Keesokan harinya, aku berhasil bangun jam 6 dan sudah siap sebelum Alvin datang. Begitu Alvin datang aku langsung naik ke mobilnya, sebelum yang lain bangun. Kalau yang lain sampai bangun, susah lagi nanti ngasih alasannya.
“Tumben bisa bangun pagi,”kata Alvin begitu aku masuk ke mobilnya.
“Bangun siang salah, bangun pagi diprotes!”
“Hei, kok ngambek, sih?”
“Abisnya! Aku baru aja masuk kamu udah ngomong gitu. Bukannya―”
Alvin mendiamkannku dengan kecupan sekilas di bibirku. “Good morning, Princess.”
Aku tersenyum puas. “Nah, gitu, dong.”
Sepanjang perjalanan kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan. Mulai dari hal-hal yang nggak penting sama yang penting. Aku nggak berhenti-hentinya ngomel soal kecepatan menyetir Alvin di jalan tol. Aku bahkan sudah mengancam untuk melompat tapi Alvin malah tertawa sambil bilang, “mana berani kamu loncat!” Aku hanya bisa mendengus dan tidak membahas soal kecepatan lagi.
Kadang-kadang Alvin menepikan mobilnya, dan berhenti sesaat, hanya untuk sekedar menciumku, entah lama atau sekilas. Setelah dia melakukan hal itu 3 kali, akhirnya aku memprotes dan dia nggak ngelakuin itu lagi.
Alvin juga bilang, kalau nanti tugasku adalah megang kamera. Dia memberikanku kepercayaan untuk mendokumentasikan pertemuannya dengan keluarganya hari ini.
“Kok aku sih, Vin? Kamu kan tau kalau aku nggak bisa.”
“Abisnya siapa? Masa aku? Nanti aku nggak ke foto, dong?”
Aku nggak bisa membalas uacapannya, dan mau nggak mau menyetujuinya. Dia ini, kan yang nyuruh, bukan aku yang minta. Kalau emang jelek, ya salah dia. Salah sendiri ngasih kepercayaan ke aku, yan jelas-jelas dia tau aku nggak bisa fotografi.
Sesampainya kami di rumah orangtua Alvin, aku mulai nervous. “Gimana kalau orangtua kamu nggak suka sama aku, Vin?” Aku membayangkan pandangan tidak suka orangtua Alvin padaku. Siapa tau mereka tidak setujud engan statusku. Menganggap kami orang-orang socialite terdiri dari para koruptor dan sebagainya.
Alvin meremas tanganku, meyakinkan. “Tenang aja. Mereka nggak seperti yang kamu bayangin, kok.”
Ketika kami sudah berada di depan pintu rumah, Alvin menjaga jarak denganku. Dan aku langsung mengerti, kalau Alvin sungkan dengan hubungan fisik di hadapan orangtuanya. Well, jadi selama di sini aku harus tahan untuk nggak nyentuh dia.
Seorang bapak yang sudah terlihat cukup tua, dengan kacamata bulat besar, badannya yang kurus, rambutnya yang sudah menipis berwarna putih campur hitam, kemaja biru muda, dan celana hitam, membukakan pintu untuk kami.
“Alvin!”bapak itu langsung memeluk Alvin. Aku memperhatikan seksama garis wajahnya, dan aku yakin kalau itu adalah ayah Alvin. “Apa kabar kamu?”
“Baik, Yah. Ini kenalin, Seanna. Seanna, ini Ayahku, Suryo Hakim.”
Aku tersenyum dan mencium tangan Oom Suryo.
“Wah, ayo masuk masuk.””
Tanah rumah Alvin luas, hanya saja tidak sampai sebagian yang dibangun, sisanya dibiarkan menjadi taman. Rumahnya pun model rumah tua.
Selanjutnya aku menemui Ibu Alvin di ruang tamu. Sama seperti yang dilakukan Oom Suryo tadi, Tante Gianti memeluk Alvin penuh rindu khas seorang ibu lalu Alvin memperkenalkan aku padanya.
Awalnya mereka menanyakan mengenai perkembangan kuliah Alvin di Jakarta. Alvin menjawab semua pertanyaan mereka seperti sedang bercerita dengan teman. Begitu nyaman dan terbuka. Aku iri melihatnya. Andai saja aku bisa melakukan hal seperti itu bersama Papi dan Mami. Mereka biasanya hanya menanyakan beberapa hal saja, tidak tertarik untukku untuk menjelaskan.
Selanjutnya mereka bertanya-tanya padaku. Mengenai kuliahku, jurusan yang aku ambil. Mereka juge mananyakan soal keluargaku, tapi tidak menyinggung harta. Mereka menanyakan pekerjaan orangtuaku, mereka juga menanyakan tentang saudara-saudaraku.
Tante Gianti adalah sosok seorang ibu yang bijaksana. Dari nada bicaranya, kehangatan seorang ibu terpancar dari dirinya, membuat aku merasa nyaman. Padahal ini baru pertama kalinya aku bertemu dengannya.
Sedangkan Oom Suryo terlihat tegas, dan berwibawa. Tipe kepala rumah tangga yang bertanggung jawab.
Kami makan siang di rumah, dengan masakan Tante Gianti. Aku bersyukur Tante Gianti sudah selesai masak sebelum aku datang, jadi nggak ketauan kalau aku nggak bisa masak.
Dan berani sumpah masakannya lebih enak daripada buatannya Bi Titin! Kalau aku jadi Alvin, aku nggak bakalan amu pindah ke Jakarta. Bandung lingkungannya kan enak, dingin, rumahnya nyaman, tamannya asri, kedua orangtuanya amat sangat baik dan sempurna, masakannya enak, apalagi coba?
Tidak lupa juga aku mengabadikan momen-momen keluarga ini dengan kamera Alvin, seperti permintaannya tadi. Aku berusaha sebisa mungkin untuk mengambil foto dari angle yang tepat seperti yang sudah diajarkan Alvin selama ini. Tapi tetap saja bagiku hasilnya tidak bagus.
“Alvin, bisa bantu Ayah sebentar di taman belakang? Ada beberapa tanaman yang perlu dibenahi,”kata Oom Suryo.
Alvin mengangguk dan bangkit berdiri. Disentuhnya bahuku sekilas. “Bentar ya, An.”
Aku mengangguk sekali.
Sambil menunggu Alvin, aku membantu Tante Gianti membereskan meja makan. Kalau soal beres-beres sih, nggak terlalu ketara keahliannya. Tapi Tante Gianti langsung menebak, “pasti kalau Seanna di rumah, semua diberesin sama pembantu, ya? Maaf lho, harus repot-repot kayak gini.”
“Nggak apa-apa kok, tante. Namanya juga wanita, kan udah sewajarnya beres-beres kayak gini. Bedanya, kalau di rumah dikasih fasilitas pembantu, jadi sudah buat nggak digunainnya.” Aku nyengir. Kalau aja Alvin denger pasti dia udah ketawain aku.
Aku mengangkat piring-piring kotor ke dapur. Tante Gianti mencucinya dan aku mengelapnya.
Di atas wastafel terdapat jendela yang memperlihatkan pemandangan taman belakang. Alvin dan ayahnya sedang sibuk memindahkan pot ke sana ke mari. Memupuk tanaman dan segala macamnya. Oom Suryo tentu tidak bisa melakukan hal-hal itu sendirian lagi.
“Pernah merasa jenuh dengan, Alvin?” Aku terkejut degan pertanyaan Tante Gianti itu.
Aku mengggeleng, jujur. “Alvin anaknya seru, kok, tante. Saya belajar banyak hal dari dia.”
“Dia memang begitu orangnya. Kadang-kadang overprotective, bahkan sama Ibunya sendiri. Tadinya dia udah nggak mau pindah ke Jakarta. Tapi Ayahnya itu lho, maksa terus. Akhirnya dia pindah, deh. Tante sendiri berat buat ngelepas dia. Tapi kalau memang dia bisa mendapatkan yang lebih baik, kenapa enggak?”
Aduh. Emangnya overprotective mana sih, sama Ghaniya?
“Selain itu dia kadang-kadang sulit ditebak. Banyak orang yang juga memanfaatkan kebaikannya. Dia susah sekali untuk marah. Tapi kadang-kadang kalau moodnya lagi jelek, pasti semua orang kena omel. Itu dia kenapa dia cuman punya beberapa teman dekat.”
Memanfaatkan. Aku tersenyum sinis untuk diriku sendiri. Akulah orang yang memanfaatkan kebaikannya itu.
“Tante juga sempat kaget, waktu dia telpon ke sini dan cerita tentang kamu.”
Aku menoleh ke arah Tante Gianti. “Cerita tentang saya?”
“Ya. Dia bilang, dia sedang ada hubungan dengan seseorang. Dia cerita segalanya tentang kamu. Dia bilang kamu adalah anak yang cantik, pandai, tapi manja.”
Aku jadi malu sendiri.
“Seanna, Alvin tidak pernah membawa teman wanitanya ke rumah.”
Aku memandang Alvin yang sedang gotongan dengan Ayahnya memindahkan pot yang lumayan besar dan terlihat sangat berat ke sisi teras di belakang.
“Tante pikir, kamu pasti sudah tau artinya.”
Tante Gianti memberiakn piring terakhir dan aku mengelapnya tanpa memperhatikan piring yang aku pegang. Pandanganku tertuju pada Alvin. Dia nggak mungkin seserius ini, kan?
“Tapi kamu nggak usah tegang seperti itu. Dia belum bilang apa-apa sama Tante dan Oom.” Tante Gianti mengusap-usap punggungku. “Tante yakin akan pilihan Alvin. Kamu anak yang baik, Tante bisa lihat itu.”
Bagus. Sekarang aku sudah menipu ibu dan anak sekaligus. Anak yang baik? Kalau saja Tante Gianti tau apa tujuanku berhubungan dengan Alvin. Hanya untuk sekedar mempertahankan namaku, nama Rafel. Anaknya tidak lebih sebagai alat. Dan apakah Tante Gianti masih bsia menyebutku sebagai anak yang baik setelahnya?
Kami pulang saat matahari sudah tenggelam. Kami pun pamit pada Oom Suryo dan Tante Gianti.
“Jaga dirimu baik-baik ya, Vin,”kata Tante Gianti sambil memeluk anaknya. Matanya berkaca-kaca.
Sedangkan saat Alvin mencium tangan Oom Suryo, aku bisa melihat Oom Suryo berusaha untuk tetap terlihat tegas. “Ingat tujuan kamu di Jakarta, Vin. Belajar yang bener.”
“Iya, Yah. Tenang aja,” Alvin menatapku.
Saat aku hendak mencium tangan Tante Gianti, beliau malah menarikku ke dalam pelukan hangatnya. Pelukan seorang ibu. Yang selama ini sangat aku inginkan. “Hati-hati ya, Seanna. Bilang Alvin jangan ngebut-ngebut.”
Aku memberi pandangan pada Alvin mau mengatakan, ‘tuh denger apa kata nyokap lo sendiri’.
Lalu saat aku mencium tangan Oom Suryo beliau memberikan pesan yang terus terngiang di telingaku, “jangan pernah lari dari masalah, Seanna. Jujurlah, mulai dengan perasaanmu sendiri.” Seolah menyindirku, yang memanfaatkan anaknya.
Alvin tidak sengebut saat kami berangkat tadi. Sepertinya kata-kata Tante Gianti cukup berpengaruh.
“Tumben lho, tadi Ayah bisa berkata sebijak itu sama orang lain.” Alvin tersenyum sambil memandangku sekilas.
Aku hanya membalas senyumannya dengan ragu-ragu. Aku rasa Oom Suryo bisa baca pikiran orang, deh!
“Kita mampir makan bentar dulu ya, An,”kata Alvin sambil menunjuk ke arah Rest Area di depan kami.
Saat kami masuk, awalnya aku kira kami akan makan di Restoran Sederhana yang ada di sana, tau-taunya mobil Alvin tidak berhenti. Dia lalu mermarkir mobilnya di dekat toilet.
“Kamu mau ke toilet dulu?”tanyaku.
Alvin mematikan mesin mobil. “Enggak. Kita makan di situ,” Alvin menunjuk ke sebuah restoran. Restoran itu tanpa pintu, hanya ada atap, tembok yang mengelilinginya kecuali bagian depannya. Tertulis “Soto Sadang”.
“Vin, kenapa nggak di Sederhana aja? Itu kan full AC, lebih higienis lagi.”
“Jangan liat tempatnya aja. Sotonya engak banget, lho.”
“Aku di mobil aja, deh.”
Alvin mendengus. Dia turun dari mobil dan menguncinya.
Aku memukul-mukul kaca jendela, sampai Alvin menengok padaku. “ACnya nyalain doooong!”
“Irit bensin!”
Kalau kepanggang di sini sih, siapa juga yang tahan?
“Gue mau turun, deh!”
Alvin tersenyum sambil membuka lagi kunci mobilku. Aku turun dan menghampiri Alvin. Saat kami mendatangi meja yang akan kami duduki, lalat-lalat langsung berterbangan.
“Vin! Liat tuh, jorok!”aku berbisik dengan tegas di telinga Alvin.
Tapi Alvin tidak memperdulikan ucapanku. Ketika dia sudah siap untuk duduk di atas kursi yang terlihat kotor, dengan sigap aku menahannya, dan mencari-cari tisu di dalam tasku. Aku ragu tisu di atas meja itu bersih atau tidak. Lalu aku melap tempat duduk Alvin dan tempat dudukku sendiri dan membiarkannya di sana sebagai alas dudukku.
Ketika pelayan datang membawakan menu, Alvin langsung memesan sedangkan aku tidak. Tentu saja! Aku yakin makanannya 100% tidak bersih.
Aku meletakkan tas dan tanganku di pangkuan, nggak berani menyentuh meja yang jelas-jelas bekas dihinggapi beratus-ratus lalat dari berjuta-juta pelosok.
“Vin, kan ada restoran yang lebih bersih,”kataku.
“Aku lagi pengen banget soto, Seanna. Lagian sotonya enak kok.”
Ketika pesanan Alvin datang, si mas-mas pelayan mengedipkan matanya padaku dan aku langsung memberikannya pelototan maut. Apa perlu aku pake name tag dengan tulisan “Handoko” besar-besar biar dia nyadar?
“Beneran nggak mau, An?”tawar Alvin.
Aku menggeleng.
Alvin menyeruput sedikit kuah sotonya. “Enak lho.”
“Did I tell you before, that I’m a vegetarian?”
“Oh, ya? Nggak deh kayaknya. Aku tau kamu bukan vegetarian.”
Aku berdecak. “Mulai detik ini, aku jadi vegetarian!”
“Kalau emang nggak mau ya, nggak papa, An. Nggak usah sok jadi vegetarian.”
Alvin mulai memakan sotonya. Aku memandangnya jijik. “Stop it, Vin!”aku berbisik. “Kalau kamu makan lagi, I’ll never kiss you again!” Itu tuh, penuh bakteri! Iiiih.
Alvin malah membuka mulutnya lebar dan memasukkan satu suap ke dalam mulutnya. “Try if you can!”
Aku baru saja mau menyender di kursi itu, tapi mengurungkan niatku. Bisa-bisa kuman yang nempel jadi lebih banyak lagi.
Setelah Alvin selesai makan, aku langsung bersyukur. Cepat-cepat aku menuju mobilnya tapi emosiku belum reda juga.
“Mau lo tuh, apa sih? Lo udah pernah bawa gue ke gunung sampah, sekarang bawa gue ke tempat yang jelas-jelas kumannya di mana-mana kayak gini! Lo juga pernah bawa ke padang yang indah tapi tau-taunya nyesatin! Semuanya ngerepotin gue! Dan lo makan makanan dari tempat ini! Lo mau ngebunuh gue dengan kuman-kuman itu apa?”
Alvin menyalakan mesin mobilnya dan menatap tajam ke arahku. “Can you just shut up?”
“Shut up?” Suaraku meninggi. “Shut up!? Apa tadi lo bilang?”
“Seanna! Please!” Alvin menggenggam stir mobilnya dengan keras. Rahangnya mengeras, pandangannya lurus ke depan, dan kecepatan mobilnya naik berlahan.
Berani-beraninya dia bentak aku! Emang dia pikir dia siapa? Bukannya minta maaf udah bawa aku ke tempat yang penuh kuman kayak tadi. Atau setidaknya biasa aja dong, nggak usah marah-marah.
“Mending gue tidur daripada denger bentakkan lo itu!”
Aku memalingkan wajah dan memerosotkan posisi dudukku.
Ngantuknya bukan main! Bangun pagi-pagi, di Bandung bantuin ini itu, belum lagi harus marah-marah sama orang di sampingku ini! Bener-bener nguras tenaga! Tau gitu ngapain aku bela-belain bangun pagi? Mending bangun siang aja sekalian! Biar dia marah-marah, kesel, gondok, bunuh diri, ngapain kek!
Alvin menyalakan player mobilnya dan sebuah lagu mengalun. Aku tidak mengenal lagu siapa itu, tapi begitu aku memperhatikan liriknya, seolah Alvin ingin mengatakan semua itu padaku.
Maafkan kubila ku kurang romantis
Tak segombal lelaki lain
Memang diriku tak penuh kejutan
Tak mampu guncangkan dunia
Namun kau pun tahu hati ini hanya untukmu
Namun kau pun tahu ku tak dapat hidup tanpa dirimu
Aku baru saja mau membuka mataku dan sekedar menoleh atau melirik padanya. Tapi tangan Alvin menggenggam tanganku dengan erat.
Kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin
Dan akan kuberikan lebih dan lebih
Sampai akhir hayat nanti
Kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin
Dan akan kuberikan lebih dan lebih
Sampai akhir hayat nanti
Air mataku serasa mau tumpah. Aku tersadar sebenarnya, siapa yang bersikap seenaknya di sini. Aku udah memanfaatkan dia. Harusnya aku berkorban sedikit buat dia. Toh, tadi aku juga nggak makan makanan bakteri itu kan? Aku cuman disuruh tunggu, duduk manis, masa begitu aja aku marah?
Percayalah padaku cinta ini takkan pernah mati
Karena hanya padamu tlah aku temukan
satu cinta yang tulus dan jujur untuk diriku
(Ku Cinta Kau Lebih Dari Yang Kemarin – Abdul & The Coffee Theory)
Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku membuka mataku, mematikan player dan berteriak, “berhenti sekarang!”
Alvin menatapku bingung dan menepikan mobilnya ke pinggir. “Kamu kenapa, An?”
Air mataku semakin deras mengalir. Alvin menarikku ke dalam pelukannya dan mengelus-elus punggungku. “Hei, kenapa kamu?”
Aku masih belum kuat untuk menjawab. Lebih tepatnya malu. Kami terus dalam keadaan seperti itu dalam beberapa menit. Sampai hanya isakkanku saja yang tersisa, aku berbicara, “maafin aku, Vin. Aku tau aku salah.”
“Nggak usah dipikirin, Seanna. Ini juga salahku. Kenapa aku maksain kamu untuk ngelakuin suatu hal yang nggak pengen kamu lakuin. Harusnya aku lebih ngerti kamu.”
Aku melepaskan diri dari pelukan Alvin dan menatapnya. Kuhapus sisa air mataku dengan punggung tangan. “Kamu sama sekali nggak salah. Aku terlalu manja. Terlalu emosional. Padahal kamu selama ini udah kasih aku lebih.”
Alvin membelai wajahku dengan sebelah tangannya. “It’s okay. Setiap masalah, nggak ada yang cuman satu sisi yang salah, pasti dua-duanya salah.”
Aku mengangguk.
Alvin menciumku. Ciuman yang terasa begitu lembut dan menenangkan. Lalu dia tersenyum geli. “You said before, that you wont kiss me again.”
Aku ikut-ikutan tersenyum dan kembali memeluknya. “Sekali lagi maafin aku, ya. Kamu bisa tegur aku kalau memang sifatku udah kelewatan.” Bagaimana pun uga dia sudah bersikap terlalu lembut padaku selama ini.
“When to spent night with me tonight?”
Aku memandangnya. “Di mana?”
Alvin menebar pandangan ke mobilnya. “Aku rasa mobilku cukup besar, kan?”
Aku mengangguk setuju.
Alvin kembali menjalankan mobil, mencari tempat parkir untuk mobilnya semalaman ini.
Saat kami melewati kacang rebus, tiba-tiba aku jadi ingin. Apalagi aku belum makan malam ini. “Vin, Vin,”kataku sambil menepuk-nepuk bahunya. “Itu ada kacang rebus. Aku pengen.”
Alvin menepikan mobilnya.
Aku membuka jendela dan berteriak pada si Bapak penjual kacang. “Pak! Beli kacangnya, ya!” Aku menyodorkan uang 20 ribu. “Nih, 20 ribu ya, pak!”
“An, 20 ribu? Buat apa sebanyak itu?”
“Kan cemilan buat nanti malem. Daripada kita starving? Mau cari jajanan di mana kalau udah tengah malem?”
“Good idea.”
Setelah mendapatkan kacangnya, Alvin kembali menjalankan mobilnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke padang tempat aku dan Alvin pertama kali pergi. Di sana tidak ada orang dan bahkan warna kuning dari padang itu sudah tidak terlihat lagi karena gelap.
Alvin mematikan mesin mobilnya. “Aku kira kita udah dapet tempat.”
Kami turun dari mobil dan duduk di atas kap mobil Alvin yang masih terasa hangat sambil menikmati kacang rebus.
“Ini tempat kesukaan kamu, ya?”tanyaku.
“Bisa dibilang gitu. Nggak ada tempat kesukaanku yang secara spesifik, sih. Photographer kan suka banyak tempat. Kamu sendiri? Di mana tempat kesukaan kamu?”
Aku berpikir sejenak. “Kalau lagi mumet, aku paling suka ke Hullabaloo. Tapi itu setelah aku cukup umur. Sebelum cukup umur aku suka main ke atap gedung Handoko Group. Bukannya aku pengen banget kerja di sana lho, tapi enak aja di sana. Bisa berpikir tenang, bisa teriak sepuasnya! Nggak usah jauh-jauh ke gunung, deh.”
Alvin tertawa. “Kamu aneh juga, ya.”
“Yah, dari Jakarta bintang udah nggak keliatan lagi, ya?”kataku sambil melihat ke langit.
“Kamu suka bintang?”
“Suka. Semua sepupuku yang cewek, juga suka. Bukannya semua cewek emang gitu, ya?”
“Oh, ya? Mau cerita soal sepupu-sepupu kamu itu?”
Aku langsung bersemangat. Aku senang jika ada orang yang menanyakan soal sepupu-sepupuku. Jarang ada yang begitu. Aku senang bercerita tentang mereka. Karakter kami yang berbeda tapi kami masih tetap nyambung satu sama lain. Kami berharap kami tetap akan solid sampai kapan pun. Tidak seperti orangtua kami yang sepertinya terlalu sibuk untuk memikirkan kebersamaan.
“Cucu Nenek Runi yang paling tua adalah Ghaniya. Dia yang paling overprotective di antara kami. Apalagi ke adik-adiknya, Dya dan Zandy. Kayaknya dia mengidap syndrome gitu kali, ya? Kadang-kadang aku serem liat dia, melindungi orang sampai keterlaluan. Lalu yang kedua Danar. Keliatannya aja dingin, apalagi sama orang yang belum kenal baik sama dia. Tapi sebenernya dia baik, kok. Sangat dewasa dan bijaksana. Banyak yang bilang dia gay, tapi ternyata enggak tuh, karena dia udah punya tunangan. Yang ketiga Dafintha, kakakku. Yang seperti kamu ketahui, dia gila banget sama musik. Kalau aja kamu tau, gimana susahnya orangtuaku buat maksa dia masuk Handoko Group.”
“Memangnya setiap anggota keluarga kamu, harus masuk Handoko Group?”
“Enggak juga, sih. Kalau misalnya keluarganya Oom Dhimas dan Oom Hariadi bisa milih. Mereka mau masuk Handoko Group atau perusahaan milik keluarga Ayah mereka. Tapi mereka kebanyak milih masuk Handoko Group. Lagipula keluarga Prasetyo dan Kusuma selalu bekerja sama dengan Handoko Group.”
Alvin merangkul tubuhku, dan menempelkan pipinya di kepalaku. “Kalau misalnya, aku masuk ke keluarga kamu, apa aku juga harus masuk ke Handoko Group.”
Tubuhku menegang.
Alvin berpikiran sampai ke sana?
“Kurasa itu tergantung kemauan kamu.”
“Menurut kamu? Apa aku cocok buat berada di salah satu ruangan di Handoko Building? Pakai jas, merintah orang?”
Aku menatap wajah Alvin. Dia ganteng, nggak ada jelek-jeleknya. Berbeda sama wajahnya Rafel yang memang sudah terkesan nakal, menurutku Alvin lebih charming. “Cocok, kok. Emang kamu minat? Kalau kamu minat, dari sekarang aku bisa kok, promosiin kamu ke Papi.”
“Nggak, kok. Aku lebih tertarik untuk buat usaha sendiri. Aku pengen buat gallery foto yang besar.” Alvin menceritakan keinginannya sambil menatap ke langit dengan mata berbinar.
Aku jadi teringat kata-kata Dya yang bercerita padaku soal Bagas. “Dia bilang, dia mau buat usaha sendiri. Semua orang tentu raguin dia, apalagi Ayah dan Ibu. Tapi menurut aku, dia pasti bisa. Dia punya potensi.” Sepertinya Alvin dan Bagas adalah sosok yang hampir sama.
“Bagas juga gitu.”
Alvin menoleh. “Bagas?”
“Bagas cowoknya, Dya. Dia sama seperti kamu. Sama-sama suka fotografi dan mau buka usaha sendiri.”
“Wow. Kapan-kapan kamu harus nemuin Bagas Bagas ini sama aku.” Bagas mencium pipiku lama dan dalam. “Kamu belum cerita soal cita-cita kamu.”
“Aku? Mmm…apa ya? Sebenernya sih pengen jadi designer. I love fashion. Tapi Papi dan Mami nggak pernah nanya tuh aku mau apa. Yang mereka tau aku akan bergabung dengan Handoko Group nantinya. Sama aja kayak Dafintha.”
“Kamu nggak mau memperjuangkan cita-cita kamu?”
“Buat apa? Nenek Runi selalu menyebut Dafintha pemberontak. Aku nggak mau jadi yang selanjutnya.”
“Tapi kamu berhak mengutarakan keinginan kamu sendiri.”
“Nobody cares!”
Alvin menangkup daguku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya. “I care! I care everything about you! Kalau memang kamu ingin, kamu harus kejar! Nenek kamu salah. Dafintha bukan pemberontak. Dia cuman ingin menjalankan apa yang dia ingin. Itu hidupnya, ini hidupmu. Bukan hidup Handoko Group, nenekmu atau siapun. Kalau kamu menyesal, kamu yang akan ngerasain. Bukan orang lain.”
“Tapi aku masih bisa fokus di design juga. Sama seperti Dafintha yang masih nyelingin musik di antara jam kerjanya.”
“Sekarang aku mau tanya, apa itu maksimal? Apa Dafintha suka dengan apa yang dia lakuin? Dan apa dia bisa?”
Aku menggeleng. “Dafintha paling males kalau ke kantor. Selama ini dia cuman dibantuin Adyani. Tapi sejak Adyani hamil, dia nggak ada lagi yang bantuin.”
“Kamu mau jadi seperti dia? Tergantung sama Adyani? Males malesan, setengah-setengah?”
“Aku nggak punya pilihan. Nggak ada yang kasih aku pilihan.”
“Seanna, aku yakin kamu nggak selemah itu. Kakak kamu udah kasih contoh. Dia pasti nggak mau kalau kamu melakukan kesalahan yang sama.”
“Aku akan pikirin lagi.”
“Udah mulai dingin, An. Masuk, ya.”
Aku membuang bungkus kacang yang sudah kosong sembarangan ke tanah dan masuk ke bangku belakang mobil Alvin.
Keesokan harinya begitu aku bangun dipangkuan Alvin, aku langsung mendapatkan morning kissku.
“Morning, Princess.”
Aku tergelak dan membalas ciumannya. “Morning, Prince. So, what we gotta do today?”
“Mmm…let me see… Yang jelas aku harus anter kamu pulang. Aku nggak mau keluarga Handoko panik karena Tuan Putri mereka aku culik.” Alvin memencet ujung hidungku gemas. “Udah punya alasan yang bagus kenapa kamu nggak pulang semalam?”
“Emangnya perlu, ya? Papi sama Mami dijamin nggak tau kalau semalam aku nggak pulang. Dipta ama Dafintha mana peduli. Paling yang biasanya nanya Adyani. Tapi sekarang dia udah nggak tinggal di rumahku lagi. So? Masih perlu alasan?”
“I guess not. Gimana kalau kita cari sarapan dulu? Aku tau tempat bubur ayam yang enak di deket sini.”
Aku memandang Alvin curiga.
“Tenang aja. Nggak bakal sekotor yang kemarin.”
“Nggak sekotor? Berarti tetep aja kotor!”
Alvin memutar bola matanya. “Kuman kan di mana-mana, An.”
Aku tidak membalas ucapan Alvin lagi. Daripada merusak pagiku, lebih baik aku mengalah saja untuk sekali ini.
Tempat bubur ayam yang dimaksud Alvin ternyata hanya sebuah warung kecil di pinggir jalan. Awalnya aku ingin protes lagi, tapi mengingat kejadian kemarin, aku lebih baik diam aja. Daripada ujung-ujungnya dia masang lagu penyesalan lagi, aku jadi malu, nangis, susah minta maafnya? Ribet lagi nanti masalahnya.
Tapi emang bener sih, bubur ayam di sini enak banget. Paling enak yang pernah aku makan mengalahkan buatin Bi Titin sekalipun.
“Gimana kalau hari ini, aku ikut kamu aja. Terserah kamu mau ke mana,”kata Alvin setelah kami selesai makan.
Aku memicingkan mata menatap Alvin. “Serius kamu? Nggak nyesel?”
Alvin mengangguk. “Selama ini kan kamu udah ikut aku. Sekarang giliran aku dong, yang ikut kamu.”
Tentu aja otakku langsung tertuju pada satu tujuan: shopping. Tapi aku ragu untuk mengutarakannya di hadapan Alvin. Apa cowok itu sama tahannya dengan Rafel kalau nunggu aku shopping? Well, Rafel jarang sih, nungguin langsung. Dia lebih suka ngopi-ngopi bareng temennya sambil nunggu aku selesai. Tapi aku yakin Alvin bukan tipe cowok ngopi-ngopi dan hura-hura macam Rafel.
Alvin tersenyum. “Aku tau, kok. Sekarang aku anter kamu pulang, aku juga pulang dulu, nanti agak sorean aku jemput lagi, okay?”
Aduh, baik hati sekali Alvin ini! Pake acara bisa membaca pikiranku segala pula!
Begitu aku sampai di rumah, tentu aja nggak ada yang menanyakan ke mana aku pergi semalam. Bahkan Bi Titin sekali pun yang kelihatannya sudah mau bertanya, tapi sungkan.
“Mami sama Papi ke mana, Tha?”tanyaku pada Dafintha yang sedang sarapan begitu aku baru sampai.
“Aussie. Bakalan lama tuh, mereka di sana.” Dafintha nyengir dan aku langsung tau apa artinya: Dafintha bebas. Tapi nggak biasanya Dafintha bahas-bahas soal Aussie dengan tenang begini. Apalagi soal kepergian soulmate sejatinya, ****, bersama bandnya ke sana. Sejak itu kayaknya Dafintha sensitive jika disinggung nama band ‘Cerberus’, ataupun bahas soal Australi bahkan nyebut-nyebut nama ****.
“Minggu lalu aku kan jenguk Adyani, Tha ―”
Dafintha jadi berubah excited. “Oh, ya? Apa kabar dia? Tadinya aku juga udah mau jenguk, tapi nggak pernah ada waktu.”
“Baik. Tapi keluarga Sastroyo terlalu meremehkan kesehatan Adyani deh, kayaknya.”
Dafintha berhenti mengoleskan selai ke atas rotinya dan ganti menatapku. “Meremehkan gimana maksud kamu? Mereka melakukan kekerasan gitu?”
Aku langsung memutar bola mataku mendengar kata-kata Dafintha barusan. Aku tau sih, Adyani adalah adik kesayangannya lantaran sering bantuin kerjaan kantornya. “Bukan. Mereka masa ninggalin Adyani sendiri di rumah, cuman ama supir dan pembantu? Bisa apa sih, mereka kalau terjadi sesuatu ama dia?”
“Lalu?”
“Sementara ini sih, Denise udah mau bantuin. Dia nawarin job buat Adyani di toko bukunya. Yang penting kan waktu luang Adyani keisi. Jadi dia nggak kepikiran soal sekolah-sekolah cita-cita atau apalah itu lagi, dan kalau di toko bukunya Denise, Denise juga bisa ngawasin.”
“Ya baguslah, Sen. Aku juga yakin kok, Tristan nggak maksud ninggalin Adyani kayak gitu aja. Kamu kan tau gimana berubahnya tuh cowok sekarang?”
Aku mengangguk.
“So? Ke mana aja lo semalem?”
Aku nggak menyangka kalau Dafintha bakalan mengeluarkan pertanyaan itu. Biasanya dia kan nggak peduli. Hanya Adyani yang care. Dipta cuek, Dafintha cendrung nggak punya waktu.
Dafintha menatapku yang sudah tegang. Lalu tersenyum. “I know. Spent night with Rafel, kan?”
Kurasa nggak ada yang perlu ditutup-tutupin dari kakakku sendiri. Aku menggeleng.
“Jangan-bilang-kamu-udah-nggak-sama-Rafel-lagi?”
“Teknisnya sih nggak gitu ―”
“Jadi bener?”Dafintha makin berapi-api.
“Aduh! Santai aja! Aku masih sayang dia, kok.” Aduh kedengerannya kok, kayak gampangan banget, ya? “Tapi sekarang aku lagi sama cowok lain. Dan yang semalam itu cowok lain itu.”
“Seanna, jangan bilang lo jadi semurah itu sekarang?”
Aku kaget. “What the hell is that? Kejam banget kamu, Tha, bilang adekmu sendiri kayak gitu.”
“Just kidding. But you sleep with him, rite?”
“I STILL HAVE MY VIRGINITY!”
Dafintha kali ini menatapku serius. “I believe you can handle it, until this time. Tapi aku harap, Adyani aja udah cukup. Jangan sampe kamu kayak dia. Aku bakal merasa semakin gagal sebagai seorang kakak.”
Aku memberikan Dafintha a bear hug. “Tenang aja. Like I said, aku masih sama Rafel.”
“Tapi boleh tau nggak, siapa cowok itu?”
Aku menggigit bibir, ragu. “Alvin Wisnu Aditya Hakim.”
Dafintha menutup mulutnya. “Gila kamu!” Tapi lalu tersenyum. “Tapi dia keren, kok. Tadinya aku udah ngincar dia waktu di weddingnya Adyani, tapi taunya dia photographernya, toh, dan temen kamu.”
“Jangan kasih tau ini ke Mami dan Papi, ya? Mereka pasti syok kalau denger aku ninggalin Rafel gitu aja.” Walaupun teknisnya nggak ninggalin juga, sih. Tapi break. Mana mungkin Papi dan Mami ngerti break-break-an?
Tapi mau nggak mau aku jadi kebayang juga. Gimana kalau kejadian aku dan Alvin jadi kayak Adyani? Aku mengandung anaknya Alvin? God!
Dafintha mengangguk.
“Aku naik dulu, ya.” Ketika aku sudah sampai di tengah tangga, aku berbalik. “Tha, tau lagu ini nggak?” Aku menyenandungkan lagu yang kudengar di mobil Alvin sepulang kami dari Bandung kemarin.
Dafintha tertawa.
“Hey! Kok malah ketawa?”
“Liriknya sih aku tau. Tapi kok nadanya―”
“I know, I know! Suara gue kan buruk! Tapi lo tau nggak lagunya?”
Dafintha kembali menyenandungkan bait yang aku nyanyikan tadi dengan berkali-kali lipat jauh lebih baik. “Ku Cinta Kau Lebih Dari Yang Kemarin by Abdul & The Coffee Theory. Apa sih, yang Dafintha nggak tau?”
Sorenya Alvin menjemputku seperti janjinya. Kami pergi ke mall tempat butik Denise. Sebelumnya aku sudah klarifikasi kalau Denise ada di butiknya itu. Aku masih butuh ngomong soal Adyani. Entah kenapa semakin hari aku semakin khawatir.
“Ini butik langganan kamu?”tanya Alvin ketika kami sampai di butiknya Denise.
“Oh, enggak. Ini punya Denise. Yeah, secara nggak langsung langgananku juga, sih.”
Denise yang tadinya sedang melayani pembelinya langsung berpaling padaku dan menyerahkan pembelinya pada salah satu anak buahnya.
“Hey, Sen! You early.” Aku sempat melihat Denise melirik ke arah Alvin yang berdiri di belakangku.
Well, it’s Denise. She’s somebody, not nobody. Apa salah kalau aku cerita ini kedia? Padahal tadi pagi aku baru aja bongkar rahasia sama Dafintha. Lagian kalau aku nggak ngenalin Alvin, adanya Alvin nanti tersinggung. Selama ini dia ngenalin aku ke temen-temennya, kenapa aku enggak?
“Oh, iya, ini Alvin,”kataku memperkenalkan. “Vin, ini Denise, mungkin kalian udah pernah ketemu di weddingnya Adyani.”
Denise berjabat tangan dengan Alvin. “Oh, the photographer, rite?”
Alvin tersenyum sebagai jawabannya.
“Gue suka sama karya-karya lo. Kalau lo nggak keberatan―”
Aku berdeham dan Denise terdiam. “I need your help.”
“My help, or shopping?”
Memang, sahabatku yang satu ini selalu aja tau kelemahanku. “Both. Tapi sekarang yang penting kita ngomongin Adyani dulu.”
Kami duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Alvin, aku, dan paling ujung Denise.
“Lo udah ngomong ke dia, soal jadiin dia manager di toko buku lo?”tanyaku.
Denise mengangguk.
“Dan katanya…?”
“Dia mau. Besok dia udah bisa mulai kerja.”
“Dia nggak curiga, kan?” Aku melirik ke Alvin yang berada di sampingku. Dia belum menunjukkan kesan-kesan bosan. Matanya meneliti setiap sudut butik Denise.
Denise mengangkat bahu. “Enggak tuh. Dia bahkan nggak nanya sedikit pun soal elo. Sampai saat ini sih, semuanya masih under control. Besok gue sendiri yang bakalan turun tangan. Lo tenang aja.”
Aku menghela napas. “Thanks ya, Nis. Entah kenapa gue bener-bener khawatir sama dia.”
Denise tersenyum. “Kan elo kakaknya, jelas lo pasti khawatir.”
“Eh, lo kenal nggak sama Vania?”
“Ada sih, temen gue yang nanamya Vania. Gue nggak tau apa dia yang lo maksud atau bukan.”
“Dia cerita semuanya ke gue. Di mana kalian iseng-iseng kerja sama buat design. Dan design pertama kalian udah berada di tangan gue sekarang. Sang penginspirasi.”
Denise tercengang. “Jadi lo ketemu Vania?’
“Yup. At her garage sale.”
“Dia cerita semua ke elo?”
Aku mengangguk.
“Gue harap lo nggak GR.”
Aku mendengus dan bangkit berdiri. Kuberikan tasku pada Alvin. “Show your newest collection.”
Denise menunjuk ke pakaian-pakaian yang ada di seberang kami. “All new!”
Dengan girang aku menuju tempat yang ditunjukkan Denise, sedangkan Denise mengobrol asyik dengan Alvin. Sepertinya mereka cukup cocok.
Aku melihat kebersamaan mereka memalui cermin yang melapisi rak gantung tempat pakaian-pakaian yang sedang aku cari. Alvin tersenyum, dan Denise tertawa.
Seanna, jealous, huh?
Aku cepat-cepat menghabus bayangan kebersamaan Denise dengan Alvin
Tapi tidak bisa aku tutupi lagi kalau mereka memang cocok satu sama lain. Denise kadang membuatku iri dalam beberapa hal. Keluargany memang socialite, tapi dia seperti tidak dibatasi udah berkarir. Awalnya dia hanya memiliki butik ini, tapi lalu membangun sebuah toko buku, bahkan saat dia menjadi wedding organizernya Adyani, dia terlihat begitu profesional. Denise baik, cantik, dan yang terpenting: berbeda denganku. Dia bukan tipe wanita yang suka dengan shopping dan teman-temannya. Orang yang baru pertama melihatnya tidak akan menyangka kalau dia adalah salah satu dari socialite. Menurutku, dia adalah orang terbaik dalam dunia socialite. Jadi sewajarnya kalau Alvin menyukainya.
Aku mengambil dua pakaian yang paling aku suka. Aku memutuskan untuk membeli satu saja untuk hari ini. Aku belum sempat begging pada Papi dan Mami soal credit card.
Aku membawa kedua pakaian itu ke hadapan Alvin. “Vin? Menurut kamu bagus yang mana?”
Denise memandangku dengan tatapan bingung. Tentu saja. Kalau aku sudah dilema dengan dua barang, biasanya aku akan membeli dua-duanya.
Alvin yang sedang asyik mengobrol dengan Denise berhenti dan menatapku dengan dua pakaian di tanganku. “The gray one I think.”
“Wah, selera kamu bagus juga ya, Vin.” Pujian itu tidak berasal dari mulutku, tapi dari mulut Denise.
Alvin tidak keberatan dengan pujian itu. Dia malah terlihat senang.
Aku memutuskan untuk mengambil yang abu-abu dan membayarnya. Rasanya aku sudah panas di sini. Begitu selesai membayar, aku berusaha untuk tidak bersikap dingin apda Denise dan menarik tangan Alvin untuk segera keluar.
Baru aku ingin membuka mulut untuk protes, tangan Alvin sudah melingkar di pinggangku. Gimana bisa protes kalau kayak gini?
Alhasil aku hanya bisa menghela napas. Siapa yang bisa marah dengan seorang Alvin Wisnu Aditya Hakim?
“Tadi ngomong apa aja ama Denise?”tanyaku.
“Well, dia nawarin aku untuk kerja sama. Dia minta aku buat foto-foto sebagus yang aku bisa untuk di pamerin di toko buku dan butik dia.”
Bagus aku belum sempat marah-marah. Bisa malu nantinya.
“Oh. Terus? Kamu terima?”
Alvin mengangguk. “Menurut aku ini kesempatan. Dengan memperkanalkan karya-karya aku, ini bisa jadi jalan.” Alvin memandangku. “Kamu nggak marah kan?”
Aku menggeleng. “Oh chorus not. Selama menurut kamu itu yang terbaik, why not?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar