Hari ini keadaanku tidak jauh lebih baik daripada kemarin malam. Mataku bengkak karena aku menangis semalaman. Untungnya hari ini adalah kelas siang, kalau sampai kelas pagi, aku nggak tau lagi gimana nasibnya.
“Gue denger lo udah mutusin Rafel ya, Sen?”tanya Safira seusai kelasku hari ini.
Aku mengangguk. Ternyata beritanya cepet juga menyebar. “Cepet banget lo tau.”
Safira nyengir. “Iya dooong. Temen-temennya Rafel
Aku mengangguk lemah. “Duluan ya, Saf.
Safira bersiul dan tersenyum jail. “Wow. Cepet juga ya, reaksinya.”
Aku memukul pelan lengan Safira. “Sialan lo!”
Aku menemui
“Hey, Princess.”
Mau nggak mau aku blushing juga setiap kali dia memperlakukan aku layaknya seorang Putri. “Hai, Vin. Jadi
“Objek ringan? Contohnya?”
“Contohnya seperti manusia.”
“Gue kurang setuju. Kenapa nggak langsung ke objek yang biasanya lo foto aja? Anggap aja gue cuman pengen liat bagaimana cara kerja lo selama ini. Ya, ya, ya?”
“Kita sebenernya mau ke mana sih, Vin?” Aku mulai khawatir. Kok kayaknya dari tadi nggak nyampe-nyampe, ya? Jangan-jangan
“Tenang aja. Bentar lagi nyampe, kok.”
Aku berusaha untuk duduk tenang di tempatku, sambil melihat ke luar jendela. Aku tidak pernah ke kawasan ini sebelumnya. Biasanya aku hanya main di daerah-daerah shopping center. Sepertinya ini berada di pinggiran
“Abis ini lo nggak ada acara
Aku menggeleng.
“Kalau jam malem?”
Aku tertawa. “Hei, kenapa emangnya, sih? Papi sama Mami lagi nggak di rumah. Kalaupun mereka di rumah, pulang jam berapa pun nggak masalah.” Aku berhenti tertawa dan menatap
Aku keluar dari mobil dan berlari ke tengah
Aku menyapukan tanganku ke alang-alang yang berada di sekelilingku. Aku mendengar bunyi kamera dan menoleh ke arah
“Come on, Princess. Just one picture.”
“Aaaaaaah, Alvin! Enggak! Gue nggak suka difoto! Lo ngambilnya candid aja, deh!”
Aku mengerucutkan bibirku menatap
“
“Okay, Boss.” Aku membidik asal ke arah
Aku berjalan sambil menginyingkirkan alang-alang dari hadapanku yang mempersulit penghilatanku.
“
“Dooorr!”
Aku melepaskan kamera di tanganku, dan otomatis tergantung begitu saja di leherku. Aku berbalik dan siap menggertak
Aku mendengus.
“Gimana hasil fotonya?”
“Gue nggak ngerti sih, gimana cara ngambil objek yang bagus. Menurut gue sih, di sini bagus banget pemandangannya. Elo sih, bukannya ngajarin malah ngumpet.”
Jadi Alvin ngeliat kejadian itu? Kayaknya kejadiannya udah lama banget, deh.
“Di sini cukup dulu. Kita pindah lokasi,”katanya.
Kali ini aku tidak berteriak-teriak memanggil namanya lagi. Aku sudah benar-benar panik. Aku harus segera menemukan jalan keluarnya.
Dengan panik aku menyingkirkan alang-alang tinggi itu terus menerus dari hadapanku dengan cepat. Aku seperti berada di tengah laut dan tidak bisa melihat daratan.
Saat aku berada di puncak kepanikanku, sebuah tangan menangkap tanganku. Ketika aku berbalik, ternyata
Aku merasakan kecanggungan
“Lo buat gue panik, tau nggak?”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kok malah dia yang panik?
Aku menghela napas lega. “Akhirnya keluar juga.”
“Lain kali jangan ngilang kayak tadi. Lo
“Kok lo ngomong gitu? Lo sendiri yang pertama kali ninggalin gue.” Enak aja, malu dong, masa masuk perangkap dua kali?
Aku mengangguk.
Sejak awal memang aku tidak berminat, tidak berbakat, dan ini hanya sekedar untuk flirting.
Aku memandang keluar jendela. Lagi-lagi lokasi yang tidak aku kenal. Sebenarnya Alvin ini siapa, sih? Kayaknya kok, ajaib banget.
Kami berhenti di sebuah perkampungan kumuh dan aku langsung melotot. Belum turun dan mencium bau tumpakan sampah itu saja aku rasanya sudah mau muntah.
“Jangan bilang kita mau ke
“Of chor―” Aku menghentikan kata-kataku. “Tapi nggak harus ke sini
“Oh, ya. I remember. Lo adalah Handoko. Okay, I know. Seorang Handoko nggak mungkin ke tempat kayak gini. Lo kayaknya nggak suka dengan metode mengajar gue, lo bisa ganti guru. Right, we’re going home.”
Aku menahan tangan
Aku menarik napas dalam-dalam. Menyimpan oksigen sebanyak-banyaknya. Ketika aku turun bau yang menyengat, yang sangat kontras dengan aroma mobil
Jalanan becek. Rumah-rumah di
Semua orang menatap ke arah kami. Seolah kami ini orang dari planet lain. Tapi setelah puas menatap kami, mereka kembali mengembalikan perhatiannya pada pekerjaan mereka masing-masing.
“Jangan jauh-jauh dari gue.” Aku bisa mendengar nada perintah yang halus dari suara
Aku mengangguk.
Aku memperhatikan
Padahal tadi kita baru aja dari
“Tapi harusnya mereka nggak tinggal di tempat kayak gini.” Aku menatap tumpukan sampah itu sekali lagi, lalu memalingkan wajah sebelum aku muntah duluan. “Bukan soal kaya atau miskinnya. Tapi ini sama sekali nggak sehat. Mereka menghirup udara kayak gini setiap hari. Lalatnya belum lagi! Air bersihnya gimana? Anak-anak mereka?”
Aku jadi ikut tersenyum juga. Senang karena kahirnya
Aku mengangguk setuju.
Saat kami sudah sampai di dalam mobil, aku langsung menghirup napas lega. Akhirnya, terbebas dari sampah-sampah itu juga. Untung aja aku nggak berada dalam posisi mereka. Bisa-bisa tiap hari aku jadinya spa di lautan sampah!
Tiba-tiba saja muncul ide di kepalaku. “Eh, Vin. Setuju nggak, kalau misalnya kapan-kapan kita balik ke sini lagi dan bagi-bagi makanan, minuman, pakaian bersih buat mereka? Bukan apa-apa, sih. Gue cuman ragu ama makanan yang mereka makan. Apalagi yang anak-anaknya.”
Lagi-lagi dia setuju!
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sesekali Alvin melirik ke arahku, begitu juga sebaliknya. Tapi kami tidak saling bicara. Sepertinya dia tau kalau aku sudah sangat amat kelelahan. Semalaman nangis, bangun bangun harus kuliah, tersesat di
Aku menyenderkan kepalaku ke pintu mobil
Akhirnya aku tertidur.
“Eh, udah nyampe? Kok lo tau rumah gue?”tanyaku.
“Iya, iya! Thanks, ya. Besok jadinya gimana?”
“I’ll pick you up tomorrow, at 10 o’clock sharp! On time! Kita ngejar matahari.”
Aku memutar bola mataku. “Right, right.”
“See you tomorrow, Princess.”
Aku menguap, sebagai balasannya.
“Seannaaaaaa! Wake up! Wake up!” Suara nge-bass Dipta mulai berteriak-teriak lagi. Dia mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras. Suaranya yang sekarang udah lumayan enak di denger, daripada suaranya waktu kecil dulu. Cempreng, nyaring, ngerusak kuping!
“Shut up!” Aku mengambil bantal dan menutup telinga dan wajahku.
“It’s ten thirty! Temen lo udah dateng, tuh! Nungguin dari tadi!”
“Get out, you jerk!”
“What? Gue cuman mau ngebangunin kok! Makasih lo harusnya ama gue!” Aku bisa mendengar ocehan Dipta semakin lama semakin pelan dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Kamarku kembali tenang.
Sampai akhirnya…
“Seanna? 10 o’clock, sharp! Remember?” Suara Alvin kali ini yang terdengar.
Aku membuka mataku. Kok,
“Kalau emang lo nggak mau ikut gue hari ini, nggak papa. It’s okay.”
Ikut dia? Oh, iya!
Aku membuka mataku lebar-lebar dan bangkit duduk dengan cepat. Kuliah Alvin berdiri di sisi tempat tidurku dengan kedua tangan di lipat di depan dadanya. Aku melihat ke jam digitalku di samping tempat tidur. 10: 43.
“Oops.” Aku memandang
“Lo mau ikut gue, atau enggak?”
“Iya, iya. Gue siap-siap dulu. Lo tunggu aja di bawah. Kalau mau makan minta aja ama Bi Titin atau kalau mau apa-apa bilang ke Dipta aja.”
“Okay. 10 minutes.”
“What?” Seumur-umur, aku siap-siap paling bentar itu satu jam. Setengah jam buat mandi setengah jam lagi buat siap-siap.
Sebelum aku sempat protes
Aku langsung turun dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandiku, dengan santai. Ngapain juga cuman hanya karena
“Seanna, I told you. 10 minutes! Gue nunggu hampir satu jam di sini.”
Aku hanya bisa nyengir. “Gue
“Gue tau lo cewek, tapi lo ―”
“Okay! I’m sorry!” Kenapa sih, nih orang? Kemarin dia udah mau setuju ama aku. Eh, sekarang? Malah nyalah-nyalahin aku lagi! Rafel nggak pernah tuh, ya, marah-marah karena aku kelamaan dandan. Dia juga nggak pernah sok on-time. Tapi si
Begitu keluar rumah, aku langsung bertanya, “mobil lo mana?”
“Nggak bawa.”
“Oh, bentar ya, gue ambil kunci mobil dulu―”
“Eh, enggak. Kita nggak pake mobil.”
Aku menatapnya, bingung. Maksudnya? Mau pake sepeda gitu? Motor? Tapi siapa yang punya motor?
“Terus? Kita naik apa?”tanyaku.
“Naik Taksi, abis itu naik Trans Jakarta.”
What? Public transportation? Apalagi bus! Oh. Oh. Bus? Dengan orang-orang bau itu? Ngapain aku dandan segala?
Tapi aku nggak protes lagi. Pasti nanti dia bakalan bilang, “cari guru lain aja”.
Kami berjalan ke depan kompleks. Mataharinya teriak banget lagi! Tau gini aku bangun pagi-pagi banget, biar kalau jalan mataharinya masih matahari pagi, bukan matahari siang yang menyengat gini.
Sesampainya di jalan raya depan kompleks, kami harus menunggu taksi dulu. Untungnya nggak terlalu lama, karena aku udah nyaris terpanggang gosong. Tapinya taksi yang lewat bukan kelas atas, tapi kelas menengah. ACnya nggak dingin pula!
Setelah sampai di stasiun Trans Jakarta, kami langsung naik ke jembatan penyebrangan yang terhubung dengan stasiun. Jembatannya panjang dan menanjak. Bagus ada atapnya, kalau enggak….
Sebelum sempat aku bertindak,
“Makasiiiih maas…” Nenek itu terlihat senang sekali menerima uang pemberian
Kami kembali berjalan menuju stasiun. Ternyata stasiun sudah ramai. Kami cepat-cepat membeli tiket dan mengantri bersama penumpang yang lain. Tidak lama kemudian bus datang dan kami berebutan masuk.
Tepat ada dua tempat duduk kosong, aku dan
“Untung dapet tem―”
Tiba-tiba saja
Aku menatap nenek-nenek yang sudah bungkuk di hadapanku. Dia tersenyum pada
Aku memberi pandangan pada
Gini nih, kalau naik angkutan umum. Repot. Harus dempet-dempetan. Cepet-cepetan dapet tempat duduk. Coba kayak nenek-nenek di sebelahku ini, kalau aja nggak ada orang kayak
Saat berhenti pada stasiun berikutnya, masuk seorang ibu-ibu hamil. Aku teringat pada Adyani. Bagaimana kalau adikku berada dalam posisi ibu-ibu itu. Aku menirukan
Aku berdiri di dekan
Ternyata kalau berdiri susah juga, ya. Apalagi busnya ngebut. Bawaannya mau jatuh terus. Belum lagi kalau rem mendadak. Tangan berkeringat lagi megang tiang besi segitu lama dan harus keras. Nggak kebayang gimana kalau nenek dan ibu-ibu hamil itu yang berdiri. Bisa bener-bener kelempar.
Ibu-ibu yang duduk di seberang kami terlihat berusaha menahan tawanya melihat tingkah kami. Seolah berkata, ‘anak muda jaman sekarang’.
“Kita turun di stasiun ini,”kata
Begitu bus berhenti kami turun, kembai berdesak-desakan.
Kami berhenti di Monas. Sekarang aku tau apa lokasi selanjutnya. Pasti kota-kota tua.
“Kita jalan keliling aja, ya? Namanya objek, lebih bagus kalau datangnya natural, bukan dicari.”
Aku mengangguk.
Ketika matahari semakin terik, aku mengobrak-abrik tasku mencari sunblock. Bisa-bisa kuliatku kebakar, dan wajahku kayak kepiting rebus nantinya! Mana sih, tuh sunblock di saat-saat kayak gini? Nggak tau apa aku udah…
Tiba-tiba aja
Aku menatap
Kami melanjutkan perjalanan. Menuju museum-museum. Bangunan-bangunan tua mengelilingi kami. Selama ini aku nggak pernah nyadar ada daya tarik sendiri dari bangunan-bangunan tua ini. Memang sih, keliatannya serem, tapi arsitekturnya sudah jarang ditemukan yang seperti ini.
Saat melihat tukang es krim, aku langsung bersemangat. “Vin, Vin!” Aku menarik-narik lengan baju
“Yang strawberry ada, Bang?”tanyaku pada si penjual.
“Oh, yang stoberi ada ada, Neng.” Si Abang penjual mengobrak-abrik tumpukan es krimnya dan memberikan yang strawberry untukku.
Aku langsung membuka dan memakannya. Mmm…enaaaak…dingin lagi! Pas untuk cuaca yang panas gini. Aku berpaling pada
“Kacang merah,
Setelah membayar, kami pun melanjutkan perjalanan kami sambil memakan es krim masing-masing.
“Oooh…jadi lo suka cokelat ya,”kataku.
Aku tertawa ngakak sambil memukul pelan lengan
Nggak kerasa langit udah gelap. Cuaca yang tadinya panas terik jadi dingin. Bangunan-bangunan tua jadi lebih mencekam. Mau nggak mau aku jadi takut juga. Keindahan mereka yang tadi siang kulihat jadi berubah dengan bayangan-bayangan hantu dibenakku. Untungnya aku nggak sendirian di sini.
Kami berjalan sambil menunggu taksi yang lewat.
“Cerita dong, An,”kata
“Eeeeh, jangan panggil gue, An! Apalagi Anna. Panggil Sen, Na, atau Seanna aja.”
“Lho emang kenapa? Anna
Aku mendengus dan melambaikan tangan sebagai arti, “terserah lo, deh.” Sejak dulu, entah kenapa aku nggak suka dipanggil Anna. Kesannya terlalu latin. “Emang lo mau gue cerita apa?”
“Gimana rasanya jadi salah satu anggota dari Handoko? Keluarga yang berpengaruh di
Aku tersenyum sinis. “Menurut lo? Seperti yang orang-orang katakan. Kami manja. Bergantung pada harta keluarga. Bodoh. Tukang buat masalah. Lo
Aku mendongak dan memandangnya. “Kuat-kuat? Maksud lo?”
“Contohnya yang elo sebutin tadi. Semua orang pada ngomongin keluarga lo. Ngomongin soal masalah di keluarga lo, mau pun kelebihan keluarga lo. Semua orang tau cerita tentang keluarga lo. Gue tau Zandy dan Verena sampai sekarang masih tetap berjuang. Gue tau Ledya juga melakukan hal yang sama. Gue juga tau kalau walaupun Dafintha udah kerja di Handoko Group tapi dia masih pengen jadi musisi. Gue juga tau kalau Adyani, dalam keadaan kayak sekarang pun masih semangat buat belajar dan ngejar cita-citanya. Di luar semua berita itu, harusnya lo bersyukur nggak ada berita stress, apalagi kematian karena bunuh diri. Lo harus liat sepupu-sepupu lo, saudara-saudara lo, mereka berjuang, mereka bertahan, bahkan dengan cemoohan banyak orang.”
Kata-kata
“Thanks ya, Vin. Ternyata lo bijak juga.”
Aku membalas senyumannya.
“Sekarang lo gantian cerita dong, Vin. Gimana rasanya jadi orang yang bukan socialite?”
“Mmm…biasa aja.”
“Masa, sih? Lo nggak pernah merasa kekurangan?”
Segitunya? Kalau aku, mau apa tinggal tunjuk.
“Terus? Kalau love life? Apa gampang kalau bukan socialite, buat dapetin… cewek?”
“Oooh…jadi lo nggak punya cewek?”
Bagus, dong. Itu berarti aku nggak usah susah-susah lagi.
“Dan lo sendiri? Kabarnya lo mutusin Rafel?”
Begitu nama Rafel disebut, aku berubah tegang. Aku di sini sekarang. Berangkulan bersama
“Iya.” Aku berusaha membuat nada suaraku seyakin mungkin.
“Kenapa?”
Aku terdiam sebentar. Nggak mungkin aku ngomong yang sebenernya ke
Aku melotot sekilas tapi buru-buru mengembalikan ekspresiku seperti semula. Secepat ini? Cuman baru 2 hari flirting? Flirting yang bahkan mungkin baginya bukan flirting.
Aku tersenyum. “Tergantung.”
“Tergantung, apa lo mau nembak gue beneran, atau enggak?”
Aku menaikkan sebelah alisku. “Gitu cara nembak?”
“I know it’s not working! Gue juga bukan socialite yang bisa ngasih lo cincin berlian disaat-saat kayak gini.”
“I don’t need a diamond ring. Lo cukup bilang aja.”
Aku hanya diam. Otakku kembali memutar kejadian hampir setahun yang lalu. Saat Rafel memintaku untuk menjadi pacarnya, memberikanku kalung berbandul hati berwarna pink muda (yang bahkan jarang sekali aku pakai, kecuali saat anniversary kami tiap bulannya, karena kalau sama hilang sama aja dengan kehilangan nyawa). Tentu saja penembakkan kali ini sangat berbeda. Tidak di antara teman-temanku, para socialite, di club. Tapi di tengah-tengah bangunan tua. Bukan juga dengan kalung yang indah, tapi hanya dengan kata-kata.
Tentu saja kata-kata juga sebagai alat pemikat wanita. Tapi aku tidak tahu, apakah aku adalah tipe wanita seperti itu atau bukan?
“Tapi…”
“Tentu enggak.”
“Jadi?”
Aku tersenyum lalu mengangguk berlahan.
Aku terhenyak. Kenapa Alvin terdengar begitu tulus? Tidak. Ini salah. Tidak seharusnya dia serius. Aku masih menyayangi Rafel.
“I-I love you too, Vin.”
Aku menyeka air mataku. Entah air mata kebahagiaan atau kesedihan.
“Mmm…Vin? Laper.”
“Hei, satu lagi kebiasaan di keluarga Handoko. Makan harus teratur, nggak ada kata telat.”
Aku menunduk. Blushing, karena kemakan omongan sendiri.
Kami duduk di bangku paling depan, dekat panggung, di mana seorang cowok sedang bernyanyi dengan gitar akustiknya. Aku suka acara-acara akustik. Apalagi kalau yang nyanyi cowok. Mendengar setiap petikan gitarnya, rasanya aku ikut dihanyutkan.
Kami memesan sepiring besar spaghetti untuk berdua, dan segelas milkshake cokelat besar untuk berdua juga.
“Lo kayaknya sering banget ke sini, ya?”tanyaku. Mataku tetap tertuju pada penyanyi cowok yang masih tampil di atas panggung.
“Iya. Di sini makanannya enak-enak. Orang-orangnya juga seru-seru. Lo suka sama Bobby, ya?”
Aku menoleh padanya. “Ah, siapa? Bobby?”
“Ooooo… Suka, sih. Gue seneng jenis musiknya. Dafintha sebenernya sering bikin lagu-lagu kayak gini. Tapi gue lebih suka kalau cowok yang nyanyi.” Aku teringat pada Dafintha. Yang setiap malam nggak berhenti-hentinya mengotak-atik alat musik. Entah gitarnya, keyboard, piano, atau asal gebuk-gebuk meja. Tadinya Dafintha udah minta ijin ke Papi dan Mami buat beli drum, tapi tentu aja nggak dikasih. Belum ada drumnya aja udah berisiknya minta ampun. Sedangkan Dipta berbakat dalam gitar, tapi nggak pernah bisa nyiptain lagu, atau main akustik sebagus Bobby atau yang lainnya.
Setelah lagu yang dinyanyikan Bobby selesai,
“Cewek lu?”tanyanya.
Aku yang belum terbiasa dengan kata-kata itu sedikit menegang. Sekarang statusku adalah ceweknya
“Eh, iya, kenalin, ini Seanna.” Ternyata Alvin sama gugupnya denganku.
Aku membalas uluran tangan Bobby. “Seanna.”
Bobby menatapku dan terlihat berpikir. “Kayaknya gue sering liat lo, deh. Tapi di mana, ya?”
Baru saja aku mau membuka mulut, untuk bilang, mungkin dia melihatku di TV atau acara-acara penting karena aku adalah Seanna Handoko. Tapi aku teringat akan statusku sekarang. Kalau sampai
“Masa, sih? Gue baru pertama kali kok, liat lo. Perform lo bagus banget.”
Bobby nyengir, memperlihatkan dua lesung pipitnya. “Thanks. Tapi gue ragu lo bisa ngomong kayak gitu lagi setelah lo denger cowok lo yang satu ini.”
Aku memandang
“Biasanya dia juga suka iseng-iseng manggung di sini,”lanjut Bobby. Bobby yang melihat tatapan mematikan
“Hah? Bener, nih?”
Bobby mengangguk.
Aku menatap
“Terserah lo. Gue udah sering dan bisa kapan aja request.”
“Bisa lagu Michelle-nya The Beatles?”
Bobby mengacungkan kedua jempolnya. “Apa sih, yang Bobby nggak bisa?” Lalu ia kembali naik ke atas panggung.
Ketika Bobby mulai memetik gitarnya, saat makanan dan minuman pesanan kami datang.
Dan Bobby mulai bernyanyi, “Michelle ma belle…”
“Coba kasih aku satu alasan.” Kata ‘aku’ yang disebutkan
“Untuk?”
“Kenapa kamu suka lagu ini?”
Aku memutar-mutar garpuku di antara spaghetti sambil memandang Bobby yang masih bernyanyi sambil sering kali menatap ke arah meja kami. Aku mengangkat bahu. “Nggak tau. Papi seneng banget lagu ini. Dari kecil aku udah denger. Lagian lagunya emang bagus kok. Buat kangen masa kecil.”
“Kamu mau ceritain masa kecil kamu?”
Aku mengalihkan pandanganku dari Bobby ke
Aku memutar-mutar garpuku di atas spaghetti, melahapnya, mengunyahnya, dan menelannya lalu menjawab, “seperti bayangan kamu.”
“Memangnya kamu tau, seperti apa bayanganku?”
Aku menyeruput milkshake coklat kami. “Lemari penuh dengan pakaian-pakaian seperti putri. Boneka-boneka. Bermain di taman istana. Keluarga di hari Minggu. Berenang dan piknik bersama. Dongeng dan kecupan di malam hari.” Tapi kesedihan dalam nada suaraku tidak bisa kusembunyikan. Andai saja masa kecilku sebahagia yang aku bayangkan. “Yang tadi itu keluarga. Tapi kalau aku? Aku hanya melakukan kegiatan individu. Nggak ada yang peduli.”
Bobby sudah menyanyikan lagu lain. Kali ini yang lebih cheer up, membantuku untuk bangkit.
“Tapi seengaknya, seperti yang kamu bilang.” Aku tersenyum. “Nggak ada satu pun di antara kami yang menyerah. Justru karena semua itu, kami jadi belajar mandiri, sampai sekarang.”
Kami menghabiskan makanan kami. Setelah itu pamit pada Bobby dan yang lainnya. Lalu kami kembali berjalan sambil mencari taksi.
“Kamu belum cerita soal kamu,”kataku.
“Coba kita liat, apa cerita kamu bisa membuat aku tertarik atau nggak.”
“Oke. Emang apa yang kamu pengen tau dari aku?”
Aku berpikir sesaat. “Mmm…Family?”
“Aku anak tunggal. Papa sama Mama tinggal di
“Kenapa nggak kuliah di
“Papa maunya aku kuliah di
Bagaimana ya, rasanya? Terpisah dari keluarga? Padahal kita tau kita bisa menemui mereka. Beda dengan aku yang memang harus jarang ketemu Papi dan Mami dan nggak bisa menemui mereka. Apalagi Alvin anak tunggal. Selama aku kecil, biasanya Dafintha dan Adyani menemaniku bermain. Tapi mereka lebih sering sibuk dengan diri masing-masing.
Dafintha dan Adyani sudah mulai menunjukkan hobi mereka masing-masing sejak kecil. Dafintha mulai suka iseng mencet-mencet piano dan memainkan berbagai mainan alat musiknya. Adyani selalu berusaha untuk bisa membaca dan menulis. Sedangkan aku hanya bisa berdiri diam di antara mereka, bingung, apa yang akan aku kerjakan. Aku tidak tertarik pada alat musik yang dimainkan Dafintha, atau buku-buku yang dibaca Adyani.
Sebuah taksi kosong lewat dan
Aku duduk di ujung kanan dan
Pikiranku kembali pada Rafel. Bagaimana aku telah menghianatinya malam ini. Apa dia bersama wanita lain juga? Atau dia masih setia menungguku? Apa aku begitu kejam? Hanya demi sedikiiiit saja memperjuangkan nama baik?
Aku mendekap diriku sendiri sambil melihat ke luar jendela. Sebuah keluarga baru saja turun dari sebuah mobil di depan sebuah restoran. Si ayah, si ibu, dan kedua anak perempuannya. Sepertinya mereka ingin makan malam bersama.
Kapan terakhir kali keluargaku makan malam bersama? Kurasa saat di Hotel Mulia 2 bulan yang lalu. Itu pun karena kebetulan Papi dan Mami ada meeting di
Bahkan di setiap pertemuan keluar tiap bulan di rumah Nenek Runi pun, para orangtua sibuk dengan diri mereka masing-masing. Tapi aku sangat bahagia berada di tengah sepupu-sepupuku. Mereka selalu bersedia membantu satu sama lain.
Keluarga Handoko mungkin memang bukan yang paling tidak peduli dengan kebersamaan keluarga. Masih banyak keluarga di luar
Aku menoleh ke arah
Selama aku bersama Rafel, tidak pernah sekalipun dia menyinggung soal masa kecilku, atau pun keluargaku. Dia merasa sudah tau semuanya. Dia merasa kata ‘Handoko’ cukup untuk menggambarkan kondisi keluargaku. Aku pun tidak pernah keberatan dengan itu, karena aku berusaha untuk lari. Tapi Alvin menghentikanku, dan mengatakan kalau aku harus beristirahat, maka aku beristirahat.
Aku menggeser posisi dudukku, merapat pada
Mungkin lebih baik, kalau aku mengikuti arusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar