Jumat, 13 Maret 2009

untitled 4

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku pun tidak ingin membuka mataku, jam berapa pun sekarang ini, aku tidak peduli. Aku yakin aku pasti baru tidur dalam beberapa jam saja. Tapi aku tidak merasakan lagi tubuh dingin itu. Apa Gavin sudah pergi?
Aku membuka mataku berlahan. Cahaya matahari menerobos gorden biru mudaku yang membuatku sedikit silau. Sudah pagi? Jadi aku tidur semalaman? Berapa jam? 6 jam lebih?
“Selamat pagi Ms. Higher.” Aku membalikkan badanku dan mendapati Gavin duduk di sampingku sambil bersender di papan kepala tempat tidurku. Dan…tentu saja diikuti senyuman mautnya. Dia sudah berganti pakaian dan sepertinya sudah mandi, karena aku dapat menghirup aroma sabunnya.
Sialan. Kenapa aku tidak bisa terlepas dari hal berbau dirinya sehari saja? Bahkan sejak dirinya pertama kali datang ke Highlanders. Membuat banyak misteri dan pertanyaan di kepalaku. Kejadian 4 hari terakhir ini. Bahwa fakta kalau aku dan Gavin adalah sama-sama tidak normal. Bahwa kami sama-sama monster. Dan dialah satu-satunya orang yang bisa menemaniku semalaman penuh. Bahkan tidak dengan Willy. Well, bukannya Willy tidak bisa, dan tidak mau. Hanya saja aku tidak menginginkannya. Tapi aku menginginkan Gavin. Kuharap Willy tidak mengetahui hal ini.
“Aku tidur semalaman?”tanyaku tidak percaya.
“Memangnya kenapa dengan itu? Itu wajar. Kau terlihat lelah kemarin.”jawab Gavin.
Wajar? Gavin yang malang, ini sama sekali tidak wajar. Aku belum pernah tidur semalaman tanpa terbangun seperti ini. Dan sekarang begitu aku bangun, matahari sudah bersinar terang, sesuatu yang belum kusaksikan selama aku baru bangun selama ini.
“Kau ingin sekolah hari ini, atau tidak?”tanya Gavin.
“Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Well, tidak. Hanya saja kita sudah terlambat 1 jam.”
Aku langsung bangkit dengan panik. “Aku tidak percaya kau tidak membangunkanku. Dan apa yang kau lakukan di sini?”
“Menepati janji. Aku tidak ingin membangunkanmu, Crystal.”
Well, yeah. Menepati janji. Kenapa Gavin masih saja memikirkan janji bodoh itu? Lagipula aku sudah biasa bangun dan menyadari diriku hanya seorang diri.
“Lagipula aku punya rencana yang lebih bagus.”
Aku menoleh ke arah Gavin. “Apa?”
“Bagaimana dengan Central Park Zoo?”
Central Park Zoo? Well, aku memang jarang ke sana. Hanya beberapa kali, mengikuti trip dari sekolah. Terakhir kali saat aku SMP. Tidak pernah aku pergi ke sana tanpa tujuan “pembelajaran”. Mom dan Dad juga tidak pernah mengajakku. Kami sekeluarga hanya melakukan rekreasi di kebun rumah, tidak di luar rumah. Itu akan memudahkan jika Mom dan Dad ada panggilan kerja mendadak.
“Ide yang bagus.”jawabku.
Aku turun dari tempat tidur untuk sarapan di bawah. DiI luar dugaanku, semangkuk sereal sudah tersedia di atas meja. Aku memandang Gavin yang hanya nyengir.
“Kau terlalu memanjakanku Mr. Boston. Ini berlebihan.”
Gavin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya. “Tidak, sema sekali tidak berlebihan. Ini hanya merupakan sebuah pelayanan dari seorang…teman.”
Aku duduk di kursi meja makan. Memandangi serealku sebentar. “Terimakasih. Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini lain kali.”
Gavin duduk di hadapanku. “Aku hanya ingin kau sedikit santai, Cyrstal.”
“Hidupku penuh kesantaian, Gave.”
Gavin tidak membalas kata-kataku. Dia hanya memperhatikanku menghabiskan serealku dalam diam. Setelah aku menghabiskan serealku, aku langsung memegang mangkukku dengan erat.
“Jangan biarkan aku tidak memasukkan ini sendiri ke mesin pencuci,”kataku. Aku bangkit berdiri dan memasukkan mangkuk bekas serealku ke dalam mesin pencuci piring. “Tunggulah sebentar. Aku perlu bersiap-siap.”
Gavin masih tidak berkata-kata juga.
“Gave, please, katakanlah sesuatu.”
“Well, tidak ada yang bisa kukatakan.”
Aku memutar bola mataku dan naik ke atas lagi. Aku mandi secepat mungkin dan bersiap secepat mungkin. Tadinya aku ingin membereskan tempat tidurku dulu, tapi ternyata Gavin sudah melakukannya terlebih dahulu untukku.
Gavin sudah menungguku di bawah tangga, ketika aku turun.
“Kau tidak perlu membereskan tempat tidurku lain kali, Mr. Boston.”kataku.
“Memangnya kenapa?”
“Aku bisa melakukannya sendiri. Dan dengan kau membantu pekerjaan rumahku, berarti kau memperpanjang waktu santaiku.”
“Well, aku bisa menggantikan waktu tidak santaimu.”
Perjalanan ke Central Park tidak berlangsung lama. Mengingat jarak rumahku dan Central Park tidak terlalu jauh, ditambah lagi kecepatan mobil Gavin. Sulit dipercaya mobil hitam mulusnya sudah kembali seperti semula. Tidak ada sedikit pun goresan yang kubuat kemarin masih tersisa. Ketika aku bertanya mengenai hal itu, Gavin hanya menjawab, “itu adalah keajaiban dari teknologi, Crystal.”
Central Park tidak terlalu ramai hari ini. Hari ini hari Jumat, bukan hari libur. Kebanyakan hanya turis yang terlihat.
“Jangan kecewa, Crystal. Mungkin Central Park bukanlah tempat yang bagus untuk menggantikan waktu santaimu,”kata Gavin ketika kami memasuki Central Park Zoo.
“Tidak. Tidak ada yang lebih bagus daripada sesuatu yang berada di luar rumahku.”
Gavin menggandeng tanganku. Tangannya terasa panas di telapak tanganku. Sulit dipercaya. Padahal tadi malam aku baru merasakan betapa dinginnya tubuh Gavin.
“Well,”katanya, “aku hanya takut kau menganggap semua ini membosankan.”
“Tidak. Tidak sama sekali, tidak membosankan. Kau tahu, kalau aku sudah merasakan banyak hal yang jauh lebih membosankan dari pada ini.”
“Apakah aku terlalu panas untukmu?”
“Sedikit. Tapi tidak apa. Tidak ada bedanya dengan suhu musim panas Manhattan.” Padahal tidak juga. Aku seperti bersentuhan dengan permukaan cankir yang berisikan teh panas.
Gavin mengangkat bahu. “Baguslah kalau begitu.” Lalu ia menunjuk ke salah satu penjual Cutton Candy. “Kau suka?”
“Sangat.”
Gavin menghampiri si penjual Cutton Candy dan memesan 2 yang besar untuk kami. Aku langsung menerimanya dengan kegirangan seperti anak kecil. Aku sudah lama tidak menikmati yang seperti ini. Bahkan nyaris tidak pernah. Memangnya siapa yang mau mengajakku berwisata? Mom dan Dad? Kurasa mereka akan lebih memilih kebun rumahku sebagai tempatnya. Willy? Well, kami memang cukup dekat. Tapi tidak jika di luar jam sekolah. Kami jarang menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti ini. Hanya beberapa kali berkencan, dan itu sudah cukup bagiku dengan mengetahui betapa mengesalkannya Willy jika di luar sekolah.
Dan berada di sini, di Central Park bersama Gavin. Si batu hidup yang ternyata sama denganku. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau ini semua nyata. Mungkin ini hanya mimpi. Mungkin aku hanya terlalu lelah hingga tidur berhari-hari dan terus bermimpi.
Aku merobek Cutton Candy dengan jariku dan memasukannya ke dalam mulutku. Dalam beberapa detik permen itu hilang. Apakah juga begitu dengan mimpi ini?
Gavin menahan tanganku yang ingin mengambil Cutton Candy berikutnya. “Kau kenapa?”
“Apanya yang kenapa?”
“Kau terlihat seperti…sedang berpikir keras.”
“Well, memang begitu.”
Gavin melepas tanganku dan membiarkanku kembali memakan Cutton Candy-ku. “Kau tidak akan berpikir sekeras itu di depan kandang Polar Bear, Crystal.”
Aku memandang lurus ke depan. Dan benar saja kami sekarang sudah berada di depan kandang Polar Bear. Mereka besar dan putih bersih. Terakhir kali aku ke sini, rasanya mereka belum sebesar ini.
“Jadi…apa yang kau pikirkan?”tanya Gavin.
Aku memutar-mutar tangkai Cutton Candy di tanganku. “Well, tidak ada sebenarnya. Hanya saja…”
“Apa?”
“Jangan tertawakan aku, oke?”
“Well, tergantung. Kau tahu, kalau aku tidak bisa menahan emosi.”
Yeah, memang itu yang dia pernah katakan padaku. Soal jenisnya. Bahwa dia takut akan menyakitiku karena tidak bisa menahan emosinya. “Aku hanya berpikir, kalau ini adalah…well, mungkin ini hanya mimpi.”
Gavin mengambil Cutton Candy yang hanya tinggal sedikit di tangkainya itu dan membuangnya di tempat sampah di dekat kami bersama tangkai Cutton Candy miliknya.
“Aku akan meyakinkanmu kalau ini bukan mimpi, Cyrstal.” Gavin menarik napas, berbalik memandang ke arah para Polar Bear. Sekeliling kami sepi. Central Park Zoo baru saja buka dan ini adalah hari Jumat. Nyaris tidak ada pengunjung lain selain kami.
Gavin mencengkram palang besi di depannya. Sampai besi itu penyok masuk ke dalam. Aku sempat meringis sebentar melihatnya. Tapi langsung mengubah ekspresiku senormal mungkin. Aku tidak ingin Gavin menganggapku takut padanya atau apa. Aku hanya ingin membuatnya merasa kalau dirinya bukanlah monster, seperti yang selama ini selalu dianggapnya. Bahwa aku dan dirinya sama menyeramkannya. Well, walaupun dalam hal ini Gavin jauh lebih kuat daripada aku.
Gavin berbalik memandangku. “Emosi bukan hanya saat aku marah, Crystal. Saat aku senang, sedih, atau apa pun itu. Aku bisa kapan saja melukaimu, kalau aku lepas kontrol.”
“Tidak. Kau tidak punya alasan untuk melukaiku, Gave.”
Aku merasakan tubuhku sedikit terdorong ke belakang. Bersamaan dengan rasa sakit yang menyerang kapalaku tiba-tiba. Aku tahu, yang barusan mendorongku itu Gavin. Dia pasti ingin menakut-nakutiku lagi.
“Gave! Apa yang kau lakukan?”tanyaku, dengan nyaris berteriak. “Kalau kau pikir itu akan membuatku takut, kau salah besar!”
Tubuhku kembali terdorong, bahkan nyaris terlempar sekarang. Tubuhku berhenti tepat sebelum menabrak palang besi di belakangku. Kulihat Gavin. Wajahnya terlihat seperti marah, sekaligus menahan emosinya.
“Lihat? Kau tidak akan melukaiku. Jadi jangan coba melukaiku atau pun menakut-nakutiku, oke?” Aku berusaha mendekat berlahan ke arah Gavin. Sambil melihat ke sekelilingku. Khawatir kalau ada orang yang melihat kejadian tadi, itu pasti akan membahayakan Gavin. Langkahku semakin cepat begitu melihat ekspresinya yang sudah lebih tenang. Setidaknya dia tidak akan melemparku seperti tadi lagi.
Gavin langsung menarikku ke dalam pelukannya dan berbisik, “Kenapa kau tidak lari saja, Crystal?”
“Kau benar-benar ingin mengetahui jawabannya?”tanyaku.
Gavin melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Well, kau tahu kalau olahraga yang kubisa hanya berenang. Jadi, aku tidak bisa berlari.”
“Kau bisa berteriak.”
“Suaraku tidak sekencang itu.”
“Kau bisa membunuhku.”
“Aku tidak sekejam itu.”
“Memangnya kau pikir aku tidak kejam?”
“Tidak. Kau tidak kejam. Hanya saja kau sedikit emosional dan…keras kepala.”
Gavin membelai pipiku dengan jari-jarinya yang panas. “Kau membuat keadaanku jadi semakin sulit, Crystal.”
“Memang apa yang jadi semakin sulit?”
“Kau.”
“Aku?”
“Kau menguji kesabaranku, Crystal. Setiap kali aku melihatmu, rasanya aku ingin melemparmu sekencang-kencangnya.”
“Well, kenapa kau ingin melemparku? Jenis emosi apa? Marah?”
Gavin memutar bola matanya. “Kau tahu jawabannya, Crystal.”
“Tidak. Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”
“Itu emosi bahagia, oke? Puas mendengarnya?”
Aku tersenyum. Aku tidak tahu, mana yang lebih bahagia. Diriku atau dirinya? “Baguslah kalau memang begitu. Karena akan lebih mengembirakan jika kau melemparku karena rasa bahagia, bukannya marah.”
Gavin mengeluarkan senyuman mautnya lagi. Well, sepertinya akulah yang sebenarnya diuji kesabarannya. Bisa-bisa aku mengubah makhluk sempurna di hadapanku ini menjadi kristal, karena aku terlalu bahagia.
Selanjutnya dalam perjalanan kami, Gavin tidak banyak bicara. Mungkin dia sedang mengendalikan emosinya atau apa. Aku juga tidak ingin menganggunya. Aku tidak ingin dia lebih bahagia lagi bersamaku, karena itu akan semakin membuatnya kehilangan kendali. Jadi aku lebih memilih diam. Aku hanya bicara pada saat Gavin bertanya, atau pun dia yang memulai pembicaraan.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan di Central Park. Mungkin bagi orang-orang yang tinggal di Manhattan, hal seperti ini akan sangat membosankan. Setidaknya setiap orang di Manhattan sudah 10 kali lebih mengunjungi Central Park. Well, pengecualian dengan aku. Ini adalah kunjunganku yang ketiga kalinya.
“Kau keberatan kalau mampir ke rumahku dulu?”tanya Gavin begitu kami berada di dalam mobilnya.
“Tidak. Tentu saja tidak.” Memangnya apa alasanku untuk menolaknya? Seperti aku orang sibuk atau apa, yang memiliki banyak pekerjaan dan jadwal penuh setiap harinya. Lagipula aku ingin menghirup aroma rumah Gavin lagi, aroma kue.
Gavin menjalankan mobilnya. Seperti biasa, dengan kecepatan yang di atas rata-rata. Aku heran kenapa tidak satu pun polisi di Manhattan yang menangkapnya. Well, mungkin para polisi wanita tidak akan menangkap Gavin. Dalam arti bukan menangkapnya untuk ditilang melainkan untuk di bawa pulang. Tapi aku yakin para polisi pria pasinya akan berusaha sebisa mereka untuk menghancurkan orang-orang sesempurna Gavin, atau dengan kata lain saingan mereka. Sudahlah, sangat tidak penting aku memikirkan hal-hal sepele seperti itu.
“Ibuku akan berulang tahun lusa.”kata Gavin.
“Akan ada pesta?”
“Hanya pesta di antara kami saja. Kami tidak pernah mengadakan pesta besar-besaran. Ibuku lebih suka kalau ulangtahunnya dirayakan dengan keluarga kami saja. Dan aku pikir kau bisa ikut kalau kau mau.”
“Tentu saja. Asalkan aku tidak menganggu keluarga kalian.”
“Tidak, Crystal. Kau harus tahu pendapat Ibuku saat dia mengenalmu.”
“Pasti sesuatu yang buruk. Seperti aku ini orang yang cerewet, tidak sopan—“
“Kau pikir kau begitu?”
“Tidak juga. Tapi kebanyakan orang menilainya begitu.”
“Orang siapa yang kau maksud, Crystal? Orang-orang seperti Alyson?”
“Well, sejenisnya. Jadi, benar yang dikatakan ibumu seperti itu?”
“Tentu tidak. Ibuku sangat menyukaimu, Crystal. Bahkan dia berencana untuk mengajakmu memasak bersamanya. Well, setelah aku tahu kau tidak bisa memasak, kurasa itu semua terserah kau.”
“Aku tidak keberatan. Sepertinya memang sudah waktunya untuk melepaskan diri dari pasta instan.”
Gavin tergelak. “Terdengar sangat menyenangkan. Setidaknya ibuku tidak akan menjadikan Kim sebagai korban pembantunya di dapur hari ini. Kau tahu, kalau Kim tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu. Dia selalu melakukan segala sesuatunya dengan sangat cepat, sehingga semuanya berantakan.”
“Jadi kau pikir kalau aku yang membantu ibumu semuanya tidak akan berantakan? Kau tahu kalau aku jauh lebih ceroboh dari siapa pun.”
“Tapi kau dan ibuku sama. Aku yakin kalian akan cepat cocok.”
Sama? Kenapa rasanya sangat sakit mendengar kata itu? Apa aku harus terus membohongi Gavin? Bertingkah seperti manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apa pun? Mentertawakan Gavin di belakangnya dan berusaha meyakinkannya bahwa dirinya bukan monster tapi kenyataannya aku sama dengannya.
“Jangan bicarakan persamaan di sini, Gavin. Semua sama, oke?”
“Maaf. Tapi kuharap kau tidak melupakan kenyataan itu.”
Tentu tidak akan. Siapa yang bisa melupakan kenyataan itu? Bahwa keluargaku bukanlah satu-satunya keluarga teraneh dan paling tidak normal di muka bumi ini. Bahwa kami tidak sendirian, dan kami bukan yang terkuat. Dan fakta bahwa ternyata masih banyak ancaman yang lebih berbahaya lagi di luar sana. Entah itu monster seperti apa lagi.
“Apa yang ibumu sukai?”tanyaku.
“Banyak. Semua tentang masakan dan dapur. Seperti barang-barang rumah tangga dan semacamnya. Juga bunga. Ibuku sangat menyukai bunga. Dia tidak akan pernah rela setangkai bunga pun patah di kebun kami.”
Mungkin ide yang bagus untuk memberikan bunga sebagai hadiah untuk Mrs. Boston. Well, mungkin bunga kristal. Mereka tidak mengetahui kekuatanku. Jadi pasti sesuatu yang berbentuk krsital akan sangat berharga di mata Mrs. Boston. Padahal aku bisa saja merubah apa pun menjadi kristal, termasuk rumah mereka sekalipun. Bahwa fakta sesuatu yang kuberikan berbentuk kristal, sangat mudah untuk memberikannya.
“Tapi ibuku akan sangat menyukai hadiah apa pun yang diberikan kepadanya.”tambah Gavin, seolah bisa membaca pikiranku.
Kami sampai di garasi rumah keluarga Boston. Masih sama seperti yang terakhir kali kulihat. Tetap indah, rapih, dan bersih. Tapi kali ini aku sangat berhati-hati berjalan di jalan setapak yang melintasi kebun depan rumah keluarga Boston. Aku takut menyenggol salah satu bunga sampai patah. Mengingat kata-kata Gavin di mobil tadi, kalau Mrs. Boston sangat menyukai bunga-bunganya.
Mrs. Boston menyambut kami. Kali ini tidak lagi dengan celemeknya. Wajahnya berseri-seri melihatku. Kenapa keluarga Boston bisa begitu sempurna? Sampai-sampai ibu mereka pun bisa terlihat sangat cantik.
Mrs. Boston memelukku. “Senang bisa melihatmu lagi di sini, Crystal.”
“Well, Gavin mengatakan kalau kau membutuhkan bantuan di dapur,”kataku.
Mrs. Boston melepas pelukannya dan menatap Gavin sebentar lalu kembali menatapku. “Jadi kau bersedia membantuku hari ini?”
Aku mengangguk. “Tentu. Sebisa yang kubisa. Tapi aku tidak sepintar yang kau kira. Aku sama sekali tidak berbakat dalam hal dapur.”
Mrs. Boston mengibaskan tangannya. “Tidak masalah. Setidaknya kau ingin berusaha.”
Mrs. Boston setengah mendorong punggungku menuju dapur. Kulihat sekilas dari ujung mataku, Gavin tersenyum dan meninggalkan kami naik ke lantai dua. Well, kuharap Mrs. Boston tidak akan membuat sesuatu yang sulit hari ini.
Mrs. Boston memakaikanku sebuah celemek berwarna merah marun polos. Sedangkan beliau mengenakan yang berwarna biru tua. Katanya kami akan membuat Brownies, atas permintaan Rocky. Aku bersyukur karena kami hanya membuat brownies bukannya kue pernikahan lima tingkat.
“Kau senang berteman dengan Gavin?”tanya Mrs. Boston sambil mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam lemari es.
Aku memecahkan telur-telur itu ke dalam sebuah mangkuk besar. “Tentu saja. Dia teman yang baik.”
“Well, aku senang mendengarnya. Karena kau tahu, kalau dia tidak punya banyak teman.”
Aku mengocok telur-telur itu. Setidaknya aku tahu bagaimana cara mengocoknya tanpa membuatnya berantakan ke mana-mana. “Yeah. Aku mengerti.”
“Kau sungguh-sungguh tidak ingin meninggalkannya?”
Aku sempat berpikir kalau Gavin pasti akan mendengarkan percakapan kami. Mengingat inderanya yang peka. Tapi aku belum pernah tahu sepeka apa pendengarannya. Kuharap dia tidak mendengar apa pun jawabanku. Aku pun tidak tahu harus menjawab apa. Aku dan Gavin baru saja lima hari “kenal”. Waktu yang sangat singkat untuk mengatakan kalau aku tidak ingin meninggalkannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, satu minggu, satu bulan, atau kapan pun. Bisa saja aku berubah menjadi sosok yang menakuti diri Gavin dan meninggalkannya begitu saja menjadi batu hidup kembali. Aku tidak berani mengatakan apa pun di depan Mrs. Boston. Dia ibu yang baik, sangat baik. Terlihat dari matanya. Rasanya aku tidak ingin mengeluarkan kata-kata bohong di hadapannya, apalagi menyangkut anaknya, Gavin.
“Well, tidak.”jawabku mantap, lebih mantap daripada yang aku kira. Mungkin memang seharusnya begitu, seharusnya aku memang bersama Gavin. Untuk melepasnya tadi malam saja aku tidak sanggup. Apalagi harus lari darinya dan meninggalkannya.
“Kau tidak takut?”
Aku berhenti mengocok. “Tidak. Sama sekali tidak. Tidak ada yang menyeramkan darinya. Apa kau juga tidak takut?” Pertanyaan bodoh memang. Seorang ibu takut pada anaknya sendiri?
Mrs. Boston mengambil alih tempatku. Memasukkan segala macam bahan ke dalam telur yang sudah kukocok dan kembali menyampurnya. Wajahnya terus menunduk melihat ke adonan yang sedang dibuatnya. Jadi apa yang kulakukan di sini? Hanya membantu mengocok telur?
“Dia anak yang hebat, Crystal. Lebih hebat daripada kakak-kakakknya. Saat aku mengandung Rocky, aku selalu merasa kepanasan setiap saat. Rasanya aku sedang mengandung pemanas, bukannya manusia. Begitu juga saat aku mengandung Kim. Dia tidak bisa berhenti bergerak. Tapi berbeda saat Gavin.”
Aku berpikir. Apa yang dirasakan Mom saat mengandungku? Dingin? Well, aku meragukannya. Karena Mom sama dinginnya denganku. Tertusuk-tusuk karena aku membuat kristal di dalam rahimnya? Mungkin akan kutanyakan saat aku ada waktu berdua dengan Mom besok. Itu pun kalau memang Mom benar-benar akan pulang besok.
Aku memandang Mrs. Boston. Pandangannya terlihat sedih becampur bangga.
“Dia tidak panas. Dia juga tidak banyak bergerak. Tapi dia juga tidak dingin. Dia juga tidak diam. Tapi emosiku yang dimainkan di sini. Emosi mereka memang tidak stabil. Tapi aku hanya merasakan emosi yang berbeda saat aku mengandungkan Gavin. Aku merasa sangat…” Mrs. Boston memandangku, mengacuhkan adonannya sebentar dan melanjutkan kata-katanya dengan mantap, “bahagia.” Mrs. Boston kembali sibuk dengan adonannya. “Sejak awal aku sudah merasakan kalau dia berbeda. Bukannya aku berpihak pada Gavin saja, aku tentu menyayangi semua anak-anakku. Tapi sensasi yang kudapatkan dari setiap mereka berbeda-beda. Dan kebetulan Gavin-lah yang paling menarik untukku.
“Hanya saja Gavin yang emosinya paling sulit dikendalikan. Kau harus tahu bagaimana ayahnya sangat sulit mengajarinya pengendalian saat ia berumur 3 tahun. Gavin tidak berhenti-hentinya melemparkan barang-barang di sekelilingnya. Sampai-sampai kami menempatkannya di kamar yang kosong melompong. Hanya ada sebuah kasur kecil tempatnya untuk tidur. Kami tidak tahu harus menempatkannya di mana lagi. Bahkan di kamar itu saja mungkin dia masih bisa mencabut pintu dan jendela dari tempatnya. Sampai akhirnya dia berumur 6 tahun, dia sudah mulai terkendali. Well, kecuali saat ada teman-teman yang menganggunya. Pada awalnya kami tidak ingin memasukkannya ke taman kanak-kanak, mengingat emosinya masih tidak stabil. Tapi menurut Fedrick itu bagus untuk melatih emosinya. Akibatnya Gavin sering berkelahi, dan setiap dia membuat ulah dengan kekuatannya, kami selalu pindah rumah. Begitu terus sampai dia masuk SMP dan mulai mengendalikan kekuatannya.
“Tapi ternyata itu semua tidak berjalan sesuasi harapan kami. Well, bukan hanya Gavin sebenarnya, tapi juga Rocky dan Kim. Kami mengerti kalau anak-anak seumuran mereka pastinya belum bisa mengendalikan emosi sepenuhnya. Mereka beberapa kali membuat masalah, dan beberapa kali pula kami pindah. Dan yang terakhir ini, kami pindah ke sini, ke Manhattan. Sebenarnya kami sudah pernah tinggal di sini sebelumnya, tapi sepertinya memang ini tempat yang terbaik bagi kami. Well, alasan sebenarnya kami pindah ke sini karena Gavin.
“Dia tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga melemparkan seorang anak ke deretan loker hingga anak itu mengalami patah tulang parah. Tentu saja kami langsung mengambil tindakan dengan berpindah tempat. Kami tidak ingin keberadaan keluarga kami dicurigai. Sejak dulu Gavin memang selalu menyendiri, itu informasi yang kudapatkan dari guru-guru di sekolahnya. Tapi tidak jika di rumah. Dia seperti anak normal kebanyakan. Aku bersedih melihat itu. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? Menyuruhnya untuk bertingkah seperti anak normal lainnya, yang tentu saja secara langsung mengancam emosinya? Tapi tidak setelah dia bertemu denganmu, Crystal.”
Mrs. Boston menatapku, sambil tersenyum. “Kau berbeda. Belum pernah sebelumnya Gavin mengajak temannya untuk main ke rumah kami. Dan kau adalah orang pertama.”
Entah kenapa aku merasa beruntung mendengarnya. Bahwa aku adalah orang pertama. Orang pertama. Yang diajak si sempurna Gavin datang ke rumahnya. Well, bukan sesuatu yang besar mungkin.
Mrs. Boston memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya. “Terimakasih, Crystal. Karena kau tidak akan meninggalkan Gavin. Jadi jika kau tanya apa aku takut atau tidak…” Mrs. Boston menarik napas dalam. “Aku takut. Aku takut kehilangan anak-anakku.”
“Itu tidak akan terjadi. Kau adalah ibu yang baik, dan anak-anakmu adalah anak-anak terhebat yang pernah kutemui.”
“Well, ya. kau benar. Mungkin aku hanya khawatir sampai-sampai lupa kalau anak-anakku jauh lebih kuat dibandingkan kelihatannya.” Mrs. Boston berbalik dan kembali sibuk dengan adonannya. Tapi tidak lama kemudian Mrs. Boston berhenti. “Tapi awalnya aku takut.” Tatapannya menerawang jauh. Terlihat…sedih? “Bukan pada anak-anakku, tapi pada suamiku sendiri.”
Mr. Boston? Kupikir beliau bukan seseorang yang perlu ditakuti seperti itu. Apalagi mengingat bahwa kesempurnaan di keluarga Boston sepertinya memang berasal dari kepala keluarga mereka.
Mrs. Boston kembali bercerita lagi.“Kami sudah kenal sejak di SMA. Mungkin dia waktu itu sedikit berbeda dengan Gavin. Aku kagum dengan pengendalian dirinya. Dia sama sekali tidak membuat masalah sejak masuk SMP. Aku sudah mengangguminya sejak aku pertama melihatnya. Dia sangat sempurna di mataku.” Sama seperti aku melihat Gavin. “Aku memberanikan diri mendekatinya. Tapi dia seperti terkesan menjauh dariku.” Sama seperti Gavin. “Tapi aku tidak menyerah. Aku ingin menjadi temannya. Dia begitu penuh dengan misteri. Tidak banyak juga yang berteman dengannya. Dan itulah yang membuatku tertarik padanya.” Sama denganku. “Pada akhirnya sepertinya dia lelah untuk menghindariku terus. Semakin lama kami semakin dekat. Bahkan tidak bisa disebut sebagai teman. Aku melupakan dunia lamaku. Melupakan teman-temanku. Semua terisi dengan nama Fedrick Boston.
“Itu adalah sisi buruknya. Apalagi teman-temanku marah karena merasa terlupakan. Tapi saat itu aku tidak peduli. yang terpenting bagiku hanya Fedrick. Tapi lama-lama aku jadi sadar. Bahwa Fedrick bukanlah alasan untuk membuat diriku sendiri terisolasi pada dunia luar. Tapi berlahan-lahan semua berubah. Saat aku menyadari keanehan dalam diri Fedrick. Kalau dia bukan manusia biasa. Dia tidak normal. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia sedang membantu pekerjaan ayahnya di garasi. Dia dengan mudah mematahkan obeng ketika berusaha membuka skrup. Tidak hanya sampai di situ. Bahkan dia membetulkan mobilnya sendiri tanpa dongkrak. Dia hanya mengangkat mobilnya dari bawah, dan dengan menggunakan tangannya. Tentu saja aku takut. Ternyata selama ini aku mencintai seseorang yang bukan…bukan manusia biasa. Dan Fedrick tidak pernah menceritakannya padaku selama ini. Tapi akhirnya dia bercerita juga. Aku sempat kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa menerima Fedrick apa adanya, pada awalnya.
“Tapi setelah itu semua kembali normal. Kami bertunangan dan akhirnya menikah setelah setahun kami lulus dari SMA. Dan semua berjalan sampai sekarang. Membuatku lebih terbiasa. Dan kini aku sama sekali tidak takut. Karena aku tahu, dia tidak akan melukaiku. Jadi aku sangat mengerti posisimu, Crystal. Aku senang Gavin memberitahumu lebih awal. Aku juga senang karena kau tidak takut padanya. Jadi setidaknya kesalahanku dulu tidak terulang padamu.”
Tidak terulang? Yeah. Tidak terulang tapi muncul kesalahan baru. Bawah sebenarnya Mrs. Boston tidak mengerti posisiku. Bahwa aku sama saja dengan anak-anak dan suaminya. Dan fakta bahwa aku bukan saja membohongi Gavin sekarang. Melainkan juga keluarga Boston.
Setelah itu Mrs. Boston tidak lagi bercerita mengenai Gavin atau pun keluarganya. Beliau hanya menjelaskan cara-cara memasak, hingga brownies buatan kami selesai. Well, bukan buatan kami, tepatnya hanya buatan Mrs. Boston seorang. Aku hanya memecahkan telur, mengocoknya, juga mengatur suhu oven.
Rocky memakannya dengan lahap. Syukurlah. Karena jika tidak pasti aku yang satu-satunya di salahkan. Tidak lama kemudian Gavin turun dan juga ikut-ikutan melahap brownies buatan kami. Mereka berdua makan dengan rakus hingga seluruh brownies itu habis. Aku tidak heran kenapa Mrs. Boston suka sekali memasak. Karena ternyata anak-anaknya membutuhkan porsi makanan yang banyak.
Kami sedikit berbasa-basi setelah makan malam. Kali ini aku tidak membantu Mrs. Boston untuk menyiapkan makan malam. Karena aku yakin pastinya menu makan malam akan jauh lebih sulit daripada membuat Brownies, jadi kuputuskan untuk tidak mengacaukannya. Tadinya aku ingin menunggu kepulangan Mr. Boston, tapi Gavin membujukku untuk pulang. Aku ingin pulang sendiri, tapi Gavin memaksa mengantarku. Aku takut kalau aku tidak akan bisa melepaskannya lagi malam ini.
Mrs. Boston sempat berbisik di telingaku, “jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa jika dia tidak pulang ke rumah malam ini, atau pun besok, atau kapan saja. Karena kau sudah mengatakan tidak akan meninggalkannya.”
Well, aku sedikit lega karena itu. Setidaknya Mrs. Boston tidak merasa kalau aku merebut anaknya. Rocky juga terlihat senang karena aku menyingkirkan Gavin, begitu juga dengan Kim.
Gavin menyetir sangat cepat sampai ke rumahku. Sampai-sampai aku mengira rumahku dan rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja. Gavin memaksa untuk turun. Dan aku tidak bisa menolaknya. Well, benar-benar tidak bisa. Aku tidak bsa berbohong kalau aku sangat menginginkannya menemaniku malam ini.
Saat aku turun dari mobil Gavin, aku kaget mendapati Willy berada di depan rumahku, sedang bersender pada mobilnya, dan kali ini dia menoleh menatapku dan Gavin.
“Will? Apa yang kau lakukan di sini?”tanyaku.
Ekspresi Willy langsung berubah tidak suka begitu melihat Gavin. Well, aku memang tidak bisa membantah, kalau memang Willy membenci Gavin. Apa pun alasannya, itu membuatku tidak nyaman bersama Willy, sekaligus kecewa padanya. Seharusnya dia mengerti kalau aku hanya ingin mencari teman. Well, kalau memang masih bisa disebut teman. Karena aku mulai merasakan kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku.
Willy membalikkan tubuhnya menghadap kami. “Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja, Christy. Aku khawatir karena tadi kau tidak masuk. Kupikir kau sakit.”
Mungkin aku memang sakit. Tapi aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini dalam beberapa hari belakangan. “Tidak, aku baik-baik saja. Terimakasih kau sudah mau datang. Kau bisa telepon dulu lain kali agar kau tidak menunggu.”
“Aku lebih senang langsung datang. Aku kira kau pergi ke dokter…” Willy melihat Gavin sekilas. “Well, tapi sepertinya tidak. Senang bisa melihatmu baik-baik saja.”
Kenapa jadi begini? Kenapa rasanya aku dan Willy jadi kaku begini? Seperti kami bukan sahabat saja. Seperti teman yang baru saja berkenalan. Seperti orang asing. Seharusnya Willy tidak sesungkan itu padaku. Dia tidak biasanya seperti itu. Seolah bisa mengontrol dirinya agar tidak berprilaku berlebihan di hadapanku. Tidak lagi menggodaku dan berbicara tanpa henti.
Dan satu hal yang aku sadar dari diri Gavin dan Willy. Gavin tidak pernah memanggilku Christy. Itu tidak jadi masalah bagiku. Padahal biasanya aku sedikit terganggu kalau orang-orang memanggilku dengan nama ‘Crystal’. Bukannya tidak suka, tapi kurasa itu terlalu indah untuk seorang monster seperti aku. Well, mungkin aku harus belajar untuk tidak mengatakan diriku adalah monster. Karena mengatakan diriku adalah monster, sama saja mengatakan diri Gavin monster. Tapi berbeda dengan Willy. Dia jarang sekali memanggilku Crystal. Walaupun dia memanggilku Crystal tapi rasanya tidak seindah jika Gavin yang mengatakannya. Seolah-olah aku ini memang benar-benar kristal. Willy mengucapkan namaku seolah tidak takut kalau aku sewaktu-waktu akan pecah. Tapi tidak dengan Gavin. Dia sangat berhati-hati mengucapkannya. Seolah-olah aku memang benar-benar rapuh.
“Kau ingin masuk dulu, Will? Aku bisa membuatkanmu sesuatu kalau kau mau.”kataku.
Willy membuka pintu mobilnya. “Tidak, terimakasih, Christy. Mungkin sebaiknya aku pulang.” Willy memandang Gavin sebentar lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkan rumahku. Walaupun kuakui lebih cepat Gavin daripada dia.
“Apa dia marah?”tanya Gavin. Aku bersyukur dia bertanya. Karena aku pikir dia sudah berubah menjadi bisu, karena diam saja sejak tadi.
Aku mengibaskan tanganku. “Tidak perlu dipikirkan. Dia memang selalu begitu. Hari Senin aku akan berbicara padanya. Aku yakin dia pasti hanya salah paham.” Aku mengobrak-abrik tas besarku, mencari kunci rumah.
Gavin mengangkat wajahku dengan tangannya. “Salah paham apa maksudmu?”
“Well, mungkin dia hanya cemburu.” Aku buru-buru mengalihkan pandanganku dari mata cokelatnya. Mungkin kalau aku lebih lama lagi menatapnya bisa-bisa aku pingsan di depan pintu rumahku sendiri. Aku akhirnya menemukan kunci rumahku. Aku ingin memasukkan kunci itu ke lubangnya tapi tidak berhasil. Tanganku gemetar karena melihat semua kesempurnaan dalam diri Gavin yang terpampang dari matanya.
Gavin menghentikan tanganku dan mengambil kunci rumahku, lalu membuka pintu dengan mudah. “Kau butuh istirahat, Crystal.”
Yeah. Memang. Aku memang sangat butuh istirahat, dan sangat membutuhkannya.
Setelah melakukan ritual bersih-bersihku, aku langsung melompat naik ke atas tempat tidurku. Merapat ke tubuh dingin Gavin yang setengah berbaring di atas tempat tidur. Aku tidak akan membuang-buang waktu malam bersamanya. Di mana dia lebih dingin daripada aku. Aku jarang merasakan yang dingin. Semuanya selalu terasa panas. Dan aku senang dengan adanya batu es besar di sampingku sekarang.
“Lebih baik kau sedikit menjauh dariku, Crystal. Kau akan beku kedinginan,”kata Gavin sambil menaikkan selimut menutupi badanku.
Aku malah tambah mendekatkan diri pada Gavin. “Aku suka sesuatu yang dingin.”
“Well, kalau memang itu maumu. Tidurlah, Crystal. Aku tidak akan meninggalkanmu malam ini.”
“Aku tidak mengantuk.”
“Jadi buatlah dirimu mengantuk.”
“Aku ingin mengobrol. Biasanya aku akan mengantuk setelah itu.”
Gavin menggenggam tanganku. Memainkan jari-jariku di dalam genggamannya. Tangannya begitu dingin. Sangat berbeda dengan siang tadi. “Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apa saja. Mungkin…tentang kesukaan. Apa hobimu?”
“Menyetir.” jawabnya
“Nonton. Warna?”
“Hitam.”
“Biru. Musik?”
“Jazz”
“Sama. McDonalds?”
“Big Mac.”
“Cheese Burger. Olahraga?”
“Basket.”
“Tidak ada dari semua jenis olahraga. Siang atau malam?”
Gavin tertawa kecil mendengarnya. “Malam.”
“Sama.” Apa yang paling indah selain malam hari? Di mana Gavin lebih dingin daripada aku? “Bulan atau bintang?”
“Bulan.”
“Bintang.”
“Kau suka bintang?”
“Sangat.”
“Well, aku akan menambahkan itu dalam kamusku. Lalu? Apa lagi yang ingin kau ketahui?”
“Banyak sekali. Seperti…apa kau bisa berdansa?”
“Aku sangat baik dalam berdansa.”
“Kau harus membuktikannya kapan-kapan.”
“Bagaimana dengan…hari ulang tahun?”
Aku berpikir sejenak. “Aku tidak akan memberitahumu hari ulang tahunku.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin kau mengetahuinya sendiri.”
“Well, baiklah akan kucoba. Tapi jangan tersinggung jika aku tidak memberimu selamat atau hadiah apa pun.”
“Tidak akan. Justru itu akan lebih baik. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”
Gavin membelai wajahku. “Tidurlah, Crystal.”
Aku merapat ke tubuh Gavin dan memeluknya. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk malam ini.
Aku mulai memejamkan mataku berlahan, berusaha untuk tidur. Dan semoga saja aku bisa tidur. Mengingat aku sudah tidur terlalu lama kemarin.
“Bisa aku memilikimu?”bisik Gavin di telingaku.
Mataku sudah terlalu berat untuk bisa terbuka lagi dan melihat wajahnya. Aku hanya bisa bergumam tanda mengatakan ‘iya’, “hmm…”
Selanjutnya aku sudah tidak bisa mencerna apa lagi yang terjadi. Aku benar-benar mengantuk. Hal terakhir yang kurasakan adalah, sesuatu yang dingin menyentuh wajahku.