Sabtu, 27 Desember 2008

untitled part 2

Pastinya Willy mencariku sepanjang istirahat tadi. Keadaanku tidak kunjung membaik, dan Gavin menahanku di UKS sampai bel pulang berbunyi, baru ia memanggilkan Willy untukku. Willy datang dengan ekspresi tidak suka melihat Gavin, dan langsung menyuruh Gavin pergi.
Gavin tidak marah atas sikap Willy. Ia hanya menyentuh tanganku sebentar lalu berbalik dan pergi. Entah perasaanku saja atau bagaimana, tapi sepertinya Gavin sangat sering melakukannya.
“Kau berdua-duaan dengan batu hidup itu sepanjang hari?”tanya Willy tidak percaya sambil membantuku untuk bangun.
Aku memutar bola mataku. “Siapa juga yang ingin? Dia memaksaku. Menggendongku dengan paksa dan menungguiku di sini. Aku sudah seperti tahanan.”
Aku menolak ketika Wlly ingin membantuku berjalan. Karena aku sudah bisa berjalan sendiri. Willy terus menanyakan hal seputar Gavin selama perjalanan pulang. Sepertinya dia cemburu.
“Bisa tolong jemput aku besok?”tanyaku ketika kami sudah sampai di depan rumahku.
Willy menatapku tidak yakin. “Tentu. Apa yang membuatmu memintaku untuk menjemputmu?”
“Well, besok ada tugas kelompok Mrs. Smith yang tadi itu di rumah keluarga Boston. Jadi, aku akan pulang bersama Gavin besok, dan aku tidak mungkin membawa mobil.” Kulihat perubahan ekspresi dari wajah Willy. “Aku tidak tahu kalau Mrs. Smith akan membuat kelompok. Jika tahu begitu, aku akan duduk bersamamu tadi. Dan kau tidak perlu cemburu soal Gavin. Dia hanya teman, sedangkan kau sahabatku.” Aku mengecup pipi kanan Willy sekilas. “Sampai besok, Mr. Golden.”
Ketika masuk ke dalam rumah, entah kenapa aku sedikit lega tidak mendapati satu pun dari kedua orangtuaku yang berada di rumah. Hanya saja ada pesan dari Grand di mesin penerima telepon: “Crystal, apa kau baik-baik saja? Well, jangan salahkan ibumu karena memberitahuku soal ini. Aku tidak akan datang ke sana menghampirimu seperti dalam bayanganmu. Kita, jatuh sakit, bukan hal yang biasa. Jika kau masih sakit beberapa hari ini, hubungi aku lagi oke?”
Oh, jeez, Mom. Sudah kuduga pasti ia memberitahu Grand. Tapi aku senang Grand tidak akan ke sini.
Aku langsung menuju kamarku dan mandi. Lalu turun lagi ke dapur dan membuat makan malamku. Seperti biasa, macaroni instan. Sebenarnya aku sedang tidak nafsu makan, tapi mengingat perutku yang kosong karena sejak tadi siang belum makan—dan aku tidak ingin membuat tubuhku tambah sakit lagi— jadi aku terpaksa memakannya.
Setelah itu aku hanya bersantai-santai. Menonton TV, membaca majalah, bermain komputer dan browsing internet sebentar. Lalu kembali nonton TV lagi, membaca buku-buku pelajaranku mengingat tadi aku melewatkan banyak jam pelajaran. Sampai akhirnya pukul 2 pagi aku tertidur dan bagun pada pukul 6.
Entah kenapa aku bisa tidur selama itu. Biasanya aku hanya tidur paling lama 3 jam. Bahkan tidak tidur pun aku bisa.
Aku langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Berberes-beres rumah sedikit sebelum keluar dari rumah. Memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci, dan memindahkan piring dari mesin pencuci ke mesin pengering.
Willy datang seperti kemarin, lebih cepat. Dengan riang aku masuk ke mobilnya. Dia tidak datang terlambat, dan datang sesuai kemauanku, mengawali hari ini dengan baik.
Willy terlihat berusaha keras menahan tawanya. “Kau terlihat sangat bahagia, Christy.”
“Jadi kau tidak ingin aku bahagia?”tanyaku.
Willy langsung merubah ekspresinya. “Tidak. Jelas tidak seperti itu. Hanya saja….kau sedikit berbeda. Tidak terlihat begitu pucat…wel, walaupun masih pucat.”
“Yeah. Terserah apa katamu.”
Willy terkekeh. “Sepertinya aku sudah merusak harimu. Kenapa kau mudah sekali marah?”
Aku mengembangkan sebuah senyum terpaksa. “Aku tidak marah.”
Willy mengalihkan topik, “hari ini jadi ke rumah Boston?”
Aku mengangguk. “Ini untuk kepentingan kelompokku. Tidak mungkin aku tidak datang.”
Mobil Willy terpakir dengan mulus di tempat parkiran biasanya. Willy langsung menahan tanganku ketika aku baru membuka sabuk pengamanku. Kali ini ia tidak langsung menarik tangannya. Melainkan terus menggenggam pergelangan tanganku. Tangannya begitu hangat di kulitku. Tidak seperti Gavin, yang malah terasa panas di kulitku. Aku menjadi semakin yakin kalau Gavin memang panas, bukannya karena aku yang dingin.
“Kau tidak duduk dengan Gavin lagi ‘kan?”tanya Willy.
“Memangnya kenapa dengan itu?”
Willy menatapku, tap tatapannya terlihat kosong. “Aku hanya ingin memastikan. Apa penyebab sakitnya kau itu, karena dia atau bukan.”
“Baiklah. Aku akan duduk di tempatku seperti biasa. Kecuali di pelajaran Biologi.”
Willy melepaskan tangannya. “Oke. Kupikir kita sudah sepakat.”
Aku keluar dari mobil Willy, dan berjalan masuk ke gedung sekolah. Aku berjalan menuju lokerku dulu, mengambil beberapa buku yang sengaja kutinggalkan. Sampai akhirnya sebuah pemandangan membekukan langkahku dan membuatku mundur beberapa langkah, bersembunyi di balik tembok.
Di sana, di lorong loker yang buntu, di mana lokerku berada, tidak ada orang lain, kecuali Alyson dan Gavin. Alyson menyudutkan Gavin ke pintu loker, dan Gavin tidak melawannya. Dian kan cowok, seharusnya dia bisa melawan Alyson dengan mudah! Bahkan aku tahu, dia lebih kuat daripada kelihatannya.
Alyson menyapukan jarinya di wajah dan bibir Gavin. Gavin masih tetap diam. Sampai Alyson mendekatkan wajahnya. Gavin menoleh, dan menatapku. Sebelum aku sempat pergi dia sudah memanggil namaku. “Crystal!”
Alyson menjauh dari Gavin dan langsung mencari kesibukan lain dengan membuka lokernya dan mengobrak-abrik barang apa pun yang ada di dalam sana.
Gavin langsung menghampiriku. Mengamit lenganku dengan protektif dan menyeretku menjauh dari Alyson. “Terimakasih sudah menyelamatkanku.”
“Itu tadi…kenapa kau tidak melawan saja kalau memang tidak mau?”tanyaku.
Gavin menghela napas. “Jawaban dari pertanyaanmu itu termasuk dalam daftar yang tidak bisa kujelaskan.”
Aku mencibir. “Hei, aku harus kembali ke lokerku.”
“Untuk?”
“Mengambil buku tentunya.”
“Buku apa?”
Aku memutar bola mataku. “Aljabar.”
“Nanti saja. Aku tidak yakin kau akan selamat dari terkeman Alyson jika kau kembali lagi.”
Aku meringis mendengar kata-kata Gavin. Tubuhnya yang panas terasa di kulitku. Membuat tubuhku lemas. Ya, mungkin benar apa yang dikatakan Willy, kalau penyebab sakitnya aku adalah Gavin. Tapi aku tidak merasa sesakit kemarin. Bahkan aku merasa nyaman. Mungkin beginilah yang dirasakan manusia biasa.
“Kau tidak duduk denganku?”tanya Gavin ketika kami memasuki kelas.
Aku menggeleng. “Well, pada jam Biologi, mungkin.”
Gavin menggangguk. “Tidak masalah.”
Aku duduk di bangkuku di tengah, sedangkan Gavin menuju bangkunya di sudut ruangan.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Aku bisa lebih fokus pada pelajaran sekarang. Setidaknya tubuhku tidak lagi lemas atau kepalaku tidak lagi pusing. Bahkan Gavin menajwab beberapa pertanyaan yang diajukan Mr. Burn, walaupun tidak semuanya. Setiap aku menoleh padanya, pasti dia tersenyum padaku. Senyuman mautnya. Aku jadi tidak sabar menanti-nanti agar bisa duduk dengannya saat jam Biologi nanti. Andai saja Willy tidak mau mengadakan eksperimen bodoh ini.
Selesai jam Geometri Gavin mengantarku ke loker untuk mengambil bukuku yang tidak jadi kuambil saat sebelum masuk tadi karena insiden Alyson. Lagi-lagi tubuhku menjadi lebih lemas ketika berdiri dekat dengannya.
Aku memasukkan kunci kombinasi lokerku. Wangi khas parfumku langsung tercium ketika aku membuka pintu loker. Agak malu juga mempertontonkan isi lokerku pada Gavin. Yang jelas-jelas isinya benar-benar perlengkapan cewek. Tapi sepertinya Gavin tidak menyadari keenggananku.
Gavin mengendus-endus. “Kau wangi juga,”katanya lalu nyengir, “maksudku, lokermu.”
Aku memutar bola mataku, mengeluarkan buku-buku yang kuperlukan dan memasukkan buku-buku yang tidak kuperlukan.
Ketika aku menutup pintu loker, kulihat Alyson sedang berdiri di depan lokernya. Tangannya masih terjulur ke dalam loker, tapi wajahnya berpaling menatapku dan Gavin.
Gavin memindahkan buku-buku yang dipegangnya ke tangan kiri dan merangkulku dengan tangan kanannya. Aku sedikit kaget dengan perlakuannya. Tapi Gavin sudah menyeretku jauh-jauh dari Alyson sebelum aku sempat berkomentar.
Aku melepaskan diri dari lengan Gavin. “Apa-apaan itu tadi?”
“Terimakasih lagi. Kalau tidak ada kau, bisa-bisa Alyson mengulang perbuatannya tadi pagi.”
“Ayolah, Gave. Kau bisa melawannya, bahkan dengan satu tangan.”
“Bukan begitu Crystal…” Gavin terlihat berpikir sejenak. “Seperti halnya kau dan anjingmu. Kau bisa saja membunuh anjingmu, tapi apakah kau akan melakukannya? Kau bahkan akan berpikir berkali-kali untuk membunuh anjingmu saat anjingmu mengesalkan.”
Aku berusaha mencerna kata-kata Gavin. “Well, alasan bisa diterima. Jadi, sebenarnya kau menyukai Alyson, begitu?”
Gavin menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu. Baiklah, ganti kata anjingmu dengan kata anjing tetanggamu. Tetap saja kau tidak tega, kan?”
Aku mengerucutkan bibirku. “Kalau memang benar kau suka, juga tidak apa-apa bagiku.”
Gavin dan aku berhenti sejenak di ambang pintu kelas. “Masih tidak duduk denganku?”
Aku menggeleng. “Aku tidak ingin membuat Willy kesal. Bagaimana pun juga, dia sudah bersikap baik padaku. Dan…” Aku memberi pandangan pada Kate dan Regina yang sudah berada di tempat mereka seperti biasa dan sedang menatap aku dan Gavin. “Aku tidak ingin teman-teman lamaku beranggapan bahwa aku sudah melupakan mereka.”
“Sampai bertemu di Biologi,”katanya. Aku menatapnya heran. “Saat kelas Mrs. Smith, aku yakin tidak akan ada kesempatan untuk mengobrol denganmu.”
Oh ya, dia benar. Pasti gara-gara Willy.
Aku tidak lagi konsentrasi sepenuhnya dipelajaran Aljabar. Kate dan Regina memandangku garang dengan penuh pertanyaan tentang Gavin. Aku berharap apa pun pertanyaan mereka itu, tidak akan sampai ke telinga William, walaupun aku tahu pasti jawabannya.
Saat pelajaran Aljabar berakhir, Kate dan Regina langsung mengapitku, yang membuat Willy mengurungkan niatnya untuk mendekatiku.
“Apa yang terjadi denganmu dan batu hidup itu?”tanya Regina.
“Kau apakan dia? Dan dia apakan kau?”tambah Kate.
Aku berhenti berjalan. “Tidak ada yang diapa-apakan. Kami hanya berteman. Dan dia bukan batu!”
Kate dan Regina saling memandang satu sama lain. “Kau membela si batu—eh maksudku Gavin?”tanya Regina.
“Aku tidak membela siapa-siapa, oke? Aku hanya berpikir, kalau Gavin bisa menjadi teman kita. Itu saja.”
“Well,”kata Kate sambil mendekap buku-bukunya lebih erat lagi ke dadanya, “kupikir juga begitu, pada awalnya. Dan melihatmu bisa mendekati Gavin Boston dengan mudah…kurasa itu bukan ide yang buruk. Tapi aku tidak yakin apa Willy bisa menerimanya. Kau tahu ‘kan, dia sangat menyukaimu.”
Aku memutar bola mataku. “Willy harus mengerti. Bagaimana pun juga, dia tidak berhak membatasi dengan siapa aku akan berteman.”
Regina mengangguk penuh semangat kali ini. “Sepertinya kalian benar.” Regina melihat ke sekelilingnya, sepertinya ingin memastikan tidak ada yang menguping. Lalu ia berbisik, “Gavin itu sangat keren.”
“Kalau begitu sampai jumpa nanti,”kata Kate sambil menarik Regina yang terlihat antusias.
Aku langsung menuju ke kelas musik. Kulihat Willy sudah duduk di bangkunya, begitu juga Gavin. Aku membalas senyuman maut Gavin sebelum akhirnya duduk di samping Willy.
Willy mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Kau tidak sakit kan?”
Aku menggeleng. “Belum.”
“Kudengar Alyson dan teman barumu itu bercinta di lorong loker tadi pagi, ya?”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Dari mana Willy tahu semua itu? Jadi tidak hanya aku yang menyaksikannya. Aku menoleh ke belakang, melihat ekspresi Gavin. Sepertinya dia mendengar percakapan kami.
“Well, tidak juga.”jawabku.
“Kau sungguh tidak ingin menceritakannya padaku?” Willy menatapku. “Tidak?”
“Bukan begitu. Aku akan menceritakannya padamu, oke? Tapi tidak sekarang.” Aku kembali melirik ke arah Gavin lewat sudut mataku.
Willy menegakkan kembali posisi duduknya. “Baiklah, aku mengerti. Kau bisa pindah sekarang.”
“Will, bukan itu maksudku—“
“Pindahlah, Crystal,”ulang Willy dengan pelan. Wajahnya terlihat marah. Kalau aku tidak pindah, aku yakin dia akan membentakku.
Aku bangkit berdiri. Lalu menyingkirkan Taylor dari tempatnya dan duduk di samping Gavin. Gavin menulis di selembar kertas dan memberikannya padaku

Ada apa?


Kenapa tulisannya harus begitu rapih? Sampai-sampai rasanya aku enggan untuk membandingkannya dengan tulisan cakar ayamku. Aku membalas tulisannya lalu memberikannya lagi padanya.

Dia menyuruhku pindah

Gavin mengernyitkan dahi ketika membacanya. Entah karena bingung atau sulit membaca tulisanku. Lalu dengan cepat ia kembali menulis dan memberikannya padaku.


Sepertinya dia kesal padaku

Bukan itu. Dia memang selalu begitu

Cheer up, Crystal. Hari ini bukan hari terakhir dalam hidupmu

Aku tertawa kecil ketika melihat kertas yang ia berikan padaku terakhir kali. Disertai gambarnya, yang kukira adalah aku, dengan senyum lebar. Mau tidak mau aku jadi tersenyum juga, walaupun badanku kembali lemas.
Mrs. Stone mulai membagikan partitur lagu baru yang akan kami pelajari dan mulai memainkan pianonya. Kulihat ke arah Willy yang duduk di barisan depan bawah. Ia tidak bernyanyi. Ketika Willy memandang ke belakang untuk melihatku dan Gavin, aku hanya bisa tersenyum.
Pelajaran musik berakhir suram. Padahal aku senang sekali dengan musik, dan biasanya aku selalu bernyanyi bersama Gavin. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini.
Aku menghampiri Willy, Kate, Regina, Dave, dan Luke di meja kami di kafeteria seperti biasanya. Semua terlihat biasa saja, kecuali Wlly tentunya.
Kate, Regina, Dave dan Luke, berbicara dengan pasangan mereka masing-masing, seolah memberiku dan Willy privasi.
Aku menghela napas. “Willy,”kataku. Entah kenapa suaraku terdengar begitu tercekat. “Aku tidak tahu kenapa, masalah Gavin bisa membuatmu sampai seperti ini.” Aku memandang ke meja sebelah, meja Gavin. Gavin masih tetap duduk di samping Alyson, setelah kejadian tadi pagi. Aku lalu kembali menatap Willy. “Aku sangat sangat menyesal, kalau memang menurutmu apa yang kulakukan itu salah.”
Willy membuka kaleng coke-nya. “Tidak, bukan begitu, Christy. Kau tidak salah. Well, mungkin kau benar. Aku hanya cemburu.” Willy mendongak dan menatapku. “Seperti yang kau katakan, kau sahabatku.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Berjanjilah untuk tidak seperti tadi lagi.”
Willy memutar bola matanya. “Tidak, tidak. Aku tidak bisa berjanji dengan itu.” Willy menatapku sebentar. “Well, tapi aku bisa mengusahakannya tidak akan terjadi lagi, kalau kau mau.” Willy memasukkan 2 sedotan ke dalam kaleng coke-nya, dan menggeser kaleng itu sampai berada di tengah-tengah, di antara kami.
Aku meminum coke itu dari salah satu sedotan, begitu juga dengan Willy. Entah apa yang akan terjadi, jika aku kehilangan William Golden sebagai sahabatku. Tidak ada yang menjemputku, tidak ada lagi yang seenaknya, dan tidak ada lagi yang mau membagi coke-nya untukku. Well, mungkin Mom benar. Aku harus mencari sahabat sebanyak yang aku bisa, dan menyisakan Willy sebagai yang terbaik di antara sahabat-sahabatku.
Aku menghabiskan sisa jam istirahat dengan mengobrol bersama Willy. Dengan lega aku masuk ke kelas Biologi. Setidaknya aku tahu, kalau aku tidak kehilangan sahabatku.
Aku duduk di sebelah Gavin. Cepat-cepat kualihkan pandanganku dari wajahnya. Bisa-bisa aku pingsan melihat wajahnya yang begitu sempurna itu. Kulihat tatapan iri Alyson, aku tahu seharusnya dia yang duduk di bangku ini. Entah bagaimana caranya Gavin bisa menyingkirkannya.
Dan lagi-lagi itu terjadi. Badanku lemas. Lebih lemas dibandingkan saat di ruang musik tadi. Kepalaku terkadang sakit, walaupun tidak sesakit beberapa hari lalu.
“Kau sungguh benar-benar harus ke dokter, Crystal,”kata Gavin begitu melihatku membaringkan kepalaku seperti biasa di atas meja.
Aku mengerang kecil. “Berhenti bilang dokter. Aku paling benci dengan dokter dan segala macamnya yang berbau rumah sakit. Rasanya ingin muntah.”
Gavin menyentuh tanganku, lalu dengan cepat ia langsung menariknya lagi (seperti biasa). “Kau benar-benar tidak kedinginan?”
Sepertinya Gavin mulai sadar akan keanehan suhu tubuhku. Mungkin memang suhu tubuhku terlalu dingin untuk suhunya yang panas. “Well, sedikit,”kataku berbohong.
“Padahal sudah masuk musim panas, Crystal. Sungguh beruntung menjadi dirimu, mendapatkan dingin di saat panas.”
Mrs Hills memasuki ruangan. Ternyata beliau hanya memberikan latihan saja untuk hari ini. Dan aku terlalu lemas untuk berpikir soal latihan.
Aku memandang Gavin, yang ternyata sedang memandangku juga dengan sorot tatapan khawatir. “Sebenarnya aku tidak ingin meminta ini tapi…” Aku kembali membaringkan kepalaku. “Katakan pada Mrs. Hills kalau aku sakit. Sebelum aku sempat melihat 50 soal yang akan diberikannya.”
Gavin tersenyum. “Senang bisa melihatmu bersikap sesuai dengan keadaan.” Gavin bangkit berdiri dan menghampiri Mrs. Hills, lalu menjelaskan keadaanku. Mrs. Hills sudah bisa menebak suhu tubuhku yang dingin, jadi ia tidak perlu repot-repot lagi untuk meraba keningku.
Mrs. Hills menggeleng-gelengkan kepala. “Sebaiknya kau istirahat di rumah saja Ms. Higher. Aku akan minta Mr. Butterson untuk membuatkanmu surat ijin.”
Sebelum aku sempat bertanya pada Gavin, apa saja yang ia katakan pada Mrs. Hills, Gavin dengan gesit sudah setengah mengangkat tubuhku di sampingnya. Alyson menatapku dengan tatapan yang benar-benar mematikan. Aku hanya bsia berharap nyawaku masih ada lebih dari sehari lagi.
Gavin membawaku ke luar kelas. Sesampainya di luar kelas, aku langsung mengomelinya, “apa yang kau katakan pada Mrs. Hills?”
“Kubilang kalau keadaanmu tambah parah.”jawab Gavin.
“Bawa saja aku ke UKS, begitu maksudku tadi. Bukannya membawaku pulang.”
Gavin mengangkat kedua alisnya. “Well, memang itu yang akan aku lakukan. Tapi sisa minggu ini, akan kau habiskan di rumahmu. Aku akan mengantarkan surat ijin dari Mr. Butterson besok.”
“Gave! Aku tidak mungkin diam seperti fosil di rumah! Diam sepertimu! Bodoh.”
“Aku akan menemanimu. Well, aku akan minta ijin juga—“
“Sampai kau minta ijin—untukku ataupun untukmu—aku akan memasukkanmu ke dalam rumah Alyson.”
Gavin menatapku. “Kau dalam masalah serius, young lady. Jangan bawa-bawa wanita itu. Dia bukan singa yang bisa kau jadikan ancaman untukku.”
Aku hanya diam saja. Gavin memang terlihat tidak suka setiap aku membahas soal Alyson. Sungguh, tidak ada yang salah dalam diri Alyson. Hanya saja, Alyson menganggap tidak ada yang salah dalam dirinya, maka dari itu jadi ada yang salah. Dia terlalu…terlalu…sempurna bagi dirinya sendiri. Bahkan tidak ada satu pun kotoran di kukunya. Tidak satu helai pun rambutnya yang rusak. Dia benar-benar terlihat rapuh. Lebih rapuh dari namaku. Terlihat benar-benar harus dijaga, tidak bisa disentuh sembarang orang. Banyak laki-laki di Highlanders yang menginginkan posisi itu. Berada di sisi Alyson, menjadi yang boleh menyentuhnya. Well, Alyson selama ini memang tidak pernah memilih di antara mereka. Kecuali Gavin. Aku tahu, kalau Gavin adalah sosok yang berbeda. Dia luar biasa tampan, lebih tampan dari apa pun yang pernah kulihat selama ini. Tapi dengan ketampanannya itu, ia akan lebih cocok jika bersama Alyson.
Gavin masih setengah menyeretku ke UKS. Lagi-lagi suster Denise yang menyambut kami. Ketika ia melihat pasiennya adalah aku, ia hanya mempersilahkan aku untuk berbaring dan kembali ke ruangannya di sebelah.
“Kau akan tetap di sini, kan?”tanyaku pada Gavin.
Gavin menaruh tasku di samping tempat tidur. Lalu ia menunjuk tas ranselnya di bahu kirinya. “Untuk apa aku bawa ini kalau aku ingin kembali ke kelas?”
Aku tertawa kecil. “Senang bisa mendapatkan teman baru yang setia.”
Gavin duduk di tepi tempat tidur. “Boleh aku menanyakan sesuatu?”
Aku menaikkan kedua alisku. Memandangnya tidak yakin. Selama ini dia jarang mengajukan pertanyaan. Selalu saja aku yang bertanya. Aku yang selalu ingin tahu soal kehidupannya. “Well, silahkan saja.”
“Kenapa kau…memilihku—maksudku, memilihku menjadi temanmu?”
“Apakah ada alasan khusus untuk berteman? Semua orang memang ingin memiliki teman bukan?”
Gavin menghela napas. “Kau tidak tahu seberapa buruk keadaannya, Crystal. Tidak seharusnya kau bersamaku sekarang, juga sebaliknya. Seharusnya aku lebih menjauh dari orang-orang sejak aku pindah ke sini—“
“Lebih menjauh? Kurasa kau sudah benar-benar paling menjauh.”
“Maafkan aku, Crystal. Aku tidak bisa memberikan yang lebih baik selama ini.”
Aku menadang bingung ke arah Gavin. Apa maksudnya? “Apa pun maksudmu itu, aku yakin itu termasuk dalam daftar pertanyaan yang tidak bisa kau jawab. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun Gavin. Well, mungkin kau menderita suatu syndrome ketika menjadi anak baru. Kau tahu—seperti takut tidak di terima dan semacamnya. Dan kau sudah memberikan lebih dari cukup untukku selama ini. Lihatlah, bahkan sekarang kau di sini.”
Lalu Gavin hanya diam. Begitu terus Sampai bel pergantian pelajaran berbunyi. Ia hanya menatapku. Kadang-kadang memberikan sentuhan kecil di punggung tanganku, lalu dengan cepat menariknya lagi. Aku pun tidak tahu harus membicarakan apa. Gavin terlalu…terlalu…terlalu sulit untuk ditebak. Ia begitu tertutup. Tidak pernah ia menceritakan kehidupannya. Dan karena itu aku senang, ia mau mengajakku ke rumahnya. Well, dia tidak mengajakku secara langsung, mengajak kelompok kami lebih tepatnya. Aku ingin melihat kedua orangtuanya, atau mungkin dia punya saudara.
“Kau sudah lebih baik?” Akhirnya Gavin berkata-kata juga.
Aku mengangguk. Sebenarnya tidak. Aku merasa kondisiku masih sama seperti tadi. Tapi jika Gavin sampai tau kalau keadaanku tidak juga membaik, bisa-bisa ia membatalkan rencana kerja kelompok kami hari ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, “kau punya saudara? Maksudku, kakak atau adik mungkin?”
Gavin terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Dua kakak. Kedua-duanya sedang kuliah.”
“Mungkin…kalau kau tidak keberatan…bisa kau ceritakan?”
“Tentu, tentu saja aku tidak keberatan. Well, kakakku yang pertama, Rocky—jangan tertipu dengan namanya, karena dia sebenarnya menyukai musik klasik.” Gavin tergelak dan menatapku, sepertinya ingin memastikan kalau aku masih menyimak ceritanya atau tidak. “Dia masih tinggal bersama keluargaku. Tidak kusangka. Seharusnya dia sudah kabur sejak dulu. Menjalani hidup sendiri seperti kebanyakan laki-laki kuliahan biasanya. Tapi dia tidak. Well, mungkin aku sedikit benci juga dengannya. Dia sering menggangguku. Tidak hanya aku tapi juga kakakku yang kedua, Kimberly. Kadang-kadang Rocky dan Kim bersekongkol untuk mengangguku, well hampir selalu begitu. Kau tahulah, bagaimana nasib anak bungsu kebanyakan. Apalagi yang memiliki dua kakak sinting seperti mereka.”
“Kau beruntung, Gave. Aku tidak punya saudara. Selalu sendirian.”
Gavin menepuk-nepuk punggung tanganku. “Well, tidak semua bagian memiliki saudara itu adalah hal yang menyenangkan. terkadang kau akan bosan dengan itu. Tapi terkadang juga kau akan mensyukurinya. Seperti aku. Mungkin kedua kakakku memang sinting, tapi mereka tidak pernah membiarkan aku jatuh dan tidak bangun lagi. Kau mengerti maksudku ‘kan?”
Aku mengangguk. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya keluarga Gavin. Dua kakak, dua orangtua (yang aku yakin betul tidak seperti Mom dan Dad yang jarang di rumah). Aku bisa membayangkan berada di rumahnya yang hangat, dengan keluarga. Jeez, apa yang kupikirkan?
“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka bekerja?”tanyaku.
“Ayahku bekerja. Tapi ibuku tidak. Ibuku lebih senang berada di rumah. Berberes ini itu, menghabiskan waktu di dapur dengan membuat resep masakan eksperimennya. Menjaga agar aku dan kedua kakakku tidak saling membunuh…seperti kebanyakan ibu rumah tangga yang lain.”
Aku berusaha membayangkan. Mom melakukan seperti apa yang dilakukan Ibu Gavin. Masak…kuyakin pasti kalau tidak gosong, minimal dirinya tidak bisa menyalakan kompor. Tapi mungkin Mom tidak seburuk itu. Setidaknya dia bisa membuat omelet.
“Ayahku bekerja sebagai pengusaha. Well, tidak sesukses yang orang-orang pikirkan. Tapi aku sangat bangga padanya. Beliau memberikan kami lebih dari cukup.”lanjut Gavin.
Well, Dad juga memberikanku jauuuh jauuuuh lebih dari cukup. Tapi apa itu cukup? Aku pun tidak tahu yang jelas bagaimana. Aku terlalu bingung. Aku bingung diriku ini siapa. Aku tidak tahu apa yang bisa membuatku tahan tinggal di rumah sepanjang hari tanpa siapa pun. Kepalaku semakin sakit saja memikirkan itu.
Selanjutnya Gavin tidak berbicara lagi selain jika aku tidak bertanya. Sampai akhirnya bel pulang berbunyi dan aku bersyukur atas itu. Karena aku khawatir suster Denise akan benar-benar memeriksaku dan mendapati diriku tidak normal.
Gavin membawaku keluar gedung sekolah (masih dengan setengah menyeretku, karena aku tidak bisa menipu dirinya kalau aku tidak bisa berjalan sendiri sekarang).
Gavin menyenderkanku pada mobil Ferarri hitam mengkilatnya. Aku sempat takut kalau-kalau mobil itu tergores atau ternodai olehku. Lalu Gavin menumpukan diri pada kedua tangannya yang memagariku dan menatapku. “Kau benar-benar tidak apa-apa, Crystal? Kau tahu, kita bisa menunda pekerjaan ini kapan-kapan. Dan aku mungkin bisa minta pada Mrs. Smith untuk—“
“Tidak apa-apa, Gave. Aku tidak akan jauh lebih baik jika kau menunda rencana kita hari ini.”jawabku.
Gave membukakan pintu mobilnya untukku. “Masuklah.”
“Bagaimana dengan yang lain?”tanyaku.
Gavin memutar bola matanya. “Kau benar-benar sakit, ya? Mobilku bahkan hanya muat untuk 2 orang!”
Aku melihat ke dalam mobil melalui pintu mobil yang sudah terbuka ke atas di sampingku. Mobil ini memang hanya memiliki dua pintu, dan dua kursi pula. “Well, yeah. Aku lupa. Lalu, bagaimana dengan yang lain?”
“Crystal…kau mengkhawatirkan 2 laki-laki berumur 17 tahun.”
Aku memutar bola mataku dan langsung masuk ke dalam mobil Gavin sebelum aku membuat kebodohan lagi.
Kulihat sekilas Gavin terlihat berusaha menahan tawanya. Tapi akhirnya tawa itu pecah juga begitu ia memasuki mobil.
“Oke. Aku tahu itu tadi lucu.”kataku. Berbeda dengan Willy, suara tawanya justru terdengar merdu di telingaku. Aku senang setiap kali melihat Gavin tertawa. Itu jauh, jauh, jauh membuatnya tidak mirip batu hidup.
Gavin melajukan mobilnya. Dengan sangat amat cepat menurutku. Aku berani jamin, jika aku melajukan mobilku sama cepatnya dengan Gavin, umurku tidak akan lebih dari 2 detik, karena mengingat kemampuan menyetirku yang payah.
“Kau tidak seharusnya melaju sekencang ini,”kataku. Aku berusaha agar terlihat setenang mungkin. AKu tidak ingin Gavin melihatku sebagai cewek manja dan penakut.
Gavin menatapku. Aku sempat khawatir karena dia tidak memperhatikan jalan dengan kecepatan mobilnya sekarang ini. “Kau pikir untuk apa kuda hitam ini kalau tidak dipergunakan?”
Aku meringis. “Setidaknya kau tidak perlu secepat ini. Bisa-bisa kau ditilang.”
Gavin tertawa. “Crystal Higher, aku bersumpah belum pernah ditilang seumur hidupku. Dan ini bukan kecepatan maksimalku. Ayolah, ini Manhattan, tidak masalah kan kalau kita bersenang-senang sedikit?”
Aku sedikit melotot melihatnya. Tapi kembali mengubah ekspresiku kembali normal. Dan ini yang dia namakan bersenang-senang? Well, setidaknya aku tahu, kalau bersenang-senang yang dimaksudkan Gavin adalah…—entah kata apa yang bisa mewakilinya—mungkin… mencari kematian?
“Kau terlihat begitu tegang. Tidak biasa dengan kecepatan?”tanya Gavin.
Aku menggeleng. “Tidak. Hanya saja sedikit heran. Kau tidak takut pada apa pun.” Kecuali Alyson. Aku tidak berani menambahkannya, bisa-bisa itu merusak mood Gavin.
Gavin memelankan laju mobilnya ketika kami melewati Time Square.
“Kau suka nonton Broadway Theatre? “tanya Gavin ketika kami melewati daerah Broadway Theatre.
Aku menggeleng. “Mungkin kedengarannya bodoh. Tapi aku belum pernah ke sana.”
Gavin menatapku. “Kau serius? Aku saja yang baru pindah ke Manhattan sudah beberapa kali nonton di sana.”
Well, sebenarnya aku ingin. Tapi bersama siapa? Dad dan Mom tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, apalagi mereka tidak punya waktu. Sedangkan pergi bersama teman-temanku ke sana, hampir mustahil.
“Kau ingin coba?”tanya Gavin, “tiga minggu lagi ada pertunjukkan Lion King. Aku yakin kau pasti akan menikmati bernostalgia.”
Aku tersenyum antusias. Dia mengajakku kencan! Gavin Boston mengajakku kencan! Aku berani bertaruh Alyson akan sangat, sangat iri dengan hal ini. “Tentu saja. Aku sangat ingin. Tidak pernah ada yang mengajakku selama ini. Well, aku pernah mengajak Willy, tapi dia malah mentertawakanku.”
“Kalau begitu, aku akan segera memesan tiketnya. Walaupun seribu orang bisa masuk ke sana, kita harus mendapatkan tempat yang strategis.”
Aku mengangguk saja. Karena aku memang tidak tahu bagaimana dalamnya, dan bagaimana rasanya berada di sana.
Setelah melewati Time Square Gavin berlahan-lahan mengencangkan kembali laju mobilnya. Sampai memasuki sebuah perumahan mewah. Seharusnya aku sudah tahu sejak awal. Keluarga Boston pasti kaya raya. Mulai dari melihat mobil hitam mengkilat ini, juga perumahan mewah modern yang sekarang kami masuki.
Semua jenis rumah di sini hampir sama. Mungkin aku akan tidak bisa menghafal yang mana rumah Gavin jika tidak menekan bellnya satu bersatu. Oh. Ternyata tidak. Gavin berhenti di rumah paling pojok. Well, aku dapat mengingatnya. Rumah itu tidak terlalu besar, mengingat kami tinggal di Manhattan. Rumah yang terlihat hangat, lebih hangat daripada rumahku. Di depannya ada sebuah taman kecil, dengan bunga-bunga yang tertawa rapih. Aku yakin itu pekerjaan Mrs. Boston. Gavin memasukkan mobilnya di garasi mobil. Di sana ada 3 mobil lainnya, yang aku tidak sempat melihat apa pun jenis mobil itu. Yang jelas yang satu berwarna merah dan yang satu berwarna silver, dan semua itu mengkilap.
Tanpa kusadari Gavin sudah berdiri di sampingku dan membukakan pintu. “Selamat datang di rumah keluarga Boston Ms. Higher,”katanya sambil melambaikan tagan mempersilahkan aku turun dan masuk ke rumahnya.
Aku melepas sabuk pengamanku dan keluar. Rumah keluarga Boston terlihat lebih nyaman lagi ketika aku berdiri tepat di depannya. Mungkin hidupku akan jauh lebih baik, walaupun tinggal sendiri, di rumah ini.
Gavin Gavin meletakkan tangannya di punggungku; membimbingku. Aku butuh beberapa detik untuk menyadarinya dan berhenti terpesona dengan rumah dihadapanku.
Kami menyusuri jalan setapak di antara rumput-rumput hijau yang terpangkas rapih. Jalan setapak itu terbuat dari bebatuan berwarna hitam dan berbentuk persegi.
Pintu rumah itu terbuat dari kayu berwarna gelap. Dengan gagang pintu panjang berwarna silver. Dengan sekali dorong Gavin membuka kedua pintu itu lebar-lebar. Dan bisa kuhirup wangi rumah keluarga Boston. Seperti wangi kue.
Gavin mendudukkanku di sofa tidak jauh dari pintu. Sepertinya ini semacam ruang tamu, walaupun tanpa penyekat. Semua perabotan berwarna senada. Hitam, putih, merah. Catnya berwarna abu-abu muda, sofa yang kududuki berwarna hitam, sedangkan sofa yang lain berwarna merah. Karpetnya di ruangan ini berwarna hitam juga yang didominasi kotak besar berwarna putih di tengahnya, dan meja kaca berada di atas kotak besar itu. Di atas meja kaca ada sebuah pot kristal dengan bunga Lili putih segar di dalamnya. Rasanya aku ingin merubah bunga itu menjadi kristal. Aku ingin tahu, apakah bunga itu masih terlihat indah, atau malah akan terlihat lebih berkilau daripada potnya.
Seorang wanita separuh baya datang dari arah belokan di sebelah kiri ruangan. Rambutnya berwarna cokelat, tidak segelap rambut Gavin, dan lebih terang sedikit dari rambutku. Ia mengenakan kaus hitam dan celana training hitam, dan celemek biru tua. Aku beranggapan wanita itu adalah Mrs. Boston. Melihat beberapa garis wajahnya mirip dengan Gavin. Mrs. Boston sama sekali tidak terlihat tua. Well, untuk ukuran seorang ibu dengan 3 orang anak, dan anak sulungnya sudah kuliah. Mungkin umurnya sekitar…43 tahun. Wajahnya benar-benar keibuan. Aku bahkan bisa merasakan kalau beliau memiliki rasa kasih sayang yang besar.
Mrs. Boston tersenyum ke arahku dan Gavin.
“Mom,”kata Gavin, “kenalkan ini Crystal Higher.”
Aku berdiri untuk mengulurkan tangan pada Mrs. Boston. Diluar dugaanku, ia malah menarikku dalam pelukan hangatnya. “Selamat datang Crystal.” Lalu ia melepaskan pelukannya lagi dan tersenyum ramah padaku. “Maaf karena aku tidak bisa menemanimu lebih lama.” Mrs. Boston mengendus-endus. “Kurasa kueku sudah matang.” Ia menepuk pipi kiriku. “Ini rumahmu, lakukan apa pun yang kau suka.” Setelah itu Mrs. Boston kembali berjalan ke tempatnya muncul semula.
Gavin mengangkat bahu. “Well, begitulah ibuku kalau kau ingin tahu. Dia melarang kami, anak-anaknya, untuk menghancurkan rumah. Tapi ia menyuruh tamu untuk menghancurkan rumah. Menurutmu, mana yang lebih adil?”
“Tidak ada. Seharusnya semuanya menghormatinya, karena ibumu sudah menata rumah ini sedemikian rupa.”jawabku.
Gavin tersenyum. “Kurasa kita bisa mengerjakan tugas di ruang TV,”kata Gavin. Gavin kembali setengah mendorong punggungku untuk membimbingku berjalan. Kami menyusuri lorong tempat tadi Mrs. Boston pergi. Bau kue itu semakin tercium jelas. Dan ketika kami melewati dapur, bisa kulihat Mrs. Boston sedang asyik membuat hiasan di tas cupcakes nya. Well, aku tidak akan pernah berharap akan melihat Mom seperti itu di dalam dapur rumahku.
Kami lalu memasuki sebuah ruangan baru. Warna-warna ruangan ini masih sama. Hanya saja tidak ada pintu untuk membedakan lorong dengan ruangan ini. Hanya tembok untuk membatasi antara dapur dan lorong. Mungkin Mrs. Boston ingin mendapatkan privasinya.
Di dalam ruangan ini duduk seorang laki-laki di atas sofa merah besar di depan TV. Dengan seorang perempuan yang duduk di atas karpet dan bersender di sofa merah itu. Keduanya terlihat sedang menikmati acara TV.
Gavin berjalan dan mematikan TV langsung dari depan. Seruan protes langsung terdengar di antara kedua orang itu.
“Minggir kau, Gawky!”seru si perempuan yang kukira adalah Kim, kakak Gavin.
Si laki-laki langsung berdiri, kurasa dia Rocky. “Oh, brengsek, Gave! Kau merusak acaraku.”
Gavin memberi pandangan padaku. Yang membuat kedua orang itu menoleh.
Tiba-tiba saja tubuhku terasa sangat lemas. Seolah seluruh tenagaku disedot habis. Jauh lebih lemas dibandingkan saat di sekolah tadi. Tapi aku berusaha untuk tetap berdiri tegap. Aku tidak ingin merepotkan keluarga Boston dengan pingsan di rumah mereka.
“Jadi…”ujar si perempuan, “kau bawa siapa?”
Gavin melangkah mendekatiku. “Crystal Higher.”jawabnya.
Aku tersenyum pada mereka. Ternyata kakak-kakak Gavin tidak seseram bayanganku. Mereka balas tersenyum padaku. Mereka sama memesonanya dengan Gavin.
“Well, aku Kim, dan ini Rocky,”kata Kim sambil menepuk punggung Rocky keras. “Kurasa Gavin sudah menceritakannya padamu, itu pun jika memang dia percaya padamu.”
“Tapi apa pun yang dia ceritakan padamu, jangan percaya sepenuhnya. Kami bukan pembunuh seperti yang dia katakan,”tambah Rocky.
“Aku tidak pernah bilang kalau kalian itu pembunuh,”kata Gavin.
Kim bangkit dan menarik tangan kakakknya agar ikut berdiri. “Ayo kita pergi dari sini, Rock. Sebelum Mom keluar dari dapur dan menyeret kita ke dalam oven untuk dipanggang.”
Rocky menggerutu pelan dan mengikuti Kim keluar dari ruangan.
Andai saja rumahku bisa seramai ini. Well, tidak mungkin. Mom dan Dad tidak akan mau punya dua atau bahkan satu anak lagi. Tapi melihat Kim dan Rocky tadi, dan juga Gavin. Mereka sangat sempurna di mataku. Bahkan di mata orang lain. Rocky yang berbadan besar, raut wajah yang tegas, dan…dan…benar-benar keren. Kurasa Alyson akan berpaling pada Rocky saat ia tidak berhasil lagi mendekati Gavin. Dan Kim. Entah apa yang bisa kukatakan tentang dia. Dia begitu…memesona. Gayanya sangat sederhana, berbeda dengan Alyson yang selalu lengkap dengan atributnya. Tapi walaupun dengan kesederhanaan itu, Kim sejajar dengan Alyson. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kim berdandan seperti Alyson, aku yakin seluruh laki-laki akan bersujud di hadapannya.
Bel pintu berbunyi. Mrs. Boston berteriak dari dapur, “tolong pintunya, Gavin!”
Gavin berdecak. “Itu pasti mereka. Tunggu di sini.” Gavin lalu menghilang lagi di lorong.
Seketika aku bisa bernapas lega. Tubuhku seperti dikembalikan lagi energinya. Apalagi saat aku menghirup napas dalam-dalam, terciup wangi cupcakes Mrs. Boston yang baru matang.
Aku berkeliling ruangan. Ruangan ini cukup besar. Dilengkapi dengan barang-barang elektronik canggih. TV plasma hitam mengkilat besar menempel di dinding yang kosong di antara rak-rak CD.
Aku menusuri CD-CD itu dengan jariku. Sama sekali tidak berdebu. Aku masih heran bagaimana Mrs. Boston membersihkan semua ini. Jika aku jadi dirinya, mungkin aku baru bisa membersihkan rak ini setahun sekali setelah debu sudah menumpuk.
Terdengar suara Gavin dan Luke dari lorong. Aku langsung berbalik dan tepat saat mereka memasuki ruangan.
“Hei, Christy. Kau pasti sependapat denganku kalau rumah Boston, sangatlah nyaman,”kata Danny sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
Aku mengangguk. “Yeah. Nyaman.”
“Ayo kita mulai sekarang, agar semua ini bisa selesai dengan cepat,”kata Gavin sambil mengeluarkan bukunya dari ransel. Ia berbaring telengkup di atas karpet.
Aku mengambil bukuku dan mengikutinya. Sedangkan Danny mengeluarkan buku dari dalam tasnya dengan sangat lambat. Karena matanya tertuju pada seluruh bagian ruangan.
“Di mana Chuck?”tanyaku.
Gavin mulai membuka bukunya. “Dia masih ada latihan untuk pertandingan basket minggu depan.”
Oh, yeah. Aku lupa.
“Mungkin aku akan membuatkan kalian minuman. Teh, mungkin?”lanjut Gavin sambil bangkit berdiri.
“Terdengar enak. Teh dingin,”kata Danny.
Gavin meninggalkan kami berjalan kembali masuk ke lorong.
“Aku tidak menyangka kalau keluarga Boston bisa sekaya ini,”kata Danny sambil kembali menyapu pandaga ke seluruh ruangan.
Aku bangkit berdiri dan meninggalkan Danny yang terkagum-kagum sendirian. Aku berjalan menuju dapur untuk membantu Gavin. Aku tidak terbiasa menjadi seorang pemalas, yang hanya duduk menunggu. Itu sama sekali bukan tipeku. Aku tidak bisa diam. Sebisa mungkin aku melakukan aktifitas. Apa pun itu.
Lorong hanya disinari lampu-lampu dari atas lukisan-lukisan yang dipajang di sana. Lukisan-lukisan itu penuh warna. Abstrak. Dan aku bisa melihat tanda tangan membuatnya di sudut kanan bawah. Mr. Boston. Kenapa keluarga Boston begitu penuh dengan orang-orang hebat. Yang hanya membuatku tersenyum sinis saja melihatnya.
Pintu dapur terbuka. Yang membuat cahaya dari dalamnya menyinari lorong yang remang-remang. Aku langsung berbelok masuk ke dalam dapur. Kulihat tidak ada lagi Mrs. Boston di sana. Cupcakesnya setengah sudah dihias, sedangkan setengah lagi masih berada di atas loyang pemanggang.
Perhatianku pada cupcake-cupake itu langsung teralihkan. Begitu melihat pemandangan ganjal di hadapanku. Tidak. Itu bukan sulap. Dan untuk apa Gavin bermain sulap di sini?
3 buah gelas bening, berisikan teh. Dengan satu sendok di setiap gelasnya. Ketiga sendok itu bergerak serempak. Tidak ada yang menggerakkannya. Mereka terus, terus, bergerak. Sedangkan Gavin berdiri tidak jauh dari sana, sedang membuka lemari es dan mengeluarkan es batu. Entah kenapa sakit kepala menyerangku saat aku menyaksikan itu semua.
Gavin menyadari kehadiranku. Lututku langsung lemas. Ketiga sendok itu berhenti bergerak dan Gavin menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ketakutan? Khawatir?
Aku mundur beberapa langkah. Tapi di luar dugaanku, tubuhku tidak keluar menuju lorong, melainkan menabrak dinding.
Aku tidak tahu apa yang bisa kukatakan pada Gavin. Atau memang mungkin sebaiknya aku lari saja sekarang, atau apa. Aku benar-benar tidak tahu.
Gavin mengalihkan pandangannya dariku. Memasukkan beberapa es batu ke dalam ketika gelas.
“Kau mau membantuku membawa ini?”tanyanya.
Apa aku takut? Takut pada teman baruku ini? Dia terlihat…terlihat berbahaya sekarang. Entah kenapa. Aku yakin Gavin juga pasti akan takut ketika melihatku mengubah benda menjadi kristal. Tapi aku tidak yakin hal tadi bisa disamakan dengan kemampuanku atau tidak.
Belum sampai di situ saja rasa terkejutku. Salah satu gelas begitu saja melayang ke hadapanku. Rasanya aku ingin berteriak. Apa gelas-gelas itu kerasukan? Atau memang Mrs. Boston sengaja membuat mereka seperti itu agar tugasnya tidak terlalu berat, sehingga ketiga gelas itu bisa mencuci dirinya masing-masing tanpa harus menguras tenaga siapa pun.
Aku meraih gelas yang mengambang di hadapanku itu dengan ragu dengan sebelah tangan. Setelah aku berhasil menyentuhnya dan sadar tidak terjadi apa-apa, aku menggenggam gelas itu dengan kedua tanganku.
Gavin tersenyum kecil, terlihat sedikit dipaksakan. “Kau boleh lari kalau kau mau.” Gavin menunggu reaksiku. Tapi aku hanya terpaku pada tempatku saja. “Well, mungkin juga tidak. Kau akan mendapatkan penjelasannya jika aku sudah siap.” Apa maksudnya sudah siap?
Aku mengangguk lemah.
Di ruang TV, Danny masih berbaring di tempatnya semula. Matanya masih memandangi setiap sudut ruangan.
Gavin memberikan teh bagian Danny.
Aku sempat melirik sekilas wajahku dari TV plasma hitam mengkilat yang mati. Pucat. Sangat terlihat mengerikan.
Aku meminum sedikit tehku dan meletakkannya di atas meja kaca. Lalu aku kembali ke tempatku semula. Berbaring di dekat seorang yang…well, jelas bukan manusia normal. Seperti aku.
Gavin memulai mengerjakan soal-soal itu. Aku hanya bisa mendengarkan. Menulis apa pun itu jawabannya. Akhirnya semua soal selesai. Chuck tidak datang. Dan aku bersyukur atas itu. Jadi semakin sedikit orang yang menyaksikanku seperti orang yang tercekik.
Kami mengantar Danny ke depan. Aku hanya berdiri di ambang pintu, aku tahu pasti Gavin tidak akan mengantarku pulang dalam waktu dekat. Sedangkan Gavin mengantar Danny sampai masuk ke dalam mobilnya. Setelah Danny melambai ke arah kami dan melajukan mobilnya, Gavin berbalik menatapku. Aku benar-benar bisa kabur sekarang juga kalau aku mau. Tapi aku tidak bisa. Aku ingin tahu, apa yang akan dikatakan Gavin.
Gavin berjalan mendekatiku. “Kurasa…aku akan mengantarmu pulang.”
Aku hanya bisa mengikuti Gavin berjalan menuju garasi mobilnya. Gavin membukakan pintu mobilnya untukku. Dan dengan kaku aku masuk ke dalam. Kurasakan tubuhku yang lemas, lebih lemas lagi.
Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Aku bahkan tidak lagi berbicara sejak kejadian di dapur tadi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kuucapkan. Kalau ternyata…teman baruku…yang sekarang duduk di sebelahku, mengantarku pulang, yang begitu sempurna, ternyata…tidak normal.
“Well, kau ingin bertanya tentunya,”kata Gavin tanpa menatapku.
Aku hanya diam.
“Atau setidaknya ada yang akan kau katakan.”
“Rumahku di Five-One-Five Avenue. Kau pasti dengan mudah akan menemukannya.”jawabku.
Gavin melirikku melalui sudut matanya. “Senang bisa mengetahui rumahmu. Tapi bukan itu maksudku.”
Aku hanya bisa diam lagi. memangnya apa yang bisa kukatakan? Menanyakan apakah dirinya adalah manusia tulen? Apakah dirinya memang benar adanya seperti di dapur rumahnya tadi?
“Berhenti, ini rumahku,”kataku. Mobil berhenti tepat di depan rumahku. “Terima kasih sudah mengantarku.” Aku membuka pintu mobil. Tapi tangan Gavin menahan tanganku. Tangannya tidak lagi sepanas biasanya. Seolah menyesuaikan suhu dengan suhu sekitar.
“Aku akan menunggu jawabanmu besok. Kau bisa menjawab, apa diriku.” Gavin memberikan senyuman mautnya, setelah itu melepas tanganku dan membiarkanku masuk ke dalam rumah.
Aku benar-benar tidak pernah berpikir, atau bahkan ingin berpikir. Tentang siapa diriku. Tentang siapa orang-orang seperti aku, Gavin, Mom, dan Grand. Ada berapa banyak orang seperti kami di dunia ini.
Kulihat mobil Dad terpakir di garasi rumahku. Senang bisa melihatnya. Begitu aku masuk ke dalam rumah, Dad sudah duduk di atas sofa di ruang depan.
“Hai, Crystal,”kata Dad sambil memelukku. “Bagaimana kabarmu?”
“Baik-baik saja sejauh ini,”jawabku. Dad melepas pelukannya. “Bisa kutebak Mom pasti tidak pulang.”
“Well, yeah. Tapi kau tenang saja, minggu depan kami berdua, benar-benar akan pulang, tidak hanya satu di antara kami.” Dad tersenyum menatapku. “Siapa laki-laki tadi?”
Minggu depan adalah ulang tahunku. Aku berharap mereka menepati janji. Aku menghela napas, menghempaskan diriku ke atas sofa. “Gavin Boston. Anak pindahan di sekolah sejak semester lalu.”
Dad mengernyitkan dahi. “Boston? Apakah ayahnya…Fedrick Boston?”
Aku mengangkat bahu. “Well, aku tidak tahu juga. Ya, sepertinya itu namanya. Dad mengenalnya?”
“Tentu aku mengenalnya. Fedrick adalah seorang yang sangat hebat. Aku mengakui itu. Tapi aku tidak pernah tahu kalau anaknya juga bersekolah di Highlanders. Well, aku cukup senang kau bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Apalagi yang aku kenal. Itu akan memudahkan di antara kita.”
Memudahkan apanya? Apa pengaruhnya?
“Crystal,”kata Dad dengan lembut, “sungguh kau tidak ada masalah?”
Aku menggeleng. “Memangnya kenapa Dad bilang seperti itu?”
“Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kau terlihat—panik?”
Yeah. Karena aku baru menemui seorang manusia yang—bukan manusia. Yang awalnya aku kira, hanya aku, Mom, dan Grand saja yang tidak normal. Tapi ternyata ada orang lain, yang ternyata lebih menyeramkan, dan seperti…sangat membahayakan.
“Oh, ya? Mungkin kau terlalu lelah Dad.”
Dad mengangguk. “Yeah. Kau benar. Aku hanya butuh istirahat. Pulang ke rumah adalah sesuatu yang selama ini kuinginkan, dan seharusnya aku menghabiskan waktu dengan beristirahat.” Dad bangkir berdiri. “Dan kau tenang saja Crystal. Dad akan tetap ada besok pagi.”
Aku memutar bola mataku. Tidak yakin. Mungkin saja malam-malam ada telepon dan menyatakan kalau Dad ada meeting mendadak dan semacamnya. Hal-hal seperti itu sudah biasa terjadi. Jadi aku tidak membiarkan Dad berjanji akan tetap ada besok pagi atau pun membiarkan diriku berharap akan membuatkan sarapan untuknya besok.
Aku naik ke kamarku. Lalu langsung masuk ke kamar mandiku. Setelah mandi pun kondisiku tetap tidak membaik. Aku tetap membayangkan gelas yang melayang-layang, sendok yang bergerak sendiri. Mungkin aku memang sudah sinting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar