Aku memastikan pintu rumahku sudah terkunci. Aku memang ceroboh, tapi tidak akan sampai membiarkan rumahku sendiri kemalingan. Setelah itu aku berbalik, menghentak-hentakkan kaki di depan rumahku. Seperti biasanya Willy terlambat menjemputku. Sebenarnya aku lebih nyaman mengendarai mobilku sendiri. Mobilku jarang digunakan, padahal kedua orangtuaku memberikannya pada ulangtahunku yang ke 16 setahun yang lalu. Masih dalam kondisi yang bagus, tidak tergores sedikit pun. Hanya saja Willy—bahkan teman-temanku yang lain, tidak percaya akan kemampuan menyetirku. Aku memandang mobilku di garasi. Mobilku hanyalah satu-satunya mobil yang terpakir di sana. Dad selalu membawa mobilnya, sedangkan Mom lebih nyaman naik kendaraan umum dengan alasan pemanasan global. Tapi karena itu aku jadi tidak pernah tahu kalau Mom sudah ada di rumah.
Udara di Manhattan mulai memanas. Aku tidak suka panas. Panas itu akan semakin panas di kulitku. Aku juga tidak suka musim panas. Itu berarti akan ada liburan musim panas yang panjang dan akan semakin membosankan. Mungkin aku harus mulai meyalin kembali essay liburan musim panas SMPku. Aku yakin tidak akan ada yang berubah di liburan tahun ini.
Kulihat mobil silver Willy berhenti tepat di depan rumahku, lalu membunyikan klakson 2 kali. Kenapa dia yang membunyikan klakson? Bukannya seharusnya aku? Well, andai saja aku punya klakson di tubuhku. Aku sangat tidak suka menunggu.
Aku segera masuk ke dalam mobil Willy. Willy menyambutku dengan senyumannya. Aku menutup pintu dengan kesal dan memakai sabuk pengamanku.
“Selamat pagi Ms. Higher,”sapa Willy.
Aku hanya memutar bola mataku. Begitulah Willy. Tidakkah pernah ia merasa bersalah? Walaupun sedikit saja? Well, aku tahu, aku ini memang hanya sekedar sahabatnya, bukan ibunya, bukan ayahnya, bukan keluarganya, bukan siapa-siapa. Tapi kenapa dia selalu bersikap begitu santai? Seolah-olah aku ini manusia yang kebal akan apa pun, dan selalu memaafkan kesalahannya.
Willy melihat jam tangannya. “Ayolah, Christy. Hanya 5 menit saja. Lagipula kita masih memiliki waktu setengah jam untuk tiba di sekolah.”
Dia akan mengatakan "5 menit saja" kalau 5 menit, "10 menit saja" kalau 10 menit, bahkan "satu jam saja" kalau satu jam dan seterusnya. Aku menoleh ke arah Willy, mengembangkan senyumku yang penuh keterpaksaan. “Kalau begitu, kenapa tidak menjalankan mobil anda saja Mr. Golden?”
Willy menghela napas berat. “Baiklah, Ma’am.”
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Dan sepertinya Willy juga tidak peduli dengan kediamanku. Aku memandang ke luar jendela. Mengamati setiap orang yang ada.
Mobil berhenti di lampu merah. Seorang ibu dengan menggandeng kedua anaknya, di tangan kiri dan kanannya, menyeberang. Sepertinya sang ibu ingin mengantar kedua anaknya sekolah. Aku menghela napas melihatnya.
Di sebelah kiri, dua orang anak. Kakak beradik sepertinya. Sang kakak, yang perempuan, sepertinya sudah SMP, sedangkan sang adik terlihat begitu kecil di sampingnya. Mereka berjalan bergandengan tangan. Dan lagi-lagi aku menghela napas melihatnya.
Mobil kembali berjalan. Aku bersyukur atas itu. Jadi tidak ada lagi pemandangan yang menyeksakan hati. Sebenarnya pemandangan-pemandangan itu sudah biasa, kelewat biasa malahan. Tapi biasanya aku tidak memperdulikannya, dengan cara mengobrol dengan Willy atau siapa, bukannya membiarkan pikiranku kosong.
Akhirnya kami sampai di sekolah. Willy memarkir mobilnya dengan mulus. Jauh berbeda dengan caraku memarkir mobil. Harus bolak-balik mundur dan manju berkali-kali. Well, mungkin itu salah satu alasan kenapa Willy dan yang lainnya tidak percaya kalau aku memiliki SIM apalagi bisa menyetir mobil sendiri.
Tangan Willy yang panas (atau mungkin tidak, mengingat suhu tubuhku yang selalu kelewat dingin) menahan tanganku ketika aku ingin turun. Willy cepat-cepat menarik tangannya kembali. Mungkin karena kaget dengan suhu tubuhku yang luar biasa dingin (seperti dia baru pertama kali menyentuhku saja)
“Dengar,”katanya, “aku tidak ingin hari ini menjadi hari yang buruk, bagiku, ataupun bagimu. Jadi sebisa mungkin aku minta kau tidak memperpanjang masalah ini. Oke?”
“Apa bagimu ini suatu masalah?”tanyaku dengan nada sinis.
“Aku minta maaf.”
“Kurasa itu sudah menyelesaikan masalah Mr. Golden.” Aku membuka pintu mobil, dan cepat-cepat menjauh dari Willy. Walaupun aku yakin 100%, saat istirahat nanti, semuanya akan kembali seperti semula.
Aku segera menuju ke kelas pertamaku, Kalkulus. Mr. Montgomery seorang yang sangat disiplin. 5 menit sebelum bel masuk berbunyi, beliau sudah siap di kelas.
Aku menyapu pandangan ke seluruh kelas. Kosong. Tentu saja, karena aku memang selalu datang paling pagi. Aku duduk di bangkuku seperti biasa. Alyson, Kate, dan
Aku mendengar sesuatu dari sudut kelas. Ketika aku menoleh, Gavin Boston, sudah duduk di tempatnya seperti biasa, di sudut kelas.
Aku mengernyitkan dahi bingung. Sejak kapan orang itu tiba di
Gavin mengangkat kepalanya, sadar aku memperhatikannya. Cepat-cepat aku langsung membuang muka. Gavin Boston, anak pindahan sejak awal kelas 2 ini. Dia menarik perhatian seluruh cewek normal di Highlanders. Apalagi Alyson, Lucy, dan kawan-kawannya itu. Mereka heboh, berusaha menarik perhatian Gavin. Tapi sepertinya Alyson dan lain-lainnya tidak ada yang menarik perhatiannya. Dia hanya terus diam. Duduk di sudut kelas. Jadi mungkin aku bisa disebut tidak normal, karena tidak tergila-gila padanya.
Well, dia adalah teman sejatiku. Jarang di antara kami yang selalu sekelas dalam seluruh mata pelajaran. Dan sekalinya ada yang selalu sekelas, dapat dipastikan mereka pasti sangat dekat. Yeah, Gavin sekelas denganku di seluruh mata pelajaran. Tapi kami sama sekali tidak dekat, berteman saja mungkin tidak.
Entah apa yang dicari Gavin. Dia tidak pernah bicara. Well, pernah sih, hanya sesekali, itu pun kalau ditanya, dan tidak lebih dari 2 kata. Sungguh tidak ada yang salah dari dirinya. Ia memiliki anggota tubuh lengkap. Tidak bisu, tidak tuli, bahkan tidak buta. Bahkan harus kuakui bahawa dia sangat tampan (mungkin aku normal, kali ini aku mengakui kalau aku tertarik padanya). Di atas rata-rata seluruh laki-laki di Highlanders. Dia juga sangat pintar, murid baru yang mudah beradaptasi dengan pelajaran dari sini. Dia pindahan dari
Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari Gavin. Bisa kurasakan dia menatapku, seolah bisa membaca pikiranku.
Beberapa orang mulai memasuki kelas. Aku bersyukur karenanya. Di kelas hanya ada aku dan Gavin, serasa membuatku merinding, dia sudah seperti hantu saja.
“Hei, Christy,”sapa Kate sambil duduk di bangkunya, di sebelahku. “Bagaimana pagi ini?”
Aku memutar bola mataku. “Well, tidak buruk. Willy telat 5 menit.”
Kate tergelak. “5 menit tidak akan mempengaruhi kegiatanmu hari ini, Chris. Percayalah.”
“Berapa dia menyogokmu untuk hanya mengatakan hal itu?”
Kate nyengir. “Tidak banyak. Hanya tumpangan sepulang sekolah nanti.”
Mr. Montgomery memasuki kelas. Diikuti Regina di belakangnya yang langsung duduk di sampingku sebelum Mr. Montgomery menyapu pandangan ke seluruh kelas dan mulai mengabsen murid satu bersatu. Bel berbunyi tepat saat Mr. Montgomery selesai mengabsen murid-muridnya.
Pelajaran hari ini sangat membosankan. Apalagi dengan kehadiran Gavin. Kuharap posisi Gavin diganti saja dengan Willy, itu jelas akan jauh lebih baik. Lagipula aku benci seorang yang pintar tapi pura-pura bodoh seperti dia. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan yang diajukan Mrs. Montgomery. Seakan dia merendah, tapi itu justru terlihat sombong dan angkuh di mataku.
Akhirnya pelajaran Mr. Montgomery selesai. Aku langsung menuju ke kelas berikut. Kelas Geometri dengan Mr. Burn. Itu tidak jauh lebih baik. Apalagi Regina tidak sekelas denganku. Jadi hanya ada Kate yang masih bisa kuajak bicara.
“Kau terlihat kacau hari ini, Christy,”kata Kate.
Aku menghela napas. “Bukankah aku selalu kacau?”
Kate menggeleng-geleng kecil lalu memutuskan untuk mengabaikanku dan kembali fokus pada pelajaran.
Sungguh. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Pada hidupku tepatnya. Semua ini berjalan tidak…normal. Walaupun kata normal didefinisikan berbeda-beda setiap orang. Aku senang atas apa yang kudapatkan. Atas diriku, kekuatanku, atau apa pun dalam hidupku. Tapi terkadang, ketika aku melihat orang-orang lain di sekelilingku, seperti tanpa beban. Mereka memang tidak memiliki kekuatan sepertiku, tapi mereka seperti memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari milikku.
Aku hanya terlihat seperti gadis biasa. Berumur 16 tahun, sekolah di sekolah umum, nilai-nilai yang lumayan, beberapa sahabat dan teman, kedua orangtua yang…entahlah. Orangtuaku selalu berpergian. Bukan untuk senang-senang, tapi untuk urusan pekerjaan. Ayah dan Ibuku sudah lama menjadi partner. Jadi mereka selalu meninggalkanku. Di rumahku yang biasa-biasa saja, seperti rumah kebanyakan di
Kate menyentuh bahuku. “Christy? Kau tidak ingin melewatkan jam selanjutnya
AKu tersadar dari lamunanku. Kulihat Mr. Burn sudah membereskan segala macam bukunya dan siap untuk kembali ke ruang guru. Pelajaran selanjutnya adalah Biologi, Mrs. Hills. Sungguh sangat tidak enak. Kate pergi,
Dengan lemas aku berjalan menuju kelas Biologi. Entah kenapa rasanya hari ini begitu melelahkan. Tidak ada yang membuatku bersemangat. Mungkin wajahku yang pucat akan terlihat makin pucat hari ini.
Di kelas Biologi aku berhasil menyingkirkan Garry dari bangkunya, yang tepat di sebelah Gavin. Aku benar-benar ingin menyendiri hari ini. Tidak peduli kalau di sebelahku adalah mayat hidup justru itu akan lebih baik. Garry dengan senang hati bertukar tempat denganku. Berani taruhan dia pasti tidah tahan duduk bersama Gavin. Sudah lama aku ingin duduk dengan batu hidup di sampingku ini. Dia misteri bagiku. Ada bagian dari dirinya yang seperti menarikku mendekat.
Sepanjang pelajaran, Gavin terlihat sangat gelisah. Duduk di dekatnya entah kenapa membuatku semakin lemas, bahkan terkadang rasa sakit terasa di beberapa bagian tubuhku. Aku juga merasa suhu tubuhku naik, tidak sedingin biasanya. Apa Gavin membawa reaksi nuklir atau semacamnya? Dan dia sama sekali tidak berbicara. Tidak menegurku. Walaupun wajahnya terlihat tidak suka aku duduk di sampingnya. Tapi biarlah, kalau memang dia tidak suka, dia bisa mengutarakan pikirannya secara langsung padaku. Tapi ada sesuatu yang lain dari dirinya. Yang membuatku tertarik.
Akhirnya pelajaran Biologi berakhir. Aku segera berjalan menuju kafeteria, di
“Apakah ini 31 Oktober?”tanya Willy ketika aku baru saja duduk.
“Kau mabuk, Will,”kataku.
Willy mencibir. “Kau terlihat seperti hantu, Chris. Sangat pucat. Kupikir hari ini Halloween.”
Aku memutar bola mataku. Sejak kapan aku tidak pucat?
“Well, maksudnya, kau lebih pucat daripada biasanya,”tambah Dave membenarkan.
“Aku hanya lelah,”jawabku lirih sambil memijat-mijat pelipisku sendiri.
“Ayolah, Crystal. Tidak mungkin hanya menunggu 5 menit di depan rumahmu saja bisa membuatmu nyaris pingsan seperti ini. Kau sakit?” Willy sedikit mendorong nampannya ke hadapanku. “Aku yakin kau lapar.”
Aku membuang muka dari makanan yang disodorkan Willy. Melihat semua makanan itu, hanya membuatku mual. “Tidak, Will, terimakasih. Aku bahkan lebih baik tidak makan daripada makan.”
Willy menarik nampan berisi penuh makanannya kembali ke hadapannya. “Lalu apa yang kau inginkan, Ms. Higher?”
Aku menoleh ke sampingku. Kate dan Dave sedang asyik ngobrol. Aku yakin mereka pasti ada kencan semalam. Ke sebelah kiriku,
“Aku tidak menginginkan apa-apa, Will. Sungguh, aku baik-baik saja.”jawabku.
Willy menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. “Oh, ya? Kau tidak bisa berbohong padaku, Christy.”
“Hanya kurang tidur,”jawabku singkat sambil membaringkan kepalaku di atas tanganku yang terlipat di meja.
“Orangtuamu belum pulang?”
Aku menggeleng, walaupun tidak yakin Willy melihat gelenganku.
“Kau ingin aku menemanimu malam ini? Mengantarmu ke dokter atau semacamnya?”
Aku mendongak. Kukira Wlly main-main, tapi wajahnya tidak terlihat main-main, bahkan serius. “Tidak, Will. Aku bukan balita 5 tahun, oke? Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kehadiranmu justru membawa masalah.” Aku nyengir, berusaha meyakinkan Willy kalau aku baik-baik saja. Dan sepertinya itu berhasil, karena Willy tersenyum.
“Kau benar. Aku akan mengacaukan semuanya.”
Tidak sengaja aku meliat dari sudut mataku. Gavin Boston, di meja sebelah. Sebenarnya aku yakin sekali itu bukan meja yang tepat baginya. Sangat tidak tepat. Tapi cowok itu tidak memiliki pilihan lain, karena Alyson langsung menyeretnya dan seolah-olah mengikatnya di kursi itu. Dikelilingi cewek-cewek seperti Alyson dan kawan-kawannya yang masih juga tidak menyerah mendekati Gavin, walaupun cowok itu sama sekali tidak merespon setiap tindak-tanduk Alyson. Bahkan aku sempat mendengar, Alyson hampir putus asa. Sebelumnya Alyson selalu mulus mendekati para cowok. Dia cantik, pintar, nyaris sempurna, kecuali sifat sombongnya. Tapi baru kali ini kulihat seorang cowok, dalam kasus ini adalah Gavin Boston yang secara fisik sempurna, tidak tertarik dengan kehadiran Alyson. Aku dengar dari Kate dan
“Sungguh, kau tidak ingin makan apa pun?”tanya Willy.
Aku menggeleng yakin. “Tidak jika memang kau ingin aku muntah di hadapanmu.”
Willy memasang ekspresi jijik. “Simpan saja untuk kapan-kapan.”
Aku berhasil melewati istirahat tanpa muntah atau apa pun. Aku juga sudah merasa sedikit lebih baik, tidak selemas saat pelajaran Biologi tadi. Dan sekarang adalah pelajaran Bahasa Inggris. Pelajaran yang paling aku sukai. Well, tidak juga. Setidaknya ada Willy, Regina, dan Dave di
Mrs. Smith hanya mengulang pelajaran minggu lalu. Sangat membosakan. Kulirik Willy yang duduk di sampingku. Dia hanya sibuk membuat coret-coretann di buku catatannya. Aku sempat mengintipnya sedikit, ternyata dia menggambar wajahku dengan bibirku yang tertekuk ke bawah. Sungguh tidak menghibur.
Entah kenapa aku tidak tahan untuk tidak melihat ke belakang. Ke arah Gavin Boston. Aku bisa mendengar suara cekikikan Alyson di belakang, yang sedang merayu Gavin habis-habisan agar bisa kencan bersamanya akhir minggu ini. Mrs. Smith sama sekali tidak mempermasalahkan soal keributan Alyson. Toh, ini bukan keributan pertama kali atau teribut yang pernah dilakukan Alyson.
Akhirnya pelajaran selesai. Masih ada satu pelajaran lagi yaitu, Fisika. Aku nyaris merasa tidak mampu menyelesaikan semua pelajaran hari ini. Apalagi di pelajaran terakhir lagi-lagi aku tidak memiliki teman. Luke juga tidak terlihat. Entah dia membolos atau apa. Aku memutuskan untuk duduk di samping Gavin lagi. Kebetulan setiap pelajaran Fisika, bangku di sebelahnya kosong, jadi kumanfaatkan saja. Siapa tahu aku ketiduran, dengan posisi dudukku yang sekarang, sedikit sulit untuk terlihat dari depan.
Aku membaringkan kepalaku sebentar. Berharap Mrs. West mengerti, kalau aku benar-benar tidak sanggup. Entah aku tertidur atau apa, aku sudah mendengar bel pulang berbunyi. Mrs. West sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Beliau hanya memberikan pandangan perihatin padaku sebelum meninggalkan kelas. Aku sudah tidak sanggup lagi mengangkat kepalaku atau bangkit dari tempat dudukku. Seluruh badanku benar-benar terasa lemas. Kepalaku sakit bukan main. Tidak pernah aku merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Bahkan aku tidak pernah sakit. Kekuatanku membuat tubuhku tidak bisa terserang penyakit apa pun.
Aku merasakan sesuatu yang panas menyentuhku. Tidak, bukan panas. Semua yang menyentuhku pasti terasa sangat panas dikulitku yang dingin. Ketika aku mendongak, kulihat wajah Gavin Boston yang khawatir.
“Kau tidak apa-apa?”tanyanya.
Baru kali ini aku memperhatikan suaranya. Begitu bagus, menurutku. Seperti kebanyakan suara laki-laki lainnya, tapi entah kenapa yang ini seperti berbeda. Dan baru kali ini juga dia berbicara lebih dari 2 kata padaku.
“Yeah,”jawabku singkat dan lirih.
“
Aku tidak pernah benar-benar membayangkan akan melakukan percakapan seperti ini dengan Gavin. Saling menyaut, bertanya, menjawab, dan yang terpenting, lebih dari 2 kata.
Aku yakin pasti seisi kelas sudah sepi. Karena aku sudah berbaring cukup lama di tempatku. Aku pun tidak yakin Willy akan datang mencariku sebelum satu jam lagi.
“Well, mungkin. Aku sama sekali tidak mampu untuk bergerak.”kataku dengan lirih.
Gavin membantuku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Di sandangnya tas ranselku di bahu kirinya, lalu membantuku berdiri dengan tangannya yang lain. Aku merasa benar-benar panas berada di dekat Gavin. Entah apa yang salah. Diriku yang semakin dingin, atau memang Gavin yang panas?
Gavin merangkulku, bahkan setengah mengangkatku, mengingat langkahku sekarang tidak cukup jauh dan cepat untuk berjalan keluar kelas dengan waktu dibawah 1 jam.
“Kau belum makan?”tanya Gavin.
Aku mendongak sedikit agar bisa melihat wajahnya, lalu menggeleng.
“Lain kali kau seharusnya makan. Badanmu sangat dingin.”
Dia tidak pernah menyentuhku saja. Ini bukan suhu terdingin yang pernah ada sepanjang hidupku. Bahkan aku seperti es. Pucat. Dingin. Lebih dingin dari siapa pun.
“Kau ingin aku membawamu ke mana?”tanya Gavin ketika kami sudah berada di luar kelas.
Kurasakan tatapan semua orang tertuju pada kami. Mengingat jarak aku dan Gavin yang sangat dekat. Apalagi Gavin terkenal pendiam. Alyson saja ditolaknya. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana tipe ceweknya. “Kau tau William Golden? Bisa antar aku menemuinya?”
Gavin mengangguk kecil. “Tentu.”
Aku dibawa keliling oleh Gavin, mencari-cari Willy. Kenapa begitu susah menemukannya di saat-saat penting seperti ini?
“
“Oh, Will, akhirnya,”kataku lega. Gavin segera memberikanku pada Willy, begitu juga dengan tas ranselku.
“Terimakasih, Gave. Sungguh, kau pahlawanku hari ini,”kataku dengan suara lirih yang bahkan nyaris tidak terdengar.
Gavin hanya menjawabnya dan seulas senyum dan anggukan kecil, lalu pergi.
“Bagaimana kau bisa bersama teman sejatimu itu?”tanya Willy di telingaku.
Aku memutar bola mataku. “Diam kau! Ke mana saja kau saat aku membutuhkanmu?”
Willy terkekeh. “Senang bisa melihatmu jatuh sakit Ms. Higher. Karena jika dalam tahun ini aku belum melihatmu sakit, aku akan berencana menyeretmu ke dokter. Tidakkah kau pikir itu tidak normal?”
Jelas normal bagiku, Mr. Golden! Rasanya aku ingin berteriak begitu. Entah apa kata Ibuku ketika mendengar soal ini. Sejak aku lahir sampai sekarang belum pernah aku merasa selamas dan sepusing ini.
“Well, mungkin si
Teorinya tidak begitu masuk akal bagiku. Hanya dalam waktu beberapa jam saja sudah bisa menularkan sebuah penyakit yang bagiku sakit bukan main. Kenapa bukan dari dulu saja aku tertular? Atau Garry, yang selama ini duduk dengannya, yang lebih memiliki potensi untuk terserang penyakit menular dari Gavin.
“Antar aku pulang saja, Will. Sebelum kesabaranku habis,”kataku.
“Baiklah. Kurasa aku harus menunda mengantar Kate sampai besok. Lagipula Dave pasti akan menggantikanku mengantarnya.” Willy membimbingku ke mobilnya. Bahkan mungkin bisa dibilang dia setengah menyeretku.
Willy memasukkanku ke dalam mobilnya dan memakaikan sabuk pengamanku. Lalu berputar masuk ke bangku kemudi.
“Sepertinya kau akan benar-benar membutuhkanku hari ini, Christy,”kata Willy sambil melajukan mobilnya.
Aku memutar bola mataku. “Sudah kubilang tidak perlu, Will.”
“Ha! Bagaimana tidak perlu? Berjalan saja kau tidak bisa. Apa kau pikir aku tega melihatmu merangkak ke
“Aku sudah merasa lebih baik, sungguh.”
Willy meraba keningku, dan dengan cepat langsung menarik tangannya kembali. “Kau masih tetap sangat sangat dingin, Chris. Kau yakin tidak apa-apa? Sepertinya kau butuh ke dokter atau minum obat.”
Eh? Obat apa yang bisa menyembuhkanku? Mengembalikanku menjadi normal kembali? Lagipula aku senang dengan diriku sendiri. Tidak perlu ada yang diobati.
“Berhenti berbicara, Will. Suaramu sangat tidak indah di telingaku,”kataku lirih.
Willy berhenti berbicara. Sampai mobil berhenti di depan rumahku. Kuharap Willy tidak memaksa untuk masuk. Bagaimana pun juga aku tidak akan mebiarkannya menemaniku seharian penuh. Itu akan membuatku bertambah gila.
“Pulanglah, Will,”kataku sambil melepas sabuk pengamanku.
“Kau benar-benar tidak apa-apa?”tanya Willy lagi.
“Aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih atas tumpangannya. Mungkin besok aku akan membawa mobilku sendiri.”
“Tidak. Aku akan menjemputmu.”
Aku membuka pintu mobil. “Terserah. Tapi aku akan tetap berangkat dengan mobilku sendiri. Sampai besok Mr. Golden.” Aku keluar dari mobil. Di luar dugaanku aku jauh lebih baik daripada di sekolah tadi. Walaupun aku rasa tubuhku masih lemas dan kepalaku masih sedikit pusing. Kurogoh kantong tas ranselku dan kukeluarkan kunci rumahku. Kurasakan tatapan Willy yang masih menungguiku dari dalam mobilnya. Aku membuka pintu rumah, dan dengan cepat masuk dan menguncinya kembali. Aku mengintip ke luar lewat jendela di samping pintu. Willy sudah pergi. Syukurlah cowok itu tidak memaksa berkemah di halaman rumahku.
“Kau seharusnya mempersilahkannya masuk.” Aku terlonjak mendengar suara itu. Ketika aku berbalik, ibuku sudah berdiri di belakangku. Masih menggunakan pakaian kantornya lengkap, dan membawa segelas air.
“Mom?”ujarku tak percaya.
“Kau baik-baik saja? Apa aku terlalu lama meninggalkanmu sampai-sampai kau lupa pada ibumu sendiri?”
Aku menggeleng kecil. “Aku hanya terkejut kau sudah pulang. Dimana Dad?”
“Dad masih di
Bukankah memang selalu begitu? Aku memang tidak pernah sehat
Ibuku menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi dan menatapku tidak yakin. “Yeah, kau memang sakit,”katanya dengan nada bercanda.
“Mom, aku serius. Aku sangat merasa lemas, dan kepalaku pusing bukan main.”
Mom berubah percaya. “Mungkin aku harus menelepon kakekmu.”
“Tidak, jangan. Itu akan membuatnya datang ke sini dan memperburuk keadaan.”
Mom duduk di sofa dan aku duduk di sampingnya. Wajahnya memancarkan kebingungan. Beliau saja bingung, apalagi aku?
“Kau tau
Aku menghela napas. “Yeah. Mungkin itu salah. Buktinya aku sakit sekarang.”
Ibuku menggenggam gelasnya lebih erat lagi. Menimbulkan titik-titik air karena dingin di bagian luar gelasnya.
“Sepertinya kakekmu harus tau. Pasti ada yang salah dengan dirimu,
Aku kurang suka dipanggil
“Mom tidak perlu khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang besok aku belum sembuh, Mom bisa menelepon Grand.”
Air di dalam gelas ibuku sekejap sudah berubah menjadi es. “Apa kau merasa terganggu dengan pekerjaan Mom dan Dad?”
Aku menggeleng. “Aku mengerti. Ini semua untuk kebaikan keluarga kita. Lagipula, apa yang bisa kau lakukan di rumah? Memasak? Merubah semua perabotan menjadi es?”
Ibuku terkekeh. “Kau tau, aku tidak akan bisa melakukan yang pertama tadi. Aku bukan ibu rumah tangga yang baik. Memasak, beres-beres rumah, mencuci…”
“Tapi kau ibu yang baik, Mom. Siapa sih, ibu di dunia ini yang bisa seperti kau? Bekerja keras, karir sukses dan…es?”
Mom memiringkan posisi duduknya, menghadapku. “Aku serius,
Aku menggeleng. “Tidak. Lagipula kenapa Mom membicarakan soal ini?”
“Kau sudah 17 tahun,
“Mom sudah pernah memberitahukannya padaku. Lagipula Mom sendiri yang bilang, kalau aku harus bersyukur atas apa yang terjadi dengan diriku. Lagipula ini semua tidak menggangguku, kok. Kalau soal keluargaku nantinya…mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang Mom lakukan pada Dad sekarang.”
Mom meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan sofa. “Malam ini, aku akan kembali ke
“Tidak apa. Aku yakin aku akan baik-baik saja.”
Mom menghela napas. Wajahnya kembali ceria. “Oke. Jangan bahas yang tadi-tadi lagi. Jadi, bagaimana dengan Mr. Golden?”
Aku meringis mendengarnya. Ibuku memang selalu begitu. Baginya Willy seorang cowok yang pantas untukku. Well, mungkin begitu. Karena seumur hidupku aku memang hanya pernah berkencan dengannya. Tapi apa hubungannya? Kalau memang kita saling cocok seharusnya sudah sejak dulu kami menjalin hubungan.
“Mom…kau tahu
Mom mengibaskan tangannya. “Seharusnya kau mencari sahabat yang lebih banyak lagi,
Perutku mual mendengarnya. Sejak kapan Mom bisa membahas Alyson seperti ini? Lebih baik aku mendekam di rumah seminggu penuh daripada harus pergi dengannya.
“Kau tahu, Mom. Aku dan dia tidak cocok,”jawabku.
“Oh, ya? Padahal kukira kalian berteman baik?” Ha? Aku, dan Alyson beteman baik? “Aku akan istirahat sebentar di kamar. Kalau memang kau membutuhkan sesuatu, kau bisa membangunkanku kapan saja kau mau,
Aku memutar bola mataku. Kurasa aku tidak butuh membangunkan Mom. Mungkin hanya dalam beberapa menit lagi dia akan kembali bangun. Memangnya sejak kapan kami tidur seharian?
Mom bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Kupandangi gelas Mom di atas meja. Air di dalamnya masih beku. Kuraih gelas itu dan kuraba permukaannya. Begitu dingin. Bahkan titik-titik air yang tadinya ada di luar gelas berubah menjadi es. Apakah itu keluarga kami? Begitu dingin?
Aku memutuskan untuk berisitirahat, atau tidur kalau perlu. Kemarin aku tidak tidur, karena aku merasa aku tidak butuh tidur. Tidak banyak aktifitas yang menguras tenaga. Kecuali sekarang. Aku merasa benar-benar lemas. Mungkin aku bisa tidur lebih dari 5 jam hari ini.
Keesokan paginya, aku mendapati Mom sudah tidak ada. Hanya ada pesan yang ditempelkan di lemari es dengan magnet hitam yang bertuliskan:
Kau tidur lebih dari 3 jam,
Mom
Siapa yang ingin memberitahu Grand? Pastinya secepat kilat ia akan langsung mengunjungiku. Menceramahiku dengan segala macam hal. Atau bahkan membawaku bersamanya untuk pengobatan dan sebagainya.
Aku segera membuat sarapanku. Semangkuk sereal. Selalu saja begitu. Semua makananku serba instan. Memangnya apa yang bisa kumasak di sini? Aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia masak-memasak.
Setelah aku menghabiskan sarapanku dan memasukkan mangkukku ke dalam mesin pencuci piring, aku naik kembali ke kamarku. Bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Semoga saja Willy tidak menjemputku. Tapi ternyata tidak. Willy datang lebih cepat dari biasanya.
“Sudah kubilang aku tidak ingin dijemput,”kataku pada Willy ketika aku masuk ke dalam mobilnya.
“Tapi kau memasukkan dirimu sendiri ke mobilku,”kata Willy sambil nyengir.
“Baiklah kalau begitu. Aku bisa kembali keluar dari mobilmu.” Aku bersiap-siap untuk membuka pintu mobil tapi Willy menahan pergelangan tanganku. Seperti biasa dengan cepat ia kembali menarik tangannya.
Aku diam saja. Memakai sabuk pengamanku sementara Willy sudah mulai melajukan mobilnya.
“Jeez, Christy. Bagaimana kau bisa begitu dingin setiap harinya?”tanya Willy.
“Beginilah aku.”jawabku singkat. Memangnya apa yang bisa kujawab? Mengatakan kalau memang aku tidak normal dan beginilah suhu orang-orang seperti aku?
Kami terdiam sebentar. Sampai akhirnya Willy berkata, “kemarin malam Gavin Boston meneleponku.”
Aku langsung tertarik dengan topik ini. “Oh, ya? Apa katanya?”
Willy berdeham dan mengikuti suara Gavin, “’Bagaimana keadaan
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha mencerna kata-kata Willy. Kenapa Gavin tidak meneleponku saja? Well, mungkin aku memang mengharapkannya.
“Dia sangat menghawatirkanmu,”kata Willy, “Selanjutnya aku meyakinkannya kalau kau baik-baik saja. Dia terus mengulang pertanyaan yang sama selama hampir 5 menit. Sampai akhirnya aku kesal dan menutup teleponnya.” Willy menatapku sebentar. “Jadi? Apa kalian sudah berkencan?”
Aku tertawa. “Tentu saja tidak, Will. Bicara dengannya saja sebulan sekali. Lagipula…”
“Yeah, aku tahu. Sudahlah, Chris, tidak perlu kau pikirkan lagi. Tapi jelas-jelas dia naksir padamu.”
“Siapa yang peduli, Will?” Aku memalingkan wajah keluar jendela. “Ditaksir seorang batu hidup. Sangat lucu.” Aku menyesal mengatakannya. Jelas-jelas aku tertarik padanya.
Mobil berhenti di lampu merah. Lagi-lagi pikiranku kosong. Aku melihat sesosok pria. Mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Kemeja yang dikenakannya kusut. Dia berjalan dengan terburu-buru sambil membawa tas kertas. Tiba-tiba saja pria itu bertabrakan dengan seorang wanita kantoran di belokan jalan. Seketika barang bawaannya jatuh. Wanita kantoran itu tidak memperdulikannya, hanya terus berjalan dan tetap berbicara di ponselnya. Pria itu benar-benar terlihat kalut. Ia kembali mengambil kantong kertasnya dan melongok isinya. Lalu dengan marah dibuangnya kantong itu sembarangan ke pinggir jalan, dan dengan terburu-buru pergi lagi.
Aku membuka pintu mobil, hendak melihat apa isi kantong itu. Siapa tau isinya bom atau apa.
“Christy? Mau ke mana?” Kudengar Willy berteriak-teriak di belakangku.
Aku melewati mobil-mobil yang sedang berhenti. Menghampiri ke tempat pejalan kaki dan memungut kantong kertas berwarna merah tua itu. Ketika aku melihat ke dalamnya, ternyata isi kantong itu adalah kristal. Sepertinya, bentuk awalnya adalah seekor kuda. Tapi sekarang kristal itu sudah hancur, berkeping-keping.
Aku memasukkan tanganku ke dalamnya. Menyentuh pecahan-pecahan Kristal itu. Dan dengan kekuatanku menyatukan semua kepingan itu menjadi bentuk kuda yang utuh.
Aku mengejar pria pemilik kristal ini. Pria itu terlihat sangat bingung. Lalu aku menyodorkan kantongnya. “Sepertinya tertinggal,”kataku.
Pria itu mengibaskan tangannya. “Sudah aku tidak perlukan lagi.”
Aku berlagak melongok ke dalam kantong itu. “Sayang sekali. Padahal kristal kuda yang sangat bagus.”
Pria itu mengernyitkan dahi dan merebut kantong itu dari tanganku. Wajahnya langsung berbinar-binar. “Terima kasih,”katanya lalu berbalik meninggalkanku. Terimakasih juga karena tidak bertanya kenapa patung itu bisa kembali seperti semula.
Aku langsung kembali ke mobil Willy secepat mungkin sebelum lampu berubah menjadi hijau.
“Apa yang kau lakukan tadi? Jelas-jelas orang itu sudah membuang barangnya. Dan kau malah memberikannya lagi.”kata Willy.
“Diam, Will. Suaramu benar-benar tidak enak pagi ini.”kataku sambil memakai sabuk pengamanku.
Willy mencibir. “Kapan sih, suaraku terdengar enak di telingamu?”
Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelas pertamaku hari Selasa ini. Yaitu Bahasa Inggris. Mrs. Smith tidak seperti Mr. Montgomery yang selalu datang lebih cepat. Bahkan Mrs. Smith sering datang lebih lambat. Maka dari itu pada murid-murid memilih untuk datang terlambat pada hati Selasa. Selain alasan kedatangan Mrs. Smith, Mrs. Smith juga seorang guru yang paling baik hati di Highanders.
Seperti biasa, hanya ada aku dan Gavin
Aku bangkit dari tempat dudukku. Menghampiri dia, meletakkan tasku di atas meja. “Kau keberatan kalau aku duduk di sini?”
Gavin terdiam sebentar, sebelum menggeleng.
Aku duduk di sampingnya. Tapi Gavin terlihat menjaga jarak denganku. Dia duduk diujung meja.
“Kau tahu,”aku memulai pembicaraan, “kau seperti batu hidup. Diam disudut kelas. Apa ada yang mengganggumu?”
Gavin kembali menggeleng.
“Bahkan kau tidak tertarik pada Alyson. Ayolah, itu Alyson, seseorang yang selalu dicari setiap pria.”
Gavin terdiam.
“Oke. Aku hanya berniat menjadi temanmu. Kau tau,
“Aku tidak bisa memberitahukannya padamu, walaupun ingin.”jawabnya.
Akhirnya dia bisa juga berbicara santai padaku. Dan senang bisa tahu bahwa sebenarnya dia ingin menceritakannya padaku, walaupun tidak bisa.
Orang-orang mulai berdatangan. Ketika Garry datang dan melihatku duduk di bangkunya, ia dengan senang hati menduduki bangkuku. Sewaktu Willy datang, tatapannya berubah ketika melihatku dan Gavin. Tapi aku memberinya isyarat untuk menceritakannya nanti, saat istirahat.
Lagi-lagi badanku terasa lemas sepanjang pelajaran Bahasa Inggris. Tapi tidak disertai pusing seperti kemarin. Hanya sedikit pelajaran yang dapat kuserap. Willy beberapakali menengok ke belakang, menatapku dan Gavin.
Mrs. Smith menunjuk beberapa orang, menjadikannya satu kelompok berdasarkan bangku mereka. Aku menyesal pindah tempat duduk. Seharusnya aku bisa satu kelompok dengan Willy dan itu akan jadi lebih mudah. Akibatnya aku seorang cewek sendiri di kelompokku yang dipenuhi 3 cowok-cowok, Gavin, Chuck, dan Ashton.
Bel berbunyi, yang membuatku mengangkat kepala dan memasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Kulihat Willy melambaikan tangan padaku sambil tersenyum dan keluar dari kelas. Sepertinya dia sengaja, meninggalkanku dengan Gavin.
“Butuh bantuan lagi?”tanya Gavin.
Aku mengangguk.
Gavin membantuku berdiri. Menyentuhku dengan tangannya yang terasa panas di kulitku—sama sekali tidak membuatku lebih baik, malah lebih lemas lagi.
“Apa yang dikatakan Mrs. Smith tadi?”tanyaku lirih sambil berjalan terseok-seok.
“Kerja kelompok. Membuat setumpuk latihan-latihan di bab 5. Seperti biasa, Mrs. Smith sangat baik hati dengan tidak membiarkan kita mengerjakannya secara individu.”
Wow. Itu tadi kata terpanjang yang pernah dikatakan Gavin padaku.
“Kita bisa mengerjakannya di rumahku,”tambah Gavin. Aku mendongak untuk melihat wajahnya yang sempurna itu, dan dia membalasnya dengan senyuman maut. Sialan. Bisa-bisa aku termakan segala sesuatu yang ada pada dirinya. “Well, itu pun jika kau tidak keberatan.”
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku yang satu-satunya cewek di kelompok kita, jadi aku hanya bisa mengikut kemauan kalian saja.”jawabku.
Gavin terlihat tidak menerima kata-kataku barusan. “Tidak, tidak. Tidak boleh seperti itu. Kita kelompok, bukan jenis kelamin yang dilihat di sini.”
Aku mencibir. “Baiklah. Di rumahmu, adalah ide yang bagus.”
“Besok, sepulang sekolah. Bagaimana?”
Aku mengangguk. “Oke. Bukan ide yang buruk.”
Kami sampai di kelas Biologi. Kali ini Gavin yang menawarkanku untuk duduk di sampingnya. Tentu aku menerimanya, itu adalah sambutan yang baik untuk seorang teman baru.
Sepanjang pelajaran tubuhku semakin lemas saja. Bahkan sesekali kepalaku sakit. Gavin memandangku dengan tatapan iba becampur khawatir. Sudah berkali-kali ia menawarkan untuk mengatakanku ke UKS, tapi aku menolaknya.
“Suhu badanmu terlalu dingin,”bisik Gavin sambil menyentuh tanganku.
“Dan suhumu terlalu panas,”gumamku.
“Sungguh kau tidak apa-apa?”
Aku mengangguk.
Gavin meraba keningku, dan dengan cepat langsung menarik tangannya. “Kau lebih dingin daripada yang kukira.” Gavin bangkit berdiri, menghampiri Mrs. Hills sebelum aku sempat berkomentar.
Mrs. Hills dan Gavin menghampiriku. Tangan Mrs. Hills meraba keningku, dan sama seperti Gavin, ia langsung menarik tangannya dengan cepat. “Ya, Tuhan, Ms. Higher. Kau memang harus beristirahat. Mr. Boston akan mengantarmu.”
Aku menatap Gavin dengan tatapan kesal. Tanpa diminta lagi Gavin langsung membantuku berdiri.
“Jangan pikir aku mau ikut denganmu ke UKS,”kataku begitu kami sampai di luar kelas. Aku melepaskan diri dari Gavin dan berdiri menjauh darinya.
“Kau sakit,
“Aku tahu, aku sakit. Tapi kau tidak perlu membawaku ke UKS atau semacamnya,”jawabku.
Gavin mendekatiku, dengan cepat tangannya mengangkat kakiku dari bawah lutut dan menahan tubuhku dengan tangan kirinya.
Aku meronta-ronta dalam gendongannya. “Turunkan aku, bodoh! Brengsek kau Gavin! Turunkan aku sekarang!”
Gavin tidak berkata apa-apa. Ia tidak melepaskanku sampai akhirnya membaringkanku di salah satu tempat tidur di UKS. Aku benci UKS. Cat putihnya yang seakan tidak terkena noda sedikit pun. Kasurnya yang keras. TIrai-tirai panjang itu. Membuatku tambah mual.
Suster Denise menghampiri kami. “
“Tidak. Aku hanya butuh istirahat. Kumohon percayalah,”kataku.
Melihat aku yang panik Suster Denise tidak jadi lebih mendekat padaku. “Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Panggil aku diruangan sebelah jika ada apa-apa.”
Aku berusaha membuat diriku nyaman di tempat tidur. Tempat tidur ini tidak sama nyamannya dengan milikku. Jadi aku sedikit gelisah.
Gavin menyelimutiku. “Apa kau tidak kedinginan?”
“Tidak,”jawabku.
“Kau marah?”
“Aku kesal.”
“Ayolah. Kau bisa pingsan jika terus berada di kelas seperti tadi.”
“Memangnya dengan keberadaanku di sini akan mengubah keadaan?”
Gavin duduk di pinggir tempat tidur di sampingku. “Tidurlah, Crystal. Aku akan menemanimu di sini.”
Aku meringis mendengar kata-kata Gavin. “Jangan gombal, aku tidak akan termakan kata-katamu. Lagipula ada ataupun tidaknya dirimu di sini tidak berpengaruh bagiku.” Aku berbohong, dalam hati aku senang dia mengatakannya.
Gavin memutar matanya. “Kau sendiri yang bilang, kalau kau ingin kita berteman. Apa pun resikonya, kau akan menerimanya bukan?”
“Itulah gunanya teman. Tapi masih ada pelajaran, kau tidak bisa mengorbankan pelajaran hanya demi aku, teman barumu.”
“Justru karena kau teman baruku. Jika aku tidak melakukan ini, kita tidak akan menjadi teman lama.”
Aku membalikkan badan, berusaha mengalihkan perhatianku dari wajah Gavin. Bisa-bisa aku jadi gila jika aku menatapi dia terus. Lagipula aku tidak bisa tidur. Bagaimana mungkin bisa? Aku sudah tidur lebih dari 5 jam semalam.
“Kau ini siapa, sih?”tanyaku tiba-tiba.
Gavin terdiam sebentar. “Maksudmu?”
“Well, terkadang aku berpikir kau ini batu, alien, mayat, atau bahkan pecandu.”
Gavin tertawa. Tawa pertamanya yang aku dengar. “Tentu tidak. Aku…aku hanya manusia.”
Yeah. Manusia. Entah apa yang harus kukatakan mengenai ‘manusia’. Karena diriku sendiri tidak yakin kalau aku ini manusia atau bukan.
Kurasakan wajah Gavin mendekat ke telingaku, sampai aku bisa merasakan deru napasnya. “Kau bisa tidur,”bisiknya.
Ya, seandainya saja aku bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar