Jumat, 10 Juli 2009

No More part 2

Hari ini keadaanku tidak jauh lebih baik daripada kemarin malam. Mataku bengkak karena aku menangis semalaman. Untungnya hari ini adalah kelas siang, kalau sampai kelas pagi, aku nggak tau lagi gimana nasibnya.

“Gue denger lo udah mutusin Rafel ya, Sen?”tanya Safira seusai kelasku hari ini.

Aku mengangguk. Ternyata beritanya cepet juga menyebar. “Cepet banget lo tau.”

Safira nyengir. “Iya dooong. Temen-temennya Rafel kan banyak banget. Jadi gimana, Sen? Alvin oke, dong?”

Aku mengangguk lemah. “Duluan ya, Saf. Ada janji sama Alvin.”

Safira bersiul dan tersenyum jail. “Wow. Cepet juga ya, reaksinya.”

Aku memukul pelan lengan Safira. “Sialan lo!”

Aku menemui Alvin di pintu masuk kampus. Setengah tubuhnya tidak terlihat karena terhalang tembok. Dia berdiri bersandar pada tembok dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Aku menepuk bahunya dan dia berbalik, tersenyum begitu melihatku.

“Hey, Princess.”

Mau nggak mau aku blushing juga setiap kali dia memperlakukan aku layaknya seorang Putri. “Hai, Vin. Jadi kan hari ini?”

Alvin mengangguk. “Jadi, dong. Kita coba objek-objek yang ringan aja dulu, setuju nggak?”

“Objek ringan? Contohnya?”

“Contohnya seperti manusia.”

“Gue kurang setuju. Kenapa nggak langsung ke objek yang biasanya lo foto aja? Anggap aja gue cuman pengen liat bagaimana cara kerja lo selama ini. Ya, ya, ya?”

Alvin tersenyum menahan geli. “Okay, as you wish, Princess.”

Alvin membawaku ke suatu tempat dengan mobilnya. Dia nggak bilang mau ke mana. Katanya dia punya tempat bagus buat dijadiin objek. Mobil Alvin memang nggak sekeren mobil Jaguar milik Rafel (tentu aja). Tapi aku cukup nyaman. Setidaknya dia menjaga kebersihan. Dan aku juga sangat suka dengan aroma mobilnya, sama seperti aroma parfumnya.


“Kita sebenernya mau ke mana sih, Vin?” Aku mulai khawatir. Kok kayaknya dari tadi nggak nyampe-nyampe, ya? Jangan-jangan Alvin cuman keliatannya aja baik, taunya…

“Tenang aja. Bentar lagi nyampe, kok.”

Aku berusaha untuk duduk tenang di tempatku, sambil melihat ke luar jendela. Aku tidak pernah ke kawasan ini sebelumnya. Biasanya aku hanya main di daerah-daerah shopping center. Sepertinya ini berada di pinggiran Jakarta.

“Abis ini lo nggak ada acara kan?”tanya Alvin.

Aku menggeleng.

“Kalau jam malem?”

Aku tertawa. “Hei, kenapa emangnya, sih? Papi sama Mami lagi nggak di rumah. Kalaupun mereka di rumah, pulang jam berapa pun nggak masalah.” Aku berhenti tertawa dan menatap Alvin yang sepertinya tidak menganggap lucu. Lalu aku tersenyum. “Karena mereka percaya sama gue, dan gue nggak pernah menyia-nyiakan kepercayaan mereka.” Well, kecuali the credit card part.


Alvin memberhentikan mobilnya. Di sebelah kiri kami terbentang padang yang dipenuhi dengan alang-alang yang tinggi dan kuning. Kalau berpikiran kotor sih, aku sudah ketakutan setengah mati. Belum lagi di sini sepi. Tapi melihat padang itu, dan membayangkannya sebagai objek foto, aku bergumam kagum.

Aku keluar dari mobil dan berlari ke tengah padang itu. “Wow, Vin! Lo tau aja tempat yang bagus!” Selama ini aku belum pernah ke tempat seperti ini. Paling-paling mall, mall, mall, café, club, dan sejenisnya. Rafel nggak pernah tertarik dan aku sendiri nggak pernah kepikiran.

Alvin mengotak-atik kameranya yang tergantung di leher. “Sebagai photographer, memang harus tahu banyak tempat bagus.”

Aku menyapukan tanganku ke alang-alang yang berada di sekelilingku. Aku mendengar bunyi kamera dan menoleh ke arah Alvin. Dia sedang membidikkan kameranya sekali lagi padaku. “Eh, eh. Jangan gue dong!” Aku menghalangi kamera dengan tanganku.

Come on, Princess. Just one picture.”

“Aaaaaaah, Alvin! Enggak! Gue nggak suka difoto! Lo ngambilnya candid aja, deh!”

Alvin menurunkan kameranya. “Ada juga Putri yang nggak suka difoto.”

Aku mengerucutkan bibirku menatap Alvin, dan dengan cepat dia memotretku.

Alvin! Niat kita ke sini kan buat ngajarin gue photography!”

Alvin tertawa geli. Dia melepaskan tali kamera dari lehernya dan memberikannya padaku. Dia menunjuk sebuah tombol, “pencet ini buat take-nya. Terus puter-puter yang ini buat zoom in atau zoom out. Ngerti?”

Okay, Boss.” Aku membidik asal ke arah padang. Semua foto yang kuhasilkan hanya asal-asalan belaka. Cuman geser dikit pencet, geser dikit pencet. “Vin, kayaknya gue ―” Ketika aku berbalik, Alvin sudah tidak ada. Aku menyebar pandanganku ke sekeliling. “Vin? Alvin?”

Aku berjalan sambil menginyingkirkan alang-alang dari hadapanku yang mempersulit penghilatanku.

Alvin?” Aku berputar-putar ke sana ke mari mencari keberadaannya. “Sumpah nggak lucu, Vin! Gue capek, nih!”

“Dooorr!”

Aku melepaskan kamera di tanganku, dan otomatis tergantung begitu saja di leherku. Aku berbalik dan siap menggertak Alvin. “Jahat lo! Kalau jantung gue copot gimana?”

Alvin tertawa. “Nggak mungkinlah.”

Aku mendengus.

“Gimana hasil fotonya?”

“Gue nggak ngerti sih, gimana cara ngambil objek yang bagus. Menurut gue sih, di sini bagus banget pemandangannya. Elo sih, bukannya ngajarin malah ngumpet.”

Alvin tersenyum. Senyuman yang paling aku sukai dari dirinya. “Gue seneng kalau liat lo panik. Lo inget waktu Safira ngerjain lo dengan nyembunyiin tugas kuliah yang lo buat semaleman, dan lo jadi panik banget? Sejak itu gue jadi suka liat lo kalau lagi panik.”

Jadi Alvin ngeliat kejadian itu? Kayaknya kejadiannya udah lama banget, deh.

Alvin meminta kameranya dan aku memberikannya. Aku mengikutinya ke sana ke mari. Dia membidik objeknya dengan sekesama. Dan aku yakin aku tidak melakukan itu selama aku mencobanya tadi.

“Di sini cukup dulu. Kita pindah lokasi,”katanya.

Alvin berjalan dengan sangat cepat di depanku. Sedangkan aku, yang repot dengan high heels-ku, plus, harus menyingkirkan alang-alang dari hadapanku setiap kali melangkah. Sampai akhirnya Alvin menghilang dari hadapanku, dan aku tidak tahu ke mana arah jalan keluarnya.

Kali ini aku tidak berteriak-teriak memanggil namanya lagi. Aku sudah benar-benar panik. Aku harus segera menemukan jalan keluarnya.

Dengan panik aku menyingkirkan alang-alang tinggi itu terus menerus dari hadapanku dengan cepat. Aku seperti berada di tengah laut dan tidak bisa melihat daratan.

Saat aku berada di puncak kepanikanku, sebuah tangan menangkap tanganku. Ketika aku berbalik, ternyata Alvin. Kontan aku langsung memeluknya kesenangan. “Ya ampun, Vin! Gue kira, gue bakalan mati di sini!”

Aku merasakan kecanggungan Alvin dan melepaskan pelukanku. “Sorry.” Aduh! Gimana sih, aku ini? Dia bukan cowok sembarangan, Seanna! Nggak bisa disentuh gitu aja.

“Lo buat gue panik, tau nggak?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kok malah dia yang panik?

Alvin menggandeng tanganku, menarikku melewati alang-alang. Tangannya terasa begitu hangat, menggenggam tanganku yang masih sedikit gemetaran. Dia tidak melepaskanku sampai kami berada di luar padang.

Aku menghela napas lega. “Akhirnya keluar juga.”

“Lain kali jangan ngilang kayak tadi. Lo kan bisa panggil gue.”

“Kok lo ngomong gitu? Lo sendiri yang pertama kali ninggalin gue.” Enak aja, malu dong, masa masuk perangkap dua kali?

Alvin mendekat padaku, memegang kedua bahuku, dan menatap lurus ke dalam mataku. “Gue nggak pernah ninggalin lo. Gue selalu ngawasin lo. Tapi lo yang nggak pernah liat gue.” Aku sedikit ragu arti dari kata-katanya. Apa sebatas di padang ini, atau…

Alvin menurunkan tangannya dan menghembuskan napas. “Sorry. Gue cuman mau lo nggak kayak tadi lagi.”

Aku mengangguk.

Alvin membawaku ke lokasi selanjutnya. Kami lebih banyak diam di mobil. Aku masih terbayang kejadian tadi, sedangkan Alvin juga sepertinya memilih untuk diam, jadi aku tidak menanyakan tentang lokasi selanjutnya. Aku mengotak-atik kameranya. Melihat hasil foto-foto kami hari ini. Tentu saja hasil fotoku yang paling jelek, sangat kontras dengan foto-foto Alvin.

Sejak awal memang aku tidak berminat, tidak berbakat, dan ini hanya sekedar untuk flirting.

Aku memandang keluar jendela. Lagi-lagi lokasi yang tidak aku kenal. Sebenarnya Alvin ini siapa, sih? Kayaknya kok, ajaib banget.

Kami berhenti di sebuah perkampungan kumuh dan aku langsung melotot. Belum turun dan mencium bau tumpakan sampah itu saja aku rasanya sudah mau muntah.

“Jangan bilang kita mau ke sana,”aku menunjuk ke luar jendela.

Alvin mengangguk. “Sebagai photographer, lo harus siap ke lokasi mana pun. Kenapa? Keberatan?”

“Of chor―” Aku menghentikan kata-kataku. “Tapi nggak harus ke sini kan? Look at that!” Aku melambaikan tanganku ke arah tumpukan-tumpukan sampah itu. Bahkan sekarang ada seorang anak kecil yang bermain di atasnya! “Gross! Disgusting! Ew!” Aku memandang bocah kecil itu dengan jijik. “Itu sampah, Vin! Kotor! Kuman! Bakteri! Penyakit! Bau!”

“Oh, ya. I remember. Lo adalah Handoko. Okay, I know. Seorang Handoko nggak mungkin ke tempat kayak gini. Lo kayaknya nggak suka dengan metode mengajar gue, lo bisa ganti guru. Right, we’re going home.”

Aku menahan tangan Alvin yang ingin memutar lagi kunci mobilnya. “Enggak, enggak! Alright! Gue turun!”

Aku menarik napas dalam-dalam. Menyimpan oksigen sebanyak-banyaknya. Ketika aku turun bau yang menyengat, yang sangat kontras dengan aroma mobil Alvin, langsung menyambutku. Oksigen yang sudah kusimpan hilang sudah, dan aku menghirup udara busuk itu.

Jalanan becek. Rumah-rumah di sana tidak ada yang terbuat dari batu bata. Kebanyakan dari kardus, paling bagus juga dari tripleks. Belum lagi sampahnya yang menggunung. Sebenarnya apa sih, tujuan orang-orang ini bangun rumah di antara sampah kayak gini? Sehat enggak, penyakit iya! Apa mereka (para pemulung) cuman mau lebih dekat dengan sumber penghasilan mereka? Tapi apa mereka nggak mikirin kesehatan anak-anak mereka dan diri mereka sendiri?

Semua orang menatap ke arah kami. Seolah kami ini orang dari planet lain. Tapi setelah puas menatap kami, mereka kembali mengembalikan perhatiannya pada pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang lagi milihin sampah (entah buat dipakai lagi atau dijual), main lari-larian, bahkan nyari kutu! Ew!

Alvin memberikan kameranya padaku tapi aku menolak. “Kali ini biar gue liat cara kerja lo aja, deh.” Gimana bisa aku membidik tumpukan sampah itu? Adanya nanti nemuin barang-barang menjijikkan dan aku muntah di depan Alvin!

“Jangan jauh-jauh dari gue.” Aku bisa mendengar nada perintah yang halus dari suara Alvin.

Aku mengangguk.

Aku memperhatikan Alvin ketika ia melakukan pekerjaannya. Membidik objek-objek yang bahkan menurutku tidak akan bagus kalau dijadikan foto (iyalah, di sini adanya sampah semua!)

Padahal tadi kita baru aja dari padang yang indah (tapi nyesatin!) tiba-tiba aja ke tempat sampah kayak gini!

Alvin menurunkan kameranya dan berbalik menatapku. “Kasian mereka. Mereka nggak bisa sekolah, makan aja susah.”

“Tapi harusnya mereka nggak tinggal di tempat kayak gini.” Aku menatap tumpukan sampah itu sekali lagi, lalu memalingkan wajah sebelum aku muntah duluan. “Bukan soal kaya atau miskinnya. Tapi ini sama sekali nggak sehat. Mereka menghirup udara kayak gini setiap hari. Lalatnya belum lagi! Air bersihnya gimana? Anak-anak mereka?”

Alvin tersenyum memandangku. “Bagus deh, kalau lo mikirin kesehatan mereka.”

Aku jadi ikut tersenyum juga. Senang karena kahirnya Alvin setuju padaku.

Alvin melihat ke langit lalu ke jam tangannya. “Udah malem. Percuma kalau foto-foto lagi, hasilnya kurang bagus. Kita pulang aja, ya?”

Aku mengangguk setuju.

Saat kami sudah sampai di dalam mobil, aku langsung menghirup napas lega. Akhirnya, terbebas dari sampah-sampah itu juga. Untung aja aku nggak berada dalam posisi mereka. Bisa-bisa tiap hari aku jadinya spa di lautan sampah!

Tiba-tiba saja muncul ide di kepalaku. “Eh, Vin. Setuju nggak, kalau misalnya kapan-kapan kita balik ke sini lagi dan bagi-bagi makanan, minuman, pakaian bersih buat mereka? Bukan apa-apa, sih. Gue cuman ragu ama makanan yang mereka makan. Apalagi yang anak-anaknya.”

Alvin kembali tersenyum. “Tentu aja.”

Lagi-lagi dia setuju!

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sesekali Alvin melirik ke arahku, begitu juga sebaliknya. Tapi kami tidak saling bicara. Sepertinya dia tau kalau aku sudah sangat amat kelelahan. Semalaman nangis, bangun bangun harus kuliah, tersesat di padang, ke tumpukan sampah, cukup sudah.

Aku menyenderkan kepalaku ke pintu mobil Alvin. Memandang lampu jalanan yang berlalu dengan cepat. Harusnya aku berada di luar sana. Clubbing bareng Rafel. Seneng-seneng, setelah shopping seharian. Tapi tiga bulan ini aku harus stuck bareng Alvin.

Akhirnya aku tertidur.

Alvin membangunkanku begitu kami sampai di depan rumahku.

“Eh, udah nyampe? Kok lo tau rumah gue?”tanyaku.

Alvin memandangku heran. “Lo kan pernah ngasih alamat rumah lo ke gue. Buat ngirim foto-foto weddingnya Adyani. Remember?”

“Iya, iya! Thanks, ya. Besok jadinya gimana?”

I’ll pick you up tomorrow, at 10 o’clock sharp! On time! Kita ngejar matahari.”

Aku memutar bola mataku. “Right, right.”

See you tomorrow, Princess.”

Aku menguap, sebagai balasannya.

“Seannaaaaaa! Wake up! Wake up!” Suara nge-bass Dipta mulai berteriak-teriak lagi. Dia mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras. Suaranya yang sekarang udah lumayan enak di denger, daripada suaranya waktu kecil dulu. Cempreng, nyaring, ngerusak kuping!

Shut up!” Aku mengambil bantal dan menutup telinga dan wajahku.

It’s ten thirty! Temen lo udah dateng, tuh! Nungguin dari tadi!”

Get out, you jerk!”

What? Gue cuman mau ngebangunin kok! Makasih lo harusnya ama gue!” Aku bisa mendengar ocehan Dipta semakin lama semakin pelan dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Kamarku kembali tenang.

Sampai akhirnya…

“Seanna? 10 o’clock, sharp! Remember?” Suara Alvin kali ini yang terdengar.

Aku membuka mataku. Kok, Alvin pagi-pagi gini? Ngapain sih, dia? “Emmmmm….ngantuuuuuk.”

“Kalau emang lo nggak mau ikut gue hari ini, nggak papa. It’s okay.”

Ikut dia? Oh, iya!

Aku membuka mataku lebar-lebar dan bangkit duduk dengan cepat. Kuliah Alvin berdiri di sisi tempat tidurku dengan kedua tangan di lipat di depan dadanya. Aku melihat ke jam digitalku di samping tempat tidur. 10: 43.

Oops.” Aku memandang Alvin yang memandangku dengan tatapan seolah aku ini orang teraneh sedunia. “Sorry, Vin. Kesiangan.”

“Lo mau ikut gue, atau enggak?”

“Iya, iya. Gue siap-siap dulu. Lo tunggu aja di bawah. Kalau mau makan minta aja ama Bi Titin atau kalau mau apa-apa bilang ke Dipta aja.”

Okay. 10 minutes.”

What?” Seumur-umur, aku siap-siap paling bentar itu satu jam. Setengah jam buat mandi setengah jam lagi buat siap-siap.

Sebelum aku sempat protes Alvin sudah keburu keluar duluan.

Aku langsung turun dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandiku, dengan santai. Ngapain juga cuman hanya karena Alvin aku harus ngabisin hari ini dengan dandan nggak maksimal? Toh, ini buat dia juga. Kalau aku cantik dia juga kan yang nikmatin?

“Seanna, I told you. 10 minutes! Gue nunggu hampir satu jam di sini.”

Aku hanya bisa nyengir. “Gue kan cewek, butuh preparation yang lama.”

“Gue tau lo cewek, tapi lo ―”

Okay! I’m sorry!” Kenapa sih, nih orang? Kemarin dia udah mau setuju ama aku. Eh, sekarang? Malah nyalah-nyalahin aku lagi! Rafel nggak pernah tuh, ya, marah-marah karena aku kelamaan dandan. Dia juga nggak pernah sok on-time. Tapi si Alvin iniiiiiiiii….!

Begitu keluar rumah, aku langsung bertanya, “mobil lo mana?”

“Nggak bawa.”

“Oh, bentar ya, gue ambil kunci mobil dulu―”

“Eh, enggak. Kita nggak pake mobil.”

Aku menatapnya, bingung. Maksudnya? Mau pake sepeda gitu? Motor? Tapi siapa yang punya motor?

“Terus? Kita naik apa?”tanyaku.

“Naik Taksi, abis itu naik Trans Jakarta.”

What? Public transportation? Apalagi bus! Oh. Oh. Bus? Dengan orang-orang bau itu? Ngapain aku dandan segala?

Tapi aku nggak protes lagi. Pasti nanti dia bakalan bilang, “cari guru lain aja”.

Kami berjalan ke depan kompleks. Mataharinya teriak banget lagi! Tau gini aku bangun pagi-pagi banget, biar kalau jalan mataharinya masih matahari pagi, bukan matahari siang yang menyengat gini.

Sesampainya di jalan raya depan kompleks, kami harus menunggu taksi dulu. Untungnya nggak terlalu lama, karena aku udah nyaris terpanggang gosong. Tapinya taksi yang lewat bukan kelas atas, tapi kelas menengah. ACnya nggak dingin pula!

Setelah sampai di stasiun Trans Jakarta, kami langsung naik ke jembatan penyebrangan yang terhubung dengan stasiun. Jembatannya panjang dan menanjak. Bagus ada atapnya, kalau enggak….

Ada seorang nenek-nenek tua, duduk di ujung tangga jembatan. Tangannya terulur, setiap kali ada orang lewat di hadapannya. Tapi sepenglihatanku, tidak ada satu pun dari orang yang lewat itu memberikannya uang. Begitu kami lewat, dia melakukan hal yang sama. “Neeeng…minta, Neeeeng…”

Sebelum sempat aku bertindak, Alvin sudah lebih dulu memberikan dua lembar uang seribuan.

“Makasiiiih maas…” Nenek itu terlihat senang sekali menerima uang pemberian Alvin. Padahal itu kan cuman dua ribu! Dua ribu! Shopping aja satu barang nggak kebeli. Jangan satu, setengah aja enggak! Segitu susahnya orang-orang ini?

Kami kembali berjalan menuju stasiun. Ternyata stasiun sudah ramai. Kami cepat-cepat membeli tiket dan mengantri bersama penumpang yang lain. Tidak lama kemudian bus datang dan kami berebutan masuk.

Tepat ada dua tempat duduk kosong, aku dan Alvin langsung menempatinya.

“Untung dapet tem―”

Tiba-tiba saja Alvin berdiri. “Silahkan, Nek.”

Aku menatap nenek-nenek yang sudah bungkuk di hadapanku. Dia tersenyum pada Alvin, mengucapkan terima kasih, dan duduk di tempat Alvin tadi.

Aku memberi pandangan pada Alvin. Alvin hanya memberi sebuah senyuman, senyuman yang paling aku suka dari dirinya. Dia berdiri di tiang di sebelahku, sambil berpegangan pada tiang itu.

Gini nih, kalau naik angkutan umum. Repot. Harus dempet-dempetan. Cepet-cepetan dapet tempat duduk. Coba kayak nenek-nenek di sebelahku ini, kalau aja nggak ada orang kayak Alvin, bisa kelempar-lempar sepanjang perjalanan. Apalagi di Indonesia angkutan umumnya belum memadai. Bus-busnya masih banyak yang tidak layak, berhenti sembarangan, membahayakan penumpang. Kalau aja trotoarnya dilebarin untuk para pejalan kaki. Aku rela deh, jalan kaki.

Saat berhenti pada stasiun berikutnya, masuk seorang ibu-ibu hamil. Aku teringat pada Adyani. Bagaimana kalau adikku berada dalam posisi ibu-ibu itu. Aku menirukan Alvin, dengan berdiri dan memberikan tempatku pada ibu itu.

Alvin kembali tersenyum padaku, sebagai sebuah penghargaan. Setidaknya dia udah nggak nyalah-nyalahin aku lagi.

Aku berdiri di dekan Alvin, dan berpegangan pada tiang yang sama.

Ternyata kalau berdiri susah juga, ya. Apalagi busnya ngebut. Bawaannya mau jatuh terus. Belum lagi kalau rem mendadak. Tangan berkeringat lagi megang tiang besi segitu lama dan harus keras. Nggak kebayang gimana kalau nenek dan ibu-ibu hamil itu yang berdiri. Bisa bener-bener kelempar.

Alvin berulang kali memegang tubuhku yang hampir terjatuh. Lain kali kalau jalan sama Alvin, mending pake flat aja, deh! Derita kalau pake high heels. Berulang kali juga tubuh Alvin menekan tubuhku, dan setiap kali itu terjadi, dia akan menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

Ibu-ibu yang duduk di seberang kami terlihat berusaha menahan tawanya melihat tingkah kami. Seolah berkata, ‘anak muda jaman sekarang’.

“Kita turun di stasiun ini,”kata Alvin.

Begitu bus berhenti kami turun, kembai berdesak-desakan. Alvin memegang tanganku sehingga kami tidak terpisah.

Kami berhenti di Monas. Sekarang aku tau apa lokasi selanjutnya. Pasti kota-kota tua.

“Kita jalan keliling aja, ya? Namanya objek, lebih bagus kalau datangnya natural, bukan dicari.”

Aku mengangguk.

Alvin berhenti di beberapa tempat, sibuk dengan kameranya, dan aku hanya memperhatikan.

Ketika matahari semakin terik, aku mengobrak-abrik tasku mencari sunblock. Bisa-bisa kuliatku kebakar, dan wajahku kayak kepiting rebus nantinya! Mana sih, tuh sunblock di saat-saat kayak gini? Nggak tau apa aku udah…

Tiba-tiba aja Alvin memakaikan topinya ke kepalaku. “Sorry, nggak bilang suruh bawa topi.”

Aku menatap Alvin dengan tatapan blank. Kok orang ajaib kayak dia bisa juga…

Kami melanjutkan perjalanan. Menuju museum-museum. Bangunan-bangunan tua mengelilingi kami. Selama ini aku nggak pernah nyadar ada daya tarik sendiri dari bangunan-bangunan tua ini. Memang sih, keliatannya serem, tapi arsitekturnya sudah jarang ditemukan yang seperti ini.

Alvin beberapa kali meminjamkan kameranya padaku. Dia memberitahu padaku, objek pada yang bagus untuk dipotret. Tapi tetap saja hasilnya tidak lebih bagus darinya.

Saat melihat tukang es krim, aku langsung bersemangat. “Vin, Vin!” Aku menarik-narik lengan baju Alvin. Alvin yang baru saja membidik objeknya berbalik menatapku. “Ada es krim! Beli dulu, yuk!”

Alvin dengan pasrah mengikuti tarikan tanganku.

“Yang strawberry ada, Bang?”tanyaku pada si penjual.

“Oh, yang stoberi ada ada, Neng.” Si Abang penjual mengobrak-abrik tumpukan es krimnya dan memberikan yang strawberry untukku.

Aku langsung membuka dan memakannya. Mmm…enaaaak…dingin lagi! Pas untuk cuaca yang panas gini. Aku berpaling pada Alvin, tepat pada saat dia menjepret kameranya ke arahku. “Udah dulu, Vin, foto-fotonya. Lo mau es krim yang rasa apa, nih? Ada apa aja, Bang? Strawberry, Vanilla, Cokelat….”

“Kacang merah, Duren,”si Abang melanjutkan.

Alvin menutup kameranya, dan menggantungkannya di leher. “Cokelat aja deh, Bang.”

Setelah membayar, kami pun melanjutkan perjalanan kami sambil memakan es krim masing-masing.

“Oooh…jadi lo suka cokelat ya,”kataku.

Alvin mengangguk. “Dan gue tebak, lo pasti tipe cewek yang tergila-gila dengan strawberry.” Alvin membuat-buat suaranya menjadi seperti anak kecil ketika mengatakan, “I want strawberry! Strawberry!”

Aku tertawa ngakak sambil memukul pelan lengan Alvin.

Nggak kerasa langit udah gelap. Cuaca yang tadinya panas terik jadi dingin. Bangunan-bangunan tua jadi lebih mencekam. Mau nggak mau aku jadi takut juga. Keindahan mereka yang tadi siang kulihat jadi berubah dengan bayangan-bayangan hantu dibenakku. Untungnya aku nggak sendirian di sini.

Kami berjalan sambil menunggu taksi yang lewat.

“Cerita dong, An,”kata Alvin.

“Eeeeh, jangan panggil gue, An! Apalagi Anna. Panggil Sen, Na, atau Seanna aja.”

“Lho emang kenapa? Anna kan bagian dari nama lo juga.”

Aku mendengus dan melambaikan tangan sebagai arti, “terserah lo, deh.” Sejak dulu, entah kenapa aku nggak suka dipanggil Anna. Kesannya terlalu latin. “Emang lo mau gue cerita apa?”

“Gimana rasanya jadi salah satu anggota dari Handoko? Keluarga yang berpengaruh di Jakarta.”

Aku tersenyum sinis. “Menurut lo? Seperti yang orang-orang katakan. Kami manja. Bergantung pada harta keluarga. Bodoh. Tukang buat masalah. Lo kan bisa liat sendiri dari contohnya. Zandy ama Verena yang tau-taunya saling falling buat satu sama lain. Ledya yang ngotot pengen dinikahin sama orang yang keluarga sama sekali nggak setuju. Dafintha yang berontak pengen jadi musisi. Adyani yang… lo bisa liat kan sekarang?”

Alvin merangkulku, seolah ingin menenangkanku. Tapi satu gerakan yang membuatku jadi panas dingin, yang nggak biasanya seorang Alvin lakukan. Air mataku, kutarik kembali ke dalam. Aku nggak boleh nangis, nggak boleh. Bukan saatnya untuk nangis. Seanna, nggak pernah nangis.

Alvin meremas bahuku. “Tapi gue sekarang juga tahu, kalau ternyata selain berpengaruh, keluarga lo juga orangnya kuat-kuat.”

Aku mendongak dan memandangnya. “Kuat-kuat? Maksud lo?”

“Contohnya yang elo sebutin tadi. Semua orang pada ngomongin keluarga lo. Ngomongin soal masalah di keluarga lo, mau pun kelebihan keluarga lo. Semua orang tau cerita tentang keluarga lo. Gue tau Zandy dan Verena sampai sekarang masih tetap berjuang. Gue tau Ledya juga melakukan hal yang sama. Gue juga tau kalau walaupun Dafintha udah kerja di Handoko Group tapi dia masih pengen jadi musisi. Gue juga tau kalau Adyani, dalam keadaan kayak sekarang pun masih semangat buat belajar dan ngejar cita-citanya. Di luar semua berita itu, harusnya lo bersyukur nggak ada berita stress, apalagi kematian karena bunuh diri. Lo harus liat sepupu-sepupu lo, saudara-saudara lo, mereka berjuang, mereka bertahan, bahkan dengan cemoohan banyak orang.”

Alvin lebih menarikku mendekat padanya, dan itu membuatku jauh lebih baik.

Kata-kata Alvin barusan, tidak pernah terbayangkan olehku. Aku tidak pernah melihat perjuangan saudara-saudaraku. Apalagi Adyani dan Dafintha yang merupakan adik dan kakakku. Aku tahu Adyani masih rajin baca buku, juga Dafintha yang masih sering buat lagu dan ngeband bareng temen-temennya.

Thanks ya, Vin. Ternyata lo bijak juga.”

Alvin tersenyum sambil mengusap-ngusap kepalaku. “Semua bisa jadi positif kalau lo liatnya positif.”

Aku membalas senyumannya.

“Sekarang lo gantian cerita dong, Vin. Gimana rasanya jadi orang yang bukan socialite?”

“Mmm…biasa aja.”

“Masa, sih? Lo nggak pernah merasa kekurangan?”

Alvin menggeleng. “Justru banyak tantangan. Lo harus usaha untuk dapet apa yang lo pengen.”

Segitunya? Kalau aku, mau apa tinggal tunjuk.

“Terus? Kalau love life? Apa gampang kalau bukan socialite, buat dapetin… cewek?”

Alvin tertawa sumbang. “Selama ini gue nggak pernah ngejar buat ke arah situ. Gue ikutin aja arusnya.”

“Oooh…jadi lo nggak punya cewek?”

Alvin menggeleng.

Bagus, dong. Itu berarti aku nggak usah susah-susah lagi.

“Dan lo sendiri? Kabarnya lo mutusin Rafel?”

Begitu nama Rafel disebut, aku berubah tegang. Aku di sini sekarang. Berangkulan bersama Alvin. Apa itu adil buat Rafel? Gimana kalau dia liat? Apa dia bakalan marah?

“Iya.” Aku berusaha membuat nada suaraku seyakin mungkin.

“Kenapa?”

Aku terdiam sebentar. Nggak mungkin aku ngomong yang sebenernya ke Alvin. “Dia kayak cowok kebanyakan.” Aku menelan ludah. Entah kenapa suaraku seperti benar-benar terjadi, bukan kebohongan. “Berpindah-pindah dari satu cewek ke cewek lain.” Shoot! Kenapa harus pake acara nanya kenapa sih? Aku jadi makin merasa bersalah sama Rafel.

Alvin berhenti, dan aku ikut berhenti. Dia melepaskan tangannya dariku dan menatapku. “Mmm…kalau misalnya…gue…nembak lo…lo terima nggak?”

Aku melotot sekilas tapi buru-buru mengembalikan ekspresiku seperti semula. Secepat ini? Cuman baru 2 hari flirting? Flirting yang bahkan mungkin baginya bukan flirting.

Aku tersenyum. “Tergantung.”

Alvin menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, menatapku penasaran, “tergantung apa?”

“Tergantung, apa lo mau nembak gue beneran, atau enggak?”

Alvin memberikan senyuman kesukaanku. “Okay…gue nembak lo beneran. Dan jawaban lo?”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Gitu cara nembak?”

I know it’s not working! Gue juga bukan socialite yang bisa ngasih lo cincin berlian disaat-saat kayak gini.”

I don’t need a diamond ring. Lo cukup bilang aja.”

Alvin menarik napas. “Would you be my girl, Princess Seanna?”

Aku hanya diam. Otakku kembali memutar kejadian hampir setahun yang lalu. Saat Rafel memintaku untuk menjadi pacarnya, memberikanku kalung berbandul hati berwarna pink muda (yang bahkan jarang sekali aku pakai, kecuali saat anniversary kami tiap bulannya, karena kalau sama hilang sama aja dengan kehilangan nyawa). Tentu saja penembakkan kali ini sangat berbeda. Tidak di antara teman-temanku, para socialite, di club. Tapi di tengah-tengah bangunan tua. Bukan juga dengan kalung yang indah, tapi hanya dengan kata-kata.

Tentu saja kata-kata juga sebagai alat pemikat wanita. Tapi aku tidak tahu, apakah aku adalah tipe wanita seperti itu atau bukan?

“Tapi…”Alvin melanjutkan, “kalau emang lo cuman nerima gue sebagai pelarian lo aja…please, jangan.”

“Tentu enggak.”

“Jadi?”

Aku tersenyum lalu mengangguk berlahan.

Alvin langsung meraupku ke dalam pelukan hangatnya. “I love you, Seanna. Really.”

Aku terhenyak. Kenapa Alvin terdengar begitu tulus? Tidak. Ini salah. Tidak seharusnya dia serius. Aku masih menyayangi Rafel. Alvin tidak lebih dari sekedar alat bagiku. Mungkin semua ini bisa berjalan seiring waktu. Alvin nggak mungkin seserius itu.

I-I love you too, Vin.”

Aku menyeka air mataku. Entah air mata kebahagiaan atau kesedihan.

“Mmm…Vin? Laper.”

Alvin melepaskan pelukannya tapi tetap membiarkan sebelah tangannya merangkulku seperti sebelumnya. Lalu dia tertawa. “Bilang, dong. Gue kira lo nggak pernah laper.”

“Hei, satu lagi kebiasaan di keluarga Handoko. Makan harus teratur, nggak ada kata telat.”

Alvin menaikkan sebelah alisnya memandangku. “Oh, ya? Kalau gitu yang tadi pagi itu apa?”

Aku menunduk. Blushing, karena kemakan omongan sendiri.

Alvin mengajakku makan di sebuah café tidak jauh dari sana. Katanya itu café langganannya. Dia cukup menyukai objek kota tua Jakarta, dan sering lupa diri dengan kameranya hingga malam hari dan mampir ke sini untuk makan. Beberapa pelayan di sini menyapanya begitu kami datang. Seolah mereka sudah kenal baik dengan Alvin.

Kami duduk di bangku paling depan, dekat panggung, di mana seorang cowok sedang bernyanyi dengan gitar akustiknya. Aku suka acara-acara akustik. Apalagi kalau yang nyanyi cowok. Mendengar setiap petikan gitarnya, rasanya aku ikut dihanyutkan.

Kami memesan sepiring besar spaghetti untuk berdua, dan segelas milkshake cokelat besar untuk berdua juga.

“Lo kayaknya sering banget ke sini, ya?”tanyaku. Mataku tetap tertuju pada penyanyi cowok yang masih tampil di atas panggung.

“Iya. Di sini makanannya enak-enak. Orang-orangnya juga seru-seru. Lo suka sama Bobby, ya?”

Aku menoleh padanya. “Ah, siapa? Bobby?”

Alvin menggerakkan kepalanya ke arah penyanyi cowok itu. “Dia namanya Bobby. Setiap Sabtu dan Minggu biasanya dia emang selalu manggung di sini.”

“Ooooo… Suka, sih. Gue seneng jenis musiknya. Dafintha sebenernya sering bikin lagu-lagu kayak gini. Tapi gue lebih suka kalau cowok yang nyanyi.” Aku teringat pada Dafintha. Yang setiap malam nggak berhenti-hentinya mengotak-atik alat musik. Entah gitarnya, keyboard, piano, atau asal gebuk-gebuk meja. Tadinya Dafintha udah minta ijin ke Papi dan Mami buat beli drum, tapi tentu aja nggak dikasih. Belum ada drumnya aja udah berisiknya minta ampun. Sedangkan Dipta berbakat dalam gitar, tapi nggak pernah bisa nyiptain lagu, atau main akustik sebagus Bobby atau yang lainnya.

Setelah lagu yang dinyanyikan Bobby selesai, Alvin melambaikan tangan padanya. Bobby turun dari panggung dan menghampiri meja kami. Setelah bersalaman ala cowok dengan Alvin, dia berpaling padaku.

“Cewek lu?”tanyanya.

Aku yang belum terbiasa dengan kata-kata itu sedikit menegang. Sekarang statusku adalah ceweknya Alvin, bukan lagi Rafel.

“Eh, iya, kenalin, ini Seanna.” Ternyata Alvin sama gugupnya denganku.

Aku membalas uluran tangan Bobby. “Seanna.”

Bobby menatapku dan terlihat berpikir. “Kayaknya gue sering liat lo, deh. Tapi di mana, ya?”

Baru saja aku mau membuka mulut, untuk bilang, mungkin dia melihatku di TV atau acara-acara penting karena aku adalah Seanna Handoko. Tapi aku teringat akan statusku sekarang. Kalau sampai Alvin metusin aku, aku harus jadi yang baru dan semuanya ulang dari awal lagi dan akan semakin lama sampai aku kembali bersama Rafel. Jadi aku mengurungkan niat untuk mengatakan yang tadi itu.

“Masa, sih? Gue baru pertama kali kok, liat lo. Perform lo bagus banget.”

Bobby nyengir, memperlihatkan dua lesung pipitnya. “Thanks. Tapi gue ragu lo bisa ngomong kayak gitu lagi setelah lo denger cowok lo yang satu ini.”

Aku memandang Alvin takjub. Aku tidak pernah tahu kalau dia bisa main musik sebelumnya. “Lo bisa nyanyi, Vin?”

Alvin memberi pandangan pada Bobby.

“Biasanya dia juga suka iseng-iseng manggung di sini,”lanjut Bobby. Bobby yang melihat tatapan mematikan Alvin langsung mengganti topik. “Lo bisa request kalau lo mau.”

“Hah? Bener, nih?”

Bobby mengangguk.

Aku menatap Alvin. “Mau request apa, Vin?”

“Terserah lo. Gue udah sering dan bisa kapan aja request.”

“Bisa lagu Michelle-nya The Beatles?”

Bobby mengacungkan kedua jempolnya. “Apa sih, yang Bobby nggak bisa?” Lalu ia kembali naik ke atas panggung.

Ketika Bobby mulai memetik gitarnya, saat makanan dan minuman pesanan kami datang.

Dan Bobby mulai bernyanyi, “Michelle ma belle…”

Alvin memberikanku sendok dan garpu dan kami menyantap spaghtetti bersama, seperti dalam film kartun.

“Coba kasih aku satu alasan.” Kata ‘aku’ yang disebutkan Alvin barusan membuatku jengah.

“Untuk?”

“Kenapa kamu suka lagu ini?”

Aku memutar-mutar garpuku di antara spaghetti sambil memandang Bobby yang masih bernyanyi sambil sering kali menatap ke arah meja kami. Aku mengangkat bahu. “Nggak tau. Papi seneng banget lagu ini. Dari kecil aku udah denger. Lagian lagunya emang bagus kok. Buat kangen masa kecil.”

“Kamu mau ceritain masa kecil kamu?”

Aku mengalihkan pandanganku dari Bobby ke Alvin. Belum pernah ada yang menanyakan soal itu padaku. Tidak dengan Safira atau Riana, bahkan Rafel sekalipun.

Aku memutar-mutar garpuku di atas spaghetti, melahapnya, mengunyahnya, dan menelannya lalu menjawab, “seperti bayangan kamu.”

“Memangnya kamu tau, seperti apa bayanganku?”

Aku menyeruput milkshake coklat kami. “Lemari penuh dengan pakaian-pakaian seperti putri. Boneka-boneka. Bermain di taman istana. Keluarga di hari Minggu. Berenang dan piknik bersama. Dongeng dan kecupan di malam hari.” Tapi kesedihan dalam nada suaraku tidak bisa kusembunyikan. Andai saja masa kecilku sebahagia yang aku bayangkan. “Yang tadi itu keluarga. Tapi kalau aku? Aku hanya melakukan kegiatan individu. Nggak ada yang peduli.”

Bobby sudah menyanyikan lagu lain. Kali ini yang lebih cheer up, membantuku untuk bangkit.

“Tapi seengaknya, seperti yang kamu bilang.” Aku tersenyum. “Nggak ada satu pun di antara kami yang menyerah. Justru karena semua itu, kami jadi belajar mandiri, sampai sekarang.”

Alvin menepuk-nepuk punggung tanganku. “Sorry, ya. Udah nggak usah dibahas lagi.”

Kami menghabiskan makanan kami. Setelah itu pamit pada Bobby dan yang lainnya. Lalu kami kembali berjalan sambil mencari taksi.

“Kamu belum cerita soal kamu,”kataku.

Alvin merangkulku sambil mengusap-ngusap lenganku, sepertinya dia sadar kalau aku kedinginan. “Memangnya kamu tertarik?”

“Coba kita liat, apa cerita kamu bisa membuat aku tertarik atau nggak.”

“Oke. Emang apa yang kamu pengen tau dari aku?”

Aku berpikir sesaat. “Mmm…Family?”

“Aku anak tunggal. Papa sama Mama tinggal di Bandung. Sedangkan aku di sini, tinggal sama Tante Ratih, adiknya Papa.”

“Kenapa nggak kuliah di Bandung aja?”

“Papa maunya aku kuliah di Jakarta. Sedangkan Mama nggak pengen pindah dari Bandung. Sedangkan keluargaku di Jakarta ya, cuman Tante Ratih.”

Bagaimana ya, rasanya? Terpisah dari keluarga? Padahal kita tau kita bisa menemui mereka. Beda dengan aku yang memang harus jarang ketemu Papi dan Mami dan nggak bisa menemui mereka. Apalagi Alvin anak tunggal. Selama aku kecil, biasanya Dafintha dan Adyani menemaniku bermain. Tapi mereka lebih sering sibuk dengan diri masing-masing.

Dafintha dan Adyani sudah mulai menunjukkan hobi mereka masing-masing sejak kecil. Dafintha mulai suka iseng mencet-mencet piano dan memainkan berbagai mainan alat musiknya. Adyani selalu berusaha untuk bisa membaca dan menulis. Sedangkan aku hanya bisa berdiri diam di antara mereka, bingung, apa yang akan aku kerjakan. Aku tidak tertarik pada alat musik yang dimainkan Dafintha, atau buku-buku yang dibaca Adyani.

Sebuah taksi kosong lewat dan Alvin melambaikan tangannya untuk menyetop taksi itu. Taksi itu berhenti di hadapan kami dan Alvin membukakan pintu untukku.

Aku duduk di ujung kanan dan Alvin di ujung kiri. Tidak seorang pun dari kami berusaha untuk mendekat.

Pikiranku kembali pada Rafel. Bagaimana aku telah menghianatinya malam ini. Apa dia bersama wanita lain juga? Atau dia masih setia menungguku? Apa aku begitu kejam? Hanya demi sedikiiiit saja memperjuangkan nama baik?

Aku mendekap diriku sendiri sambil melihat ke luar jendela. Sebuah keluarga baru saja turun dari sebuah mobil di depan sebuah restoran. Si ayah, si ibu, dan kedua anak perempuannya. Sepertinya mereka ingin makan malam bersama.

Kapan terakhir kali keluargaku makan malam bersama? Kurasa saat di Hotel Mulia 2 bulan yang lalu. Itu pun karena kebetulan Papi dan Mami ada meeting di sana.

Bahkan di setiap pertemuan keluar tiap bulan di rumah Nenek Runi pun, para orangtua sibuk dengan diri mereka masing-masing. Tapi aku sangat bahagia berada di tengah sepupu-sepupuku. Mereka selalu bersedia membantu satu sama lain.

Keluarga Handoko mungkin memang bukan yang paling tidak peduli dengan kebersamaan keluarga. Masih banyak keluarga di luar sana yang tidak memperhatikan soal ini. Tapi mereka memang tidak peduli ada atau pun tidaknya kebersamaan itu. Sedangkan aku peduli tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku menoleh ke arah Alvin yang sedang melihat ke luar jendela. Malam ini aku sudah belajar cukup banyak darinya. Alvin yang tadi pagi saja masih aku remehkan. Ternyata aku tidak tau apa-apa tentang dirinya.

Selama aku bersama Rafel, tidak pernah sekalipun dia menyinggung soal masa kecilku, atau pun keluargaku. Dia merasa sudah tau semuanya. Dia merasa kata ‘Handoko’ cukup untuk menggambarkan kondisi keluargaku. Aku pun tidak pernah keberatan dengan itu, karena aku berusaha untuk lari. Tapi Alvin menghentikanku, dan mengatakan kalau aku harus beristirahat, maka aku beristirahat.

Aku menggeser posisi dudukku, merapat pada Alvin. Alvin yang kaget langsung menoleh padaku dan tersenyum. Dirangkulnya kembali tubuhku, merapatkan ke tubuhnya dan aku meletakkan kepalaku di atas bahunya. Diciumnya sekali puncak kepalaku.

Mungkin lebih baik, kalau aku mengikuti arusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar