Sabtu, 27 Desember 2008

Joshua : 10 Tahun Lagi (Part 1)

Rachel pada hari itu memang sudah tidak mau masuk ke sekolah. Ini semua gara-gara ia melihat sesuatu yang seharusnya dia tidak lihat. Dia melihat teman sekelasnya melompat dari atas gedung 30 tingkat-dan tidak mati.
***
Joshua yang baru saja menyelesaikan tugasnya--membantai penjahat dengan sadis--mengetuk pintu rumah temannya itu.
"....." Rachel terkejut saat membuka pintu rumahnya.
"He--" sapaan Joshua terpotong oleh dentuman bantingan pintu.
"Hey, Rachel buka pintunya! Aku hanya ingin memastikan keadaan." teriak Joshua.
Rachel membuka pintu sedikit dan mengintip. "Memastikan apa?" tanyanya kecut.
"Memastikan bahwa--" ekspresi Joshua berubah serius "--kau tidak menyebarkan gosip aneh sehingga aku perlu, eh harus membunuhmu."
Rachel membanting pintu lalu lari ke kamarnya dan mengunci pintu.
***
Semuanya terlihat hitam kecuali bulan purnama dan lampu gedung itu. Aku menggerakan kepalaku ke atas gedung tersebut dan melihat sesosok bayangan. Apa yang dilakukannya di atas gedung, pikirku.
Kucoba memfokuskan mataku untuk memperjelas bayangan itu. Rambut kecoklatan dan baju biru, tidak salah lagi.
Kulihat bayangan itu jatuh--atau tepatnya melompat--ke tanah sejauh 30 tingkat. Selama 10 detik ia terjun, aku tidak mengedipkan mataku.
Sesaat ia mendarat, naluriku memberitahu bahwa aku harus kabur. Berlarilah aku secepat mungkin. Tidak mungkin dia menyadari keberadaanku. Tetapi aku salah. Aku merasakannya, tatapan dari jarak 70 meter itu.
***
Bau roti bakar tercium sesaat aku membuka mata dari mimpi singkat itu. Sudah 5 hari sejak teman sekelasku itu datang untuk memastikan keadaan dan berniat membunuhku, dan setiap malam aku selalu bermimpi pemandangan saat ia meloncat. Aku tidak tahu harus mengagumi Joshua Polard atau tidak.
***
Penciumanku benar, ibuku sedang membakar roti di dapur. Tapi rasanya ada yang ganjil. Terdapat sepasang sepatu yang bukan milikku atupun ibuku di dekat pintu.
"Pagi, ma" sapaku ke ibuku.
"Pagi, cantik" kata ibuku dengan senyum. "Coba lihat ruang makan."
"Hm?" aku hanya menurut dan melihat meja makan.
"Hey, can-tik." kata orang yang duduk di ruang makan itu. Seketika itu mukaku pasti merah padam.
"Ap--" kata-kataku tersendat. "Apa yang dia lakukan di sini, ma?!" teriakku.
"Katanya dia hanya mau berangkat sekolah bareng kamu. Rumahnya dekat, jadi dia mampir." jawab ibuku dengan santai.
Setelah itu aku hanya terdiam dengan muka yang masih kesal. Aku memakan sarapanku dengan sangat hati-hati dan tidak mengeluarkan suara satu kata pun.
"Sebaiknya kalian berangkat sekarang. Telat lho." kata ibuku.
"Oh, iya tante. Makasih sudah memperbolehkanku menjemput Rachel." kata Joshua dengan senyuman yang menurutku menjengkelkan.
"Tidak masalah, Joshua. Tapi kamu yakin kamu tidak mau sarapan?" tanya ibuku, seakan-akan dia peduli tentang Joshua. Lagipula, sejak kapan ibu tahu namanya Joshua?
"Tidak, terima kasih. Aku akan makan di sekolah nanti." jawab Joshua dengan senyumnya.
***
Di perjalanan, aku hanya diam. Aku berusaha menganggap bahwa dia, Joshua Polard, tidak ada.
"Aku tak menyangka kau orang yang diam kalau sedang marah." kata Joshua.
Aku mempercepat kakiku berjalan.
"Hei, yang kemarin bercanda kok tentang membunuhmu itu." nada bicara Joshua tiba-tiba berubah menjadi nada bicara orang yang menyesal.
"Aku tidak menyangka ada orang yang bisa bercanda mengatakan ingin membunuh." kataku, membalas.
Beberapa menit tidak ada yang berkata sepatah katapun. Kali ini aku yang memecahkan keheningan itu. "Tapi kau tdiak akan menjelaskan?" tanyaku.
"Tentu tidak," Joshua menyengir sinis."anggap saja itu halusinasimu."
"Ayo cepat, kita terlambat." katanya dan sekali lagi nada bicaranya berubah.
***
Sekolahku sebenarnya tidak begitu jauh. Kalau kau berjalan ke sekolahku dari rumahku sambil membicarakan sesuatu yang menjengkelkan dengan orang yang menyebalkan, tidak terasa kau akan cepat sampai ke sekolah.
Tidak ada yang istimewa di sekolah hari ini. Ya, kecuali setiap aku berjalan selalu ada orang berambut coklat itu mengikutiku.
Baru saat pelajaran Biologi dia berbicara. "Kau masih marah?" sebuah pertanyaan bodoh yang ditanyakan oleh si Polard rambut coklat ini. Pertanyaan bodoh seperti menanyakan "Siapa namamu, Rachel?".
"Humph." itu suara yang kukeluarkan.
"Kuartikan itu sebagai iya." kata Joshua.
Tiba-tiba suara dengan nada tinggi berkata "Rachel, berhenti berbicara dengan teman sebelahmu." Ya itu suara guruku, Bu Marry. Padahal aku hanya mengeluarkan 'humph', dan dituduh berbicara dengan teman sebelahku? Dan sejak kapan Joshua menjadi teman sebelahku?
Kulihat si Polard tertawa pelan dengan maksud menyindirku, sangat menyindirku.
***
Istirahat untuk makan siang tiba. Aku tidak mau orang ini terus mengikutiku sampai makan siang.
"Hei, Rachel, mau makan siang bersama?" kata seorang gadis cantik yang merupakan temanku yang paling dekat dibandingkan temanku yang lainnya. Padahal aku jarang mengobrol dengannya.
"Oh, tentu." jawabku singkat.
"Baiklah, dan tentu saja aku memperbolehkanmu mengajak temanmu itu bergabung, hmm siapa namanya lagi....Joshy Polard?" kata Mandy, nama gadis cantik itu.
"Oh, tidak perlu. Aku hanya kebetulan mengikutin Rachel dari tadi. Oh, iya namaku, Joshua Polard, bukan Joshy. Kalau mau pake nama panggilan, panggil aku Josh, jangan Joshy." jawab Joshua, yang seenaknya menjawab.
Tapi, baguslah. Akhirnya kali ini aku tidak diikuti dia.
***
Makan siang berakhir dengan biasa. Ya, biasa. Tidak ada Joshy yang mengikutiku. Dan itu membuatku lega, ya sangat lega.
Tapi selesai makan, aku menyadari bahwa aku salah. Dia, Polard berambut coklat, masih tetap mengikutiku. Dia makan siang di meja kantin sebelah meja kelompokku berada. Oh, dan ternyata dia tidak makan.
***
Bel pulang berbunyi. Aku harus cepat keluar dari sekolah. Atau tidak, dia akan tetap mengikutiku. Lagipula, kenapa dia tetap mengikutiku, bukankah aku yang membutuhkan penjelasan darinya?
"Kau berpikir tentang alasan aku mengikutimu? Ha-ha" katanya tiba-tiba. Apa dia bisa membaca pikiran, pikirku.
"Tidak, aku tidak bisa baca pikiran. Ekspresi wajahmu mengatakan semuanya." katanya sambil tertawa, dan ya, menjengkelkan.
"Aku katakan kali ini saja. Aku tidak suka diikuti. Kalau kau mengkhawatirkan aku akan menyebarkan rumor aneh, kau tidak perlu mengikutiku. Aku berjanji tidak akan membuka mulutku tentang itu." kataku dengan nada tegas.
Joshua malah menyengir sedikit lalu kembali diam, dan tetap mengikutiku selama perjalanan ke rumah.
***
Perjalanan ke rumah tanpa pembicaraan dengan seorang penguntit di belakangku itu terasa lama. Aku tidak mengerti. Kenapa jalan menuju rumahku dipenuhi gang-gang sempit dipinggir jalan. Aku sama sekali tidak ingat gang-gang kecil itu.
"Kau merasa tersesat?" senyum dingin yang dikeluarkan Joshua, entah kenapa kali ini membuatku merinding, bukan kesal.
"Karena itu aku mengikutimu, aku tahu kau akan tersesat." katanya lagi.
"Tidak mungkin, selama hidupku aku tidak pernah kehilangan jalan ke rumahku." kataku, menjaga diriku untuk tetap tenang.
"Ya, tapi kali ini kau benar-benar tersesat." sambil mengatakan itu dengan suara yang kecil, sangat kecil hampir seperti bisikan, dia berjalan melewatiku. Aku membalikkan badan, dan kulihat di depan si rambut coklat, terdapat seorang pria 20 tahunan, atau mungkin belasan tahun, melihat Joshua dengan tatapan tajam. Di tangannya terdapat sebuah tongkat besi panjang bertandakan jam pasir di ujungnya.
"Inilah alasanku mengikutimu. Waktu kau melihatku, dia telah melihatmu duluan dan menjadikan kau targetnya." nada bicaranya sekarang sudah sangat berbeda.
Saat itulah aku menyadari, kali ini yakin bahwa aku seharusnya tidak melihat yang seharusnya tidak kulihat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar