Sabtu, 27 Desember 2008

Joshua : 10 Tahun Lagi (Part 2)

Pria itu berambut pendek dengan warna hitam pekat. Ia mengenakan jas berwarna abu-abu dengan dasi berwarna hitam. Setelah kuperhatikan, sepertinya dia seorang yang mengalami heterochromia, mata kirinya berwarna hijau sedangkan mata kanannya berwarna biru. Dia lalu mengeluarkan jam, atau tepatnya stopwatch antik dari saku kanan jasnya.
"Kau butuh berapa waktu, nak?" tanyanya ke Joshua dengan senyum jahatnya.
Joshua tidak menjawab, dengan seketika--mungkin kurang dari setengah detik--dia sudah berpindah lebih dekat di depan pria jas abu-abu itu.
"Aku tidak butuh, kau tahu aku bergerak dengan kecepatan cahaya." kata Joshua, percaya diri.
Lalu Joshua menggerakan jari telunjuk ke arah lawannya, sedangkan ibu jarinya menunjuk ke atas--seakan-akan sebagai pistol.
"Bang!" suara Joshua menjadi sangat tinggi, lebih tinggi dari pada suara Bu Marry.
Beberapa butir api, tapi sepertinya bukan api, karena aku tidak merasakan hawa panas, malah agak dingin. Tetapi warnanya seperti api, merah pekat. Butiran itu akan mengenai lawannya, tetapi setelah aku mengedipkan mata, lawan itu menghindar dengan mudah.
"Kau tahu kan, aku juga bergerak cepat. Kecepatan waktu." kata pria itu.
Dengan cepat--dan sepertinya Joshua tidak berbohong dia bisa bergerak secepat cahaya--Joshua sudah ada di belakang lawannya. Dia seakan-akan berhendak menembak di pelipis lawannya. Tetapi sekali lagi, lawan itu menghindar dengan mudah.
"Waduh, dinginnya. Hampir saja." kata pria itu, seakan-akan panik, tapi sebenarnya tidak.
Lalu, sekali lagi dia mengeluarkan stopwatch antik itu dari sakunya.
"Hmm, sepertinya waktumu sudah habis." seketika setelah bicara itu, sang pria dengan stopwatch itu menghilang.
Joshua sepertinya kesal. Ia mungkin merasa kalah. Tapi kekesalan di mukanya berubah menjadi senyuman setelah melihatku.
"Bintang." satu kata dari Joshua.
"Hah?" aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Yang kutembakkan tadi itu bintang. Tepatnya butiran bintang. Bintang yang berwarna merah itu yang paling dingin. Walaupun begitu, jika di luar angkasa bintang merah yang terendah suhunya tetap sangat panas. Bintang yang kutembakan menyesuaikan suhunya di bumi." jelasnya.
"Aku tidak bertanya." kataku, menyindir.
"Kau kelihatan ingin bertanya." balas Joshua.
"Baik, aku mengaku kalah. Tapi bisa tolong jelaskan tadi itu apa?" tanyaku.
"Tentu tidak bisa, anggap saja tadi itu halusinasimu. Walaupun tadi aku menjelaskan sebagian sih." kata Joshua, dengan kata halusinasinya lagi.
Setelah itu aku terdiam. Lebih tepatnya aku mendiamkan dia.
"Kenapa kau? Menjadi diam begitu." kata Joshua.
"Wah, kupikir kau bisa membaca pikiranku? Aku sedang berkonsentrasi agar bisa bangun dari mimpi aneh ini." jawabku sambil menyindir. Sesaat aku mengatakan kata 'mimpi aneh', aku merasakan mood Joshua berubah. Tanpa kusadari dia sudah ada di belakangku.
"Ya sudah, kalau kau ingin ini adalah mimpi." nada bicaranya sekarang benar-benar membuatku merinding.
"Selamat tidur, can-tik." Joshua sudah ada di depanku, mencium punggung tanganku. Aku tidak tahu dia melakukan apa kepadaku, tetapi sekujur tubuhku seperti disengat listrik.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku akan cepat pulang karena hari ini giliranku menyediakan makan malam di rumah. Aku menggunakan jalan pintas di pinggir sungai, agar cepat sampai.
Di perjalanan aku melihat anak kecil sendirian. Sepertinya dia tersesat. Tiba-tiba saja dia sudah ada di dekatku, persis di depanku.
"Kak, aku kehilangan ibuku. Bisa bantu aku mencarinya?" kata anak tersebut. Sepertinya berumur sekitar 7 tahunan.
Aku tidak mungkin menolak anak kecil ini yang kehilangan ibunya, terpaksa aku akan bilang ke ibu kalau hari ini aku tidak bisa menyiapkan makan malam.
Sekitar setengah jam aku membantu anak ini mencari ibunya, tapi tidak ketemu. Anehnya, anak ini sepertinya tenang saja, tidak seperti anak lain yang kehilangan ibunya.
"Kita istirahat dulu yuk, di pinggir sungai." ajak anak tersebut.
Tanpa menjawab apa-apa, aku menurutinya. Aku dan anak tersebut duduk-duduk di pinggiran sungai.
"Nama kakak siapa?" tanya anak tersebut.
"Rachel Parker. Panggil saja Rachel." jawabku.
"Terima kasih ya sudah menemaniku." katanya. Lalu dia melihat jam tangannya. "Terima kasih juga sudah mau memberikan waktu untukku."
Tiba-tiba tubuhku menjadi lemas, penglihatanku mulai kabur. Sesaat sebelum aku memejamkan mataku, aku baru menyadari bahwa mata kiri anak ini berwarna hijau dan mata kanannya berwarna biru.
***
Saat bangun, aku masih ada di pinggiran sungai, tertidur. Kulihat di sampingku ada teman sekelasku, namanya kalau tidak salah, Joshua Polard.
"Sepertinya menghilangkan ingatanmu tidak berhasil." katanya lalu menyentuh pundakku. Seketika itu aku mengingat semuanya. Dari melihatnya melompat dari puncak gedung 30 tingkat, sampai dia membuatku mengalami amnesia.
Aku langsung ingin bangun dan kabur dari tempat itu secepatnya. Tapi sepertinya tidak bisa, kepalaku terasa berat.
"Kau tidak mungkin ke rumah sendirian dalam kondisi itu. Clockward mengambil sebagian lifespan-mu." kata Joshua dengan tatapan menuju ke sungai.
Lalu, dia langsung mengangkatku. Sepertinya dia menganggapku seperti anak kecil dan mengangkatku.
Tanpa bicara apa-apa dia beranjak.
"Mau membawaku ke mana?" aku bertanya dengan suara yang sangat kecil.
"Ke rumahmu, tentunya. Mau seberapa cepat, nona?" tanyanya dengan nada melucu.
Aku tidak bisa menolak tawarannya. Dengan memalingkan wajahku, aku menjawab "tolong secepatnya".
Aku, dibawa olehnya dengan cepat, sangat cepat. Sekitarku sudah kelihatan, sepertinya kita menjadi seperti angin. Tidak, mungkin 10 kali lipatnya.
Tanpa terasa aku sudah ada di luar jendela kamarku. Dia membukakan jendelaku, lalu menaruhku di tempat tidurku.
"Sudah sampai, nona. Ha-ha" katanya.
Lalu tanpa berkata apapun, aku tertidur.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar