Minggu, 28 Desember 2008

untitled part 3

Aku sama sekali tidak bisa tidur malam itu. Well, itu tidak menjadi masalah. Karena aku pun tidak terlalu butuh tidur. Pagi-pagi aku sudah bangun dan turun. Aku menempelkan telingaku pada pintu kamar Dad. Aku masih bisa mendengar dengkurannya. Akhirnya, setelah beberapa minggu, Dad bisa sarapan bersamaku juga.

Aku berjalan menuju dapur. Tadinya aku ingin mengambil sekotak sereal. Tapi aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang sehat untuk dimakan Dad. Well, memangnya Dad mau makan sereal? Jadi aku membuat sandwitch, berisi telur mata sapi, daging asap, sayur-sayuran dan juga keju.

“Pagi, Crystal.” Aku berbalik dan mendapati Dad sudah duduk di meja makan kecil kami.

Aku membawa 2 piring berisi sandwitch ke meja makan. “Pagi, Dad. Tidur enak semalam?”tanyaku.

“Sangat. Memang tidak ada yang lebih enak selain tidur di rumah sendiri.”jawab Dad lalu melahap sandwitchnya.

Senang bisa bertemu Dad lagi. Ini bukan kali pertamanya dan paling lama Dad tidak pulang. Tidak bisa kupungkiri lagi kalau aku benar-benar merindukannya. Dad adalah ayah terbaik di dunia ini. Tidak peduli denganMr. Boston yang ahli melukis, pengusaha hebat, atau apa pun itu. Menurutku Dad lebih lagi. Aku menyesal telah mengharapkan Mr. Boston menjadi ayahku kemarin. Setelah melihat rumahnya, keluarganya, keahliannya. Tapi aku tidak yakin Mr. Boston seperti Dad. Begitu juga dengan Mom. Walaupun Mom tidak bisa masak atau pun tidak pandai melakukan pekerjaan rumah lainnya seperti Mrs. Boston, tapi aku tidak menyesal karena itu. Karena dapat kupastikan kalau Mrs. Boston tidak akan bisa membuat perabotannya menjadi es seperti apa yang Mom lakukan. Well, tidak juga. Pastinya ada di antara Mr. dan Mrs. Boston, atau bahkan keduanya, yang memiliki suatu kekuatan. Mengingat Gavin juga begitu.

“Apa rencanamu hari ini?”tanya Dad.

Well, tidak ada. Hanya sekolah seperti biasa. Kalau Dad sendiri? Dad akan pergi lagi hari ini?”tanyaku.

Dad mengangguk. “Tidak jauh-jauh. Hanya ke Brooklyn. Tapi aku akan menginap di salah satu hotel di sana. Karena besok, pagi-pagi sekali, aku sudah harus ada di kantor.”

Oh. Hanya sehari rupanya.

Aku menghabiskan sarapanku. Yang setelah aku memfokuskan diri untuk merasakannya ternyata sandwitch itu kurang enak, aku yakin Dad bahkan terpaksa memakannya. Lalu naik lagi ke kamarku dan bersiap-siap untuk berangkat. Hari ini aku akan naik mobilku sendiri. Aku yakin Willy juga pasti tidak akan menjemputku. Mengingat kejadian kemarin.

Aku pamit pada Dad dan langsung berangkat. Sebenarnya aku ingin terlambat saja. Dengan begitu itu akan mempersempit waktu pembicaraanku dan Gavin. Tapi setelah kupikir-pikir, tidak juga. Toh, kami ini teman sejati. Di setiap pelajaran kami pasti akan bertemu.

Mengendarai mobilku mungkin bukan ide yang cukup baik. Mengingat aku selalu gugup saat menyetir. Aku pun masih sedikit bingung, bagaimana aku bisa mendapatkan SIM. Tapi yang penting aku tidak membahayakan orang di jalanan.

Pikiranku tidak lagi kosong saat setiap aku berhenti di lampu merah. Aku memikirkan Gavin. Kata apa yang tepat untuk menggambarkan orang seperti dia? Well, orang seperti kami lebih tepatnya. Aku berusaha mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan siapa dirinya. Aku tidak mungkin bilang, “aku tahu siapa kau. Kau sama sepertiku.” Itu pasti akan menghancurkan semuanya.

Aku sampai di Highlanders. Tapi di luar dugaanku, parkiran sudah hampir penuh. Ini yang paling kubenci jika datang lebih siang dan mengendarai mobil sendiri. Aku kurang bisa memarkir mobil. Well, mungkin hampir tidak bisa tanpa menggores mobil lainnya.

Dengan berhati-hati aku memarkir mobilku di tempat parkiran yang menurutku paling luas di antara yang tersisa. Aku memasukkan mobilku berlahan-lahan. Lalu memundurkannya lagi saat aku merasa posisi mobilku miring dan akan menyulitkan mobil lain. Dan saat aku mundur, tiba-tiba saja…

Entah apa yang kutabrak. Manusia? Tempat sampah? Mobil orang lain? Aku sama sekali tidak peduli apa itu. Yang jelas aku sudah menabrak!

Aku melihat melalui kaca spion mobilku. Mobil hitam mengkilat…dan Gavin Boston keluar dari mobil itu.

Oh, brengsek! Betapa bodohnya aku! Kenapa tidak cari mobil lain saja untuk ditabrak? Dan kenapa mobil itu harus milik Gavin? Kenapa mobil itu terlihat begitu keren dan mahal sehingga bahkan uang sakuku tidak akan mampu memperbaikinya? Tidak uang sakuku, tapi tabunganku mungkin. Mengingat tabunganku sudah menumpuk karena tidak pernah kugunakan. Mungkin aku harus membicarakan ini pada Mom dan Dad. Untuk sementara waktu agar mereka menghentikan mengiriman uang ke rekeningku.

Aku memajukan mobilku sendikit, aku tidak ingin membuat kerusakan yang lebih parah pada mobil Gavin. Lalu dengan panik aku turun dari mobil. Aku melongo melihat keadaan mobil mulus Gavin, yang ternyata sekarang sudah tidak mulus lagi. Bemper depannya penyok dan terdapat beberapa goresan di sana. Sedangkan mobilku, well, tidak terlalu parah, dan kalaupun parah, aku tidak peduli.

Aku menunduk. Menutup wajahku dengan sebelah tangan. “Oh, gosh. Apa yang kulakukan?”bisikku pada diri sendiri. Kulihat kaki Gavin berada di hadapanku lalu aku mendongak untuk melihat ekspresinya. Awalnya kukira ia marah. Setidaknya itu yang akan kulakukan jika mobil mulusku ditabrak orang lain, tapi sepertinya Gavin tidak seperti itu. Wajahnya datar biasa saja. Membuatku jadi makin merasa bersalah.

“Jadi kabar kalau kau tidak bisa menyetir itu benar, ya?”tanyanya.

Aku menghela napas. “Yeah. Betapa bodohnya. Aku benar-benar minta maaf, Gave. Sungguh. Aku menyesal.”

Gavin menggeleng. “Tidak semudah itu, Ms. Higher. Kau telah membuat mobilku terluka,”kata Gavin sambil mengelus kap mesin mobilnya.

Terluka? Mungkin dapat kusimpulkan kalau dia sangat menyayangi mobilnya. Atau bahkan dia menganggap mobilnya sendiri manusia karena dirinya bukan manusia, sama sepertiku. “Aku berjanji akan memperbaikinya. Tapi bisakah kau menunggu sampai kira-kira minggu depan?”

Gavin terkekeh. “Tidak. Bukan itu maksudku. Soal perbaikan, itu soal mudah. Siapa saja dan kapan saja pasti bisa membetulkan mobilku. Hanya saja…aku tidak ingin melihatmu menyetir lagi.”

Kurasakan beberapa mata yang tertuju pada kami mulai hilang. Mungkin mereka sadar kalau ini bukanlah suatu pertengkaran yang seru untuk ditonton.

“Apa pun itu. Tapi tolong, marahlah padaku. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini.”

Gavin tertawa. “Tidak, Crystal. Aku tidak akan marah.”

Aku ingin kembali masuk ke dalam mobilku. Tapi Gavin sudah mendahuluiku. “Biar aku saja, aku tidak ingin melihatmu menghancurkan mobil lainnya,”kata Gavin sambil memberikan tas ranselku padaku.

Kurasakan wanjahku memerah. Aku segera menyingkir dari tempat parkir mobilku, dan memperhatikan Gavin yang memarkir mobilku dengan mulus.

Aku meminta kunci mobilku setelah Gavin turun. Tapi Gavin tidak memberikannya. “Sudah kukatakan kau tidak boleh menyetir lagi. Bisa-bisa kau membahayakan dirimu sendiri Crystal.”

Aku memutar bola mataku. Terserah apa katanya. Kalau saja aku tidak menabrak mobilnya tadi, mungkin aku akan menolak kata-katanya. Ini semua hanya didasarkan rasa bersalahku saja.

Kami berjalan menuju kelas Fisika. Berharap aku tidak bertemu Willy pagi ini. Setidaknya jangan pagi ini atau saat aku bersama Gavin.

Aku duduk bersama Gavin disudut kelas. Dan seperti dugaanku, Gavin menanyakan soal masalah kemarin.

“Jadi? Kau sudah tahu, aku ini siapa?”tanya Gavin.

Kulihat seisi kelas. Hanya ada kami berdua. “Makhluk legenda kuno?”tanyaku.

Gavin menggeleng.

“Spiderman?”

Gavin kali ini tertawa. “Kau pikir aku Spiderman? Well, andai saja bisa sekeren itu.”

“Superman?”

“Superman. Well, tidak juga. Mungkin bisa dibilang super. Tapi bukan superman, melainkan supermon. Supermonster.” Gavin mentertawakan leluconnya sendiri.

Aku mengernyitkan dahi. “Kalau begitu kau apa? Monster bawah laut? Tidak bisa tidur? Tidak bisa makan? Atau makanmu banyak? Tembus pandang?”

Gavin memutar bola matanya dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Sudah kuduga, kau tidak akan bisa menebaknya.” Gavin menatapku sebentar. “Kau ingin tahu, siapa diriku?”

Aku mengangguk.

Kami bukan legenda, bukan mitos, bukan juga seorang pahlawan. Kami juga tidak tahu harus menyebut diriku apa. Aku seperti monster, Crystal. Kau boleh lari sekarang kalau memang kau mau.”

Aku hanya terpaku pada tempat dudukku. Apakah Gavin sampai tidak menginginkan keuatannya sehingga menyebut dirinya monster? Kalau dia monster, apakah diriku juga sama buruknya seperti itu?

“Kau salah, Crystal. Seharusnya kau sudah lari sejak kemarin.”tambah Gavin.

“Memang apa yang membuatku lari?”

“Aku bisa saja membunuhmu Crystal.”

Aku menyenderkan punggungku pada kursi. Berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin. “Ceritakanlah tentang dirimu. Yang mungkin bisa membuatku lari.”

Well, aku ini berbahaya. Tidak hanya aku, tapi bangsa dari jenis kami. Kami emosional. Hampir tidak bisa menahan emosi kami setiap saat. Jika kami marah, itu sangat buruk. Kau tahu apa maksudku?” Gavin berhenti sebentar, melihat ekspresiku. “Aku bisa melukaimu Crystal. Kapan pun, di mana pun. Tidak seharusnya kau berada dekat denganku.”

“Itu sebabnya, kau lebih suka seorang diri dan tidak melawan Alyson?”

Gavin mencibir ketika aku menyebutkan nama Alyson. “Alyson. Gadis itu benar-benar keras kepala. Ia tidak tahu kalau kesabaranku sudah habis, tubuhnya akan remuk kulempar.” Gavin kembali menatapku. “Kau mengerti bukan? Aku dan kau, tidak bisa seperti ini. Kalau aku marah, aku tidak akan seperti Willy, aku akan seperti monster. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kau nanti.”

Aku menegakkan posisi dudukku. Aku menelan ludah. “Tidak, Gave. Kau tidak seburuk itu.”

“Sekarang mungkin kau beranggapan seperti itu, Crystal. Tapi jika kau melihat diriku yang sebenarnya, kau akan menyesal masih duduk di sini sekarang.”

“Tidak. Kau temanku. Dan sejak awal sudah begitu.”

“Kau lebih keras kepala daripada Alyson.”

Beberapa orang sudah mulai berdatangan. Yang membuatku dan Gavin terpaksa menghentikan percakapan kami. “Well, masih banyak waktu untuk membicarakan persoalan ini, itu pun kalau kau tidak berubah pikiran untuk takut.”

Aku hanya diam.

“Yeah, kau tidak akan berubah pikiran, aku tahu itu.”

Semua berubah sunyi ketika Mrs. West memasuki kelas.

Akhir-akhir ini aku tidak memperhatikan pelajaran. Bahkan lebih sering menghabiskan waktu di UKS dan melewati banyak jam pelajaran. Apalagi dengan kondisi tubuhku yang aneh akhir-akhir ini. Sekarang pun aku merasa tidak sekuat biasanya.

Mrs. West memberikan latihan soal. Semua anak langsung mengeluh termasuk aku dan kecuali Gavin. Mrs. West mulai menulis soal di papan tulis.

Sambil menulis soal pikiranku tertuju pada Gavin. Selama ini aku tidak pernah mendengar cerita tentang “jenis”ku. Entah itu asal usulnya atau apa. Karena yang kukira ini hanya sebuah kelainan genitik atau semacamnya yang berasal dari Grand. Aku sama sekali tidak mengira akan ada orang lain yang sama tidak normalnya seperti aku dan keluargaku. Dan dalam hal itu orang itu adalah Gavin Boston, si batu hidup. Grand dan Mom tidak pernah menceritakan apa-apa kalau jumlah kami ada sebanyaknya ini—well, sepertinya—karena mereka selalu mengatakan apa yang ada dalam diri kami tidak harus dihilangkan ataupun dikembangkan. Terkadang aku berpikir, apa gunanya ini semua? Menjadi seperti X-Men, dengan sekolah khusus orang-orang seperti kami (yang sekarang sepertinya mulai kuyakini benar-benar ada), atau ditakdirkan menyelamatkan New York City seperti Heroes (yang ini lebih masuk akal. Sepertinya memang sesuatu yang buruk akan terjadi, maka dari itu kami ada), atau seperti film-film super lainnya.

Aku ingin tahu, apa ada di antara kami yang seperti Superman? Atau seperti Spiderman? Bahkan kekuatan-kekuatan lain yang lebih dashyat?

Aku menyenggol tempat pensilku hingga jatuh berserakkan ke lantai. Beberapa anak menengok, lalu langsung mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis begitu tahu yang jatuh hanya sekedar tempat pensilku saja.

Aku mulai membisikkan kata-kata makian.

Tapi di luar dugaanku, tempat pensil itu kembali ke posisinya semua di atas mejaku, isinya satu bersatu masuk ke dalam dengan rapih lalu resleting tertutup. Semua itu beriringan dengan sakit kepala yang tiba-tiba saja menyerangku. Sakitnya bukan main. Bahkan seperti hampir membuatku nyaris pingsan.

Aku menoleh ke arah Gavin.

“Lain kali, tutup tempat pensilmu.”katanya sambil tetap menyalin soal dari papan tulis.

Sakit kepalaku mendadak hilang. Tenagaku seperti terisi kembali walaupun tidak sepenuhnya. Sepertinya aku benar-benar harus ke dokter. Well, siapa tahu ada dokter khusus untuk kami.

Aku memperhatikan sekeliling kami. Tidak ada yang melihat sepertinya. Dan Mrs. West juga masih memunggungi kami. Posisi kami yang berada di paling belakang dan di sudut membuat kami jauh dari pusat perhatian.

Satu lagi yang pernah dikatakan Grand dan Mom, kalau aku harus menyembunyikan identitasku. Bukan memakai topeng atau apa—seperti di film-film—tapi dengan tidak mempertontonkan keahlianku di depan umum.

Pelajaran Fisika selesai, tapi aku belum menyelesaikan latihanku. Jadi Mrs. West memberikan latihan ini sebagai PR bagi kami yang belum selesai. Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Prancis.

Aku langsung keluar dari kelas tanpa menunggu Gavin. Dia jelas-jelas ingin membuatku takut dengan apa yang dilakukannya tadi. Dan jangan pikir aku akan takut. Karena seharusnya dialah yang takut padaku.

Gavin menyusulku dengan cepat. “Kau belum takut juga, ya?”tanyanya.

“Kumohon Gave, jangan membuat seolah-olah dirimu itu benar-benar mengerikan.”kataku.

Gavin mengerucutkan bibirnya. “Well, bukankah begitu? Mungkin kau satu-satunya yang tidak takut dengan kami.”

Aku juga bagian dari kalian, bodoh! Rasanya aku ingin berteriak seperti itu. Tapi aku menahannya. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Gavin kalau aku sama seperti dirinya. Apa dia akan menjauh? Merasa dibohongi? Atau memang dia senang? Well, siapa yang tahu. Aku hanya ingin menikmati pertemanan kami sekarang, bukannya buru-buru menghancurkannya. Lagipula siapa yang peduli siapa sebenarnya aku ini? Apakah aku super atau tidak.

“Kau tidak punya alasan untuk mengatakannya. Karena hanya aku yang tahu, tidak ada orang lain.”jawabku.

Well, kau orang kedua.”

Aku berhenti, dan Gavin ikut berhenti. Aku mengernyitkan dahi dan Gavin mengikutiku. “Siapa orang pertama?”

“Tentu saja…ibuku.”jawab Gavin.

Mrs. Boston? “Ibumu? Maksudku, Ibumu tidak sama sepertimu?”

Gavin mengangguk. “Aku dan kakak-kakakku, serta ayahku, kami semua sama. Tapi ibuku tidak.”

Sama sepertiku. Aku dan Mom, sedangkan Dad sendiri. Tapi Dad tidak pernah tahu soal aku ataupun Mom. Aku sudah mengusulkan ide pada Mom untuk memberitahukan hal ini pada Dad, well kira-kira saat usiaku 12 tahun, tapi Mom menolaknya dan tetap ngotot kalau ini adalah rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada siapa pun termasuk keluarga kami. Dad yang malang. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada istri dan anaknya, yang sudah seperti monster. Bahkan selama ini Dad sudah tinggal seatap dengan monster-monster itu.

Aku melanjutkan langkahku, dan Gavin mengikuti. “Aku hanya ingin bilang, kalau tidak seharusnya kau membuat orang-orang menjauhimu.”

Well, itu terserah padaku, kan?”

“Jadi kau tidak ingin aku berteman denganmu?”

“Tidak, tidak. Justru karena aku adalah teman yang baik. Kau bisa terluka kapan saja, Crystal.” Oh, aku benci ketika dia mengatakan namaku. Membuatku selalu ingin bersamanya saja. “Kalau kau terus bersamaku, aku akan kehilanganmu. Jadi lebih baik kalau kau menjauh dariku, jadi kau akan tetap baik-baik saja.”

“Memang, apa alasanmu untuk melukaiku?”

Kami sampai di depan kelas Prancis dan berhenti sebentar di depan kelas.

“Kau tidak mengerti, Crystal. Jenisku adalah yang paling emosional di antara jenis yang lain.”

“Jenis yang lain?”

Kulihat Mr. Major melewati kami dan memasuki kelas.

“Kita lanjutkan nanti, oke?”

Aku mengangguk kecil dan masuk ke dalam kelas.

Jenis? Apa aku dan Gavin sejenis? Memang ada yang semacam itu? Kenapa selama ini Grand dan Mom tidak pernah menceritakannya padaku? Well, mungkin Mom tidak tahu. Tapi Grand? Oh, Tuhan, Grand sudah begitu tua dan dia tidak tahu soal inI? Tidak mungkin. Memang apa salahnya memberitahuku soal jenis-jenis kami ini? Atau cerita-cerita lainnya? Bukannya hanya berdiam diri dan menyuruhku untuk pasrah dan menjalani hidupku senormal mungkin. Itu semua justru membuat hidupku lebih tidak normal.

Gavin masih tidak juga menyerah. Dia mulai memainkan penghapusku. Aku menoleh ke arahnya, dan dia masih tetap memperhatikan Mr. Major. Sakit kepalaku lagi-lagi datang, seperti beriringan dengan naik turunnya penghapusku.

Aku menangkap penghapusku yang baru saja ingin dinaikkan Gavin ke udara, dan Gavin berhenti memainkan penghapusku. Sakit kepalaku seiringan dengan itu semua, berhenti seketika.

Tapi tidak sampai di situ saja usaha Gavin. Gavin membuka buku catatanku, lalu mengambil pensilku. Sama seperti sendok yang kulihat kemarin di dapur keluarga Boston. Pensilku menari-nari sendiri di atas buku catatanku. Tertulis:

Masih belum takut juga?

Aku menghentikan pensilku bergerak. Lalu menulis balasannya. Gavin melirik ke kertasku sekilas lalu tersenyum.

Tidak. Kau malah membuat kepalaku pusing, Mr. Boston.

Begitu juga di pelajaran Kimia. Gavin terus menganggagguku. Dan sakit kepalaku semakin saja menjadi-jadi. Gavin baru berhenti ketika aku membaringkan kepalaku di atas meja, beberapa menit sebelum istirahat.

Bel istirahat berbunyi. Dan aku bersyukur atas itu. Itu artinya aku bisa makan sesuatu, berbicara dengan Gavin, dan Gavin berhenti menggangguku untuk satu jam.

Sesuatu yang panas menyentuh punggung tanganku yang membuatku mengangkat kepala. Gavin tidak lagi dengan wajah jahilnya, tapi wajahnya yang penuh kekhawatiran. Seakan-akan aku yang berada di hadapannya ini sedang dalam kondisi koma.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku—“

“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lapar.”jawabku.

Gavin membantuku berdiri, yang membuat badanku semakin lemas saja. Begitu aku yakin aku bisa berjalan sendiri, aku melepaskan diri dari Gavin. Aku melihat ke sekeliling kelas. Regina dan Luke sudah tidak ada. Pastinya mereka sedang berduaan atau sudah terlebih dahulu ke kafeteria.

Ini dia masalah yang aku pikirkan. Di mana dia akan duduk di kafeteria. Bersama Willy dan teman-temanku lainnya? Atau bersama Alyson? Jelas bersama Willy tidak mungkin. Karena sudah tidak ada lagi bangku yang tersedia di meja kami. Dan menarik satu-satunya bangku milik Gavin, yaitu di meja Alyson, akan membuat masalah baru. Akhirnya kami memilih untuk duduk di luar saja. Di bawah beberapa meja berpayung. Jarang ada yang ingin duduk di sini, karena ini sudah musim panas. Matahari cenderung lebih terik dari biasanya.

Aku sempat memperhatikan meja “lama”ku. Yang lain memberikan senyum padaku, sedangkan Willy menatapku datar. Aku dengannya sama sekali belum berbicara sejak kemarin. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin berteman dengan Gavin, apalagi Gavin bisa memberitahuku soal kami yang selama ini selalu disembunyikan Grand dan Mom. Aku juga tidak ingin kehilangan Willy. Willy benar-benar sudah sangat amat baik padaku selama ini. Tapi, aku berharap Willy bisa mengerti. Tidak selamanya aku hanya miliknya seorang. Aku juga punya kehidupan lain, selain dengannya saja.

Aku meletakkan nampanku di meja dengan sedikit kesal. Makan di bagian luar kafeteria benar-benar tidak menyenangkan. Selain udaranya yang panas, banyak juga yang memanfaatkan kepanasan ini untuk bermesraan.

Kulihat sepasang kekasih, dari kelas senior, berciuman mesra tidak jauh dari meja kami. Yang membuatku mual, apalagi dengan makanan di hadapanku.

“Pembicaraan kita tadi belum selesai. Jadi…bagaimana soal jenis-jenis itu?”tanyaku. Aku ingin sekali segera mengetahui soal kami.

Gavin melipat kedua tangannya di atas meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Kau benar-benar tertarik, ya?”

Aku mengangkat bahu. “Sedikit. Aku senang dengan cerita-cerita mistis.”

Gavin tertawa. “Mistis? Jadi kau menganggap aku mistis?”

“Sudahlah. Ceritakan saja.” Aku mulai memakan makanan di hadapanku. Aku benar-benar merasa lapar hari ini.

Well, soal jenis itu. Tidak banyak yang kuketahui sebenarnya.” Lebih banyak dariku tentunya. “Ayahku bercerita, kalau ada yang beradarah dingin dan berdarah panas.”

“Dan kau adalah…?”

“Tidak kedua-duanya, tapi di antara keduanya. Jenisku dikenal dengan daya serapnya. Yang secara langsung keluargaku dapatkan dari kakekku. Di siang hari suhu kami panas, sedangkan di malam hari suhu kami sangat dingin. Sedangkan jenis lain akan lebih konsisten. Mereka akan selamanya panas, atau dingin.” Ternyata benar. Bukan karena aku yang terlalu dingin, tapi memang Gavin yang panas. “Jenisku juga adalah yang paling peka. Indera kami lebih tajam dari jenis yang lain. Penciuman, penglihatan, pendengaran, dan perasaan.”

“Lalu? Ceritakan kekuatan apa saja yang dimiliki keluargamu,”kataku.

“Ayahku bisa dibilang seperti Superman. Hanya saja ayahku tidak bisa terbang. Ayahku sangat kuat. Lebih kuat dari apa pun.”

“Oh, ya? Sekuat apa?”

“Beratus-ratus kali lipat dibandingkan manusia biasa. Bisa saja menhancurkan bangunan Highlanders dengan satu kepalan tangannya. Well, kami semua memang kuat, tapi tidak ada yang sekuat ayahku.”

Aku bersiul kagum. Lalu kenapa aku tidak kuat? Apa jenis-jenis ini benar adanya? “Lalu, kedua kakakmu?”

“Rocky bisa mengeluarkan api. Seperti naga mungkin. Suhu tubuh Rocky adalah yang paling panas di antara kami, walaupun di malam hari suhu tubuhnya tetap akan lebih dingin daripada di siang hari.”

“Jadi…dia bisa mengeluarkan api? Dari mulutnya, seperti itu?”

Well, bisa saja. Tapi menurutnya akan lebih mudah jika melalui tangannya.” Haha. Sama sekali aku tidak bisa melihat mana yang lebih mudah. Mengeluarkan api! Aku ingin coba, kuatkan es Mom atau pun kristalku melawan api dari Rocky. “Sedangkan Kim bisa bergerak sangat cepat. Karena kecepatannya bahkan dia bisa merobohkan bangunan sekalipun.”

Sekarang aku bertambah iri dengan keluarga Boston. Padahal baru saja tadi pagi aku bertekad untuk tidak membandingkan keluarga Boston dengan keluargaku. Mereka sangat hebat. 3 bersaudara yang memiliki kekuatan berbeda. Sedangkan aku? Si darah dingin yang seorang diri.

Tapi apakah benar, aku dan Gavin sama? Mungkin aku harus membuktikannya dulu. “Lalu bagaimana dengan makanan kalian? Berburu di hutan? Atau…” Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang sudah kuketahui jawabannya.

“Tidak, tidak. Kami makan seperti biasa, dan dalam porsi yang biasa. Well, porsi yang biasa jika kami tidak mengeluarkan banyak energi dalam sehari.”

“Kurasa kau tidak perlu mengangguku lagi, Gave. Kecuali kau ingin porsi makanmu bertambah.” Aku tertawa pelan. Tawa yang terlalu dipaksakan. Tapi sepertinya Gavin tidak merasakannya, jadi dia ikut tertawa. “Lalu, soal tidur. Apa kalian tidur, atau tidak?”

“Tidak juga. Kami bisa tidur kapan pun kami mau. Tapi tentu saja tergantung energi kami. Jika memang kami lelah, kami bisa tidur. Bagiku, tidur terlamaku adalah 5 jam. Bahkan tadi malam aku tidak tidur. Kami tidur hanya untuk menghilangan ini,” Gavin meraba ke bawah matanya, “kami akan tambah terlihat seperti monster.”

“Kalau jumlah kalian? Banyakkah?” Ini salah satu yang ingin kuketahui. Yang kukirahanya 3 orang di dunia ini. Aku, Mom, dan Grand.

“Lebih banyak dari yang kau kira. Tapi tidak banyak bagi kami. Bangsa kami tersebar di seluruh bagian dunia. Beberapa di antaranya masih sering berkomunikasi dengan keluargaku. Well, kecuali para darah dingin.”

Aku langsung menegakkan posisi dudukku. Apa aku darah dingin? “Me-memangnya ada apa dengan darah dingin?” Sepertinya aku memang darah dingin.

Well, tidak ada apa-apa dengan mereka.” Gavin membuka kaleng coke-nya dan memasukkan 2 sedotan ke dalamnya. Sama persis seperti apa yang biasanya dilakukan Willy. Seolah aku sudah mendapatkan pengganti Willy di hadapanku sekarang. Gavin mendorong kaleng coke ke tengah meja.

Aku menghela napas. Mungkin ada sesuatu yang salah denganku, dengan para darah dingin.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, dan meraih salah satu sedotan. Minum di kaleng coke yang sama dengan seorang yang sama, tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.

Bertemu Gavin Boston, seperti menemukan saudaraku yang hilang. Membuatku merasa jauh lebih normal.

Aku ingin mengatakan padanya, bahwa akulah si darah dingin itu. Bahwa aku sama dengannya. Bahwa aku tidak selemah apa yang dia kira. Aku bisa mengimbanginya. Karena aku bukan sekedar manusia biasa yang normal.

Di kelas Geometri dan Kalkulus, Gavin tidak lagi mengangguku seperti tadi. Tapi aku tidak yakin kalau dia sudah menyerah untuk menakut-nakutiku. Seharusnya dia yang takut padaku. Kristal terdengar lebih menyeramkan, tajam, daripada kekuatannya yang tidak terlihat itu. Aku bahkan bisa melukainya kapan saja aku mau.

“Aku akan mengantarmu pulang,”kata Gavin ketika kami baru saja keluar dari kelas Kalkulus.

“Tidak. Kau tidak akan melakukannya. Aku bisa pulang sendiri.”kataku. Lalu aku langsung mengeluh. Kunciku ada di tangan Gavin.

“Aku akan memberikanmu kunci ini,”Gavin menggerak-gerakkan kunciku di tangannya, “asalkan kau berjanji akan berlari ketakutan karena aku.”

Aku mengerucutkan bibir. “Bagaimana kau bisa yakin kalau aku akan menepati janjiku?”

Well, karena kau bilang kau adalah teman yang baik.”

“Bagaimana jika setelah aku lari, besok aku akan datang lagi ke dekatmu?”

Gavin menyerah. “Kau benar-benar keras kepala Crystal Higher. Aku akan tetap mengantarmu pulang. Aku tidak ingin kau melukai dirimu sendiri bahkan orang lain. Mobilku sudah cukup jadi korbannya.”

“Kau sudah tahu jawabannya, Gave. Lagipula mau dikemanakan mobilku jika kau mengantarku pulang?”

Aku segera menemukan jawabannya ketika aku melihat sosok Rocky di dekat mobil hitam “mulus” milik Gavin di parkiran. Setiap kali aku melihat bagian depan mobil itu aku dilanda rasa bersalah lagi. Kenapa aku bisa begitu bodoh? Apa mobil itu terlalu hitam sehingga aku tidak bisa melihatnya?

Kulihat Rocky sedang melihat keadaan mobil Gavin yang penyok. Lalu menoleh ketika menyadari kedatangan kami.

Jeez, Gave. Kau menghancurkan kekasihmu,”kata Rocky sambil menepuk-nepuk kap mobil Gavin.

Gavin memberikan kunci mobilnya pada Rocky. “Aku akan pulang malam. Katakan pada Mom, oke?”

“Terserah kau, adikku.” Rocky melihat ke arahku. “Kau tidak akan menyesal lagi, Crystal. Mobilnya akan baik-baik saja. Hanya aku tidak yakin apa Gavin akan membiarkanmu menyetir lagi atau tidak.”

Oke. Aku akui, aku memang tidak bisa menyetir. Well, bisa, hanya saja dalam waktu tertentu dan sebagian besar waktu tidak tepat.

Rocky masuk ke dalam mobil Gavin dan pergi meninggalkan kami.

“Kau yakin tidak apa-apa?”tanyaku pada Gavin ketika kami berada di dalam mobilku.

“Apanya yang tidak apa-apa?”

“Mobilmu. Hancur. Karena. Aku.”

Gavin tertawa. “Tentu tidak apa-apa, Crystal. Kau takut pada mobilku, sedangkan tidak padaku.”

“Jangan bahas itu lagi, Gave. Kenyataannya kaulah yang takut padaku.”

Well, mungkin. Karena aku takut kau pecah ditanganku, seperti namamu.”

Aku tidak selemah itu! Aku tidak serapuh namaku.

Gavin menjalankan mobilku. Jauh lebih cepat daripada aku. Mobilku tidak bisa dibilang cepat, untuk ukuran Gavin tentunya. Dan Gavin cukup menghormati itu. Jadi dia hanya mengendarai mobilku sedikit di atas batas normal.

Kami sampai di rumahku lebih cepat dari yang kubayangkan. Atau memang seharusnya aku bisa sampai secepat ini setiap harinya kalau saja aku bisa mengemudi lebih cepat lagi dan tidak mengomel saat Willy mulai tancap gas.

Gavin memasukkan mobilku ke dalam garasi dengan mulus. Tidak seperti yang biasa kulakukan. Berulang kali maju mundur.

“Kau tidak keberatan kan, kalau aku di sini?”tanya Gavin.

“Tentu tidak. Aku senang kau mau menemaniku.”

Aku masuk ke dalam rumah diikuti Gavin.Kutemukan pesan dari Dad tertempel di lemari es.

Maaf, Crystal. Aku harus pergi hari ini. Ada pekerjaan mendadak yang dipercepat. Tapi hanya di Brooklyn, jadi Dad bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Mom aka nada di rumah lusa. Jaga dirimu baik-baik.

Dad

Sudah kuduga, Dad tidak akan bertahan lebih lama di rumah dari dugaanku.

“Ayahmu pergi?” Aku menoleh dan mendapati Gavin di sebelahku sedang menatap surat dari ayahku di tanganku. “Sepertinya kau harus menceritakan kehidupanmu juga padaku.”

Aku meremas surat Dad dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu kutarik salah satu kursi meja makan dan duduk. Gavin mengikutiku dan duduk di tempat biasa Dad duduk.

“Kehidupanku? Apa yang menarik dari kehidupanku?”tanyaku.

Well, orangtuamu, keluargamu, apa sajalah yang ingin kau ceritakan.”

“Kedua orangtuaku…mereka baik, dan juga pekerja keras. Jarang ada di rumah. Hanya berapa bulan sekali. Dan aku anak tunggal.” Aku merasa suaraku sudah bergetar. Betapa ironisnya ceritaku dibandingkan cerita gavin. Gavin seperti menggambarkan kalau keluarganya ramai, sedangkan keluargaku jauh lebih sepi dari keluarganya.

“Cukup, Crystal. Maafkan aku sudah memaksamu menceritakan ini semua.”

Aku menarik napas. Dalam. Aku tidak kuat lagi untuk berbohong pada Gavin. Tidak. Ini baru beberapa jam. Tapi kata-kata itu sudah mendesak untuk keluar.

Kami menghabiskan waktu untuk mengerjakan beberapa tugas sekolah. Well, sebenarnya bukan mengerjakan, tapi membantuku mengerjakan. Gavin dengan mudah mengajariku semuanya. Dia benar-benar cepat menyerap apa pun. Dia juga mengajariku dengan baik.

“Kau ingin makan?”tanyaku, ketika kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Well, boleh. Aku ingin mencoba masakanmu.”

Aku terkekeh. “Tidak. Tidak ada masakanku. Aku selalu memakan sesuatu yang instan.”

Aku pergi menuju dapur. Aku merebus air di dalam panci dan memasukkan 2 bungkus pasta instan langsung begitu airnya mendidih. Butuh waktu 5 menit untuk menunggu satu bungkus matang. Jadi kira-kira 10 menit untuk dua bungkus.

Gavin terus memperhatikanku, sambil bersender pada meja dapur.

Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya, dan tetap mengaduk-aduk pastaku. Berusaha untuk berkonsentrasi pada makanan instan yang sudah kukonsumsi bertahun-tahun, bergejolak di dalam panci hitam di hadapanku. Tapi ternyata sulit untuk mengacuhkan Gavin.

“Apa yang kau lihat?”tanyaku.

Gavin menghampiriku. Melepas tanganku dari sendok kayu yang kugunakan untuk mengaduk-aduk pasta. Lalu sendok itu dengan sendirinya menari-nari mengaduk pasta.

“Aku tidak butuh bantuanmu. Ini hal kecil yang bisa dan biasa kulakukan sendiri,”kataku sambil berusaha meraih sendok kayu yang masih terus berputar mengaduk. Entah karena mataku yang terus mengikuti gerakan sendok itu, jadi membuat kepalaku sakit, atau memang aku benar-benar sakit.

Aku kontan menarik kursi meja makan dan langsung duduk. Bisa-bisa aku ambruk kalau berdiri lebih lama lagi.

Gavin masih tidak menghentikan sendoknya, dia menghampiriku dan merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. “Kau tidak apa-apa?”

Aku menggeleng. “Hanya pusing.”

“Kau yakin tidak butuh obat, dokter, atau apa pun?”

“Aku baik-baik saja. Sebentar lagi juga akan hilang.”

“Crystal, kau tahu kau bisa menceritakan apa pun masalahmu padaku. Apa kau sakit?”

Aku menurunkan tangan Gavin (yang ajaibnya tidak terasa panas, hangat atau apa pun di kulitku. Bahkan terasa begitu dingin. Ha! Ini ajaib, baru pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang dingin. Mungkin karena daya serap Gavin. Tapi aku tidak menyangka dia bisa jadi sedingin ini) dari wajahku. “Jangan memperlakukanku seolah aku mengidap penyakit parah.”

“Tapi kau memang terlihat seperti itu. Hampir setiap saat kau terlihat sangat lemas. Tidak ada salahnya kan untuk memeriksakan diri ke dokter, sebelum terlambat.”

Sunyi sejenak. Yang terdengar hanya bunyi sendok yang sedang mengaduk-aduk pasta di panci.

Aku belum pernah ke dokter sebelumnya. Well, aku memang lahir di rumah sakit. Tapi Mom langsung membawaku pulang sehari setelah aku lahir tanpa memperbolehkanku untuk dites golongan darahnya dan segala macamnya. Sejak itu aku tidak pernah ke dokter, rumah sakit, atau pun sakit.

“Kau tahu, kalau menurut Willy, aku begini karena kau. Well, itu hanya teorinya saja sebenarnya.”

Gavin memiringkan kepalanya. “Oh. Jadi dia bilang begitu?”

“Yeah. Dia kira kau mengidap suatu penyakit yang mengharuskanmu mengisolasikan diri dari dunia luar.”

Gavin tertawa. “Setidaknya kau sudah tahu alasan yang sebenarnya kan? Aku juga tidak akan menyalahkan Willy dengan asumsinya itu.”

Aku bangkit berdiri, berusaha untuk menahan sakit di kepalaku yang semakin menjadi-jadi. “Berhentikan sendoknya, Gave.”

“Aku hanya ingin membuat pekerjaanmu lebih mudah. Apa salah?”

“Mungkin yang menyebabkan aku sakit adalah sendok yang terus berputar ini.”

Gavin memberhentikan sendoknya dan aku langsung mengambil alih mengaduk. Well, mungkin memang sendok itu penyebab sakit kepalaku, karena sekarang aku merasa lebih baik.

“Aku belum menyelesaikan cerita soal keluargaku,”kataku.

“Kau tidak perlu menyelesaikannya, Crystal.”

“Tidak, sebagai teman yang baik, kita harus berbagi cerita kan?”

Well, kau bisa menceritakannya kalau memang kau mau.”

Aku menarik napas. “Ceritaku tidak seperti ceritamu. Ibuku anak tunggal, begitu juga dengan ayahku. Aku tidak punya sepupu. Well, mungkin punya, tapi entah di mana. Kami sibuk dengan diri kami masing-masing. Aku tidak pernah merasa menyesal karena itu. Karena hidup dalam keluarga yang sibuk. Aku juga tidak pernah melarang kedua orangtuaku untuk bekerja. Ini hidup mereka, dan ini hidupku. Melarang mereka bekerja, sama seperti mereka melarangku bersekolah. Sejak usiaku 3 tahun, ibuku sudah kembali bekerja normal seperti biasa dan aku dititipkan dengan pengasuhku di rumah. Pengasuhku bukan seseorang yang terlalu baik, sampai-sampai mau menghabiskan waktu menghibur anak 3 tahun sepertiku. Dia lebih sering berbicara di telepon, sedangkan aku dibiarkan bermain sendiri. Rasanya waktu itu berjalan sangat lama sekali. Sampai akhirnya aku bisa mengurus diriku sendiri dan tidak butuh pengasuh lagi.

“Saat itu usiaku tidak lebih dari 8 tahun. Ibu dan ayahku mengatakan kalau aku sudah tidak butuh pengasuh lagi. Mulai saat itu aku lebih sering dititipkan pada tetanggaku. Bermain dengan anak-anak mereka yang sebenarnya jauh lebih dewasa dariku. Aku bersyukur mereka masih mau bermain dengan anak kecil sepertiku. Lalu semua berlangsung sama, sampai detik ini.” Kurasakan tenggorokkanku seperti tercekat. Suaraku semakin lama semakin bergetar. Pandanganku mulai kabur dan akhirnya air mataku tumpah juga.

Tangan dingin Gavin melepaskan tanganku dari sendok dan membiarkan sendok itu menari-nari sendiri lagi. Ditariknya aku ke dalam pelukannya. Aku membenamkan wajahku ke dadanya yang dingin. Gavin semakin erat memelukku ketika aku semakin kencang menangis.

Lama sekali aku berada dalam pelukan Gavin. Aku mendengar suara sendok yang berhenti dan suara kompor di matikan. Sakit kepalaku semakin menjadi-jadi lagi, dan rasanya aku sudah tertidur dalam pelukan Gavin.

Gavin mengangkat wajahku dengan tangannya. “Kau tidak apa-apa?”

Aku menggeleng.

Gavin menghapus air mataku yang belum mengering dari wajahku. “Kau sepertinya butuh makan.”

Gavin mendudukkanku di kursi meja makan. Kulihat pasta sudah berada di atas dua piring di hadapanku.

“Benar-benar menyedihkan,”gumamku.

“Tidak ada yang menyedihkan, Crystal. Kau tidak perlu merasa kesepian. Kau bisa meneleponku setiap saat kau membutuhkanku. Well, aku akan tetap bersamamu di sini, setiap hari, setiap malam. Aku semakin yakin kalau kau benar-benar membutuhkan seseorang.”

Aku menggenggam sendokku. “Terima kasih, Gave. Tapi kau tentu memiliki kehidupan sendiri. Aku tidak ingin menjadi pengacaunya.”

“Kau bukan pengacau, Crystal. Lagipula aku memiliki hampir 24 jam penuh dalam sehari. Apa salahnya membagi waktu denganmu?”

Kau akan kaget jika mendapatiku tidak tidur, Gave. Aku tidak ingin kau melihatku dalam keadaan seperti itu. Kenyataan bahwa aku monster, sama sepertimu.

Aku menghabiskan pasta bagianku. Lebih lahap dari biasanya. Hari ini aku benar-benar lapar. Padahal aku sama sekali tidak mengeluarkan kemampuanku hari ini.

Gavin lebih dulu selesai daripada aku. Aku berdiri da mengambil piringku dan piringnya yang sudah kosong, lalu meletakkannya ke dalam mesin pencuci piring. Aku sedikit kesal dengan adanya mesin ini. Ini sangat praktis. Membuat pekerjaanku begitu ringan. Jadi tidak ada pekerjaan tambahan yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu.

Aku menarik napas dalam dan berbalik menghadap Gavin. Aku sedikit tersentak begitu meemukan Gavin tepat berada di belakangku. “Kau bisa pulang sekarang. Aku sudah tidak apa-apa.”

Gavin menyusupkan tangannya ke bawah kedua kakiku dan mengangkat tubuhku. “Tidak, sebelum kau tidur.”

Aku mendengus. Bagaimana jika aku tidak bisa tidur sampai besok pagi?

Gavin membawaku ke menaiki tangga. Ternyata dia lebih kuat daripada yang kukira, untuk tidak menjatuhkanku.

“Kau tau dari mana ini kamarku?”tanyaku.

Gavin mengendus-endus. “Dari baumu.”

Aku memutar bola mataku. Well, itu salah satu kelebihannya. Kenapa dia begitu lebih daripada aku? Padahal aku yakin kami sama.

Gavin mendorong pintu kamarku sampai terbuka. Aku bersyukur karena sudah membereskan kamarku dulu tadi pagi. Setidaknya kesan pertamanya melihat kamarku tidak terlalu buruk.

Ketika Gavin ingin menurunkanku, aku menolak dan menahan tubuhku dengan melingkarkan tanganku di lehernya.

“Aku yakin, aku pasti terlalu dingin untukmu malam ini, Crystal.”kata Gavin.

Aku menarik tubuhku lebih erat lagi. “Please?”bisikku di telinganya.

Jeez, Crystal. Kau seperti bayi.”

Aku terkekeh geli. Mungkin aku memang harus mencoba untuk tidur. Setidaknya aku tidak akan melihat Gavin pergi malam ini.

Gavin duduk di pinggir tempat tidurku. Meletakkan kedua kakiku di atas tempat tidur dan merengkuh tubuhku dengan kedua tangannya.

Aku mendongak dan menatap wajah sempurnanya. “Kau akan pergi setelah aku tidur?”

Well, pasti. Karena besok kita harus kembali sekolah. Tapi aku berjanji, begitu kau bangun, aku sudah berada di sini.”

Aku menyenderkan kepalaku di dadanya yang dingin. Baguslah kalau memang dia sudah berjanji. Setidaknya begitu aku bangun besok, aku sadar kalau ini bukan mimpi.

Gavin menunduk dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Deru napasnya yang dingin terasa menyapu telingaku. “Tidurlah, Crystal.” Aku bisa melihat sekilas senyuman mautnya. Lalu diciumnya keningku, dalam dan lama, seperti sebagai mantra yang membuatku tertidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar