"Pagi, ma, tidak membuat--" aku tidak selesai mengatakannya karena kulihat ibuku sudah duduk di meja makan dan sepertinya sudah selesai menyiapkan 2 piring omelet yang pastinya untukku dan dirinya sendiri.
"Kupikir tidak ada sarapan hari ini, aku tidak mencium aroma apapun." kataku masih belum bisa merasakan sedapnya bau omelet masakan ibuku.
"Mungkin kau flu?" kata ibuku.
Kucoba untuk menghirup udara sekitar, dan ibuku benar, hidungku tersumbat.
"Cepat habiskan sarapanmu, kau akan terlambat." ibuku selalu berbicara kata 'terlambat' itu, padahal selama ini, aku belum pernah sekalipun terlambat.
"Baiklah, ma." tanpa berkomentar aku dengan cepat menghabiskan sarapanku. "Aku berangkat, ya."
"Oke, hati-hati di jalan sayang." kata ibu.
"Tenang saja. Oh, iya, dia tidak datang?" tanyaku sambil memakai sepatuku.
"Oh, Joshua? Tidak. Mungkin dia--" kata-kata ibuku terpotong oleh bunyi bel. "Tolong sekalian buka pintunya, sayang, mungkin itu Joshy."
"Baiklah. Tapi, ma, kuingatkan dia tidak suka dengan panggilan Joshy." kataku, lalu membuka pintu dan benar, si Polard datang.
"Kalimera, nona yang sedang flu." sapanya dan aku tidak mengerti apa itu kalimera dan bagaimana dia tahu aku flu.
"Kalimera itu selamat pagi atau halo dalam bahasa Yunani dan aku, sekali lagi, tidak bisa membaca pikiran, hanya bisa membaca dari ekspresi wajah." katanya dengan nada mengejekku.
"Hei, Rachel, lebih baik kalian berangkat sekarang." teriak ibuku dari arah dapur.
"Baik ma." kataku dan segera keluar pintu bersama Joshua. "Oh iya, Joshua, aku hari ini mau lewat jalur daratan, udara membuatku flu." kataku, agak melucu.
"Hah! Kupikir udara itu lebih sejuk dan cepat." kata Joshua.
***
"Jadi, sebenarnya siapa Clocky-wood itu?" tanyaku ke Joshua dan jarang sekali aku bisa bertanya sebelum dia 'membaca' ekspresi wajahku.
"Kau bisa dibunuhnya jika memanggilnya dengan nama itu, ha-ha. Namanya Clockward bukan Clocky-wood. Dia bukan siapa-siapa. Seperti namanya, penampilannya, dan jam antiknya itu, dia hanya bisa mengendalikan waktu." jelas Joshua.
"Hm? 'Hanya' bisa mengendalikan waktu? Kurasa itu membuatnya menjadi pengendali dunia. Waktu itu salah satu elemen penting di dunia ini, menurutku." kataku yang tidak mengerti oleh penjelasan Joshua yang mengatakan Clockward bukan siapa-siapa.
"Ya aku juga tahu itu, tapi Clockward membutuhkan waktu untuk mengendalikan waktu." sekarang dia membuatku merasa bahwa dia jauh lebih tahu daripada aku. Membutuhkan waktu untuk mengendalikan waktu? Aku sama sekali tidak mengerti.
"Sudahlah, penjelasan itu nanti setelah sekolah, waktu tidak menunggu, kau tidak mau terlambat kan?" sekali lagi Joshua tidak menyelesaikan penjelasannya. 'Terlambat', sudah dua kali dia mengatakan hal itu kepadaku, siapa dia sekarang? Ibuku?
"Kau bisa dibunuhnya jika memanggilnya dengan nama itu, ha-ha. Namanya Clockward bukan Clocky-wood. Dia bukan siapa-siapa. Seperti namanya, penampilannya, dan jam antiknya itu, dia hanya bisa mengendalikan waktu." jelas Joshua.
"Hm? 'Hanya' bisa mengendalikan waktu? Kurasa itu membuatnya menjadi pengendali dunia. Waktu itu salah satu elemen penting di dunia ini, menurutku." kataku yang tidak mengerti oleh penjelasan Joshua yang mengatakan Clockward bukan siapa-siapa.
"Ya aku juga tahu itu, tapi Clockward membutuhkan waktu untuk mengendalikan waktu." sekarang dia membuatku merasa bahwa dia jauh lebih tahu daripada aku. Membutuhkan waktu untuk mengendalikan waktu? Aku sama sekali tidak mengerti.
"Sudahlah, penjelasan itu nanti setelah sekolah, waktu tidak menunggu, kau tidak mau terlambat kan?" sekali lagi Joshua tidak menyelesaikan penjelasannya. 'Terlambat', sudah dua kali dia mengatakan hal itu kepadaku, siapa dia sekarang? Ibuku?
***
"Hey, Rachel." seseorang dari belakang menyapaku, suaranya kecil tapi tinggi.
"Oh, hei, Sam." jawabku ke Samantha, dan tentu saja dia bukan juga sahabatku hanya saling kenal.
"Hmm, Mandy menyuruhku mengajakmu ikut nanti ke kafe baru itu. Kau tahu kan? Dekat kok dari rumahmu." kata Sam.
Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu tentang kafe baru, tetapi aku jawab saja "Oh, aku tahu itu. Baiklah nanti aku akan memberitahumu jika aku bisa ikut."
"Oke, sampai jumpa Rachel." kata Sam sambil tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu menghilang di keramaian lorong sekolah.
"Hei, keberatan kah jika aku ikut?" aku membalikkan badanku untuk melihat orang yang menanyakan itu, walaupun aku sangat kenal dengan suara itu.
"Oh, tentu saja aku keberatan. Tetapi jika kubilang tidak boleh pun, kau akan terus mengikutiku." kataku, sangat menyindir.
"Ya, setidaknya kali ini aku meminta ijinmu." kata Joshua sambil tertawa.
"Oh, hei, Sam." jawabku ke Samantha, dan tentu saja dia bukan juga sahabatku hanya saling kenal.
"Hmm, Mandy menyuruhku mengajakmu ikut nanti ke kafe baru itu. Kau tahu kan? Dekat kok dari rumahmu." kata Sam.
Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu tentang kafe baru, tetapi aku jawab saja "Oh, aku tahu itu. Baiklah nanti aku akan memberitahumu jika aku bisa ikut."
"Oke, sampai jumpa Rachel." kata Sam sambil tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu menghilang di keramaian lorong sekolah.
"Hei, keberatan kah jika aku ikut?" aku membalikkan badanku untuk melihat orang yang menanyakan itu, walaupun aku sangat kenal dengan suara itu.
"Oh, tentu saja aku keberatan. Tetapi jika kubilang tidak boleh pun, kau akan terus mengikutiku." kataku, sangat menyindir.
"Ya, setidaknya kali ini aku meminta ijinmu." kata Joshua sambil tertawa.
***
Kuputuskan untuk ikut Mandy, Sam, dan yang lain ke kafe itu. Kupikir kadang-kadang aku harus bergaul dengan teman-teman sekolahku.
"Chronos, ya? Nama yang unik untuk sebuah kafe." kata seseorang yang kumasukkan ke dalam daftar teman-teman sekolahku, Joshua tentunya.
"Jadi, Rachel...." kata Sam yang duduk berhadapan denganku.
"Jimmy ingin tahu bagaimana kau bisa dekat dengan Joshua? Penasaran saja." berbeda dengan Sam, Mandy tipe yang 'langsung'.
"Hei, sudah kubilang jangan bilang aku yang ingin tahu!" teriak anak berkacamata yang duduk di sebelah Sam.
"Aku tidak de--" jawabanku tiba-tiba terpotong oleh keegoisan Joshua yang berkata "Ibunya baru tahu rumah kita dekat, dan dia memintaku untuk menjaga Rachel jika di sekolah."
Kupikir, itu alasan terburuk yang pernah dibuat-buat oleh Joshua.
"Begitukah? Baiklah, aku bisa percaya itu." kata Mandy, seolah-olah mengharapkan alasan yang lebih, yang bisa ia gosipkan.
"Mau memesan?" seorang pria tua, mengenakan monocle, kacamata berlensa satu, di mata kirinya.
"Aku hanya ingin secangkir hot chocolate." kataku, menjadi pertama yang memesan.
"Baiklah, kurekomendasikan hot chocolate ala kairos sebagai pemilik kafe." kata si pria tua itu dengan elegan dan mengedipkan mata kepadaku.
"Wah, kau pemilik kafe ini? Untuk kunjunganku pertama kali, atmosfer kafe ini nyaman sekali." kata Mandy.
"Terima kasih, nona." si pemilik kafe berterima kasih dengan sangat elegan.
"Chronos, ya? Nama yang unik untuk sebuah kafe." kata seseorang yang kumasukkan ke dalam daftar teman-teman sekolahku, Joshua tentunya.
"Jadi, Rachel...." kata Sam yang duduk berhadapan denganku.
"Jimmy ingin tahu bagaimana kau bisa dekat dengan Joshua? Penasaran saja." berbeda dengan Sam, Mandy tipe yang 'langsung'.
"Hei, sudah kubilang jangan bilang aku yang ingin tahu!" teriak anak berkacamata yang duduk di sebelah Sam.
"Aku tidak de--" jawabanku tiba-tiba terpotong oleh keegoisan Joshua yang berkata "Ibunya baru tahu rumah kita dekat, dan dia memintaku untuk menjaga Rachel jika di sekolah."
Kupikir, itu alasan terburuk yang pernah dibuat-buat oleh Joshua.
"Begitukah? Baiklah, aku bisa percaya itu." kata Mandy, seolah-olah mengharapkan alasan yang lebih, yang bisa ia gosipkan.
"Mau memesan?" seorang pria tua, mengenakan monocle, kacamata berlensa satu, di mata kirinya.
"Aku hanya ingin secangkir hot chocolate." kataku, menjadi pertama yang memesan.
"Baiklah, kurekomendasikan hot chocolate ala kairos sebagai pemilik kafe." kata si pria tua itu dengan elegan dan mengedipkan mata kepadaku.
"Wah, kau pemilik kafe ini? Untuk kunjunganku pertama kali, atmosfer kafe ini nyaman sekali." kata Mandy.
"Terima kasih, nona." si pemilik kafe berterima kasih dengan sangat elegan.
***
"Kairos itu artinya moment." tanpa ditanya, seperti biasa dia menjawab.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang bahasa aneh itu?" kali ini kuberi kesempatan dia bercerita tentang dirinya.
"Itu bahasa Yunani, bukan bahasa aneh. Banyak legenda-legenda menarik dari Yunani, jadi ayahku menyarankanku mempelajarinya."
"Ayahmu?" tanyaku tanpa berpikir.
"Ya, ayahku. Oh iya, aku tidak pernah membicarakan keluargaku sebelumnya." kali ini perubahan nadanya kukenali yaitu tanda saat ia tidak mau membicarakan topik tertentu.
"Kau tahu arti Chronos, nama kafe itu?" tanyaku membelokkan topik.
"Chronos adalah personifikasi dari waktu." jawabnya, kali ini singkat.
Beberapa menit setelah itu, tidak ada salah satupun dari kita yang berkata. Akhirnya tidak terasa aku sudah sampai di depan pintu rumahku.
"Kau membuat rekor baru, kau mendiamkanku selama 15 menit." katanya dengan nada biasanya lagi sambil tertawa.
"Oh ya, kau tahu kenapa aku berkata bahwa Chronos nama yang unik untuk kafe?" dia bertanya.
"Tidak. Kenapa?" tanyaku, polos, tidak tahu apa-apa.
"Chronos yang merupakan personifikasi waktu sepertinya ada hubungannya dengan Clockward." katanya dengan nada biasa tetapi serius. "Baiklah, sampai jumpa besok."
Aku sama sekali tidak menyadari arti Chronos yang bisa berhubungan dengan musuh Joshua itu. Apa aku yang terlalu polos atau dia yang terlalu pintar, aku tidak tahu.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang bahasa aneh itu?" kali ini kuberi kesempatan dia bercerita tentang dirinya.
"Itu bahasa Yunani, bukan bahasa aneh. Banyak legenda-legenda menarik dari Yunani, jadi ayahku menyarankanku mempelajarinya."
"Ayahmu?" tanyaku tanpa berpikir.
"Ya, ayahku. Oh iya, aku tidak pernah membicarakan keluargaku sebelumnya." kali ini perubahan nadanya kukenali yaitu tanda saat ia tidak mau membicarakan topik tertentu.
"Kau tahu arti Chronos, nama kafe itu?" tanyaku membelokkan topik.
"Chronos adalah personifikasi dari waktu." jawabnya, kali ini singkat.
Beberapa menit setelah itu, tidak ada salah satupun dari kita yang berkata. Akhirnya tidak terasa aku sudah sampai di depan pintu rumahku.
"Kau membuat rekor baru, kau mendiamkanku selama 15 menit." katanya dengan nada biasanya lagi sambil tertawa.
"Oh ya, kau tahu kenapa aku berkata bahwa Chronos nama yang unik untuk kafe?" dia bertanya.
"Tidak. Kenapa?" tanyaku, polos, tidak tahu apa-apa.
"Chronos yang merupakan personifikasi waktu sepertinya ada hubungannya dengan Clockward." katanya dengan nada biasa tetapi serius. "Baiklah, sampai jumpa besok."
Aku sama sekali tidak menyadari arti Chronos yang bisa berhubungan dengan musuh Joshua itu. Apa aku yang terlalu polos atau dia yang terlalu pintar, aku tidak tahu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar