu. Daripada aku berdiri nggak berguna di sini, tapi jabatanku sebagai partner!

“Bantuin atur anak-anak, ya.”

Aku menatap guru yang masih sibuk mengatur murid-muridnya. Mereka anak kelas 1, masih kecil dan tidak bisa diam. Tapi akhirnya aku mengangguk juga.

Aku meletakkan tasku di dekat perlengkapan Alvin dan teman-temannya lalu menghampiri anak-anak itu.

Aku menepuk-nepuk tanganku. “Adik-adik yang perempuan, bisa duduk di bangku ini.” Aku menepuk-nepuk bangku panjang kayu. “Sedangkan yang laki-laki harus ngalah, ya. Kalian berdiri di belakang teman-teman yang perempuan.” Kalau soal gentle harus diajarin dari sekarang, nih.

Akhirnya anak-anak itu mau nurut juga. Yang perempuan duduk dengan rapih dan yang laki-laki berdiri di belakang.

“Yang perempuan, inget, duduknya harus yang sopan,”kataku sambil membetulkan posisi duduk salah satu dari mereka. “Punggung yang tegak.” Mereka menegakkan punggung bersamaan. Aku mundur beberapa langkah melihat formasi mereka dan berkata, “yang laki-laki jangan mau kalah. Harus kayak kakak yang…” Aku mencari-cari Alvin dan ternyata dia berdiri di belakangku. “Kakak yang ini. Yang tegak, biar keliatan keren.”

Aku memukul punggung Alvin. Alvin langsung lebih menegakkan tubuhnya.

“Ibu, ibu bisa berdiri duduk di tengah sini,”aku mempersilahkan si wali kelas untuk duduk di space kosong di tengah. Ternyata si ibu itu daritadi cuman bengong aja ngeliatin aksiku. Yang guru itu siapa, sih?

Aku mundur ke belakang Alvin. Bisa-bisa nanti aku yang kefoto!

“Dalam hitungan kedua, semua kedip, hitungan ketiga, semua senyum, yaaa… satu… dua…tiga.”

Saat foto individu lebih sulit lagi. Banyak dari mereka yang menangis bahkan nggak mau senyum. Dengan sabar aku menghampiri mereka dan meminta dengan halus.

Setelah 2 jam, anak kelas 1 selesai. Selanjutnya anak kelas 6. karena anak kelas 2, 3, 4, dan 5 sudah ditangani oleh Niko dan Rayhan di ruangan lain.

Anak kelas 6 tentu lebih mudah di atur. Hanya cukup di bilang sekali dan mereka sudah siap di posisi masing-masing. Kebanyak dari mereka bahkan bernarsis ria.

Ketika melihat mereka, aku sedikit sedih. Ini adalah tahun terakhir mereka bersama. 6 tahun kan bukan waktu yang sebentar. Apa mereka tidak berpikir sampai sejauh itu? Di mana mereka akan dilepas di dunia baru lagi? Apa mereka setia kawan? Apa mereka akan tetap mengingat satu sama lain?

Tapi aku teringat akan diriku sendiri. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi dengan teman-teman lamaku, apalagi teman SD.

Seorang anak laki-laki menyapaku ketika Alvin baru aja mau memfotonya. “Kakak perempuan yang disitu, udah ada cowok belom?” Beberapa temannya langsung menyoraki.

Alvin menurunkan kameranya dan memandangku.

Aku tersenyum menatap anak itu. “Udah.”

Mereka kembali bersorak. “Huuuu…rasain lu!”

“Paling kerenan aku,”katanya sambil membusungkan dada.

“Kamu bisa liat sendiri, kerenan siapa.” Aku menatap Alvin penuh arti.

Begitu sadar arti perkataanku, mereka semua berseru, “Oooooh…”, “Cieeee”, “Suit Suit” atau bahkan, “Cium! Cium!”

Bagian yang paling aku suka adalah, saat kelas 1 sampai kelas 6 foto bersama di lapangan. Mengaturnya memang susah bukan main. Tapi pada saat pengambilan fotonya membuatku sedikit terharu. Ada yang merangkul sahabat mereka, tertawa, bahkan ada anak kelas 1 yang menangis.

Akhirnya pekerjaan kami selesai dalam waktu 6 jam.

“Panaaaaas…”aku mengeluh sambil mengarahkan AC mobil Alvin ke arahku.

Aku memandang gedung sekolah itu. Dari luar sih, nggak ancur. Tapi…

“Eh, Vin. Boleh nanya sesuatu nggak? Tapi kamu jangan tersinggung, ya.”

Alvin menyalakan mesin mobilnya. “Pasti soal bayaran, ya?”

Aku mengangguk ragu.

“Pasti kamu mikir, sekolah kayak gitu bisa bikin buku tahunan uangnya dari mana.”

Aku mengangguk lagi.

Alvin tersenyum. Dia menatap lurus ke jalan di hadapan kami. “Nggak ada bayaran.”

Aku sedikit melotot. Nggak ada bayaran? Setelah kerja 6 jam lebih tadi? Panas panasan, capek, teriak-teriak. Dengan usahaku yang susah payah ngatur anak-anak kelas 1 yang bandel itu? Nggak ada bayaran?

“Se-sepeser pun nggak ada?”tanyaku nggak percaya.

Alvin tertawa. “Ya ampun, An. Segitu shocknya sih, kamu. Iya, nggak ada sepeser pun. Ini dari dasar inisiatif aku, Niko dan Rayhan, nggak ada yang minta atau manggil kami.”

“Tapi―”

“Kamu mau tau alasannya? Pertama, seperti yang kamu tau, itu tadi sekolah negri. Pemerintah nggak bakalan mau buang-buang duit cuman buat buku tahunan mereka. Kedua, orangtua mereka nggak mampu. Ketiga, karena aku nggak mau waktu besar nanti, mereka jadi lupa sama temen-temen mereka. Mungkin kalau mereka mampu, mereka bisa nyimpen foto-foto dan biodata temen-temen mereka di komputer atau apalah. Tapi mereka nggak mampu. Bisa kamu bayangin gimana mereka lulus nanti? Mereka lupa sama guru-guru yang pernah ngajar mereka, teman-teman mereka. Kalau ada buku tahunan, mereka bakalan baca, mereka juga bakalan inget.”

Aku nggak berpikir sejauh itu selama ini. Teman-teman SDku kebanyakan adalah socialite, jadi kami masih sering berkomunikasi sampai sekarang. Sedangkan kalau yang bukan socialite…entahlah. Padahal dulu aku cukup dekat dengan mereka yang bukan socialite.

Otakku kembali membandingkan Rafel dengan Alvin. Sejak awal aku tau mereka adalah orang yang berbeda. Rafel mengajakku ke mall, club, makan di hotel. Kalau Alvin lebih ke aktifitas outdoor. Aku ragu apakah Rafel punya pemikiran yang sama dengan Alvin. Apalagi soal buku tahunan ini termasuk hal yang sepele.

Aku buru-buru menghilangkan semua perbandingan itu dari kepalaku. Rafel tetap Rafel, dan Alvin tetap aja Alvin. Rafel adalah yang terbaik. Yang terbaik.

“Kamu yakin bisa ngerjain buku tahunan itu dalam 2 bulan?”tanyaku.

“Aku tinggal kasih hasil-hasil fotonya dan biodata itu ke pencetak. Selanjutnya tinggal aku ambil. Aku kan cuman photographer, bukannya percetakkan.”

Aku tertawa sambil melihat tumpukan kertas biodata di tanganku. Aku melihat nama mereka satu bersatu. Tertawa setiap kali ada nama yang lucu.

“Vin, masa ada yang namanya Bolbol?”

“Nama panjang, nama panggilan?”

“Nama panggilan bukan, dibilang nama panjang juga bukan. Namanya cuman Bolbol doang, titik.”

Kami tertawa ngakak. Membayangkan bagaimana orangtua si Bolbol ini. Ngasih nama kok, kayaknya asal-asalan.

“Kita makan di mana, nih?”

Aku meletakkan tumpukab biodata itu di dashboard mobil Alvin. “Pengen Burger King.”

“Wah, boleh tuh. Aku juga udah lama nggak makan Burger King. Yang deket di mana, ya?”

“Paling Citos. Sekalian abis itu ngopi-ngopi.” Rasanya udah lamaaaaa banget aku nggak santai di Starbucks. Terakhir kali aku ngopi di Starbucks tapi tugas kuliah di tangan. Sama aja bo’ong.

Citos seperti biasanya ramai. Alvin selalu merangkulku saat kami berjalan, seperti takut kalau aku ini bisa kapan saja menghilang.

Sebenarnya Papi dan Mami tidak akan pernah setuju kalau aku makan fast food kayak gini. Mereka pasti akan ceramah panjang lebar. Kesehatan selalu nomer satu bagi mereka. Tapi aku dari dulu suka nakal dan akhirnya makan juga. Karena emang enak, sih.

“Besok ada kelas?”tanya Alvin.

Aku mengangguk. “Kelas siang. Kamu?”

Ada. Tapi kelas pagi. Kamu mau aku tungguin aja atau―”

Aku hampir tersedak coke yang aku minum. “Ah, enggak, nggak usah. Nggak usah repot-repot gitu.” Bisa gawat nih, kalau orang-orang tau soal hubunganku sama Alvin! Apalagi anak-anak satu kampus! Bisa-bisa nanti Rafel denger dan… “Mending, sorenya aja kita janjian.”

“Bener juga, sih. Jadi ada waktu buat ngerjain tugas.”

Aku menghela napas lega. Untung Alvin bukan tipe yang keras kepala. Tapi…kok aku merasa nggak enak, ya ngebohongin dia.

Ketika kami baru saja mau masuk ke Starbucks, aku berdiri terdiam terpaku di depan pintu masuk. Rafel dan teman-temannya, berada di dalam sana, sedang mengobrol dan tertawa asyik.

Aku menahan tangan Alvin. “Vin, nggak usah ngopi, ya? Aku keinget ada tugas yang belom selesai.”

Alvin memandangku sebentar. “Beneran ada tugas?”

Aku mengangguk. Mataku dengan liar bergerak ke sana kemari. Berusaha menghindari Alvin dan juga Rafel.

Alvin meraba dahiku. “Kamu nggak sakit, ‘kan?”

Aku menggeleng. “Kita pulang sekarang aja, ya? Tugasnya penting banget soalnya.”

Alvin pun mengangguk dan membawaku pulang.

Pertemuan dengan Rafel kemarin masih membayangiku. Seharusnya aku berada di sana! Duduk di sebelahnya, berada di pelukannya. Cewek macam apa aku ini? Bagus, sekarang aku sudah membuat diriku terlihat murahan.

Begitu aku turun untuk sarapan pagi ini, Mami dan Papi sudah berada di sana. Kalau Dafintha ama Dipta jangan ditanya lagi. Mereka pasti udah berangkat sejak tadi. Beginilah keluargaku. Susah banget kumpulnya.

Aku duduk di hadapan Papi dan Mami. “Morning, Dad, Mom.” Aku meletakkan tote bag ku di kursi kosong di sampingku.

“Gimana semuanya? Under control?”tanya Papi.

Aku mengangguk. “Adyani sehat. Dipta nggak buat masalah sejauh ini. Kalau Kak Dafintha aku belum ketemu.” Lucu memang. Kakak sendiri, tinggal serumah, tapi nggak pernah ketemu. Dafintha selalu sibuk di kantornya. Setiap ada waktu luang pasti dia habiskan bersama bandnya.

“Kuliah?”tanya Mami.

“Masih lancar sampai sekarang.” Kalau pun nggak lancar, emang mereka peduli? Yang penting aku lulus kan? Abis itu masuk ke Handoko Group.

“Kamu masih berhubungan baik dengan Rafel, ‘kan?” Kata-kata Papi barusan membuatku berhenti mengoleskan selai cokelat ke atas rotiku.

Aku tetap menunduk, pura-pura sibuk dengan rotiku. “Masih,”jawabku dengan suara pelan.

“Bagus. Menurut Papi, dia cocok sekali sama kamu. Apalagi Papi dan Mami sudah kenal baik dengan orangtuanya. Handoko Group juga sedang bekerja sama dengan keluarga Setyandri. Jadi jangan buat masalah.”

Kalau saja Papi dan Mami tau. Kalau sekarang aku dan Rafel memang sedang bermasalah. Seharusya aku tidak seemosi ini pada Rianna. Seharusnya aku tidak jatuh dalam permainan Safira. Seharusnya aku masih bersama Rafel sekarang dan Papi tidak perlu khawatir soal kelancaran kerjasamanya.

Setelah menghabiskan sarapanku aku segera berangkat ke kampus. Aku berusaha sebisa mungkin berhati-hati agar tidak bertemu dengan Alvin. Tapi sebagai gantinya Safira yang muncul di hadapanku.

“Gimana?”tanyanya. Wajahnya penasaran abis.

Aku mengangguk.

Safira melompat dan bertepuk tangan. Aksesorisnya bergemerincing. “Hebat lo! Gue kira bakalan butuh waktu lama.”

“Udah kan? Semua rencana lo udah berjalan. Sekarang tinggal kayak gini terus aja ampe 3 bulan.”

Safira mengangguk.

“Jangan bilang ini ke Rafel, okay? Please?”

Sure. Tentu aja.”

Sekilas aku sedikit ragu untuk mempercayai Safira. Tapi seharusnya dia tau konsekuensinya kalau sampai memberitahukan hal ini pada Rafel.

Saat kelasku sudah selesai aku langsung pulang ke rumah. Hal yang tidak seperti biasanya. Karena biasanya aku nongkrong dulu di kantin atau langsung cabut ke mall. Tapi kalau sampai Alvin tau aku shopping, bisa-bisa dia kabur. Lebih baik nanti aku cari hari kosong, pura-pura ngasih alasan, cabut deh ke mall.

Sesampainya aku di rumah. Dipta ternyata juga baru pulang dari sekolah. Masih dengan menggunakan seragamnya, dia duduk di sofa, TV di hadapannya menyala, tapi membaca majalah di tangannya.

“Eh, Diptong!”

Dipta menoleh ke arahku dengan pandangan tidak suka. “Kenapa Seannong?”

“Nonton ya, nonton. Baca ya, baca. Nggak pusing apa lo nonton sambil baca?”

“Aduh, udah, deh. Nih. Lo harus liat ini! Nih, mobil tuh keren banget,”kata Dipta dengan berapi-api sambil menunjuk-nunjuk majalah yang sedang dibacanya, yang merupakan majalan otomotif.

Aku melirik ke arah gambar mobil yang ditunjuknya. Dari luar sih, emang keliatan bagus, dan mahal. Tapi aku nggak terlalu suka sama hal-hal otomotif. “Jangan bilang lo mau bujuk Papi sama Mami buat beliin mobil itu?” Padahal kan dia baru aja beli mobil 4 bulan lalu. Pastilah nggak dikasih.

Dipta nyengir. “Nggak ngebujuk, sih. Paling bilang beberapa kali sama Papi. Kalau nggak dikasih ya…udah.” Huh, mana mungkin. Palingan nanti mohon-mohon sambil mengumbar janji, kayak, “Dipta janji, Dipta akan belajar lebih keras,” atau, “Dipta janji, Dipta nggak bakal buat onar seumur hidup” yang semua itu hanyalah isapan jempol belaka.

“Eh, Sen,”panggil Dipta ketika baru saja aku mau menaiki tangga. “Bukannya Rafel juga suka otomotif, ya?” Aku menegang ketika nama Rafel disebut. “Pasti dia punya banyak relasi. Kalau bisa dikasih discount, kan gue lebih gampang minta ama Papi. Lo bisa tanyain ke dia kan?”

“Tanya aja sendiri.” Lalu aku ngeloyor pergi walaupun Dipta masih tetap ngoceh di bawah.

Dan aku kepikiran. Rafel didn’t call me yet.

Di sinilah aku. Di tengah-tengah orang-orang yang sejak dulu tidak ingin aku kenal. Tapi siapa yang sangka, sekarang aku mengenal mereka semua dan berbicara dengan mereka.

Tadinya aku dan Alvin hanya jalan berdua. Kebetulan dia mau cari buku dan aku nggak keberatan nemenin. Tapi taunya kita ketemu segerombol teman-temannya. Mungkin disebut teman-temannya juga bukan. Sebagai besar di antara mereka satu fakultas denganku. Seharusnya aku yang mengenal mereka, bukan Alvin. Ya, karena mereka bukan socialite.

Akhirnya kami ngobrol di café di toko buku. Alvin dengan mudah masuk ke dalam dunia mereka, sedangkan aku hanya bisa tertawa sumbang dan tersenyum setiap kali mereka menganggap ucapannya lucu.

Ada dua orang yang memandangku sinis. Kalau tidak salah mereka yang Safira dan aku usir tempo hari ketika mau duduk di meja kami. Namanya Nadira dan Siska. Mungkin mereka berpikir, “kasian banget Alvin dapet cewek kayak Seanna.”

Aku nggak mau lebih jauh lagi bersama orang-orang ini. Bisa-bisa mereka memanfaatkan harta keluargaku.

“Oh, jadi lo tertarik dengan fotografi juga ya, Sen?”tanya Adit.

Aku mengangguk dan tersenyum seadanya.

“Eh, pasti kamu suka fashion kan?”tanya Tiara. Dari logat dan kata ‘aku’ ‘kamu’ yang dipakainya, kayaknya nih orang yang paling lugu.

Kali ini aku mengangguk dengan lebih bersemangat. Setidaknya orang-orang ini masih tau arti fashion.

“Besok, ada acara garage sale di tetanggaku. Dia punya banyak barang-barang unik. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku besok. Acaranya dari pagi sampai sore. Tapi kalau nggak mau kehabisan barang, ya harus dateng pagi.”

What? Garage sale? Excuse me, Ma’am, do you have any idea who am I? Gila kali, ya? Masa aku di suruh beli barang-barang dari garage sale? Jangankan dari garage, dari sale di toko-toko aja enggak. Bagiku barang sale itu barang yang nggak bermutu dan udah nggak laku lagi.

Sebelum aku sempat menolak, Alvin sudah menjawab duluan. “Wah, seru, tuh. Ikut aja, An. Nanti aku yang anter.”

Aduh, kalau udah Alvin yang ngomong… “Nggak usah, nggak usah. Aku kan bisa bareng Tiara aja berdua. Iya kan, Tir?”

Tiara mengangguk sebagai jawabannya.

“Lagian nanti kalau kamu ikut, kita pasti lama,”aku menambahkan.

Okay. No problem. Kalian juga pasti butuh ladies day.”

Tiara mengajak Nadia dan Siska, mereka juga setuju untuk ikut. Alvin jadi buat rencana sendiri dengan Adit dan Farhan. Kalau Alvin sih, sebodo amat. Mau dia ada acara kek, atau enggak kek. Nah aku? Harus bareng-bareng mereka? Hal pertama dalam seumur hidupku! Apa yang bakal Mami dan Papi bilang, tiba-tiba aja aku bergaul dengan orang-orang kayak mereka padahal sebelumnya bergaul dengan Rafel dan teman-temannya? Mungkin mereka nggak marah, tapi pasti mereka tetap menekankan tetap menjalin hubungan baik dengan sesame socialite. Apa lagi kalau bukan untuk kelancaran bisnis?

Setelah selesai berbincang-bincang, Siska, Nadira, Tiara, Adit, dan Farhan pamit duluan. Lalu aku dan Alvin memutuskan untuk cari makanan di mall. Thanks God! Untungnya di mall! Tapi semoga nggak ketemu Rafel lagi kali ini.

Tapi ternyata di mall pun bukan ide yang bagus. Karena aku langsung tergiur begitu melewati sebuah toko sepatu. Aku hanya bisa melihat beberapa sepatu yang dipajang di etalase depan. Sabar, Seanna…sabar… Ada Alvin, kamu harus jaga sikap. Selanjutnya ketika melewati toko tas langgananku, aku seperti tertarik oleh magnet. Rasanya ingin sekali masuk ke dalam sana. Setidaknya beli satuuuuuuuu saja.

Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangan Alvin, biar aku nggak lari masuk ke dalam toko mana pun.

Kami makan di food court. Which is, udah ketebak sama aku. Pastinya Alvin ngajak makan di sini. Di mana lagi coba? Kalau aja aku ama Rafel, aku pasti udah bisa belanja dari tadi, dia juga pasti udah traktir aku di restoran.

Setelah aku menghabiskan setengah makananku, aku sudah tidak tahan lagi. Bayangan dress, sepatu, dan tas tidak bisa berhenti. Akhirnya aku bangkit berdiri.

“Kamu mau ke mana?”tanya Alvin.

“Mmm…toilet. Kamu tunggu di sini aja, ya. Kalau emang aku kelamaan, nanti aku telepon.”

Tentu saja Alvin dengan mudahnya percaya.

Aku langsung memanfaatkan waktu sebisa mungkin. Memasuki toko sepatu, pelayan di sana yang sudah kenal baik denganku langsung menunjukkan koleksi baru mereka dan size-ku. Alhasil aku yang cuman niat beli sepasang, jadi beli dua pasang. Abis gimana? Kalau udah dilema antara dua barang yang aku suka, rasanya susah!

Selanjutnya aku masuk ke toko tas. Para pelayannya juga sudah kenal denganku (tentu saja, siapa sih yang nggak kenal dengan Seanna Handoko?). Mereka juga langsung menawarkan produk terbaru mereka. Kali ini aku hanya beli satu tas saja. Lalu selanjutnya ke toko pakaian. Kali ini aku langsung disambut sendiri oleh Denise, sang pemilik.

“Seanna, Baby!” Denise langsung berseru girang melihatku dan kami bercipika-cipiki. “Udah lama banget lo nggak ke sini.”

“Yeah. Stuck dengan kuliah. Gimana? Lancar semua?”tanyaku. Kulihat ke sekeliling toko. Butik Denise memang tidak pernah padat. Tapi pengunjungnya selalu mengalir terus dan tidak pernah sepi.

“Lancar doooong... Bentar, ya. Gue tunjukin koleksi terbarunya.” Denise ngeloyor pergi, berbicara dengan salah satu anak buahnya, dan kembali datang dengan banyak pakaian di tangan anak buahnya. “Gue yakin ini semua taste dan size lo. Silahkan lo pilih. Mau lo ambil semuanya juga nggak papa.” Denise nyengir.

Aku melihat satu bersatu pakaian itu. Menempelkannya sebentar pada tubuhku dan yakin kalau semuanya pas dengan sizeku. Aku memilih dua, satu dress berwarna orange, dan satu lagi atasan berwarna biru.

“Gimana kabarnya Adyani?”tanya Denise ketika aku sedang membayar di kasir.

“Baik. Tapi lo punya advice nggak, Nis? Bayangin aja, suaminya kerja enggak, tapi masih sekolah. Dia di rumah aja gitu, sendirian. Kasian nggak, sih? Kalau ada apa-apa gimana? Mertua dia juga tega banget. Masa lagi hamil ditinggal sendiri ama pembantu dan supir doang? Bisa apa coba mereka? Sekolah aja enggak kali.”

Aku menerima belanjaanku yang diberikan tukang kasirnya dan tersenyum saat dia mengucapkan terimakasih.

“Ya ampun, Sen. Gimana, ya? Pasti dia nggak mungkin balik sekolah lagi kan?” Denise berpikir sebentar. “Gini, deh. Gue tau banget dia cinta mati ama yang namanya buku. Gimana kalau gue angkat dia jadi manager di toko buku gue? Setidaknya dia ada kerjaan, nggak sendiri aja di rumah, dan kalau ada apa-apa ada yang nolongin. Gue juga bisa check keadaan dia setiap saat. Lo juga bisa dateng jenguk dia, tanpa harus nggak enak ama keluarga Tristan atau ama Adyani sendiri. Bilang aja mau nyari buku.”

Aku menjentikkan jariku. “Ide bagus, tuh. Nanti lo aja yang telepon dia, ya. Jangan bilang gue yang minta lo bantuin. Bilang aja lo emang lagi butuh orang di toko buku lo, yang tau banyak tentang buku dan bisa lo percaya. Kalau bilang gue yang minta, bisa-bisa dia nggak mau.”

Okay. Lo terima beres aja.”

“Oh, Denise! You’re the best!”

“Seanna?” Aku kaget mendengar suara familiar itu. Bukan Alvin, tapi Rafel.

“Ra-Rafel?”

Rafel merangkul dan mengecup pipiku, seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami. “Hei, Babe. Apa kabar?”

Super.” Entah kenapa aku kurang bersemangat untuk bertemu dengan Rafel. Padahal baru kemarin aku berharap dia meneleponku. Sekarang, bahkan dia berada di hadapanku! Tapi entah kenapa aku seperti tidak menginginkannya. Gimana kalau Alvin liat? Terus Rafel tau soal aku dan Alvin? Terus Alvin tau soal aku dan Rafel? Tau juga soal rencana Safira? Aaaaaaa! The end of the world!

“Kamu ngapain di sini?”tanyaku.

“Mau ketemu Denise. Mau minta pesenannya Fahrani.”

“Oh, iya. Bentar ya, gue ambil.” Denise kembali ngeloyor entah ke mana.

“Jadi? Punya waktu untuk ngopi-ngopi dulu?”

“Mmm…sorry, Fel. Gue buru-buru. You know. That sucks collage things!”

Rafel tertawa. “Okay, Honey. Call me, kalau kamu ada waktu, okay?”

Sure. Duluan ya, Fel.”

Aku pergi keluar dari toko Denise, tanpa melihat ke belakang lagi.

Saat aku kembali ke food court, Alvin masih di sana, menunggu. Makanan dan minumannya sudah habis. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam menunggu menatap ke sekelilingnya.

Rasa bersalah langsung menyerang diriku. Aku enak-enakan shopping, ngobrol sama Denise, ketemu Rafel, dan dia di sini. Nggak ada kerjaan, nungguin aku.

Aku menatap kedua tanganku yang membawa kantong belanjaan. Gara-gara barang-barang ini, aku sampai harus bohongin dia? Buat dia nunggu? Padahal kalau aja aku jujur, dia bisa ikut, nggak harus bengong kayak orang bego gitu.

Aku menarik napas dalam-dalam, siap menerima konsekuensi kalau dia marah dan memutuskan hubungan kami. Itu artinya aku harus cari cowok baru. Tapi siapa yang peduli? Ini kan hanya permainan Safira. Kalau emang kami putus ya, udah. Tunggu aja 3 bulan, abis itu balik lagi ama Rafel.

“Vin,”kataku lirih.

Alvin langsung menoleh ke arahku. Dia bangkit berdiri dan mendekatiku, memegang wajahku dengan kedua tangannya. Dia menatap mataku. Sorot matanya begitu khawatir. “Ya, ampun, Seanna! Kalau aja kamu nggak balik dalam waktu 5 menit, aku udah mau lapor polisi. Kamu dari mana aja?”

I really am sorry, Vin. Sebenernya…” Aku menunduk menatap belanjaanku.

Begitu melihat belanjaanku, Alvin langsung menghela napas. “Kamu kan bisa bilang. Jangan kamu pikir aku bakal marah kalau kamu belanja.”

Aku menatapnya. “Kamu nggak marah?”

Dia menggeleng.

Nggak marah? Padahal aku sudah siap-siap dengan segala omelan yang akan keluar dari mulutnya. Tapi ternyata hanya kekhawatiran.

“Kenapa aku harus marah? Kalau memang kamu pengen belanja, kamu kan bisa bilang. Kalau memang kamu keberatan aku liatin kamu belanja, aku bisa nunggu di sini, nggak papa kok. Tapi kamu bilang. Kalau kamu pergi lama kayak tadi. Handphone kamu nggak bisa dihubungin. Nggak mungkin kan aku masuk ke toilet wanita?”

Aku meletakkan belanjaanku di atas meja dan mengambil handphone dari dalam tasku. Ternyata mati. “Aduh, HPku battery empty. Sorry banget, Vin. Aku nggak maksud buat khawatir. Aku kira kamu bakalan marah kalau aku. Aku kira kamu nggak suka cewek yang suka shopping hambur-hamburin uang kayak aku. Aku pikir―”

“Aku nggak bakalan marah sama kamu cuman karena kamu hambur-hamburin uang atau apa. Itu ‘kan uang kamu, terserah mau kamu pake buat apa. Aku bakal marah, kalau setiap kali kamu buat aku khawatir. Kebahagiaan dan keselamatan kamu, itu prioritas pertama buat aku. Bukan uang kamu.”

Aku kontan memeluknya. “Maaf, maaf, maaf, Vin. Aku janji nggak bakalan kayak tadi lagi.”

“Nggak papa, An. Terus sekarang mau gimana? Masih mau belanja lagi?”

Aku menggeleng.

“Nggak papa kalau emang kamu mau belanja―”

“Nggak, Vin. Lagian kan besok masih ada garage sale.” Walaupun aku nggak niat buat beli juga, sih.

Aku, Tiara, Nadira, dan Siska janjian di kampus. Tadinya pada mau naik bus, tapi dengan cepat aku langsung menawarkan mobilku. Mending Trans Jakarta, ini Kopaja! Mending ada Alvin, nah ini adanya mas-mas bau!

Tiara duduk di depan bersamaku, menunjukkan jalan menuju rumahnya. Sedangkan Nadira dan Siska duduk di belakang. Mereka tidak sedingin kemarin. Sepertinya mereka sudah bisa sedikit menerima kehadiranku.

Garage sale itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang saja, yang sepertinya juga berasal dari tetangga sekitar.

Tapi satu yang aku akui, barang-barangnya memang unik.

Tiara memperkenalkanku dengan tetangganya yang mengadakan garage sale ini, Vania. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah: dia designer. Dia berbeda dengan Denise. Denise lebih terlihat seperti sosok yang charming, sedangkan Vania terlihat berbeda.

“Kenalin ini Seanna,”kata Tiara.

Kami berjabat tangan. “Seanna Handoko bukan?” Vania langsung nebak begitu aja.

Aku mengangguk.

“Wah, suatu kehormatan buatku. Kamu temannya Denise, ‘kan?”

Wah, ternyata orang ini temannya Denise? Pasti deh, si Denise. Dari ujung ke ujung temannya semua. “Oh, iya. Denise sahabatku. Kenal juga, ya?”

“Iya. Kita satu kampus. Semua barang-barang di sini kami yang merancang. Karena sudah over populated in my closet, jadi aku keluarin semua.”

Jadi? Barang-barang di sini…yang aku bilang barang sale nggak mutu itu? Okay. Cukup kemakan omongan sendiri.

“Seperti janjiku, aku bawa tiga temanku ke sini.” Tiara menunjuk ke arah Siska dan Nadira yang sedang melihat-lihat. “Jadi bisa dapet potongan harga yang lebih besar ‘kan?”

Vania tersenyum. “Tentu aja. Aku kasih kamu satu barang gratis di antara semua yang ada di sini. Apalagi karena sudah membawa seorang dari Handoko.”

Tiara langsung kegirangan dan segera bergabung dengan Siska dan Nadira.

So? Ada yang kamu suka?”tanya Vania.

“Mmm…still looking around.” Aku menyentuh beberapa kalung yang digantung di atas meja di dekatku. “Nggak nyangka kamu deket sama Denise. Kadang-kadang aku kagum sama Denise, she’s super.”

Yeah. Dia nggak takut coba sesuatu yang baru. Itu yang aku kagum dari dia.” Vania memperhatikanku yang masih melihat-lihat kalung. “Boleh aku pilihkan pakaian dan segala aksesorisnya buat kamu? Aku pasti kasih discount yang besar.”

Aku tersenyum dan mengangguk, walaupun tidak berharap terlalu banyak pada discount. Yang penting barang-barang di sini kan bagus, apalagi kalau sudah berhubungan dengan Denise, dijamin kualitasnya.

Aku mengikuti Vania menuju ke tempat pakaian-pakaian.

“Denise banyak cerita tentang kamu,”katanya sambil memilih-milih pakaian yang digantung. “Ternyata dia nggak salah.”

“Memangnya dia cerita apa?”

“Dia bilang, kamu adalah wanita yang cantik tapi keras kepala. Tapi kamu adalah customernya yang paling setia. Katanya kamu juga paling suka belanja. Makanya aku pengen sekali milihin sesuatu buat kamu.” Vania menoleh padaku. “Jangan marah pada Denise, ya.”

Aku mengibaskan tangan. “Enggak, kok. Aku nggak marah.”

Vania mengambil sebuah dress berwarna hijau limau dan memberikannya padaku. “Kurasa ini sizemu. Tubuhmu bagus, aku yakin kamu akan terlihat cantik mengenakan apa pun. Aku pilih yang berwarna cerah, karena kamu cocok dengan itu.”

Aku memperhatikan dress di tanganku. Off shoulder, dengan panjang di atas lutut. Ada hiasan kupu-kupu yang tidak kasat mata di bagian atas dan ujungnya. Wow. Pilihan yang bagus. “Thank you so much. Ini bagus banget.”

“Itu karya pertama aku dan Denise.”

Aku tercengang.

“Dan kamu tau apa yang membuat Denise terinspirasi? Yaitu kamu. Dia bilang dress ini terinspirasi dari kamu.”

Mau nggak mau aku tersanjung juga. Apalagi part yang Denise bilang dress ini terinspirasi dariku. Nggak nyangka ternyata Denise romantis juga, ya? “Tapi nggak apa-apa kalau aku ambil?”

Vania menggeleng. “Memang itu seharusnya buat kamu.”

Vania lalu memilihkan sepatu, gelang, kalung, anting, dan jepit rambut yang sesuai dengan dress tadi. Dia tidak kalah hebat daripada Denise. Hanya saja Denise tidak terpaku pada fashion. Dia orang yang tidak pernah puas dan selalu mencoba yang baru. Sedangkan Vania keliatannya adalah tipe yang mendalami satu bidang.

“Kamu buka butik?”tanyaku.

Vania menggeleng.

“Sayang, lho. Taste kamu bagus sekali. Kenapa nggak coba buka butik aja?”

“Biaya belum ada.”

I really am sorry. I didn’t mean it.”

Aku menatap rumah Vania. Nggak besar dan nggak kecil juga. Bahkan sepertinya dia mampu buat butik.

Tapi lalu Vania tersenyum. “Tapi sekarang aku lagi coba join sama Denise. Aku udah masukin beberapa karyaku ke butik-butik dia. Bahkan mungkin kamu udah pernah beli.”

“Wah, bagus juga. Kalau kamu nggak keberatan, aku boleh pesan secara khusus?”

Vania yang sejak tadi sibuk membungkus belanjaanku, langsung menatapku dengan mata berbinar. “Tentu aja. Belum pernah ada yang pesan. Kamu adalah orang pertama. Dan aku akan memberikan yang terbaik pada yang customer pertamaku. Kamu mau model apa?”

“Terserah. Aku yakin dengan taste kamu.”

Ternyata seseorang yang bukan socialite tidak seburuk yang aku kira.

Dalam beberapa hari saja, aku sudah bisa bergaul dengan teman-teman Alvin. Ternyata mereka menyenangkan. Dan yang terpenting mereka baik. Aku tidak lagi melihat apa yang sebelumnya aku anggap tentang mereka. Tidak satu pun yang mengandalkan hartaku. Bahkan mereka tidak membicarakan soal statusku. Mereka juga tidak membahas soal Rafel, seperti yang teman-teman socialiteku selalu lakukan. Mereka memberikanku privacy. Tidak mendesakku kalau memang aku tidak mau bercerita. Dan membuka lebar-lebar telinga mereka jika aku ingin bercerita.

Tapi aku masih membatasi pergaulanku dengan di luar socialite. Aku belum tau benar tentang mereka yang lain.

“Besok kamu ada acara?”tanya Alvin ketika mengantarku pulang pada Jumat malam. Kami baru saja belajar photography dengan model. Tentu saja yang jadi model tidak jauh jauh. Yaitu Siska dan Nadira. Tiara terlalu malu sampai-sampai dia kabur.

“Ada,”jawabku.

Alvin langsung terlihat kecewa.

“Acara sama kamu,”jawabku sambil nyengir. “Apa tuh acaranya?”

“Aku mau ajak kamu ke Bandung, kenalan sama orangtuaku. Kamu mau?”

Orangtua? Kenalan? Nggak mungkin seserius dan seformal itu kan? Nanti aku gimana cara putusnya kalau udah ampe bawa-bawa orangtua? Aduuuuuh!

“Nggak berlebihan ya, Vin?”

“Menurut aku enggak. Kan cuman kenalan, An. Nggak bakal lebih lah. Lagian kita juga pulang balik, kok.”

“Bener nggak macem-macem?”

Alvin mengangguk. “He-eh.”

Okay. I’m in.”

Ketika kami sampai di depan rumahku. Aku melihat ke arah garasi. Tidak ada mobil siapa-siapa kecuali mobilku. Berarti Dipta belum pulang, dan dapat dipastikan akan pulang malam. Papi sama Mami paling udah pergi entah ke mana lagi. Sedangkan Dafintha bisa jadi lebih bebas tanpa Papi, Mami, dan Adyani yang ngawasin kerjaannya. Berarti aman untuk bawa masuk Alvin ke dalam.

“Mau turun dulu, Vin?”aku menawarkan.

Sure.” Alvin memarkrkan mobilnya di depan rumahku.

Begitu masuk ke dalam rumah aku langsung berteriak memanggil Bi Titin. “Biiiiii Titiiiiin!”

“Heh, kamu kok teriak-teriak gitu, sih? Kan bisa manggil baik-baik,”Alvin berbisik.

“Kalau bisik-bisik dia nanti nggak denger.” Aku menghempaskan diri di sofa dan menyakan TV.

Bi Titin datang tergopoh-gopoh menghampiriku. “Ada apa, Non?”

“Vin, kamu mau minum atau makan apa?”

“Apa aja.”

“Bi, tolong bawain minuman apa kek gitu, ama makanan-makanan, ya. Sama saya mau milkshake vanilla, ice creamnya banyakin.”

Bi Titin manggut-manggut lalu pergi menuju dapur.

“Kamu kalau ada yang bisa dilakuin sendiri, kenapa nggak kamu lakuin sendiri aja?”tanya Alvin begitu Bi Titin sudah menghilang. Dia lalu duduk di sampingku.

“Selagi ada pembantu kenapa nggak dimanfaatin? Lagian keluargaku mempekerjakan para pembantu membuka lapangan kerja juga, tau?”

Alvin geleng-geleng kepala mendengar ucapanku.

Aku terus mengganti-ganti channel sampai aku berhenti di AXN yang lagi kembali menayangkan Early Edition. Walaupun aku udah nonton berkali-kali tetep aja nggak bosen.

Alvin mendekatkan dirinya padaku dan merangkulku. Jantungku seolah berhenti berdetak setiap kali dia menyentuhku. Padahal Rafel sekali pun sudah sangat sering melakukannya padaku, bahkan lebih dari sekedar sentuhan. Pada awal masa pacaran aku dan Rafel, aku memang merasakan hal-hal seperti ini. Tapi lama-lama seolah sensasi itu hilang. Tapi aku kembali mendapatkan sensasi itu dari Alvin.

Saat aku mendongak, wajah Alvin begitu dekat dengan wajahku sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya. Aku akan jadi orang yang terlalu lugu jika tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tangan Alvin yang melingkari bahuku, berlahan naik menuju wajahku. Berlahan disentuhnya wajahku mendekat padanya. Aku hanya bisa diam, terpaku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tau apa yang benar dan yang salah. Rasanya dunia berhenti berputar. Tidak peduli Early Edition yang aku suka setengah mati sedang diputar kembali. Tidak peduli sekarang kami berada di rumahku sendiri.

Dan rasanya aku menjadi wanita paling bahagia saat bibir kami bersentuhan.

Kedua tanganku merangkul leher Alvin, menarik tubuhku sendiri menekan tubuhnya. Alvin membuat tubuhku berbaring di atas sofa dan tubuhnya di atas tubuhku sedikit bersentuhan. Kedua tangannya berada di kedua sisi tubuhku, menahan tubuhnya agar tidak menimpa tubuhku.

Saat dia melepaskan bibirnya dari bibirku, napas kami sama-sama terengah-engah. Aku menatap wajahnya yang masih berada di atas wajahku. Lalu dia tersenyum. “You’re awesome.”

Aku tertawa kecil, penuh kebahagiaan. “I guess you’re the first saying that.”

Oh, God! I never thought that he’s such a good kisser! More than anyone. More than Rafel.

Lalu dia kembali menciumku.

Saat akhirnya kami bisa mengendalikan diri kami masing-masing, kami kembali duduk di posisi kami semula.

Sorry, I can’t handle it,”kata Alvin.

Aku tersenyum. “No problem. I like it.”

Bi Titin datang membawakan makanan dan minuman pesananku. Aku bersyukur sudah mengakhiri adegan tadi. Entah bagaimana jadinya kalau Bi Titin ampe ngeliat.

“Makasih ya, Bi.” Aku memandang Alvin, lalu berbisik setelah Bi Titin pergi. “Aduh, moga-moga aja si Bibi nggak liat yang tadi, deh. Kalau dia kena serangan jantung, kan repot tanggung jawabnya!”

Selanjutnya kami menghabiskan makanan dan minumannya, sambil menonton TV. Kadang-kadang Alvin masih suka steal kisses, tapi sebelumnya melihat-lihat dulu Bi Titin ngintip atau enggak.

“Aku pulang dulu, ya,”kata Alvin.

Oky doky! Besok jadinya gimana?”

“Jam 7 aku jemput kamu.” Alvin menjentikkan jarinya di hidungku. “Jangan telat, okay?”

Aku mengangguk.

Alvin menciumku untuk yang terakhir kalinya dan aku mengantarnya sampai pintu depan.

Is he my boyfriend? Kayaknya aku baru nyadar kalau dapat cowok yang super.

Oh, Gosh! Rafel! Aduh, gimana, nih? Barusan aku udah nyerahin diriku gitu aja ke cowok lain! Bahkan Rafel nggak pernah ngelakuin yang kayak tadi itu.

Steady, Seanna, steady. Itu khilaf! Khilaf! Siapa sih, yang nggak ketagihan dengan ciuman kayak tadi itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar