Sabtu, 11 Juli 2009

Never Give Up In Love part 1

“Iya, kita putus,”ulang Zandy.

Rezandy Putra Prasetyo, yang akrab dipanggil Zandy. Anak bungsu dari 3 bersaudara Prasetyo, yang juga merupakan cucu dari Irfanto Handoko. Zandy dikenal sebagai anak nakal di keluarga Handoko, yang paling sering terkena omelan Neneknya, Seruni.

Cewek dihadapannya kini, Kayla, yang sudah dipacarinya sejak 3 bulan yang lalu. Kayla adalah anak dari rekan bisnis Papanya. Zandy yang sering disuruh Ayahnya untuk ke kantor keluarga mereka, otomatis sering bertemu dengan Kayla. Sampai akhirnya Zandy tertarik untuk menjadikan Kayla sebagai sasaran berikutnya.

3 bulan bukanlah waktu yang paling sebentar dalam menjalani hubungan bagi Zandy. Ada yang hanya seminggu, bahkan ada yang hanya sehari. Jika Zandy sudah merasa bosan dan jenuh, maka dia akan mengucapkan kata putus dengan gampangnya.

“Aku salah apa?”tanya Kayla. Cewek itu masih juga ingin mempertahankan hubungannya dengan Zandy. Walaupun Zandy sudah terkenal sebagai player, tapi itu semua tidak berarti karena fisiknya yang menjadi idaman semua wanita dan juga darah Handoko yang mengalir di tubuhnya. Siapa sih, yang tidak tergiur dengan harta keluarga Handoko?

Zandy langsung berdecak. Itu salah satu pertanyaan yang paling ia benci. Karena semua manusia jelas berbuat salah, jadi kurang masuk akal kalau dia bertanya apa salahnya.

It’s just over, Kayla. Gue merasa nggak cocok ama lo.”jawab Zandy. Itu merupakan alasan keduanya, alasan pertamanya karena Zandy sudah bosan. Apalagi Kayla adalah seorang cewek yang manja. Sudah bagus Zandy bisa tahan 3 bulan dengan cewek model begini, biasanya paling lama hanya sebulan. Itu semua karena embel-embel nasehat dari Ayahnya untuk mempertahankan hubungan mereka. Ayahnya sudah setuju dengan hubungan mereka. Apalagi dengan adanya hubungan mereka, bisnis Handoko bisa lebih lancar lagi.

“Aku nggak nyangka kamu bisa ngomong gini ke aku. Padahal kemarin kamu masih bilang sayang. Ternyata begini toh, seorang Rezandy Prasetyo.” Kayla turun dari mobil Zandy dan langsung masuk ke rumahnya.

Girls are girls, batin Zandy lalu kembali melajukan mobilnya.

Zandy sekali lagi meneguk Tequila-nya, kali ini sampai habis, tidak tersisa sedikit pun di gelasnya.

Sang sahabat, Adly, menyingkirkan botol Tequila yang baru ingin diraih Zandy, sejauh mungkin dari cowok itu. Lalu ditepuknya pelan punggung Zandy. “Lo kenapa, sih? Putus lagi?”

Zandy merebahkan kepalanya di atas meja, di antara tangannya. Menikmati kebisingan saat itu, di Hullabaloo.

Kan elo yang mutusin. Kenapa elo yang desperate?”lanjut Adly.

Zandy mengangkat kepalanya, dan merebut botol Tequila dari tangan Adly. “Bego sih, tuh cewek! Banyak maunya! Udah bagus gue tahan 3 bulan ama dia!”

“Hei, Ndy.” Seorang cewek yang merupakan mantan Zandy, bernama Fiona, datang menyapanya.

Zandy yang sudah mabuk berat, suasana hatinya tambah kacau melihat orang yang benar-benar tidak pernah ingin dilihatnya lagi. Fiona merupakan mantan Zandy yang paling agresif. Awalnya Zandy kagum pada cewek itu karena dia mandiri. Tapi semakin jauh, kegaguman Zandy hilang berganti dengan sakit hati. Awalnya Zandy tidak pernah berniat untuk main-main dengan Fiona. Tapi tidak disangka ternyata Fiona yang main-main dengannya. Ternyata Fiona ada affair dengan 2 orang cowok lain selain Zandy. Tentu saja setelah itu hubungan mereka langsung berakhir.

Fiona merebut segelas Tequila yang baru diisi Zandy dari tangan cowok itu dan meneguknya dalam sekali teguk. Fiona memang gila minum, lebih gila lagi daripada Zandy.

Zandy langsung berdiri. Adly membantu sahabatnya yang sempoyongan untuk berjalan.

“Hei, Hon, mau ke mana?”tanya Fiona dengan nada manja.

Zandy tidak menjawabnya, dan Adly juga hanya bisa diam, dia tidak pernah berani ikut campur dengan masalah Zandy. Menurutnya semua masalah sahabatnya ini adalah kesalahan Zandy sendiri.

Tidak disangka-sangka di parkiran Hullabaloo, mereka berpapasan dengan sepupu Zandy, Verena. Verena bisa dibilang cucu perempuan kedua kesayangan dari Nenek Runi, setelah Adyani yang paling pintar dan dapat dijamin masa depannya cerah. Verena memang tidak sepintar Adyani, tapi dia anak baik-baik dan paling cantik di antara cucu-cucu Handoko. Zandy dan Verena memang tidak terlalu dekat. Begitu juga orangtua mereka masing-masing. Walaupun terkadang obrolan mereka masih suka yambung karena mereka seumur dan satu sekolah.

“Zandy?”gumam Verena begitu melihat Adly dan Zandy yang mendekat padanya.

Ditekannya kembali tombol lock pada kunci mobilnya dan mendekati Adly dan Zandy.

Ditepuknya bahu Adly, “hei.”

Adly kontan kaget dan hampir saja melepaskan tangannya dari Zandy. “Oh, eh, hey, Ren.”

“Zandy teler lagi?”tanya Verena sambil melihat kearah Zandy yang benar-benar sudah tidak sadarkan diri dibopongan Adly.

“Iya, nih.”jawab Adly singkat sambil memberikan tatapan menusuk pada Zandy.

Verena melihat ke sekelilingnya. “Pasti dia nggak bawa mobil, ya?”

“Tadinya sih, bawa. Tapi kita berangkat ke sini pake mobil gue. Mobilnya ada di rumah gue,”jawab Adly sambil kerepotan mengeluarkan kunci mobilnya.

“Ya, udah. Pake mobil gue aja. Biar gue yang nganterin. Nggak enak ngerepotin orang,”kata Verena sambil menunjuk mobilnya yang berada di belakang.

Adly langsung nyengir. “Bagus, deh. Biar besok dia suruh ambil mobilnya di rumah gue. Soalnya bisa repot juga kalau dia pake nginep di rumah gue segala.”

Verena membuka kunci mobilnya dan membukakan pintu agar Adly bisa lebih mudah memasukkan Zandy ke dalam.

Thanks ya, Ren!”kata Adly sambil menutup pintu dan menghela napas lega karena sudah terlepas dari beban tubuh Zandy.

“Gue yang harusnya makasih. Si Geblek satu ini pasti udah ngerepotin lo kan? Mabok kok nggak kira-kira.”maki Verena sambil melirik ke arah Zandy yang ada di dalam mobilnya.

Adly membalasnya dengan senyuman dan berbalik ke mobilnya. Tapi baru beberapa langkah ia kembali berbalik. “Oh, ya sekedar informasi, dia minum 2 botol Tequila hari ini. Bilangin ke nyokapnya, biar bisa dikontrol. Jangan sampe tuh anak tinggal nunggu mati.”

2 botol? batin Verena nggak percaya.

Adly melambai dan masuk ke dalam mobilnya.

Verena memutar dan langsung duduk di kursi kemudi. Dinyalakannya mesin mobil dan dipandanginya Zandy yang tertidur pulas di sampingnya. Sebenarnya dia tidak kenal dekat siapa Zandy ini. Tapi setaunya Zandy memang terkenal kenakalannya dan juga adalah seorang player.

“Udah player, ngerepotin lagi!”umpat Verena.

Sesampainya di rumah Zandy, Verena harus membuka pintu gerbang sendiri. Lantaran dia sudah membunyikan klakson berkali-kali tapi tidak ada seorang pun yang membukakan pintu. Untungnya pintu gerbang nggak dikunci.

Di masukkannya setengah badan mobilnya ke dalam garasi. Ketika baru mematikan mesin mobil, seorang laki-laki keluar dari rumah Zandy, yang dikenalnya sebagai Ghaniya, kakak sulung Zandy.

“Lho, Verena? Gue kira Zandy.”kata Ghaniya di ambang pintu masuk rumahnya.

Verena memutar dari depan mobilnya dan membuka pintu mobilnya. “Bisa tolong bantuin nggak, Mas? Aku pasti nggak kuat bawa Zandy masuk.”

Ghaniya langsung menghampiri Verena dan geleng-geleng kapala ketika tahu adiknya tertidur pulas di dalam mobil sepupunya itu. Ditariknya Zandy keluar dan membopongnya. Zandy hanya bergumam nggak jelas disela-sela tidur dan kemabokkannya.

“Dari Hullabaloo, ya?”tanya Ghaniya.

Verena mengangguk sambil menutup kembali pintu mobilnya. “Tapi jangan salah sangka, ya. Aku nggak ikut-ikutan minum. Cuman ada pesta ulang tahun temen aja.”

Ghaniya membetulkan posisi berdiri tubuh Zandy. “Ya, enggaklah, Ren. Mana mungkin kamu yang anak baik-baik bisa jadi kayak adek gue yang satu ini? Terus, mobilnya Zandy mana?”

“Di rumah Aldy. Tadinya dia mau dibawa pulang ke rumahnya Aldy. Tapi daripada ngerepotin, mending aku ajalah yang nganterin.”

Thanks banget ya, Ren. Sorry, udah ngerepotin lo. Gue masuk dulu ya, kalau lo mau nginep sini juga nggak pa-pa. udah malem gini soalnya.”

Verena menggeleng. “Besok kan sekolah.”

Ghaniya melirik ke arah adiknya dan seolah bertanya, lo nggak sekolah besok? Meskipun Ghaniya sudah tau pasti jawaban adiknya ini.

“Oh, iya. Katanya Adly, 2 botol Tequila,”tambah Verena, berharap pesan berantainya, Adly, dirinya, Ghaniya, hingga sampai ke orangtuanya.

Ghaniya memandangi adiknya dan bertanya dalam hati, 2 botol, Ndy? Bukannya biasa 3?

Zandy membuka matanya sambil mengerang karena kepalanya sakit bukan main. Kalau bukan karena perutnya yang sudah menjerit, mungkin sekarang dia sudah kembali tidur.

Zandy berlahan bangkit berdiri. Sebelumnya dia mengira berada di rumah Aldy, tapi begitu sadar dia berada di kamarnya ia langsung bingung.

Sejak kapan sahabat gue jadi serajin ini nganterin gue langsung ke rumah?

Zandy keluar kamar dan langsung turun ke bawah. Seperti biasanya dia sudah mendapati Ghaniya, kakak cowoknya itu sudah duduk di meja makan dengan koran di tangannya. Pakaiannya sudah rapih, dengan kemeja dan dasinya. Di sisi lain ada kakak perempuannya, Ledya, yang juga sudah terlihat siap untuk kuliah.

“Masih hangover, ya?”tanya Ledya.

Zandy tidak menjawabnya. Dia menuangkan susu cokelat kesukaannya, segelas penuh lalu langsung meminumnya.

Begitu sadar akan kehadiran adik bungsunya, Ghaniya menurunkan koran dan melipatnya. “Kapan sih, lo mau berubah? Lo udah hampir 18 tahun, Ndy.”

Zandy duduk di kursinya seperti biasa. “Kapan-kapan, deh,”jawabnya dengan bercanda.

Ghaniya geleng-geleng kepala. “Gue, dititipin tanggung jawab ama Ayah dan Ibu, ngejagain lo dan Dya. Lo ngerti posisi gue dong, Ndy.”

“Dya aja nggak ambil pusing, kenapa lo sok repot gitu sih?”tanya Zandy dengan nada sinis sambil melahap rotinya.

Ghaniya yang gampang naik pitam itu langsung memelototi Zandy. Ini bukan pertama kalinya Zandy nggak bisa dibilangin. Bukan hanya oleh Ghaniya, tapi juga oleh kedua orangtuanya, yang kebetulan sudah seminggu ini berada di Aussie dan baru akan pulang sore nanti.

“Ini bukan masalah Dya, Rezandy! Justru kita sebagai laki-laki yang harusnya ngelindungin Dya. Harusnya lo malu, malah dia yang nasehatin lo!”balas Ghaniya.

Ledya bangkit berdiri sambil membawa tasnya. Dia memang tidak bisa disinggung kalau soal perbedaannya di antara kedua saudara kandungnya itu. Apalagi mengenai laki-laki dan perempuan. Ledya anak yang pintar dan cantik. Hanya saja dia pendiam dan tertutup.

“Selamat pagi,”kata Ledya lalu pergi begitu saja.

“Nggak biasanya lo kayak kemarin. Kalau hari Minggu lo nggak pernah semabuk itu. Karena besoknya lo harus sekolah. Kecuali…” Ghaniya memberi pandangan pada adiknya, “lo putusin Kayla, ya?

Who cares?”kata Zandy dengan mulut penuh.

I cares.”

“Apa itu yang lo maksud dengan tanggung jawab?” Zandy mengambil sepotong roti lagi, membawa gelas berisi susunya dan kembali naik ke atas.

“Bilang makasih sama Verena. Dia yang nganterin lo semalam.”teriak Ghaniya dari bawah ketika Zandy sudah berada di tengah tangga.

Verena? Ngapain dia di Hullabaloo?

Malam ini ada perkumpulan keluarga di rumah Nenek Runi. Di mana memang sudah menjadi kebiasan keluarga Handoko sejak sepeninggalan Kakek Irfan 10 tahun yang lalu. Tentu saja yang menjadi topik utama adalah cucu kesayangan dan cucu paling tidak kesayangan. Yaitu Danar, dan Zandy, juga Adyani dan Dafintha.

“Apa benar Verena?”tanya Nenek Runi, menanyakan kebenaran mengenai mabuknya Zandy kemarin malam.

Verena mengangguk lemah.

Nenek Runi berpaling ke Zandy. “Lagi? Apa kau sudah bosan hidup Rezandy?”

Zandy mengutuk dirinya sendiri. Kenapa Verena bisa ada di Hullabaloo semalam? Apa yang dilakukan anak baik-baik itu di sana? Dan kenapa Aldy begitu saja menyerahkan dirinya ke Verena? Kenapa dirinya segitu mabuknya hingga nggak sadar udah berpindah tangan ke orang lain?

Nenek Runi kembali menatap Verena. “Kau juga ikut-ikutan orang-orang bodoh di sana?”

Verena langsung menggeleng panik. “Hanya soda. Sungguh. Aku ke pesta ulang tahun temanku.”

Nenek Runi mengangguk pelan, percaya akan apa yang dikatakan Verena.

Zandy berdecak. Kenapa Nenek Runi gampang percaya dengan Verena sedangkan dirinya tidak? Apa segitu mirisnya kepercayaan nenek pada dirinya? Segitu parahnya kah dia selama ini?

“Kau dalam pengawasanku Rezandy.”lanjut Nenek Runi.

Zandy memandang Ayah dan Ibunya yang duduk di seberangnya, memberikan pandangan maut. Padahal kedua orangtuanya baru saja pulang dari Aussie. Zandy sudah berharap kalau orangtuanya terlalu lelah untuk menceramahinya. Tapi ternyata tidak. Baru saja masuk rumah, mereka sudah ngomong panjang lebar pada Zandy. Zandy berpikir kalau begitu orangtuanya sampai rumah, mereka akan menarik napas dulu sebelum langsung menceramahinya. Ternyata laporan Ghaniya lebih cepat sampai dibandingkan dugaannya. Di rumah nenek, di rumahnya sendiri, semuanya sama.

“Kurasa Verena dapat membantumu,”kata Nenek Runi sambil meminum tehnya.

Zandy mengerjap-ngerjapkan mata. “Excuse me?”

Verena juga nggak percaya. Tapi dia tidak akan bisa membantah nenek.

“Verena satu sekolah denganmu. Kurasa itu sangat membantu.”lanjut nenek.

Zandy menatap Verena. Seketika dia langsung benci pada cewek itu.

“Kalau saudara laki-lakimu pasti akan mendukungmu. Aku percaya Verena dapat melakukannya dengan baik.” Nenek Runi meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. Lalu menatap ke arah Zandy sambil tersenyum. “Kurasa, sebulan cukup.”

Verena dan Zandy langsung menahan napas. Sebulan?

“Pagi amat sih, lo,”kata Zandy sambil memakai sabuk pengamannya.

Pagi ini Verena mulai menjalankan perintah neneknya. Mengantar jemput Zandy setiap hari ke sekolah. Pokoknya Zandy berangkat dengannya dan pulang juga harus dengannya.

Verena menjalankan mobilnya. “Pagi gimana? 15 menit lagi masuk.”

“Rajin amat.”gumam Zandy. Jam segini biasanya dia baru bangun, dan baru berangkat tepat pada saat bel sekolah berbunyi. Berbeda dengan Verena yang rajin dan selalu datang sebelum bel berbunyi.

“Eh, kalau dalam sebulan ini lo masih telat juga. Bisa-bisa masa hukuman gue bertambah.”kata Verena.

Zandy melempar pandangan keluar jendela. “Cih. Lo kira gue mau?”

Verena menghela napas. Berusaha menyabarkan diri. “Lo ikutin aja aturan main gue. Biar urusan ini cepet selesai.”

Zandy menatap cewek di sampingnya ini yang masih tetap fokus pada jalanan. Cantik, pikirnya. Tapi sayangnya grounded.

Verena menoleh, dan Zandy buang muka.

“Kenapa?”tanya Verena merasa heran diliatin segitunya.

“Lambat amat nyetirnya.”jawab Zandy asal-asalan.

Verena langsung mengencangkan laju mobilnya. “Oh, gue kira lo nggak biasa kenceng.”

Zandy terbelalak melihat cewek di sampingnya itu bisa lebih ngebut daripada dirinya.

“Sialnya satu sekolahan ama sepupu,”kata Verena begitu duduk di bangkunya.

“Soal Zandy turun dari mobil lo pagi ini. Kayaknya semua anak udah tau. Lo berdua nggak pernah akrab tapi pagi ini berangkat bareng.” Sahabat Verena sekaligus teman sebangkunya, Keisha, geleng-geleng kepala. Sudah lama Keisha menaruh hati pada Zandy, tapi dia sendiri tidak sampai hati ingin mengutarakan perasaannya lantaran sahabatnya dengan pujaan hatinya adalah orang yang bertolak belakang selama ini.

“Yeah, gue tau. Dan selama sebulan ini akan terus begitu.”jawab Verena dengan nada lemah.

Keisha langsung tertarik dengan topik pembicaraan mereka pagi ini. “Sebulan? Kok bisa?”

“Lo tanya aja ama si tengil satu itu. Apa sih, kerjaan dia sehari-hari?”

“Pastik mabok lagi kan? Lo jemput gue aja setiap pagi sebulan ini. Jadi lo kan nggak berdua ama si Zandy.”

Verena memicingkan matanya pada Keisha. “Aneh banget sih, lo? Rumah lo ama rumah gue kan jauuuuh nya minta ampun. Bisa-bisa waktu bel pulang bunyi gue baru nyampe.”

Keisha mencibir, begitu tau rencananya gagal.

“Lagian tuh anak, yang mutusin kok malah yang repot.”

Keisha tambah cemberut lantaran Zandy diremehin sama Verena. Apalagi kesannya Zandy player banget (yang memang kenyataannya).

Verena tersadar akan satu hal. “Eh, lo tau dia suka minum tapi kok lo tetep suka?”

Keisha mengangkat bahu. “He’s just my type.”

Verena hanya bisa memutar bola matanya.

“Verena!” Verena batal membuka pintu mobilnya dan berbalik. Dilihatnya Haikal, pacarnya, berjalan dengan riang menghampirinya.

Zandy yang sudah berada di dalam mobil berdecak. Bakalan lama, nih.

“Hei, Kal.”sapa Verena dengan senyumnya yang sumringah, bahagia.

Berbeda dengan Zandy yang player, Verena adalah cewek yang setia. Sudah hampir 2 tahun dia berpacaran dengan Haikal. Haikal yang baginya almost perfect (because nothing’s perfect in this world). Seperti kebanyakan cewek lain yang melihat cowoknya adalah yang paling keren, baik, pengertian, dan segala macamnya. Begitu juga dengan Verena dan Haikal. Mereka bahkan dijuluki The Most Faithful Couple, karena saking mesranya mereka walaupun hubungan mereka bukan fresh from the oven lagi tapi tetap aja masih panas.

“Mau pulang?”tanya Haikal.

Verena memberi pandangan pada Zandy melalui kaca jendela mobilnya. “Yeah. Nganterin Zandy dulu.” Verena menyadari raut wajah pacarnya yang berubah kecewa. “Kenapa?”

“Tadinya aku mau ngajakin makan. Tapi lain kali aja, ya? Besok?”

Verena menyesal juga. Padahal akhir-akhir ini dia dan Haikal sudah lama nggak makan bareng. Tapi giliran ada waktu, malah ada Zandy.

I’m sorry. Sebulan penuh ini harus nganterin Zandy terus ke rumahnya.”

Haikal memiringkan kepalanya. “Kenapa? Mobil dia rusak?”

Verena menggeleng. “Grounded.” Verena mengecilkan volume suaranya, “mabuk lagi.”

Haikal mengangguk-angguk mengerti. “Istirahat kedua besok, gimana?” Verena menjawabnya dengan sebuah senyuman manisnya. Haikal mengecup kening Verena sekilas. “Hati-hati di jalan, Say.”

Verena berbalik dan masuk ke dalam mobilnya yang langsung disambut dengan ocehan Zandy. “Ternyata cewek kayak lo punya cowok juga, ya. Gue baru tau.”

Verena menatap Zandy heran. Sudah hampir 3 tahun dia satu sekolah dengan Zandy. Dan sudah hampir 2 tahun dia dan Haikal pacaran. Orang terkenal seperti Zandy yang banyak temannya di satu sekolah nggak tau soal ini?

“Emangnya kenapa? Nggak boleh, ya? Atau lo pikir gue nggak laku?”tanya Verena sambil menjalankan mobilnya.

Zandy memiringkan posisi duduknya menghadap Verena dan tersenyum nakal. “Cowok keberapa tuh?”

Shut up! Emang lo pikir gue kayak lo? Player!”

Zandy tertawa kencang. “Not anymore.”

Verena terkekeh geli. “Yang bener? Gue denger cewek lo yang terakhir ini anaknya rekan bisnis bokap lo, ya? Yang model itu bukan, sih? Siapa namanya? Kayla Clarissa, kalau nggak salah.”

“Yeah. Kayla Clarissa. Cewek cantik, pintar, sekaligus manja. Silly me. Biasalah, kalap mata. Begitu dijalanin ternyata gue nggak tahan. Heran deh, ama cewek-cewek kayak gitu. Nggak hanya gue kali, siapa pun juga nggak tahan. Banyak maunya.”

Verena sedikit melirik ke arah Zandy dari ekor matanya. Belum pernah cowok itu bercerita banyak sebelumnya, maka dipancingnya lagi topik pembicaraan mereka kali ini. “Menurut gue, kalau emang lo nggak suka cewek yang kayak gitu, kenapa nggak coba cari cewek yang lebih dewasa aja?”

Zandy menoleh ke arah Verena. “Maksud lo? Yang lebih tua?”

Verena menggidikkan bahu. “Umur bukan jaminan kedewasaan juga, sih. Tapi kalau emang lo nggak mau direpotin ama cewek, lo harus cari cewek yang mandiri dan dewasa.”

Zandy berusaha menyerap kata-kata Verena. Dia pernah beberapa kali berpacaran dengan cewek yang lebih tua. Walaupun hanya sekedar 1 sampai 2 tahun. Termasuk Fiona yang lebih tua 2 tahun darinya. Tapi semua itu tidak banyak bedanya dengan berpacaran sama cewek yang lebih muda atau seumur. Tapi justru dengan dia berpacaran dengan cewek yang usianya lebih tua darinya, dialah yang menjadi bahan mainan.

Nonsense kayaknya. Gue udah pernah nyoba ama anak kuliahan. Tapi malah jadi tambah manja aja.”kata Zandy.

I already said to you before, Ndy. Jangan ukur dari umur juga, kali. Sikap dan pendewasaan orang kan beda-beda.”

“Masa gue harus pacaran ama ibu-ibu kantoran?” Zandy tertawa kecil.

Verena malah sebaliknya. Wajahnya serius. “Nggak ada yang nggak mungkin lho, Ndy. Bahkan ama nenek-nenek sekalipun, kalau lo cinta, lo nggak bisa bantah itu, lho.”

Zandy terdiam. Entah kenapa kata-kata Verena membuatnya kehilangan kata-kata. Dia tidak pernah merasa pernah jatuh cinta selama ini. Semua cewek-cewek yang dipacarinya semata-mata hanya karena ada maunya. Mulai dari taruhan, seneng-seneng, sampai buat bantuin belajar. Nggak pernah Zandy ngegebet seorang cewek hanya semata-mata karena dia sayang. Kata-kata gombalnya selama ini pun juga begitu mudah keluar dari mulutnya. Tidak ada jantung berdebar-debar, panas dingin, dan segala macamnya jika bertemu cewek-ceweknya. Terkadang dia juga iri melihat Aldy. Yang begitu setia menunggu seorang cewek yang sudah menolaknya berkali-kali. Yang dengan bersemangatnya menceritakan setiap kali dia bertemu pujaan hatinya, di depan Zandy. Saat Adly yang dengan susah payahnya bilang kata ‘sayang’ pada sang cewek. Zandy merasa dirinya tidak pernah merasakan itu semua.

Verena menyentuh bahu Zandy yang membuat Zandy tersadar dari lamunannya. “Udah ampe dari tadi, Ndy.”

Zandy langsung melepas sabuk pengamannya. “Thanks, ya. Besok kasih waktu 5 meniiiit aja buat gue tidur lagi.” Zandy melambai pada Verena. Sedangkan Verena hanya bengong saja. Nggak pernah selama ini Zandy bilang ‘thanks’ padanya.

Sudah seminggu berlalu sejak hari pertama Verena antar-jemput Zandy. Zandy sudah terbiasa dengan segala macam nasehat Verena. Bahkan dia sudah mulai dekat dengan sepupunya itu. Apalagi Verena selalu memberikan saran yang bagi Zandy sangat berguna. Mendadak mereka menjadi teman dekat. Begitu juga Verena yang mulai terbiasa dengan segala macam ocehan Zandy. Mulai dari ledekan, fitnahan, sampai yang parah-parah. Verena sudah memaklumi kalau sepupunya itu memang kalau ngomong nggak pakai dipikir dulu.

Bel pulang sekolah berbunyi. Tetapi Verena masih duduk di bangkunya dengan gelisah. Sudah terlanjur semuanya, Verena nggak memperkirakan ini bakalan terjadi.

Yang dekat dengannya di kelas hanya beberapa anak. Karena kebanyakan dari mereka segan mendekati seorang cucu Kusuma sekaligus Handoko, kedua keluarga yang berpengaruh di Jakarta. Selama ini Verena tidak begitu merasakan akibatnya, tapi di masalah yang seperti ini dia baru ngerasa apa akibat dari menyandang dua nama keluarga terhormat.

“Gue balik duluan ya, Ren. Tadinya mau main ke rumah lo, tapi adek gue kan masih di rumah sakit, dan lagi nggak ada yang jaga,”kata Keisha. Verena semakin panik. Adiknya Keisha memang sudah 2 hari di rumah sakit karena DBD. Dan Verena nggak nyangka kalau hari ini adalah hari sialnya.

“Tunggu dong, Sha. Bantuin gue dulu. Please,”kata Verena benar-benar begging.

Sorry banget, Ren. Gue bener-bener buru-buru. Kasian adek gue. Sekecil itu bisa apa sih, dia? Kan ada Haikal ama Zandy. Oke?” Lalu Keisha segera keluar dari kelas sambil berlari dan tinggalan Verena sendiri di kelas.

Minta tolong Haikal? Zandy? Masalah ini? Nggak mungkin banget bagi Verena. Itu sama aja mempermalukan dirinya di depan umum. Tapi apa boleh buat?

Verena mengeluarkan HP-nya dan menghubungi Haikal. Tapi HP-nya tidak aktif. Sebelum sempat Verena menghubungi Zandy, cowok itu sudah nongol duluan di kelasnya dengan wajah kusut.

“Lama amat, sih! Gue cariin ke mana-mana ternyata malah duduk di sini. Gue nungguin panas, tau! Lama lagi! Ngapain sih, lo? Kayak orang bego duduk sendirian,”kata Zandy dengan cepat.

Verena menelan ludah sambil memasukkan kembali HPnya ke dalam saku baju seragamnya. Dia bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Zandy. Apalagi Zandy itu cowok.

Verena benar-benar nggak menduga kejadian hari ini. Dia pikir masih 2 hari lagi, jadi dia tidak bawa persiapan apa pun. Dan sekarang tiba-tiba saja banjir besar datang.

Zandy mendekati Verena. “Ayok pulang. Jangan bilang lo mau pacaran dulu?”

Verena menggeleng lemah.

“Kenapa sih, lo? Sakit?”

Verena kembali menggeleng.

Zandy melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu jawaban dari Verena. Sedangkan Verena menggigit bibir bawahnya, khasnya jika sudah kebingungan.

“Ini lho, Ndy,”kata Verena sambil melirik ke bawah dan ke belakang roknya. Zandy masih tidak juga mengerti. “Tembus.”kata Verena lagi. Bukan tembus juga sebenarnya, tapi Verena memilih satu kata yang mudah saja daripada dia harus menjelaskan panjang lebar pada Zandy.

Zandy berpikir sebentar lalu akhirnya mengerti apa yang dimaksud Verena, dan langsung blushing. Belum pernah dia melihat cewek yang tembus begitu.

“Emangnya sampe nggak bisa berdiri gitu?”tanya Zandy.

Verena menyingkirkan tasnya dari pangkuannya. Yang memperlihatkan noda besar di depan roknya. Lalu berdiri dan memperlihatkan noda yang nggak kalah besarnya di bagian belakang roknya. Zandy tambah blushing melihatnya.

“Lo nggak bawa apa gitu? Handuk, atau…” Zandy berusaha mencari kata yang tepat. “Cadangan?”

Verena menunduk. “Gue kira masih 2 hari lagi. Jadi gue nggak bawa apa-apa.”

“Kok lo nggak minta temen lo aja?”

“Ini juga waktu 2 jam terakhir. Gue mau ke toilet juga udah nggak bisa. Begitu keluar banyak banget. Tadinya udah mau minta tolong, tapi pada keburu kabur semua. Kan nggak enak didenger ama cowok.”

Zandy tertawa. “Gue kan cowok.”

“Heh! Ini udah terpaksa! Lagian lo kan sepupu gue. Mendinglah daripada yang lain yang tau. Dan kalau bukan lo siapa lagi yang nolongin gue? Bisa-bisa gue nggak pulang.”

“Haikal?”

Verena menggeleng. “Nggak aktif HP-nya.”

Zandy melepaskan hoodie hitamnya dan mengingatkannya pada pinggang Verena dengan posisi miring agar menutupi rok bagian belakang dan depannya.

“Hoodie kesayangan gue nih. Pokoknya lo cuci ampe bersih.”kata Zandy.

Verena sedikit terharu melihat sepupunya yang jadi hero nya hari ini. Sedangkan Zandy masih juga belum terbiasa dengan keadaan yang sedang terjadi.

Sebelum duduk di mobilnya Verena mengalasi jok mobilnya dengan koran bekas berlapis-lapis banyaknya yang selalu standby di bagasi mobilnya lalu dengan cepat melepas hoodie Zandy dan langsung naik ke mobilnya agar tidak ada yang melihat. Verena menutupi bagian depan roknya dengan koran bekas lainnya. Zandy lagi-lagi blushing, entah kenapa. Dia yakin kalau dialah cowok pertama yang melihat Verena tembus begitu. Bahkan ia yakin Oom Hariadi pun belum pernah melihat putrinya seperti itu.

“Ih jangan diketawain dong.”kata Verena begitu sadar Zandy cekikikan melihat dirinya. “Ini kan manusiawi, tau.”

Zandy berhenti tertawa. “Sorry, sorry. Nggak biasa aja gue. And I don’t think so that is manusiawi.”

Verena langsung cemberut. Sosok hero-nya pada diri Zandy luntur sudah. Berganti dengan cowok player yang licik. “Jangan kasih tau siapa-siapa, ya. Apalagi Haikal.”

“Ya, enggaklah! Kenal juga enggak gue ama cowok lo. Palingan gue sebarin ke Davin ama Dipta. Lumayan jadi bahan ledekan.”

“Jangan gitu dong, Ndy. Please…! Ini kan aib gue.”

“Gimana ya…?”

“Jahat banget sih, lo!”

“Eh, eh. Mau ke mana nih?”tanya Zandy begitu mobil Verena berbelok ke arah yang berlawanan dengan rumahnya.

“Ke rumah gue. Gue nggak tahan nih kalau harus nganterin lo dulu.”

Zandy mendadak jadi segan ketika bertemu Tante Andyta, Mamanya Verena. Yang jika sekilas dilihat, wajahnya sangat mirip dengan Verena.

“Eh, ada Zandy. Udah makan?”tanya Tante Andyta.

Zandy menggeleng. Kebetulan sekali dia sudah lapar berat.

Verena langsung lari ke kamarnya di atas. “Eh, Rena. Itu kenapa rok kamu?” Verena nggak menjawab, ia terus berlari hingga masuk ke kamarnya.

“Tembus tante,”jawab Zandy tanpa malu-malu.

Tante Andyta menatap Zandy heran. Tapi akhirnya Tante Andyta lebih memilih untuk tidak mempermasalahkannya lagi. “Makan dulu yuk,”ajaknya.

Zandy mengikuti Tante Andyta ke ruang makan. Di sana sudah duduk seorang perempuan dengan gaya kualiahan yang sedang menyantap makanannya.

“Kenalin ini Diandra. Anak temennya Oom Hari.”kata Tante Andyta. Diandra tersenyum pada Zandy. “Dian, ini keponakan tante, Zandy.” Sekarang giliran Zandy yang memasang wajah manis. “Zandy makan aja dulu, ya. Sambil nunggu Verena. Tante harus pergi, nganterin makanan ke kantornya Oom Hari.” Tante Andyta menepuk bahu Zandy beberapa kali lalu pergi.

Zandy menatap sebentar perempuan dihadapannya yang terksan sangat pintar itu. Zandy kembali teringat ucapan Verena, mengenai perempuan dewasa. Sebuah rencana langsung melintas dipikiran Zandy.

“Baru pulang sekolah?”tanya Diandra.

Zandy tersadar. Dirinya masih memakai seragam putih abu-abunya. Yang mengesankan dia seperti anak kecil. “Iya. Kuliah, ya?”

Diandra mengangguk.

Zandy mengambil tempat di seberang Diandra. “Jurusan apa?”

“Ekonomi.”

Mereka terdiam sebentar, sementara Zandy yang mengambil makanan dan Dian yang menghabiskan makanannya.

“Kelas 2?”tanya Dian.

Zandy semakin merasa kalau dirinya adalah anak kecil. “Kelas 3,”ralatnya.

“Oh, I see. Bentar lagi lulus, dong. Mau masuk mana?”

Berbicara soal masa depan belum pernah dilakukannya dengan cewek mana pun kecuali Mama-nya. Dan berbicara masa depan dengan seorang cewek yang baru saja dia kenal beberapa menit yang lalu benar-benar tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Zandy pun semakin yakin, kalau Dian benar-benar sudah matang.

“Belum tau, sih.”jawab Zandy. Jawaban yang menurutnya enggak banget buat disebut di depan cewek seperti Dian. Karena yang keluar pasti…

“Belum tau? Tinggal sebentar lagi lho. Kalau kamu belum punya tujuan, nanti susah juga.” Tuh kan bener, batin Zandy. Pasti yang keluar dari mulut seorang seperti Diandra adalah nasehat. Hampir sama dengan Verena. “Kalau aku boleh saranin, lebih baik kamu cari jurusan dan tempat kuliah yang sesuai dengan bakat kamu. Soalnya kuliah bukan buat main-main. Bukannya aku bilang selama ini kamu main-main, tapi ini bukan sekedar nyari kampus yang sama kayak temen kita, tapi yang sama kayak bakat yang kita punya. Kalau memang kamu punya hobi tertentu, itu lebih bagus lagi. Jadi lebih terarah.”

Makanan dalam mulut Zandy terasa hambar seketika. Cewek di hadapannya kini terlalu jauh berbicara. Dia terlalu dewasa bagi Zandy. Belum pernah Zandy mengincar seorang cewek yang baru pertama kali bertemu langsung membahas soal kuliah. Tidak juga dengan Fiona, yang pertama kali bertemu sibuk menceritakan dirinya sendiri.

“Mmm…Diandra, kerja juga?”tanya Zandy ragu.

Dian menoleh. “Panggil, Dian aja. Iya, aku kerja sambilan juga. Di perpustakaan kampus.”

Perpustakaan? batin Zandy. Zandy memang cowok yang malas membaca. Ke perpustakaan aja dia jarang. Palingan jika pelajaran Bahasa Indonesia. Itu pun dia masih sering kabur.

“Ayah punya banyak buku-buku yang udah nggak kepake. Mungkin ada yang bisa dimasukin perpustakaan kampus kamu.” Zandy agak ragu menyebutkan kata ‘kamu’ dalam kalimatnya. Karena memang dia terbiasa memakai ‘elo gue’. Hanya kalau dia berhadapan dengan orangtua saja dia menggunakan ‘aku kamu’ juga dengan pacarnya. Tapi mendengar Dian menggunakan ‘aku kamu’ Zandy jadi tidak enak kalau harus ngomong ‘elo gue’.

Dian langsung sumringah. “Wah kebetulan banget, perpustakaanku lagi butuh banyak buku tambahan. Oh, ya. Kalau boleh tau Ayah kamu…”

“Dhimas Prasetyo. Kamu kenal?”

Dian mengangguk. “Tadi aku juga baru bertemu Ayah kamu di kantor Oom Hari. Beliau orang yang baik.”

“Kamu bisa langsung ke rumahku kalau mau. Untuk pilih-pilih buku mana yang bisa dibawa ke perpustakaanmu.”

Diam mengangguk.

“Mmm…alamatnya…”

“Nggak usah. Aku tau, kok. Ayah kamu udah kasih kartu nama tadi. Tadinya sih, beliau nawarin aku magang di kantornya. Tapi karena aku belum bisa kasih jawaban langsung, jadi Oom Dhimas minta aku untuk menghubunginya.”

Magang? Di kantor Ayah?

Zandy merasa beruntung, karena Dian sudah kenal dengan Ayahnya, dan itu memudahkannya untuk mendekati Dian. Apalagi kalau Dian sampai jadi magang di kantor Ayahnya. Tapi itu pun kalau Ayahnya belum apok mengenalkan wanita-wanita di kantornya pada putranya sendiri setelah insiden Kayla yang terakhir ini.

“Mau pulang sekarang, Ndy?” Zandy menoleh dan mendapati Verena sudah berdiri di ambang pintu ruang makan dan sudah berganti pakaian. “Oh, hai, Dian. Aku pergi sebentar, ya. Nganterin Zandy pulang. Kamu nggak apa-apa kan nunggu sebentar?”

“Oh, santai aja, Ren. Aku lagi kosong kok, hari ini.”jawab Dian.

“Yuk, Ndy. Gue buru-buru nih,”kata Verena pada Zandy.

Zandy meneguk segelas air putihnya. “Sampai ketemu kapan-kapan, ya,”katanya pada Dian.

1 komentar: